
"Keluar!" Teriak Dewa sambil menggedor-gedor kaca mobil Bima.
Sontak dua insan yang hampir mencapai puncaknya itu terkejut, dan akhirnya mengakhiri kegiatan itu dengan paksa.
Bima merapikan pakaiannya kembali, dan Ayu pun mengenakan kembali pakaiannya.
"Apa mau mu?" Bentak Bima sambil menatap Dewa penuh emosi.
"Dasar brengsek! Apa kamu nggak malu, Mas? Kamu itu lelaki yang telah beristri dan memiliki anak! Apa tak malu kamu melakukan ini semua?"
"Apa urusanmu, heh? Aku mau ngapain saja itu hak aku! Kamu tahu apa soal rumah tangga?"
Bima keluar dari mobil sambil mengancingkan kemejanya.
"Tak tahu malu kamu, Mas. Aku sangat malu melihatmu seperti itu. Menjijikkan!" Teriak Dewa sambil menunjuk wajah Bima.
"Berani kamu mengatakan itu padaku!" Bima mendengus kesal.
"Mas, mengapa kamu lakukan ini semua? Padahal kamu seharusnya bisa menyelesaikan baik baik dengan Mbak Niken."
"Aku tak butuh saranmu! Apa yang kamu tahu, hah? Menikah saja belum!"
"Tapi aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan, Mas. Aku berusaha setia dengan pasanganku. Mas Bima bisa menyelesaikan semua dengan baik baik, bahkan berbicara dari hati ke hati dengan Mbak Niken."
"Heh, pinter ya, kamu, sekarang. Padahal kamu juga pernah jadi gigolo! Simpenan Tante girang." Sindir Bima sambil tersenyum sinis pada Dewa.
Dewa menatap tajam ke arah kakaknya itu.
"Setiap orang punya masa lalu, Mas. Tapi, yang perlu mas tahu. Aku belum menikah, dan setiap menjalani hubungan, aku selalu setia. Mas Bima beda. Kamu telah memiliki keluarga, Mas. Punya istri dan punya anak! Menjijikkan! Bapak tak pernah mengajari kita seperti ini, Mas! Sampai mati Bapak tetap setia pada Ibu."
"Jangan bawa-bawa Bapak!"
Bima mendekati Dewa, dan seketika.
Buk!
Bima meninju wajah Dewa, sehingga membuat lelaki itu terhuyung sambil memegang wajahnya.
Dewa meringis sambil menyeka darah yang keluar dari hidungnya akibat tinju kakaknya.
Lalu mereka pun saling beradu pukulan.
Buk! Buk! Buk!
Dewa melayangkan bogem mentah ke arah Bima, dan Bima berusaha menangkisnya. Namun, Dewa menendang kaki kakaknya itu, sehingga Bima lengan dan akhirnya mereka saling berguling sambil saling berbalas pukulan dan tendangan.
Pakaian Dewa dan Bima sudah lusuh dan terkena darah.
Pelipis Bima berdarah akibat hantaman Dewa.
"Mas, sudah!" Teriak Mawar.
"Mas! Apa apaan ini?" Ayu tak kalah histeris.
Dua gadis itu berusaha melerai masing-masing pasangan mereka.
__ADS_1
"Sudah, Mas. Sudah!" Ucap Mawar dengan suara keras.
Mawar menarik lengan Dewa dan memisahkan dari kakaknya.
Mawar terus menarik tangan Dewa untuk menjauh dari Ayu dan Bima menuju motor mereka yang diparkir di pinggir jalan.
Ayu menatap Bima penuh tanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Mas? Benar kamu sudah memiliki istri dan anak?" Tanya Ayu sambil menatap Bima.
Bima hanya diam, dan duduk di tanah sambil menunduk.
"Kamu ingin sendiri? Jika ingin sendiri, aku akan pergi."
Ayu berdiri, dan membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan Bima.
Tap!
Bima meraih lengan Ayu, dan menatapnya.
"Maafkan aku, Ayu."
Ucap Bima sambil menatap Ayu.
Ayu kembali berlutut di hadapan Bima.
Sambil mengusap wajah Bima yang lebam dan berlumpur darah.
"Ayo kita pulang. Luka lukamu perlu diobati."
Ucap Ayu dengan lembut.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, hingga sampai di kediaman Ayu.
Ayu mengambil air hangat dan lap untuk mengompres dan membersihkan luka di wajah Bima.
Ayu membersihkan dengan lap.
Bima menatap wajah Ayu yang dengan sigap membersihkan luka dan mengobati luka di wajahnya.
Bima sangat merasa bersalah pada gadis muda di depannya itu.
Ayu masih sangat muda, namun, Bima telah membawanya terseret dalam carut marut rumah tangganya.
Ayu tak bersalah. Bima sadar dirinya lah yang bersalah. Dia telah jatuh dalam lubang yang bernama perselingkuhan.
Kini, dia ingin kembali pada Niken, namun, Niken telah terlanjur kecewa dan marah. Bima kini telah pasrah.
"Ayu, maafkan aku yang tak jujur padamu selama ini."
Bima menggenggam jemari Ayu yang sedang memberi salep pada luka Bima.
"Aku telah memiliki istri dan anak. Aku telah membohongi dirimu selama ini, bahwa aku telah berkeluarga."
Ayu hanya diam sambil menatap Bima.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ayu. Aku tak pantas untukmu." Ucap Bima lirih.
Lalu Bima berdiri, dan mengambil kunci mobilnya, dan pergi meninggalkan kediaman Ayu.
"Mas, mengapa kamu meninggalkan aku juga! Setelah mengakui telah membohongi aku!"
Ayu berteriak keras sambil menangis dengan penuh rasa marah.
Ayu masih menangis meratapi nasibnya di ruang tengah.
Ayu yang sedari kecil telah haus akan kasih sayang karena selalu ditinggal pergi oleh orang tuanya.
Sejak kecil, Ayu memang telah memiliki segalanya. Semua permintaannya selalu dituruti oleh orang tuanya.
Namun orang tuanya tak pernah ada sebentar saja untuk dirinya.
Ayu diasuh oleh pembantunya sejak bayi. Hingga akhirnya, pengasuhnya jatuh sakit dan meninggal dunia saat Ayu SMA.
Lalu Ayu memiliki kekasih, dan akhirnya mereka kebablasan, sehingga membuat Ayu hamil, dan ternyata kekasihnya tak mau bertanggung jawab.
Orang tua Ayu membawanya ke rumah singgah selama kehamilan Ayu, namun sayang, dia mengalami pendarahan, dan membuat janinnya keguguran karena usia Ayu yang masih belia saat itu.
Lalu dia meneruskan sekolah di luar negeri mengikuti mamanya.
Namun, ternyata kenyataannya adalah hubungan kedua orang tuanya juga tak baik baik saja.
Mereka saling memiliki selingkuhan masing masing. Namun, sama sama tak peduli.
Ayu muak dengan orang tuanya, lalu memutuskan kembali ke tanah air dan menerus kuliah di Yogyakarta.
Papanya membelikan dia rumah untuk tempat tinggal.
Lalu saat dia berlibur ke rumah di Surabaya, Ayu bertemu dengan Bima yang sedang melakukan kerja sama dengan Papanya.
Itulah pertemuan awal mereka.
Ayu yang haus akan kasih sayang, sangat bahagia dengan kehadiran Bima yang selalu memperhatikan dirinya.
Mulanya Bima menganggap Ayu seperti adiknya. Namun, lama kelamaan, Bima tak tahan dengan godaan Ayu, yang seolah memberi sinyal menginginkan lebih dari sebuah hubungan.
Bima yang sedang lelah dengan pekerjaannya, dan bosan dengan kehidupan romantisme dengan pasangannya.
Berhadapan dengan seorang gadis remaja yang menginjak dewasa. Penuh semangat dan gairah. Akhirnya mereka terjebak dalam nafsu duniawi, dan melakukan kegiatan hubungan layaknya pasangan suami-istri.
Setelah sembuh dari lumpuh, stamina Niken sudah tak seperti dulu lagi. Jadi tak bisa melayani Bima di ranjang dengan baik. Bima tidak puas dengan pelayanan Niken, sehingga dia selalu meminta kepuasan dari Ayu yang masih muda dan penuh semangat itu.
Bima menghentikan mobilnya di depan rumah.
Bu Mirna membukakan pintu dan menatap Bima dengan terkejut.
"Bima, apa yang terjadi? Kenapa sampai berdarah gini? Ayo masuk! Siapa yang melakukan ini padamu, Bima?"
Bu Mirna membimbing Bima masuk ke dalam rumah.
Dia memeriksa setiap luka yang ada di wajah Bima dengan seksama.
__ADS_1
"Aku ingin tidur dulu, Bu."
Bima berjalan dengan langkah gontai menuju kamarnya.