
Kegembiraan meliputi keluarga kecil Bima dan Niken. Laras, mereka memberi nama bayi mungil nan cantik itu.
"Mas, sepertinya, aku harus bekerja lagi membantu Bapak di pabrik." Ucap Niken yang sedang menyusui Laras, saat Bima sedang menikmati makan malam.
"Nanti yang jaga Laras siapa?"
"Tadi aku ngobrol sama Bude Ning, yang rumahnya dekat warung itu, katanya dia bisa kerja ngasuh bayi. Dia dulu sering ikut orang di Jakarta buat momong anak orang, tapi, sejak suaminya sakit, dia akhirnya pulang ke rumah dan mengurus suaminya. Dia kerjanya bantu bantu di rumah orang juga, Mas. Pulang hari di rumah Pak RW. Dan katanya suaminya sudah meninggal satu tahun yang lalu."
Cerita Niken.
"Apa gajiku kurang, Ken?"
Niken terdiam.
"Bukan seperti itu, Mas. Tapi, jika aku bekerja, aku bisa membantu perekonomian keluarga kita ini. Lalu kemarin Seruni ngirim pesan, katanya pekerjaan kantor agak keteteran sejak aku cuti. Apalagi saat ini Seruni juga lagi sibuk-sibuknya kuliah, jadi kadang nggak fokus."
Bima mengangguk angguk sambil menghabiskan makanannya.
"Kadang aku kasihan sama Bapak. Aku juga tahu, kamu sudah nyaman dengan pekerjaanmu saat ini, dan posisimu juga bisa dibilang bagus. Karirmu juga sedang menanjak. Aku merasa enjoy dengan pekerjaan di pabrik. Meski ibu seperti itu padaku, tapi, saat di pabrik dia tidak bisa berbuat banyak. Aku masih bisa membantu Bapak. Dan mungkin aku akan meminta Bude Ning untuk membantuku." Ucap Niken sambil menatap Bima penuh harap.
"Apa gajimu cukup untuk membayar Bude Ning?"
Bima menatap Niken lembut.
"Cukup kok, Mas. Bapak selalu memberi gaji sesuai UMR, kalo lembur, juga dihitung sama Bapak. Apalagi, Bapak merekrut orang khusus menangani karyawan, mirip HRD gitu, kata Seruni."
Niken meyakinkan Bima.
"Kamu yakin, bisa?" Bima bertanya ulang.
"Ya. Aku bisa, Mas." Sahut Niken mengangguk dengan yakin.
"Ya, aku akan mendukungmu, Ken. Tapi, ingat, prioritas kita adalah Laras. Jika terjadi apa apa dengan Laras, kamu harus berhenti dan fokus untuk mengurus anak kita dulu." Pinta Bima.
"Baik, Mas. Terima kasih, Mas."
"Kamu adalah istriku, Ken. Sudah kewajibanku untuk menafkahi kamu dan anak kita."
"Sudahlah, Mas. Kamu fokus bekerja saja, kumpulkan uang untuk masa depan kita, terutama anak kita kelak."
"Niken. Maafkan aku, belum bisa membahagiakan kamu."
Bima menggenggam jemari Niken.
Niken membalas dengan senyuman.
"Aku sudah bahagia, sejak bersamamu, Mas."
*
Keesokan harinya, Niken segera mendatangi kediaman Bude Ning dan menawarkan pekerjaan untuk menjaga Laras.
"Maturnuwun, Mbak Niken. Aku sangat senang membantu Mbak Niken mengasuh Laras."
"Sama sama Bude. Mulai besok bude bisa datang. Saya mulai kerjanya lusa. Sambil saya siapkan dulu kebutuhan untuk Laras."
"Baik, Mbak. Besok saya akan datang."
"Terima kasih, Bude. Saya pamit dulu."
__ADS_1
Niken pergi berlalu sambil menggendong Laras dari rumah Bude Ning, yang berjarak hanya beberapa rumah dari rumah kontrakan Niken dan Bima.
*
Pagi pagi, Niken, sudah menyiapkan alat untuk menyimpan dan memanaskan asi perahnya. Lalu menyiapkan pakaian dan perlengkapan lain untuk keperluan Laras.
Niken menyiapkan pompa asi dan kantong ASI-nya. Dan menata bekal makan siang untuknya dan untuk Bima.
"Bude, saya pamit dulu, nitip Laras, ya."
"Iya, Mbak. Hati hati di jalan." Tukas Bude Ning.
*
"Mbak Niken!" Sambut Seruni saat melihat kakak iparnya datang bersama Bima.
"Loh, Laras sama siapa di rumah?" Tanya Pak Widodo sambil menatap Bima dan Niken bergantian.
"Saya nitip Larasati sama Bude Ning, tetangga dekat rumah, yang pernah jadi pengasuh, Pak."
Pak Widodo menghela napas dalam-dalam.
"Kalian ini berani sekali meninggalkan anak, sendirian sama orang lain." Bapak mendengus.
"Jadi kamu harus bagaimana, Pak?"
"Bapak malah yang jadi nggak tenang melihat cucu sendiri ditinggal sama orang lain. Wis mulai besok bawa ke rumah saja Laras dan Bude Ning, mengasuhnya di rumah Bapak saja." Ucap Pak Widodo dengan tegas.
"Tapi, Pak?"
"Nggak ada tapi tapian! Meskipun ibumu bersikap begitu padamu, Ken. Tapi, Laras adalah cucunya, setidaknya, pekerjaan Bude Ning ada yang mengawasi." Sahut Bapak.
"Baiklah. Jika itu keputusan kalian."
Niken dan Bima mengangguk mengerti.
"Terima kasih, Pak. Bima langsung berangkat kerja dulu."
"Ya." Bima berpamitan sambil mencium tangan bapaknya, lalu beranjak pergi menuju tempat kerjanya.
Niken, kembali menuju meja kerjanya yang hampir dua bulan dia tinggalkan.
"Kamu jangan terlalu capek dulu. Oya, kenalkan ini Sarah dan Eko. Sarah yang membantumu di bagian administrasi, dan Eko, yang akan membantu mengurus karyawan dan sebagai humas." Pak Widodo mengenalkan dua karyawan baru pabrik.
Niken menyalami dua pegawai baru itu dengan ramah.
"Nanti keuangan yang megang Seruni, dan kamu yang membantunya." Lanjut Pak Widodo sambil menatap Niken.
"Saya, Pak?" Niken melongo tak percaya.
"Kamu, nanti, mejanya di dekat tempatku, Mbak. Di dekat Bapak." Seruni menimpali sambil terkikik geli.
"Lah, aku nggak dikenalin ini?" Sela Mas Pur bercanda.
"Kalo Mas Pur, tetap jadi marketing andalan pabrik. Nggak ada duanya!" Sahut Seruni sambil memukul lengan sepupunya itu.
"Aduh! Sakit loh!" Pekik Mas Pur sambil meringis.
Seruni lalu menjulurkan lidahnya meledek Mas Pur.
__ADS_1
"Sudah! Ayo mulai kerja lagi! Niken, kamu mulai ajari Sarah tentang pekerjaannya, sambil kamu bantu Seruni." Pak Widodo mulai memberi komando.
"Baik, Pak."
Mereka mulai sibuk kembali dengan pekerjaan masing masing.
"Mbak, aku pamit jam 10 aku ada kelas, nanti siang aku balik lagi ke sini."
"Siap, Runi. Hati hati di jalan."
Seruni segera berlalu meninggalkan pabrik, menuju ke kampusnya.
Niken kini berada di meja Seruni memeriksa beberapa penjualan yang masuk, dan meneruskan pada Sarah untuk di serahkan pada bagian packing.
Pesanan masuk dari sosial media dan dari marketplace. Niken dan Sarah mulai mengemas pesanan yang masuk.
Menjelang makan siang, sebuah mobil masuk halaman pabrik.
"Bude, ada apa?" Mas Pur tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Bu Mirna.
"Mana Pakdemu?"
"Ada di dalam, Bude."
Bu Mirna langsung melangkah masuk ke ruangan Pak Widodo yang sedang menikmati makan siangnya dalam ruangannya.
"Ada apa, Bu?"
"Pak, aku tadi dari tempat Bu Gito, dia baru ambil kain dari tempat lain. Bukan dari tempat kita." Ucap Bu Mirna.
"Ya biar, to, Bu. Bu Gito bebas mau ambil di mana saja. Lagi pula, pabrik batik kan banyak. Jadi bebas milih. Motif dan kualitas kain juga beda beda."
Sahut Pak Widodo.
"Tapi, ini banyak banget, Pak. Sampai bergulung gulung kainnya. Katanya untuk order seragam kantor."
"Ya mungkin, permintaan pelanggan Bu Gito."
"Tapi, Pak. Ini banyak? Mungkin perusahaan besar dan kita nggak kebagian apa apa?" Bu Mirna mendengus kesal, sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di ruangan Pak Widodo.
Bu Mirna menghela napas dalam-dalam, lalu sekilas ekor matanya melihat Niken di ruang sebelah Pak Widodo.
Bu Mirna berdiri dan menuju ke ruangan samping suaminya.
"Oh, pantas ada kamu! Kamu benar benar pembawa sial!" Teriak Bu Mirna sambil menunjuk wajah Niken yang sedang menikmati makan siangnya.
"Bu!" Pak Widodo sontak berdiri dan mendekati istrinya.
Niken yang terkejut, langsung menutup kotak bekalnya dan berdiri.
"Oh, pantes, dia sudah di sini. Makanya Bu Gito nggak ngambil barang di sini. Kan, sudah aku bilang, Pak. Dia itu wanita bawa sial! Jangan dipekerjakan lagi! Masih saja diterima."
"Bu, ayo, kita pulang!" Pak Widodo menarik tangan istrinya.
"Tapi, Pak!"
Pak Widodo, makin mencengkram lengan gan istrinya kuat, dan mengajaknya masuk ke mobil.
Niken memejamkan matanya, dan berkali kali menghembuskan napas, menenangkan dirinya.
__ADS_1