Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Pulang


__ADS_3

Dewa meletakkan kunci motornya di atas meja, meletakkan tas ransel berisi pakaian, lalu merebahkan tubuh di atas tempat tidur, yang hampir tiga bulan ini sama sekali tak disentuh olehnya.


Dewa menatap langit-langit kamar, yang terlihat ada rumah laba laba di sudut langit kamarnya.


Mala...


Dewa terus memikirkan wanita yang setahun belakangan ini mengisi hari harinya. Dan selama hampir enam bulan ini, dia telah tinggal satu atap dengan Mala. Dan tiga bulan terakhir, sama sekali tidak kembali ke rumah.


Namun, kejadian kemarin membuatnya terus berpikir dan memikirkan arah hubungan mereka.


"Mala! Mengapa aku sama sekali tak bisa melupakanmu?!" Dewa mengusap wajahnya dengan kesal.


Dewa akhirnya menyadari, bahwa Mala hanya menginginkan aktivitas fisik bersamanya, bukan untuk berhubungan secara serius untuk melangkah pada hubungan lebih lanjut.


Dewa merasa sangat bodoh sekali.


"Maaf, Wa, aku nggak bisa, jika kita melangkah ke jenjang pernikahan. Aku memiliki trauma dalam hubungan pernikahan, dan aku belum bisa melupakan semua hal yang menyakitkan itu." Tutur Mala saat mereka usai melakukan penyatuan.


Dewa berniat melamar dan meminta Mala menjadi istrinya.


"Mal, aku bukan lelaki seperti itu. Aku pun tak tega melakukan kekerasan, ataupun mengatakan hal yang menyakiti perasaan orang lain, terutama wanita. Aku punya Ibu dan adik perempuan, dan kamu bisa lihat perlakuanmu pada mereka."


"Ya, aku tahu, Wa. Tapi, aku lebih suka kita seperti ini. Berhubung tanpa ikatan. Aku pun tak akan meminta pertanggungjawabanmu dengan semua yang telah kita lakukan selama ini."


"Jadi, kamu tak serius denganku selama ini?" Dewa menatap wajah Mala.


Mala menegakkan punggung dan menyandarkan pada sandaran tempat tidur.


"Aku serius denganmu, Dewa. Sungguh. Aku pun menikmati setiap hal yang telah kita lakukan. Kebersamaan kita selama ini, kedekatanmu dengan putraku. Lalu kamu pada orang tuaku. Aku menyukainya. Tapi, aku belum siap, jika kita melangkah dalam pernikahan. Aku takut, kita berpisah pada akhirnya." Mala membalas tatapan Dewa.


Dewa menggelengkan kepalanya.


"Aku serius denganmu, Mala! Aku mencintaimu. Aku berjanji akan selalu setia dan menjagamu, lalu putramu, lalu anak anak kita kelak."


"Kamu terlalu baik padaku Dewa. Tapi, aku belum bisa."


Mala menggelengkan kepalanya.


"Setelah kita melakukan semua ini?" Dewa menatap dirinya dan tubuh Mala yang hanya tertutup selimut saja.


"Dewa, maaf. Aku tak bermaksud kita malangkah sejauh ini. Aku sebenarnya hanya merasa kesepian sejak berpisah dengan suamiku. Dan aku merindukan sentuhan lelaki. Lalu kamu hadir dan mengisi hari hariku. Dan kamu pun bisa mengambil hati putraku, dan keluargaku. Maaf, aku tak ingin menyakiti hatimu. Carilah wanita lain untuk mendampingi hidupnya. Aku tak pantas untukmu."


Mala berkata lirih.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Selama ini aku hanya ingin menikmati setiap sentuhan yang kamu berikan padaku. Hanya itu. Aku tidak bermaksud serius denganmu."


Mala akhirnya mengaku pada Dewa.


"Apa?"


"Aku hanya ingin kamu memuaskan hasrat ku, dan menemani aku. Aku tak bisa hidup sendiri, Dewa. Aku selalu membutuhkan sosok lelaki untuk menemaniku."


"Kamu pikir aku gigolo, hah?" Dewa menatap dengan tatapan emosi pada Mala.


Mala mengangguk pelan.


"Astaga, Mala!"


Dewa terlonjak dan menatap tajam pada Mala. Dewa lalu beranjak berdiri. Lalu mengenakan pakaiannya.


Dewa merasa sangat tersinggung, karena selama ini Maka menganggapnya hanya sebagai teman pemuas nafsu saja. Sedangkan, bagi Dewa, Mala adalah wanita yang akan diajak untuk hidup bersama, dan menemani sisa hidupnya.


"Dewa, maafkan aku. Tolong jangan membenci aku!" Mala bergegas mengikuti Dewa dan memeluk Dewa dari belakang.


"Dewa, tolong, sekali ini, puaskan aku!" Bisik Mala sambil mengusap dada Dewa.


Dewa membalikkan tubuhnya, dan menatap Mala yang tak mengenakan sehelai benangpun pada tubuhnya.


"Dewa, aku tahu kamu marah padaku, tapi tolong jangan membenci aku. Aku menyukaimu, sungguh! Tapi, aku belum bisa melangkah lebih jauh bersamamu."


Mala menatap Dewa dengan wajah memelas.


"Aku akan pergi!" Dewa menepis lengan Mala, lalu menuju lemari pakaiannya.


"Wa, tolong tatap aku!" Pinta Mala seraya memohon.


Dewa menghentikan aktivitasnya, dan menatap Mala.


"Dewa, tolong puaskan aku sekali ini. Setelah itu, terserah kamu. Kamu mau pergi atau kamu mau di sini, aku pun telah pasrah."


Ucap Mala lirih dan pasrah.


Dewa meletakan tas ranselnya ke lantai. Lalu mendorong tubuh Maka pada dinding kamar. Dewa mengangkat satu kaki Maka, dan membelai lembut paha mulus wanita itu.


"Aahhh... Dewa ku!" Rintih Mala sambil memejamkan matanya.


Dewa menautkan bibirnya dan memainkan lidahnya dalam mulut Mala, yang membuat Mala semakin menggeliat dan terengah-engah.


Mala merintih, namun terus menggesekkan tubuhnya pada tubuh Dewa.

__ADS_1


Maka membuka kaos yang dikenakan oleh Dewa, lalu menciumi leher dan dada lelaki itu dengan buas.


Dewa meraung lalu mendorong tubuh Mala ke atas ranjang.


Mala menggeliat sambil membuka kakinya lebar-lebar seakan menyambut kehangatan yang akan diterimanya.


Maka menggigit bibir, menggoda Dewa, sambil menggerakkan pinggulnya.


Dewa melepas pakaiannya, lalu naik ke atas tempat tidur, lalu menghujamkan pusaka miliknya yang besar dan panjang itu ke dalam lubang nikmat milik Mala.


Mala melotot, lalu memejamkan matanya menikmati setiap gerakan yang dibuat oleh Dewa.


Mala berteriak menyebut nama Dewa dan meminta lagi dan lagi.


Bagian inti milik Mala sudah terasa sangat penuh dan sesak. Mala sangat menyukai pusaka milik Dewa karena ukurannya yang besar dan panjang itu.


Bagian inti milik Mala terasa sangat gatal dan sudah sangat basah.


Mala menggerakkan pinggulnya, seirama dengan Dewa dan memompa miliknya.


"Dewa, aku ingin sampai!"


Dewa membelai dan memainkan dada dan menghisap puncak dada milik Mala yang berwarna merah muda itu.


"Dewa...sshhh.. aku tak tahan lagi!"


Mala menggeliat sambil mencengkram punggung Dewa dengan kuat.


Dewa memompa pinggulnya makin cepat, dan membalikkan tubuh Mala, lalu menghujamkan miliknya tepat pada bagian belakang, sambil menjambak rambut Mala.


"Dewa.... Aaahhhh!" Raungan Mala, membuat Dewa makin bersemangat, dan tak lama kemudian Dewa menumpahkan benih miliknya.


Mala terengah-engah, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang terlihat berantakan itu.


Kini, Dewa hanya bisa menghela napasnya. Mengingat masa masa saat bersama Mala, yang sebagian besar, mereka manfaatkan untuk melakukan hubungan tubuh saja.


"Huh, bodohnya aku ini! Ternyata selama ini, dia hanya menganggap aku sebagai pria pemuas nafsu saja!" Omel Dewa dengan kesal.


Dewa berusaha untuk memejamkan matanya, dan mencoba untuk beristirahat.


"Seruni!" Teriak Bu Mirna.


Dewa yang hampir terlelap, menjadi terbangun, dan mengusap wajahnya, lalu membuka pintu kamar untuk melihat ibunya.


"Ada apa, Bu? Kok pake acara teriak teriak segala?" Tanya Dewa sambil menghampiri ibunya.

__ADS_1


__ADS_2