Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Ibu ke Pabrik


__ADS_3

"Ibu sudah bilang, kamu harus paksa kakakmu itu untuk membantu kamu di pabrik! Ibu sudah tidak tahan lagi dengan kinerja para pegawai di sini yang makin sudah di atur! Stok kain habis, vendor telat. Padahal dulu dulu nggak pernah seperti ini!"


Bu Mirna mengomel sepanjang hari di kursi yang biasa di tempati oleh Pak Widodo.


"Ini lagi, tagihan kenapa melonjak semua! Runi! Runi! Gimana ini? Kenapa tagihan listrik pabrik jadi melonjak drastis. Dulu, biasanya, ibu membayar tagihan listrik pabrik itu paling besar dua ratus ribu saja. Kenapa ini bisa sampai dua juta, Runi?! Melonjak sepuluh kali lipat!"


"Apa sih, Ibu? Datang datang langsung ngomel gini?"


Seruni tergopoh-gopoh menghampiri Bu Mirna sambil menggaruk-garuk kepalanya bingung.


"Heh! Kamu jangan domblong! Kalo ditanya jawab!"


Omel Bu Mirna yang masih berlanjut.


"Apa, Bu? Runi masih ngurus packing barang di gudang ini. Tanya Sarah saja, ya? Atau tanya Mas Pur saja, ya!"


Elak Seruni sambil berbalik hendak kembali ke gudang.


"Heh! Kamu itu nggak sopan banget! Ibu ini tanya! Kenapa tagihan listrik bisa sampai dua juta gini?" Tanya Bu Mirna sambil menunjuk tagihan listrik.


"Ya memang segitu, Bu. Biasanya malah sampai tiga juta lebih. Emang kenapa?"


Sahut Seruni dengan enteng.


"Hah! Biasanya segitu!"


"Iya! Emang kenapa, Bu?"


"Dulu, ibu biasanya bayar tagihan listrik cuma paling besar dua ratus ribu saja! Pasti ini ada yang nggak beres!" Tukas Bu Mirna sambil menopang dagunya seolah berpikir.


"Tahun berapa?" Cetus Seruni cuek.


"Dulu! Waktu ibu masih membantu Bapakmu di pabrik."


Sontak jawaban Bu Mirna membuat Seruni tertawa terbahak-bahak.


"Astaga, Ibu! Itu sudah tahun kapan, ya! Waktu Runi masih kecil kali ya!"


Seruni masih melanjutkan tawanya.


"Hah, terserah! Pokoknya pasti ini ada yang tidak beres dengan listrik pabrik! Ibu akan menyelidikinya."


Seruni hanya bisa geleng-geleng kepala sambil meninggalkan ruangan itu.


Bu Mirna masih mengomel sambil membolak-balik beberapa dokumen dan tagihan.


"Kenapa, Bude?" Tanya Mas Pur saat Seruni kembali ke gudang.


"Mbuh! Mumet aku Mas! Masak tagihan jaman kapan, disamakan sama tagihan jaman sekarang, jelas beda banget lah!"


Cerocos Seruni pada Mas Pur.

__ADS_1


"Tagihan apa?"


"Tagihan listrik. Kata Ibu, tagihan listrik harusnya dua ratus ribu,paling besar jaman dia dulu waktu masih bantu di pabrik. Lah tahu tagihan listrik pabrik samep dua juta lebih, ngomel ngomel. Jaman kapan itu dia ratus ribu! Lha rumah biasa saja kadang bisa sampai lima ratus sampai satu juta." Tutur Seruni sambil geleng-geleng kepala.


Mas Pur menanggapi dengan tersenyum sambil membantu packing.


"Bagaimana kabar Mbak Niken?"


"Mbak Niken baik."


"Kasian kemarin pas datang ke rumah. Padahal niatnya baik loh, Mbak Niken itu ingin mendoakan arwah Pakde. Tapi, Kok Bude gitu, sih perlakuannya sama mbakmu itu? Memangnya salah apa, Mbak Niken?" Tanya Mas Pur sambil menoleh ke arah Seruni yang masih sibuk menempel alamat di paket paket yang siap dikirimkan.


Seruni menghela napas dalam-dalam.


"Aku sebenarnya males cerita ini ke orang lain, Mas. Kayak bongkar aib sendiri jadinya. Tapi, ya memang gitu, sih kenyataannya. Ibu memang dari dulu memang nggak suka sama Mbak Niken."


"Kenapa? Mbak Niken cantik, baik, sopan, ramah, keibuan, sabar, pinter lagi. Kurang apa coba. Mas mu itu beruntung dapat Mbak Niken. Aku saja ngiri!"


Tukas Mas Pur terus terang.


"Curhat nih ceritanya!" Sela Seruni.


"Iya. Kurang apa coba Mbak Niken itu?"


"Kurang kaya! Menurut ibu!" Sahut Seruni penuh penekanan.


Mas Pur menatap Seruni seolah tak percaya.


"Kurang kaya, gimana?"


"Oh, iya.... Aku ingat. Jadi dulu, Bude sama sekali nggak merestui mereka?"


Seruni mengangguk.


"Kasihan, Mbak Niken." Mas Pur ikut menghela napas.


"Eh, tapi ngomong-ngomong, Rima itu kabarnya jadi simpanan pengusaha."


Cetus Mas Pur.


Sontak ucapan Mas Pur membuat Seruni terlonjak dan melotot menatap sepupunya itu.


"Maksudmu piye, Mas?"


Seruni meletakkan gunting dan selotip ke meja, dan menyimak Mas Pur.


"Rima, ponakannya, Bu Gito, kan?" Tanya Mas Pur memastikan.


"Iya."


Seruni mengangguk.

__ADS_1


"Rima itu jadi istri simpanan pengusaha di Jakarta. Mereka itu nikah siri. Istri pertama nggak tau. Setelah nikah setahun, Rima dilabrak sama istri pertama pengusaha itu. Tapi, beruntungnya Mbak Rima, dia masih dapat jatah dari suaminya itu. Konon kabarnya nggak akur hubungan antara istri pertama dan kedua itu."


"Serius, Mas? Masa sih, Mbak Rima mau jadi istri simpanan?" Seruni mengerutkan keningnya.


"Iya. Memang benar."


"Kata siapa?"


"Pegawainya Bu Gito itu sudah tahu semua cerita ini dari awal, Bu Gito itu sudah mengingatkan keponakannya itu berkali-kali, untuk menjauhi pengusaha itu, tapi Mbak Rima, seolah nggak mau tahu."


"Jadi, Bu Gito kenal sama suami Mbak Rima?"


"Kenal banget. Mereka rekan bisnis. Salah satu langganan Bu Gito menjahitkan seragam. Bahannya dari pabrik kita ini."


Terang Mas Pur dengan bersemangat.


"Eh, ternyata Mas Pur ngerti juga gosip gosip ginian. Tahu gitu seeing sering lah kita mengobrol."


Celetuk Seruni.


"Saya, nggak enak mau ngomong soal ginian kalo ada Bapak, dulu. Apalagi Mbak Niken itu orangnya lurus dan lempeng. Susah diajak ngegosip."


Seruni terkekeh mendengar alasan Mas Pur.


"Ya iyalah... Mbak Niken sudah sibuk mengurus pekerjaan yang lain, nggak ada waktu buat ngurusin obrolan nggak jelas sama kamu, Mas!"


"Tapi, yang barusan jelas banget, kan?!"


"Yang mana?" Seruni pura pura lupa.


"Yang soal Mbak Rima tadi!"


Seruni mengangguk sambil tertawa kecil.


"Oh...oh...oh...oh... Ternyata kamu di gudang kerjanya cuma cekikikan gin?" Tiba tiba terdengar suara Bu Mirna mengagetkan Seruni dan Mas Pur.


Keduanya langsung terdiam membisu.


"Tadi katanya sibuk packing, ibu lihat, kok malah ketawa cekikikan nggak jelas gitu! Kalo cuma kerja ketawa hahaha hihihi, ya nggak usah di gudang, kamu urus keuangan di dalam kantor itu!"


"Bu, Seruni sudah cek. Selesai packing, nanti Seruni urus laporan keuangannya, sambil nunggu Mas Bima dan Mas Dewa datang."


"Ngapain nunggu mereka?"


"Biasanya, Mas Dewa kalo pulang antar barang nanti bawa nota. Bisa sekalian Seruni masukkan ke pendapatan, Bu."


"Memangnya, Dewa pulang jam berapa?"


"Ya, nggak tentu, Bu. Ditunggu saja. Lagian ini sambil nunggu kurir untuk ambil barang yang sudah dipacking."


Seruni menunjukkan paket paket yang telah dia bungkus bersama Mas Pur pada ibunya.

__ADS_1


Lagi lagi Bu Mirna hanya melengos lalu meninggalkan gudang menuju ke ruang produksi.


"Huh, semoga Ibu nggak buat masalah di sana!" Seruni menepuk jidatnya, sambil berlari mengikuti Ibunya.


__ADS_2