
"Papa sampai kapan di Jakarta?" Tanya Laras pada Bima.
"Sekitar tiga hari, hari Minggu papa kembali ke Yogyakarta." Sahut Bima sambil membelai lembut Laras.
"Besok papa akan ke sini lagi?"
"Papa akan usahakan datang."
Laras memeluk Bima.
Niken hanya menatap dingin semua peristiwa itu. Dalam hatinya sangat sedih.
Dalam hatinya penuh penyesalan, mengapa semua itu harus terjadi.
Perselingkuhan Bima, yang sangat menyakiti hatinya, yang memaksa dirinya harus tega memisahkan Laras dengan Bima juga.
Niken menyesal telah mengorbankan putrinya menjadi korban keegoisan orang tua. Niken tidak menyesal berpisah dengan Bima, kerena menurutnya, Bima memang pantas menerima itu.
Hanya saja, Niken merasa kasihan pada Laras, harus menjadi anak yang hidup tanpa kasih sayang orang tua yang lengkap.
"Aku pergi dulu." Bima berpamitan pada Niken.
Niken hanya mengangguk tanpa ekspresi.
"Maaf....."
"Nggak apa apa, Mas. Semua sudah terjadi. Aku sudah bahagia seperti ini." Ucap Niken kemudian.
Bima mengangguk pelan, lalu membalikkan tubuhnya, pergi dari kediaman Bu Lusi, tempat tinggal Niken dan Laras.
"Mama nggak sedih papa pergi?" Tanya Laras setelah Bima pergi.
Niken menoleh pada Laras.
"Nggak. Mama sedih jika kamu yang pergi meninggalkan mama."
Niken menjawil hidung Laras dengan gemas.
"Mama suka sama Om Rangga?" Tiba-tiba Laras bertanya tentang Rangga.
Niken hanya tersenyum.
"Mama dan Om Rangga hanya temenan saja."
"Laras juga menyukai Ini Rangga. Orangnya baik, lucu, penyayang, sabar, tapi juga tegas."
Niken mengerutkan keningnya mendengar Laras memcerocos.
"Kok kamu malah lebih tahu?"
"Kan kemarin kemarin pas ada Amanda, kami kan sering jalan sama Om Rangga juga, Ma. Dan itu sudah sejak dulu, kata Amanda. Itulah, mengapa, dulu waktu mamanya sakit, Amanda yang mengasuh ya Om Rangga. Makanya Amanda itu merasa Om Rangga itu seperti papanya juga. Kalau mama juga menyukai Om Rangga, Laras juga sangat senang."
Celoteh Laras sambil menatap Niken yang masih terpaku.
"Mama hanya ingin menikmati waktu bersama Laras dan Oma Lusi dulu untuk saat ini."
Niken menatap lembut putri semata wayangnya itu.
"Tapi, Laras juga ingin mama bahagia."
"Kebahagiaan mama adalah melihat Laras bahagia, Oma bahagia."
__ADS_1
Niken tersenyum sambil membelai Laras.
"Laras tahu, papa telah menyakiti Mama. Dan Laras juga sedih melihat mama selalu menangis waktu itu. Laras tahu, tapi nggak ingin menambah sedih mama."
Niken tak tahan lagi mendengar ucapan putrinya. Laras telah tumbuh dewasa sebelum waktunya akibat perceraiannya dengan Bima.
Niken menangis, memeluk Laras dengan erat.
"Kamu anak yang baik Laras. Maafkan Mama. Mama nggak bisa memberikan keluarga yang utuh untuk Laras."
"Om Rangga juga baik, kok. Laras merasa Om Rangga selama ini tulus sama kita. Bukan karena dia teman Mama dan Papa sebelumnya, tapi, memang dia baik. Amanda juga cerita banyak tentang Om Rangga. Dia dulu patah hati karena orang yang dicintai menikah dengan sahabatnya. Lalu selama itu nggak pernah punya pacar. Secinta itu dia sama wanita itu, Ma. Jadi, kalau misal Om Rangga menyukai Mama, dan Mama juga menyukainya, Laras nggak apa apa. Laras senang."
Niken terhenyak. Dia sama sekali tak menyangka, putrinya benar benar telah tumbuh lebih dewasa dari anak anak seusianya.
Sejak berteman dan bersahabat dengan Amanda, yang juga tumbuh lebih cepat dewasa pemikirannya, Laras kini juga demikian.
Niken semakin tak bisa membendung air matanya, lalu memeluk Laras dengan erat.
*
BRUK..
"Maaf.. maaf, tidak sengaja, apakah.....?!"
Sejenak Bima tertegun menatap orang yang baru ditabraknya.
"Ayu....?" Bima menatap wanita muda yang pernah mengisi hari harinya dahulu, yang membuat dia melupakan keluarganya, dan membuat Niken sakit hati dan akhirnya memilih berpisah.
"Mas Bima? Sedang apa di sini?" Ayu menatap Bima dengan terkejut.
"Aku selesai menemui klien. Kamu?" Bima balik bertanya.
"Kamu ada waktu? Apa kita bisa ngobrol, jika tidak keberatan?" Bima menatap Ayu.
Gadis muda itu masih terlihat sama seperti saat dia meninggalkannya, setelah perselingkuhan mereka terungkap oleh Niken.
Tapi, sekarang, Ayu terlihat lebih dewasa. Satu tahun berselang, memang tak merubah banyak.
Ayu mengangguk pelan, lalu menunjuk sebuah cafe yang ada di mall itu.
"Sedang apa di sini?" Tanya Bima sambil menatap lekat gadis muda itu.
"Aku mengurus gerai milik papa di Jakarta. Papa dan mama telah berpisah beberapa bulan yang lalu. Dan aku diminta oleh papa membantu mengurus usaha yang di Jakarta."
"Lalu kuliahmu?"
"Selama satu tahun lalu aku kebut, dan akhirnya, tinggal skripsi saja tahun ini. Kebetulan aku juga menulis skripsi tentang salah satu gerai di sini, jadi sekalian saja menghabiskan waktu di sini, lalu jika mau bimbingan, pulang ke Yogya."
Ayu bercerita panjang lebar, masih seperti dulu.
"Aku senang kamu bisa maju seperti sekarang."
"Ya, sepertinya, aku harus mengalami hal yang terburuk dulu, untuk memacu diri sendiri untuk belajar lebih keras."
Ayu tersenyum kecut, seolah menyindir dirinya yang bodoh.
"Maafkan aku, Ayu."
Ayu terdiam, lalu sesekali melirik Bima yang sesekali menyesap kopinya.
Bima masih seperti dulu, tapi sekarang terlihat tak terawat. Wajahnya penuh jambang, dan rambutnya sedikit gondrong.
__ADS_1
Ada kerinduan menyusup dalam dada Ayu akan Bima. Ayu sejujurnya patah hati saat Bima meninggalkan dirinya dan mengejar istrinya.
Tapi, Ayu sadar, dia juga salah. Ayu mencintai lelaki yang telah berkeluarga.
Setelah itu, Bima sama sekali tak pernah menghubungi bahkan saat kontrak bisnis dengan papanya, Bima mengutus Dewa yang mengurus semuanya.
Ayu merasa sedih, dan melampiaskan dengan mengejar ketertinggalannya, lalu selama itu dia fokus kuliah.
Lalu orang tuanya tiba-tiba memutuskan untuk berpisah secara baik-baik, Ayu tak tahu alasannya, dan seolah tak mau tahu.
Dan papanya meminta Ayu untuk membantu mengurus usaha yang ada di Jakarta.
Sampai hari ini, saat dia jenuh di dalam gerai, dan berjalan jalan berkeliling area mall, Bima yang sengaja menabraknya.
Ingin rasanya Ayu memeluk lelaki itu. Ayu sangat merindukan Bima.
Tapi, Ayu menahan semuanya, dia hanya ingin berhubungan dengan lelaki yang single untuk kali ini.
"Bagaimana kabar Mbak Niken?" Ayu mencoba memberanikan diri bertanya tentang istri Bima.
"Kami telah berpisah."
Ayu terkejut dan menatap tajam ke arah Bima.
"Pasti karena kita waktu itu."
Bima mengangguk pelan.
Ayu menutup wajahnya merasa malu.
"Maafkan aku, Mas. Jika saja Mas Bima bilang sudah memiliki keluarga, aku tidak akan berani..."
Bima meraih jemari Ayu lalu menggenggamnya.
"Aku yang salah. Salah padanya dan padamu. Aku tidak jujur pada kalian selama itu."
Ayu menatap Bima, dan Bima pun membalas tatapan Ayu.
Ada rasa rindu menyusup dalam dadanya.
Keduanya seolah saling merindukan satu sama lain.
Bima sengaja menunggu Ayu hingga menutup gerainya.
Lalu keduanya melenggang menuju ke arah parkiran mobil.
Bima menyetir mobil Ayu menuju hotel tempatnya beristirahat. Hotel yang kebetulan milik Rangga, yang saat itu dia sedang memeriksa rutin keuangan dan data hotel.
Rangga tak sengaja melihat Bima dan Ayu melenggang masuk ke hotel, lalu mereka bergandengan tangan seolah telah menjalin hubungan dekat.
Lalu naik lift, dan mereka menghilang di balik pintu lift menuju kamar yang telah dipesan.
"Aku merindukanmu, Mas!"
Ayu tak tahan lagi menahan semua hasratnya usai Bima menutup pintu hotel.
Bibir mereka telah bertaut satu sama lain.
Bima memainkan lidahnya dengan hebat seperti biasanya.
Ayu melenguh manja menikmati semuanya.
__ADS_1