
"Ibu? Sedang apa di pabrik?" Dewa terkejut saat melihat Bu Mirna sudah duduk sambil memegang canting hendak menggores pada kain yang ada di depannya.
"Kamu nggak lihat, Ibu sedang apa?"
Dewa melirik ke arah Mbak Nur yang berada di samping Bu Mirna yang sedang membatik juga.
"Tadi, Ibu minta tolong diajari membatik, Mas. Supaya bisa memahami pabrik yang telah dibangun oleh Pak Widodo selama ini."
Mbak Nur menjelaskan. Wanita yang sudah belasan tahun mengabdi pada pabrik sebagai pembatik tulen, dengan sabar membantu dan mengajari Bu Mirna menggoreskan canting yang berisi malam pada kain supaya rapi.
Dewa mengambil kursi dan duduk di samping ibunya sambil memperhatikan.
"Kamu nggak kerja? Malah melihat ibu!"
Bu Mirna melirik Dewa.
"Tumben?"
Tak ada sahutan dari Bu Mirna selanjutnya. Dia masih sibuk menggores canting yang terkena malam mengikuti jalur dengan telaten hingga menyelesaikan kain yang tak terlalu besar itu.
"Seruni menggugat cerai Bram." Bu Mirna menoleh pada Dewa.
"Hah? Apa? Apa alasannya?"
Dewa mendekatkan kepalanya pada wajah ibunya.
"Dewa, apa Seruni masuk hari ini? Kamu sama sekali nggak pernah perhatian sama keluarga! Ibu cari Bima, tapi hingga sekarang belum muncul juga batang hidungnya, lalu Seruni entah kemana?"
"Seruni masih cuti melahirkan, Bu. Jadi aku nggak tahu dia ada di mana sekarang. Apa di rumahnya tidak ada?"
"Jika Seruni ada di rumahnya, Ibu nggak akan pergi ke sini!" Sahut Bu Mirna dengan ketus.
"Loh, Ibu tahu, Seruni menggugat cerai gimana?"
Dewa mengerutkan keningnya.
Bu Mirna melirik Nur, karyawan pabrik yang masih sibuk membatik, seolah tak menanggapi mereka, namun ternyata sangat antusias mendengarkan ucapan Bu Mirna itu.
Bu Mirna berdiri, lalu menarik lengan Dewa masuk ke dalam ruang kantor Bima.
"Pak dan Bu Bagyo tadi pagi datang ke rumah. Mereka mencari Seruni yang pergi dari rumah sambil membawa Regas. Bram hanya diam, nggak mau memberi penjelasan lebih lanjut. Itulah, Ibu merasa khawatir sama adikmu dan cucu ibu itu. Kamu bisa bantu cari Seruni?"
Bu Mirna menatap Dewa penuh harap.
"Mas Bima sudah tahu?"
"Bima? Ibu susah sekali menghubungi Masmu itu!" Sahut Bu Mirna dengan sedih.
__ADS_1
"Ibu sudah menghubungi Mbak Niken? Seruni dekat dengannya selama ini. Siapa tahu, Mbak Niken tahu?"
"Halah? Tahu apa wanita itu? Bisanya cuma menghabiskan uang suami saja selama ini! Gayanya selangit! Anaknya saja pake acara masuk sekolah yang mahal seperti itu. Ibu kebayang, Bima susahnya seperti apa selama ini cari uang untuk menghidupi anak dan istrinya yang boros itu!"
"Bu, nggak baik ngomong yang belum ada buktinya. Mbak Niken selama ini dagang. Sebagian besar pegawai pabrik kadang pesan makanan sama Mbak Niken."
"Hah? Bisa masak wanita itu? Paling hanya masak mi instan dan air saja. Atau nasi goreng pakai bumbu jadi itu!" Bu Mirna mendengus kesal.
"Lah, risol yang tempo hari, Dewa bawa, yang ibu minta belikan hampir setiap hari itu, Mbak Niken yang bikin." Ucap Dewa sambil mengangkat bahunya, sambil tersenyum geli.
"Bohong! Ah, terserah lah! Pokoknya ibu nggak mau tahu. Cari Seruni!"
*
"Runi? Astaga Regas? Ayo masuk!"
Niken membimbing Seruni yang menggendong bayinya masuk ke dalam rumah.
Niken lalu mengambil Regas, bayi mungil itu dari gendongan Seruni dan menggendong bayi itu dalam pelukannya.
"Runi, kamu kenapa? Kamu sudah makan? Ayo makan dulu!"
Niken mengajak Seruni ke ruang makan yang terletak di dekat dapur.
"Loh, ada Tante Seruni?" Laras yang terbangun, menuju ke ruang makan juga.
Niken menoleh ke arah Seruni.
"Yas, adik Regas, bobok di kamarmu, ya?"
"Siap, Ma. Nanti Laras jagain!" Laras berseru dengan riang.
Niken mengacungkan jempolnya pada anak semata wayangnya itu.
Niken menaruh bayi yang baru berusia dua bulan itu tidur di kamar Laras, lalu berlalu menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan.
Niken membuatkan teh panas dan menaruh di depan Seruni.
Niken tak banyak bertanya pada Seruni saat itu, dia tahu, Seruni sedang ada masalah, sehingga seperti ini.
Seruni melahap nasi dan sayur kacang, dengan lauk mangut lele hingga habis, sampai nambah dua kali karena kelaparan. Lalu meneguk teh panas yang telah menjadi hangat itu hingga separuh.
Niken mengambil piring bekas makan Seruni saat Seruni menikmati bolu sebagai kudapan.
"Kamu mau mandi?"
"Iya, Mbak."
__ADS_1
Lalu Seruni segera berlalu ke kamar mandi, sedang Niken membereskan meja makan. Di meja makan kini tinggal teh, dan teko berisi teh, lalu bolu, dan sepiring bakwan jagung.
"Regas, tidurnya nyenyak banget."
"Iya, soalnya Laras yang jagain!" Sahut Niken sambil tersenyum.
"Kamu pergi dari rumah?" Niken melirik tas besar yang ada di kursi.
Seruni mengangguk pelan.
"Aku sudah menggugat cerai Mas Bram."
"Astaga, Runi! Apa yang terjadi?"
Niken memegang tangan adik iparnya yang terasa dingin.
"Ada tiga orang wanita yang datang ke rumah, meminta pertanggungjawaban Mas Bram. Salah satunya sudah dinikahi secara siri. Semuanya sudah hamil, Mbak!"
Tangis Seruni pecah usai mengucapkan itu. Niken langsung memeluk tubuh Seruni dan mengusap punggungnya dengan lembut menenangkannya.
"Menangislah! Luapkan semuanya Runi."
Niken mengusap punggung adik iparnya itu.
Setelah puas menangis, Seruni melepas pelukannya, dan menatap Niken.
"Aku boleh di sini sementara waktu?"
"Ya. Silakan. Rumah ini selalu terbuka untukmu, Runi."
"Terima kasih, Mbak."
Sejenak keheningan terjadi di ruangan itu. Niken pun tak terlalu memaksa Seruni untuk bercerita, meski sebenarnya sangat penasaran.
"Dua minggu yang lalu datang seorang wanita hamil, mencari Mas Bram, yang bekerja sebagai dosen. Dia mencari karena Mas Bram nggak pulang selama seminggu. Mereka sudah menikah secara siri, karena wanita itu sudah hamil. Wanita itu dulu mahasiswi bimbingannya semasa kuliah, lalu tak sengaja bertemu kembali dan mereka bertukar informasi. Lalu mereka dekat, dan Mas Bram itu adalah seorang lelaki yang selalu melakukan hubungan fisik saat menjalin suatu hubungan dengan lawan jenis, Mbak. Jadi bisa ketebak, kan?"
Niken menepuk punggung tangan Seruni pelan.
"Lalu beberapa hari yang lalu datang dua orang wanita muda, yang ternyata mahasiswi nya juga. Dua duanya hamil karena Mas Bram. Mahasiswi itu dijanjikan nilai yang baik, namun dengan syarat harus memuaskan hasrat Mas Bram. Dan mungkin bukan hanya dua orang itu saja, kali, Mbak. Mengingat Mas Bram suka berbuat gitu sama mahasiswi nya. Aku yakin dia nggak akan selamat lagi kali ini, Mbak!" Seruni tersenyum sinis.
"Kamu ngomong apa sih, Runi?"
"Sejak semula, aku sudah menolak Mas Bram, karena baru sekali bertemu saja sudah minta ngamar di hotel, Mbak."
"Kenapa kamu setuju? Kamu, kan bisa menolak, Runi."
"Percuma, Mbak. Ibu malah bilang, nggak apa apa, aku hamil anak Mas Bram. Toh sebentar lagi aku akan menikah dengannya. Lalu orang tua Mas Bram juga ngomong Mas Bram akan sekolah lagi ke Amerika dan aku akan ikut. Tapi, semuanya bohong! Itu hanya trik supaya Ibu mau mengijinkan aku dan menekan aku supaya menikah dengan Mas Bram. Orang tuanya mungkin tahu, anaknya memiliki kebiasaan buruk itu! Aku malas berdebat dengan Ibu, Mbak. Makanya aku menerima saja perjodohan itu."
__ADS_1