
"Seruni! Jangan melawan lagi ucapan Ibumu ini. Ibu sudah membicarakan duanya dengan Pak dan Bu Bagyo untuk menikahkan kamu dengan Bram, putra sulung mereka. Bram itu kurang apa? Lulusan S2 luar negeri, pekerjaan sudah mapan, menjadi dosen di universitas ternama, dari keluarga priyayi, sopan, dan kamu pastinya akan terjamin kehidupanmu kelak. Ibu sayang sama kamu, Seruni. Dengarkan Ibu! Turuti kata kata ibu kali ini," ucap Bu Mirna sambil duduk di sebelah Seruni yang hanya menunduk.
Dewa menghampiri Ibu dan adiknya, lalu ikut duduk di kursi yang ada di sana.
"Kamu pulang, Wa?" tanya Bu Mirna sambil menatap putranya.
"Iya, Bu. Aku kangen rumah. Kangen ibu, kangen seruni. Ini ada apa?"
"Dua hari yang lalu Bapak dan Ibu Bagyo menembung Seruni, untuk dinikahkan dengan Bram, anak sulung mereka yang baru pulang dari luar negeri itu."
"Lalu, Ibu menerima permintaan mereka?"
Bu Mirna mengangguk sambil tersenyum.
"Keluarga Pak Bagyo bukanlah keluarga sembarangan. Masih keturunan ningrat, dan memiliki banyak relasi yang merupakan orang penting. Ibu yakin, Seruni akan bahagia dengan Bram kelak."
"Bu, tapi Seruni nggak sreg dengan Mas Bram. Masa baru awal ketemu sudah ngajak check in di hotel. Ngapain coba pake acara gitu segala?" protes Seruni sambil bersungut-sungut.
"Dengar, Seruni! Pak dan Bu Bagyo sudah nembung sama Ibu. Sudah meminta kamu. Dan Ibu telah menerimanya. Mereka akan datang besok untuk melamarmu secara langsung. Jika setelah proses lamaran itu, Bram mengajak kamu ngamar, ya diladeni saja. Toh, kalian kelak akan menikah. Ibu nggak masalah, jika kalian sudah jelas seperti itu."
"Hah? Maksud Ibu apa? Ibu mengijinkan, Bram boleh melakukan belah duren padaku sebelum menikah?" tanya Seruni sambil menatap tajam pada Bu Mirna.
"Seruni, kalo Bram sudah melamar kamu, dan mereka telah menentukan tanggal, nggak masalah. Mau di rumah ini juga nggak apa apa," tutur Bu Mirna dengan santai.
"Bu, tidak bisa begitu. Nanti, jika ternyata Seruni sudah diperawani oleh Bram, terus dia membatalkan pernikahan sebelum hari H, bagaimana? Ibu mau bilang apa? Apalagi, kalo Seruni sudah hamil, dan ternyata Bram memilih menikah dengan orang lain." Dewa membuka suara membela Seruni.
"Ah, terserah kalian saja! Pokoknya besok mereka mau datang untuk melamarmu, Seruni."
Bu Mirna berkata dengan tegas, seolah tak ingin mendapatkan penolakan lagi.
"Bu, jika ibu terus memaksaku seperti ini, aku bisa apa? Aku hanya minta Mas Bima dan Mbak Niken dapat terlibat pada acaraku nanti," pinta Seruni dengan suara lirih.
"Tidak masalah!" Sahut Bu Mirna sambil tersenyum.
Bu Mirna lalu berlalu menuju kamarnya, dan meraih ponselnya.
Terdengar suara Bu Mirna yang mengobrol dengan asyik melalui ponselnya. Bu Mirna menghubungi Bu Bagyo untuk mengabari berita bahagia itu.
"Kamu pulang, Mas? Sementara atau nanti pergi lagi?" kini Seruni menoleh ke arah kakaknya.
"Ya. Aku pulang. Aku telah putus dengan Mala."
"Hah? Apa? Serius, Mas?" Seruni terperanjat.
"Ya. Sudahlah, nggak usah bahas aku dan Mala. Pikirkan saja, untuk acara musik besok. Kamu kabari saja Mas Bima dan Mbak Niken supaya mereka tidak terkejutnya." Dewa memberi saran.
Seruni mengangguk. Lalu beranjak mengambil tasnya, lalu menghubungi kakaknya itu.
***
Sepekan sudah acara lamaran Seruni berlangsung. Dan acara pernikahan akan diselenggarakan bulan depan karena Bram akan melanjutkan kuliah S3 nya kembali, dan Seruni akan diboyong ke luar negeri mengikuti Bram.
Bu Mirna mau tak mau menahan dirinya untuk tak emosi, saat meminta Niken untuk membantu acaranya.
__ADS_1
"Runi, kita ke hotel," Bram membelokkan mobilnya, masuk ke parkiran sebuah hotel berbintang.
"Mau ngapain?" Seruni menatap Bram dengan tatapan curiga.
"Beberapa Minggu lagi, kita akan menikah. Apa salahnya, jika kita menabung dulu."
"Menabung?" Seruni mengerutkan keningnya heran.
"Kamu ini, sok sok an banget sih jadi cewek. Masa kamu nggak pernah melakukan itu sama mantan mantanmu dulu!" sahut Bram dengan sewot.
"Kamu pikir aku ini cewek apaan, Mas. Aku berusaha menjaga milikku, Mas!" Seruni membalas dengan suara tak kalah kencang.
"Ayolah! Sedikit saja! Aku ingin mencobaimu. Membuktikan bahwa dirimu benar benar masih perawan atau nggak." Bram menatap Seruni sambil menyatukan alisnya. Bram menantang Seruni.
"Ngapain pake pembuktian segala?" Seruni tersenyum sinis.
"Aku nggak mau, kalo ternyata kamu sudah nggak perawan lagi," balas Bram.
"Heh, Mas, denger, ya! Aku juga nggak tahu kamu di luar negeri dulu atau sebelum keluar negeri dulu sudah melakukan ini dengan cewek lain, mantan mantanmu dulu. Terus nggak cuma satu, mungkin. Celup sana celup sini, dan aku juga nggak tahu kamu ini bawa penyakit atau nggak karena gaya hidup bebasmu itu!" Seruni tak kalah sengit menyahuti Bram dengan emosi karena membahas keperawanan.
Bram terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Seruni.
"Ayo kita ke dalam, aku sudah pesan kamar buat kita!" Bram keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Seruni, dan mereka berjalan masuk menuju lobi hotel.
Seruni menunggu Bram, untuk mengambil kartu kamarnya, lalu saat Bram hendak menggandengnya, Seruni menepis tangan Bram, dan memilih berjalan sendiri di belakang Bram.
Mereka naik lift hotel menuju lantai kamar yang telah dipesan oleh Bram.
Lift telah sampai di lantai 5, kamar yang telah dipesan oleh Bram.
"Kamar 210," gumam Bram sambil terus melangkah.
Seruni menengok kanan dan kiri mengamati tempat itu sambil terus berpikir.
Tiba tiba ingatannya tertuju pada Satria. Lelaki yang tengah dekat dengannya, dan mengisi hari harinya.
Satria telah memenangkan hatinya, namun, Seruni belum berani menjawab pertanyaan Satria untuk menikahinya.
BRUK!
Tiba tiba Seruni menabrak tubuh Bram yang ada di depannya.
"Mas, kok berhenti mendadak!" omel Seruni sewot.
"Lah, kamu yang melamun. Jalan nggak lihat lihat. Kita sudah sampai. Ayo masuk!"
Bram menarik tangan Seruni, lalu menutup pintu kamar dengan cepat.
Bram menaruh kartu kamar pada tempatnya, lalu mengambil tas Seruni perlahan, dan meletakkan pada kursi yang ada di kamar itu.
Bram menarik tangan Seruni, lalu mendekap tubuh gadis itu.
Aroma parfum lelaki, tercium oleh Seruni, dadanya bergemuruh saat itu juga.
__ADS_1
Gaya berpacaran seruni paling mentok berciuman saja. Setelah itu gandengan, dan flitring saja. Untuk hal yang lebih jauh, Seruni tidak berani. Seruni berusaha menjaga miliknya yang berharga untuk orang yang benar benar dia cintai.
Kali ini tubuhnya dan Bram tak berjarak. Dadanya menempel pada dada Bram.
Seruni hanya bisa menelan ludahnya, saat Bram menyentuh dagunya, dan mengangkatnya.
Lalu Bram mendekatkan wajahnya pada wajah Seruni.
Cup!
Bibir Bram telah menempel pada bibir Seruni.
"Bukalah mulutmu! Kamu akan menikmatinya," bisik Bram tepat di telinga Seruni.
Seruni membuka bibirnya perlahan, dan detik itu juga, lidah Bram menari nari dalam mulut Seruni, sehingga membuat Seruni tersengal-sengal tak bisa bernapas.
"Mas, ppfftt..!" Seruni berusaha mendorong tubuh Bram.
Namun, yang ada, tubuhnya yang lebih kecil dari Bram, malah terjatuh ke tempat tidur.
Bram membuka kemejanya, lalu perlahan naik ke tempat tidur.
Bram menciumi wajah, dan leher Seruni dengan beringas.
Seruni berusaha menolak dengan meronta-ronta.
Namun, lagi lagi, tubuhnya yang kalah besar, langsung dikunci oleh Bram, dan dengan gesit, Bram membuka kancing kemeja Seruni satu persatu, dan melempar ke lantai.
Bram lalu menyerbu dada Seruni dengan menghujani dengan ciuman dan gigitan.
"Aahh... Sakit, Mas! Aaahhh....!" Teriakan protes Seruni lama kelamaan berubah menjadi suara lenguhan manja karena reaksi yang ditimbulkan oleh sentuhan Bram.
Bram menyeringai melihat Seruni yang menggeliatkan tubuhnya, dan membusungkan dadanya, saat dia memainkan jari jarinya dan menghisap puncak gunung kembar milik Seruni.
"Oh, Runi! Gila, ranum sekali dadamu!"
Bram makin memijat, menjilat, dan menghisap dada Seruni dengan beringas.
Seruni hanya bisa pasrah, karena meronta-ronta, bukan membuat Bram melepasnya, namun semakin menjadi jadi mencumbunya.
Bram membuka celana Seruni, dan melemparkannya, lalu menciumi kaki Seruni perlahan-lahan, hingga menuju ke pahanya.
Seruni menggigit bibirnya, menahan gejolak dalam dirinya yang seperti akan meledak.
"Mas, tolong jangan! Kita dapat melakukannya setelah kita menikah." Pinta Seruni sambil memohon.
Bram seolah tak peduli dengan ucapan Seruni.
Dia semakin beringas menciumi bagian intim milik Seruni.
Perlahan penutup berbentuk segitiga itu, ditarik Bram, lalu diciumnya sambil tersenyum lebar.
"Wangi sekali Seruni! Aku bisa gila karenanya!" Bisik nya.
__ADS_1