
Sudah dua minggu lamanya, Seruni tinggal bersama di rumah Bima. Selain, Bima yang sibuk, dan sering tidak di rumah dengan alasan ke luar kota, padahal sedang pergi berduaan bersama Ayu, atau hanya sekedar menghabiskan waktu berduaan di rumah Ayu.
Bima makin tergila-gila dengan Ayu, apalagi banyak gaya posisi bercinta yang sering mereka coba membuat Bima sangat ketagihan. Ayu yang masih muda dan penuh semangat, membuat Bima bergairah lagi untuk melakukan hubungan intim.
Hari ini, kebetulan Seruni berulang tahun, Niken sengaja membuat nasi kuning untuk Seruni untuk dinikmati bersama.
Seruni mulai kembali bekerja di pabrik, dan Regas, akhirnya diasuh oleh Bude Ning. Niken tidak masalah, Bude Ning bekerja untuk membantu Seruni.
Saat ini Laras sudah 9 tahun, dan mulai mandiri. Laras juga sering membantu Mamanya untuk melipat kotak untuk snack box pesanan, atau membantu mengantar ke tetangga yang memesan dengan Niken.
Sudah beberapa bulan ini, Niken dapat menabung hasil jualannya, dan bulanan dari Bima sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, dan cenderung sisa.
Banyak yang dapat ditabung oleh Niken, untuk masa depan keluarga mereka. Niken merasa bersyukur, Laras dapat bersekolah di sekolah negeri, yang biayanya gratis. Tak jarang pihak sekolah sering mempercayakan Niken untuk menyediakan kudapan, jika ada rapat atau kegiatan sekolah.
"Dewa, kamu bisa ke rumah hari ini?"
"Ada apa, Mbak?"
"Seruni ulang tahun. Bantu aku kasih kejutan pada adik kecil kita itu."
Dewa tergelak.
"Hus! Nggak boleh ketawa! Pokoknya datang ya!"
"Siap, Mbak."
"Jangan lupa bawa kado buat Seruni."
"Oke, Mbak."
Setelah menutup panggilan ponselnya, Niken segera menata pesanan beberapa pelanggan ke dalam plastik.
Setelah mengirim beberapa pesanan dengan ojek online, Niken mengambil sekantong pesanan dan mengantarnya sendiri.
Ada dua pesanan yang sengaja Niken amatir sendiri.
Sebenarnya, Niken hanya ingin mengantar pesanan dari Satria ke tempat tinggalnya. Namun, karena satu lagi pesanan satu arah, jadi Niken sengaja membawanya juga.
Niken melajukan motor, yang dulu biasa dipakai oleh Bima. Kini, Niken yang memakainya untuk keperluan operasional dan sehari-hari.
Niken menghentikan motornya di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, di sebuah komplek yang termasuk mewah di kota Yogya.
Niken, mengambil kantong berwarna cream yang berisi paket makan siang, beserta seloyang brownies pesanan si empunya rumah.
TING TONG
Niken membunyikan bel yang ada di depan pagar.
Tak lama seorang gadis muda yang cantik keluar dari dalam rumah. Gadis itu mengenakan daster midi di atas paha dengan model tanpa lengan.
Gadis muda berkulit kuning Langsat, dan berparas cantik itu melenggang menuju ke arah Nike. Dan membukakan pagar.
"Saya mau mengantarkan pesanan untuk Mbak Ayu." Ucap Niken sambil menyerahkan kantong yang dibawanya.
"Oh, iya. Terima kasih."
Gadis itu, yang tak lain Ayu sendiri menerima kantong itu sambil tersenyum.
"Mbak, driver ojol?" tanya Ayu sambil melirik cantelan kantong di motor Niken.
__ADS_1
"Bukan. Saya Niken."
Sejenak Ayu termenung seolah sedang berpikir.
"Niken, pemilik katering ini?" Tanya Ayu seolah tak percaya.
"Iya, Mbak."
"Astaga, Mbak Niken. Saya Ayu. Selama ini kita hanya berkomunikasi di wa saja, nggak pernah saling ketemu. Kok repot repot pakai mengantar segala. Biasanya pakai ojek online."
"Oh, Mbak Ayu. Kebetulan, ini ada pesanan teman, rumahnya satu arah, jadi sekalian tenteng saja. Terima kasih, ya, sudah jadi langganan saya."
"Sama sama, Mbak. Kalau Laras itu siapa?"
"Itu nama Putri saya, Mbak. Makanya saya jadikan nama usaha." Sahut Niken sambil tersenyum.
"Masakan Mbak Niken enak sekali. Apalagi kudapannya. Luar biasa!" Puji Ayu sambil mengacungkan jempolnya.
"Maturnuwun, Mbak." Lagi lagi Niken hanya tersenyum ramah.
"Pacar saya juga suka masakan Mbak Niken, terutama lemper dan Semar mendem buatanmu. Bisa habis sendiri satu box itu."
"Oya?"
Niken terkejut. Dadanya berdesir mendengar cerita Ayu, yang memiliki pacar menyukai lemper dan Semar mendem seperti Bima.
Namun, Niken buru buru menyingkirkan pikiran buruknya. Lagi pula banyak juga yang pesan lemper dan Semar mendem padanya, selain Ayu, batin Niken.
"Pacar Mbak Ayu tinggal di sini?"
"Nggak. Cuma kalo jam makan siang suka mampir ke sini, atau kalo sedang suntuk di rumahnya, dia mampir ke sini. Biasalah, Mbak, mencari kebutuhan jasmani." Ayu tersipu.
Niken hanya tersenyum menanggapinya.
"Mbak Ayu kerja?"
"Nggak, Mbak. Saya masih kuliah. Tapi kadang bantu usaha Papa juga membuat iklan di sosial media brand usaha Papa."
"Oh, bagus, dong itu. Boleh tahu usahanya apa, Papanya?"
"Konveksi, Mbak. Di Surabaya. Tapi sudah ke luar negeri pemasarannya. Makanya kadang saya yang handel kalo untuk konsumen luar negeri."
"Wah, hebat. Masih kuliah, tapi sudah langsung terjun membantu di perusahaan. Bagus itu." Puji Niken dengan tulus.
"Terima kasih, Mbak. Kalo pacar saya kebetulan punya pabrik batik di sini, jadi kadang bisa request motif atau warna gitu."
DEG!
Jantung Niken kembali berdesir, namun segera dibuang jauh-jauh pikiran buruk itu.
"Ini nanti dia baru pulang, makanya saya pesan makanan ke Mbak Niken buat menyambut pacar saya. Dia nggak suka jajan di luar Mbak. Katanya nggak cocok rasanya. Mahal iya, enak nggak."
Niken tergelak, disusul tawa oleh Ayu.
"Apalagi makanan yang dimasak oleh Mbak Niken. Cocok sama lidah kami berdua. Mantab." Puji Ayu.
"Ah, Mbak Ayu bisa saja. Ya sudah, saya pamit dulu, ya."
"Baik, Mbak."
__ADS_1
Tak banyak basa basi lagi, Niken segera pamit untuk mengantar pesanan selanjutnya.
*
"Astaga, Dewa, lama sekali muter-muter cari lilin angkanya!" Gerutu Niken sambil melotot.
"Iya loh, Om Dewa." Sela Laras sambil mengambil plastik berisi lilin angka yang dibawa Dewa, dan memasang pada kue ulang tahun buatan Niken.
"Kuenya bagus, Mbak."
"Iya, dong! Mama, yang buat." Puji Laras.
Niken hanya tersenyum geli.
"Nanti kamu ketok pintu kamarnya, dia lagi menyusui Regas di kamar. Kalo Regas bobok, yang kamu ajak dia keluar sebentar, bilang ada yang cari." Instruksi Niken.
Dewa mengangguk mantap.
TOK TOK!
Dewa mengetuk pintu kamar tempat Seruni tidur dengan Regas.
Tak lama, Seruni membuka pintu kamar.
"Ada apa?"
Seruni terdiam sesaat menatap Dewa.
"Ngapain, Mas?"
"Cari kamu lah! Ayo ke depan sebentar!" Ajak Dewa pelan sambil melongok ke dalam kamar, melihat Regas yang sudah tidur lelap.
"Ada apa sih?"
"Ayo lah, Runi!"
Dewa menarik pergelangan tangan adiknya itu menuju ruang tamu.
"Selamat ulang tahun!"
Teriak Laras dan Niken bersama sambil membawa kue ulang tahun dengan lilin dengan angka 29 menyala.
Seruni terkejut, dan matanya tampak berkaca-kaca melihat itu.
"Ayo make a wish dulu, Tante!" Ucap Laras sambil membawa roti ulang tahun itu mendekat tepat di depan Seruni.
Seruni memejamkan matanya sesaat, lalu meniup lilinnya.
Suara tepuk tangan menggema.
Niken memeluk dan mengucapkan selamat ulang tahun pada adik iparnya itu, disusul oleh Laras dan Dewa yang memberikan ucapan pada Seruni.
"Permisi!" Ucap suara di ambang pintu kediaman Niken.
Seruni, Laras, Niken, dan Dewa langsung menoleh ke arah pintu.
"Manda!" Teriak Laras dengan gembira.
"Ayo masuk sini!" Niken langsung mempersilakan Amanda dan Satria untuk masuk.
__ADS_1
Seruni hanya diam mematung sambil menatap ke arah Satria.
Rasa cinta itu masih ada dala lubuk hati Seruni, bahkan dia sangat yakin Regas adalah buah cintanya bersama dengan Satria pada malam itu.