
"Senang, ya? Bahagia? Bertemu dengan dia?" Ucap Niken dengan sewot saat menata pakaian dalam lemari.
Bima yang usai mandi, dan sedang berganti pakaian langsung mengerutkan keningnya dan menatap Niken.
"Ada apa sih, Ken?"
"Nggak? Nggak apa apa. Kalau nggak ngerasa ya sudah." Tukas Niken sambil meraih handuk Bima, lalu membawanya ke luar dari kamar.
Bima meraih tangan Niken.
"Kamu cemburu?" tanya Bima.
"Hah... Nggak! Ngapain aku cemburu? Rugi! Nggak ada untungnya bagiku untuk cemburu sama suami." Elak Niken
"Loh, ini kok tiba tiba marah nggak jelas seperti ini?"
"sudah, ah.. Males!" Jawab Niken dengan sewot.
Dia masih kesal, karena Bima yang menurut pada ibunya untuk menemui dan mengobrol dengan Rima, saat datang tadi.
Niken lalu bergegas keluar kamar hendak menjemur handuk di teras belakang.
"Iya, Jeng! Rima tadi datang. Maturnuwun, ya! Sungguh nggak nyangka, Rima mau direpotkan."
Terdengar dari ruang tengah, Bu Mirna sedang berbicara di telepon, sambil tertawa. Niken tak sengaja mendengar saat menjemur handuk di teras belakang.
"Beneran itu? Rima nggak mau? Masak sih? Bima?"
Mendengar nama suaminya disebut, Niken berhenti di ambang pintu, dan segera mundur untuk mendengarkan sejenak.
"Iya, Bima pasti masih punya rasa lah sama Rima. Tapi, benar, Rima nggak jadi sama yang kemarin itu?" Bu Mirna diam, mendengarkan temannya di seberang sana berbicara.
"Wah, berarti Bima masih ada harapan, ya?" Ucap Bu Mirna. Senyum. Tersungging senyum di bibirnya.
"Jeng, kan, tahu, saya sama sekali tidak pernah ah setuju Bima menikah dengan perempuan itu. Jadi nggak ada salahnya, saya meminta dia untuk menikah dengan Rima. Lah, gayanya sudah sok keminter. Sejak sering disuruh antar barang ke tempat Jeng Gito."
Niken menahan napasnya, mencoba untuk tidak emosi.
"Iya, sudah keminter, sok ngebos, lagaknya sok jadi jakartanan, padahal, kan, dia sekarang ada di Yogya, bahkan di rumah saya! Benar benar nggak punya rasa sopan santun." Ucap Bu Mirna dengan nada emosi.
Lalu Bu Mirna menuju ruang tamu, dan terus mengobrol di sana.
Niken bergegas masuk ke kamar.
BRAK!
"Ken? Apa apaan kamu ini?!" Bima terkejut, saat Niken membanting pintu.
Niken menghembuskan napasnya kiat kuat dengan kesal.
__ADS_1
"Tanya sendiri pada ibumu!" Ucap Niken sambil menggelengkan kepalanya.
Niken duduk di tepi ranjang sambil menatap ke luar jendela yang masih terbuka.
"Ada apa?" Bima yang semula duduk di kursi kerjanya, menghampiri, dan ikut duduk di sisi Niken.
"Aku tak sengaja mendengar ibu berbicara di telepon. Dia membicarakan kamu dan Rima."
Niken menatap ke arah Bima.
"Ken, aku telah memilih kamu. Dan diusia pernikahan kita yang masuk dua tahun ini, aku masih dan akan selalu mencintaimu. Apalagi, saat ini kamu sedang mengandung. Di sini ada buah cinta kita berdua." Bima menyentuh perut Niken, dan mengelus perlahan.
"Bahkan, di saat aku hamil seperti ini pun, ibu masih belum menganggap aku. Belum bisa menerima kehadiranmu sebagai istrimu, Mas." Niken merasa sangat sedih.
Niken hanya menunduk, mencoba menenangkan dirinya sendiri, entah karena faktor hamil, perasaannya jadi sangat sensitif sekali.
Dia menunduk dan menumpahkan semuanya dengan air mata.
Bima meraih tubuh istrinya, dan memeluknya.
"Sebaiknya kita pindah saja, Mas. Lama alam aku nggak sanggup, jika harus bertahan tinggal di rumah ini " ucap Niken sambil dalam pelukan Bima.
"Sabah, Ken. Kita pasti akan mendapatkan tempat tinggal. Sekarang aku masih mengumpulkan uang buat kita, buat anak kita, buat masa depan kita."
*
"Bu, mengapa ibu nggak coba mendekati Niken. Dia istriku, menantu ibu. Bahkan, saat ini, Niken sedang hamil. Bukannya Ibu pingin menimang cucu?" Tanya Bima di pagi hari.
"Apa maksudmu?"
"Ibu, aku ingin sekali, ibu bisa dekat dengan Niken. Saling mengobrol dan mengenal satu sama lain." Pinta Bima.
"Apa urusanmu meminta ibu, untuk dekat dengannya?"
"Dia istriku, Bu. Menantu ibu. Bagian dari keluarga ini juga."
"Dengar, ya Bim! Ibu sama sekali tak pernah menyetujui kamu menikah dengannya. Dari awal! Dan kehamilannya sama sekali masih ibu ragukan." Bu Mirna menatap tajam.pada Kevin.
"Ada apa ini, pagi pagi sudah buat keributan." TanyaPak Widodo, sambil menarik bangku, dan menghempaskan tubuhnya pada kursi itu.
"Aku hanya meminta ibu, sedikit mengenal Niken, dan dapat bersikap baik, bahkan saling tegur sapa. Ibu sama sekali tidak mau bahkan selalu memberi jarak." Bima menukas.
"Iya. Bener banget. Dari pada ibumu ini keluyuran. Lebih baik merawat tamannya, lalu kita bisa mengobrol dengan Niken."
"Nah, Bapak juga tertarik pada Niken?"
Celetuk Bu Mirna.
"Nggak lah. Bapak ini hanya simpati padanya.
__ADS_1
"Sudah, pokoknya ibu, nggak mau dipaksa buat mengenal orang yang sama sekali nggak dikenal." Tukas Ibu.
"Apa kamu nggak mikir, Dia itu punya simpanan lain apa? Masa kalian sudah menikah lama, terus selama kalian menikah dulu, dia tidak hamil, lalu sekarang dia hamil. Aku curiga itu bukan anakmu."
"Bu, mengapa ibu menuduh Niken?"
"Ibu tidak menuduh Niken. Ibu hanya bicara fakta dan bukti yang ada."
"Bukti apa, Bu."
"Bukti, kalau dia itu ganjen! Bahkan adikmu sendiri di godanya."
"Astaga, Bu. Aku tak pernah menuduh Dewa dan Niken. Bahkan Niken bersikap biasa saja pada Dewa dan Seruni."
"Terserah! Pokonya sampai kapan pun, wanita itu tak akan ibu akui sebagai menantu. Kamu itu bodoh sekali, Bim. Rumah yang jelas jelas lulusan luar negeri, wanita karir, sukses, baik pada keluarga, penyayang. Kurang apa, coba! Kamu malah memilih gadis itu. Bahkan keluarganya pun nggak jelas!"
Bu Mirna menatap kesal pada Bima.
"Bu! Mengapa ibu sangat membenci Niken?" Tanya Bima penuh emosi.
Niken yang selesai mandi, langsung menuju ruang makan dengan membawa handuknya.
"Ada apa, Mas?" Tanya Niken, sambil memegang tangan Bima.
Bima hanya menggeleng kuat menatap ibunya.
"Ayo!"
Bima menarik lengan Niken untuk masuk ke kamar.
"Ada apa, Mas?"
"Aku kesal." Bima menghela napasnya.
Niken mengambil segelas air dan menyodorkan pada Bima.
Bima meraih dan meneguknya hingga habis
"Aku hendak menanyakan hal yang semalam. Tapi, yang ada Ibu terlalu menutup dirinya padamu, Ken. Maafkan aku, Niken."
"Maaf untuk apa, Mas?"
"Aku telah membuat kamu menjadi seperti ini."
"Aku mencintaimu, Mas. Aku menghormati apa pun keputusanmu. Bahagia maupun sedih, aku akan tetap setia mendampingi kamu."
"Aku juga ingin kamu bisa dekat dengan ibu. Sama seperti kamu dekat dengan ibumu. Apalagi sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu."
Niken memeluk Bima, mereka saling menguatkan satu sama lain. Saling mencintai, saling mendukung satu sama lain.
__ADS_1
"Niken, sampai kapan pun. Aku akan mencintaimu."
Bima memeluk Niken.