
"Terima kasih, sudah repot repot untuk datang. Hujan lagi." Seruni duduk di teras bersama Satria.
"Nggak apa apa. Amanda yang memaksa untuk datang mengucapkan selamat ulang tahun untukmu. Tapi, sekarang malah asik main bersama Laras dan adik bayi di dalam."
Seruni tersenyum kecil.
"Apa kabar?" tanya Seruni berbasa-basi sambil memberanikan diri menatap Satria yang memandangnya.
"Aku selalu baik. Kamu yang apa kabar?"
Satria balik bertanya.
"Kamu bisa lihat! Cukup tragis, tapi sekarang aku bisa bernapas dengan lega. Menikah dengan pilihan ibuku, lalu menjalani rumah tangga yang bisa dibilang baik baik saja. Namun, ternyata mantan suamiku itu adalah predator mahasiswi."
Seruni tersenyum kecut, menertawai dirinya sendiri.
"Ya. Aku membaca di surat kabar berita tentang suamimu."
"Mantan suami!" tegas Seruni.
"Ya, mantan suamimu." Satria mengulangi ucapan Seruni sambil mengangguk pelan.
"Cukup menghebohkan, dan aku langsung mengajukan gugatan cerai, dan akhirnya seminggu yang lalu telah resmi bercerai dengan hak asuh anak ada padaku. Mas Dewa membantuku untuk terus mempekerjakan aku di pabrik. Mbak Niken, membantu mengurus Regas."
"Bagaimana Ibu?"
"Ibuku hanya diam. Tak ada kata maaf atau prihatin, atau kata penghiburan untukku. Itulah, mengapa aku memilih tinggal sementara di rumah Mas Bima. Aku lelah menghadapi Ibu."
Keduanya saling mengobrol diiringi suara rintik hujan di teras depan kediaman Bima dengan akrab.
Niken dan Dewa sengaja membiarkan Seruni dan Satria mengobrol berdua, karena mereka tahu, dulu mereka pernah menjalin hubungan, meski pun tidak pernah saling mengakui satu sama lain.
"Mas Bima belum pulang, Mbak?"
Tanya Dewa sambil melahap sepotong brownies.
"Besok."
"Iya. Mas Bima jarang di rumah?"
"Bukannya pabrik sedang sibuk dengan pesanan tender proyek dari rumah mode terkenal itu?" Niken balik bertanya penuh selidik pada Dewa.
Dewa terdiam, sejenak berpikir memilih kata kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Niken.
"Iya. Tapi, bisa teratasi. Mas Bima lebih sering mengantar pesanan secara langsung, dari pada mempercayakan karyawan."
"Mungkin, Mas mu itu sekalian bersilahturahmi dengan pemilik rumah mode. Seperti yang sering dilakukan oleh Bapak dulu."
"Iya."
"Eh, bagaimana kehidupan asmaramu? Adikmu sudah melangkahi, terus sudah pisah juga."
Dewa tertawa kecil.
__ADS_1
"Sudah, Mbak. Wanita sederhana, dia seorang seniman. Teman semasa kuliah dulu. Tapi, kami sama sama masih saling mengenal satu sama lain. Dia juga pernah mengalami kegagalan, lalu aku juga sama. Doakan kali ini aku langgeng, ya, Mbak."
"Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Dewa. Kamu sudah aku anggap adik sendiri."
"Amin. Terima kasih, Mbak."
"Ibu bagaimana? Setelah Seruni bercerai dengan Bram."
"Tak ada respon. Ibu lebih banyak diam dan bersikap masih biasa saja. Di rumah juga masih suka ikut acara arisan atau kumpul kumpul lain untuk hiburan."
"Kamu jangan lupakan kesehatan Ibu, ya. Di cek sekali sekali, sudah makan atau belum, atau ibu butuh apa."
Dewa tercenung.
"Mbak, mengapa Mbak Niken bisa sebaik ini sama Ibu? Ibu itu selalu menjelekkan Mbak Niken pada kami dan pada semuanya. Tapi, Mbak Niken malah yang lebih memperhatikan ibu daripada kami anak anaknya."
"Dia ibu Mas Bima, aku sudah menganggap seperti ibuku. Dia juga nenek dari Laras. Aku hanya berusaha berbakti pada orang tua. Kamu dan Seruni juga sudah aku anggap seperti adik sendiri. Aku nggak punya adik selama ini. Oya, kapan itu, aku pernah ketemu mantanmu yang punya tempat makan yang rame itu."
"Mala?"
Niken mengangguk.
"Terus."
"Dia sempat tanya kamu ke Mbak. Aku bilang kamu masih sibuk mengurus pabrik seperti biasa."
"Untuk apa dia menanyakan aku lagi?" Dewa tersenyum sinis.
"Mbak Niken sampai tahu?" Dewa menatap Niken seolah tak percaya.
"Ada seorang langganan katering, Mbak yang cerita ini. Dia jadi teman tidur mantanmu itu."
Dewa makin membulatkan matanya menatap Niken.
"Mbak Niken, ternyata dirimu tahu lebih banyak daripada aku."
"Ya, seperti dua orang yang sedang mengobrol di depan itu. Bisa jadi beberapa hari ke depan mereka makin lengket dan jadian." Tebak Niken sambil tersenyum percaya diri.
"Waduh, sudah jadi cenayang ini, Mbak ku. Kapan kapan aku wajib mengenalkan calonku padamu, Mbak. Tolong di terawang."
Niken terbahak-bahak mendengar penuturan Dewa.
"Aku bukan dukun, Wa!" Niken masih tergelak.
*
Sementara itu di kediaman Ayu, Bima sedang menikmati menu penutup usai makan malam bersama Ayu.
"Mas, aku kangen!" Ayu mulai merayu Bima usai mencuci piring.
Ayu duduk di pangkuan Bima sambil mengarahkan sisa potongan brownies yang ada di tangan Bima dan mulutnya.
Ayu sengaja mengulum jari Bima untuk menggoda kekasihnya itu.
__ADS_1
Tiba-tiba milik Bima menggelenyar akibat reaksi Ayu yang memasukkan jarinya dalam mulut Ayu.
"Ayu..."
"Hmmm..." Ayu menoleh ke arah Bima dengan manja.
Ayu membalik tubuhnya pada pangkuan Bima, berhadapan sambil menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan.
"Ayu, kamu tidak memakai..."
Ayu mengangguk sambil tersenyum penuh rayuan.
Tubuh Bima yang lelah, yang diberikan sentuhan sentuhan penuh rayuan itu, akhirnya membangkitkan kembali miliknya.
Miliknya kini mulai mengeras, dan Ayu bisa merasakan dengan pasti.
"Kita ke dalam kamar saja." Ajak Bima.
Namun, Ayu melingkarkan tangannya pada leher Bima, dan menciumi bibir lelaki itu, lalu menuju ke lehernya.
"Ayu, masa di dapur?"
"Mas, aku ingin kita bermain di sini dulu." Rengek Ayu sambil mengerlingkan mata genitnya.
Bima menyeringai lebar memahami permintaan Ayu.
Gadis muda itu memang sering meminta permainan bercinta dengan posisi yang aneh. Selain itu, sering mencoba melakukan di berbagai tempat di dalam rumah Ayu. Bahkan tak jarang mereka melakukan di dalam mobil di tempat yang sepi.
Seperti kala itu, mereka bercinta dengan penuh gairah di dalam mobil Bima ketika berkunjung di pantai.
Malam ini, Bima menggarap Ayu di dapur rumahnya.
Kini pakaian keduanya sudah berserakan di lantai.
Bima menempelkan tubuh Ayu ke dinding, dan memegangi satu kakinya, sambil menggerakkan pinggulnya maju mundur perlahan hingga cepat.
"Ayu, kenapa jadi makin sempit?"
Ayu tersenyum senang mendengar pertanyaan Bima.
"Enak nggak, Mas?"
"Sempit banget, Yu. Kayak dipijit pijit."
"Ayo, Mas! Puaskan aku!" Bisik Ayu tepat di telinga Bima. Membuat adrenalin Bima terpacu untuk memuaskan wanitanya itu.
Usai di dekat tembok, lalu di atas meja makan, lalu di meja dapur.
Akhirnya Bima mengangkat tubuh Ayu masuk ke dalam kamar.
Terdengar suara keduanya bersahutan saling meraung memadu hasrat hingga ke puncaknya.
Bima sudah tak ingat lagi akan istri dan anaknya, bahkan telah lupa bahwa hari itu adalah hari ulang tahun Seruni, yang biasanya tak pernah dilupakannya. Kini, yang dia ingat hanyalah merengkuh nikmat duniawi bersama Ayu.
__ADS_1