Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Kenikmatan Duniawi


__ADS_3

"Nikmat sekali, Yu... Sangat sempit uh...!"


"Mas...aaahh...!" Suara lenguhan Ayu membahana.


Bima semakin semangat menggerakkan pinggulnya maju mundur, memasukkan seluruh pusakanya pada liang nikmat milik gadis belia itu.


Ayu makin blingsatan menerima permainan Bima yang terlihat lebih lihai.


Ayu menancapkan kukunya pada punggung Bima saat merasakan miliknya yang terasa penuh akibat masuknya milik Bima.


Clop clop clop..


Suara milik mereka beradu, peluh dan cairan mereka makin tercampur.


Bima dengan bringas melahap gunung kembar yang ranum itu. Milik Ayu masih terlihat terawat dan ukurannya yang l big besar daripada milik Niken.


Bima menikmatinya seakan bayi yang kelaparan melahap susu ibunya.


Ayu meraung dan meliuk-liuk sambil berteriak menyebut nama Bima berkali kali.


"Tunggu aku, kita keluarkan bersama sama!"


Bima menaikkan salah satu kaki Ayu, lalu semakin membenamkan miliknya sambil menggerakkan pinggulnya semakin cepat dan cepat.


"Mass... Aku tak tahan lagi.. aku tidak.."


"Tahan, kataku!" Titah Bima sambil membungkam bibir Ayu dengan ciumannya.


Ayu yang merasa tubuhnya ingin meledak, lalu tersengal-sengal akibat ciuman Bima.


"Mas, aku.."


Tubuh Ayu semakin menegang, kakinya bergetar seolah menahan ledakan hebat dari dalam tubuhnya, tangannya yang memeluk punggung Bima semakin erat.


Ayu tak dapat menahan lagi dirinya untuk mencapai puncaknya.


Bless.. bless..


"Aahhh! Ayu...!"


Bima melepas semuanya, seluruh hasrat yang terpendam dan napsu melebur jadi satu. Dia melakukannya tanpa ingat lagi akan kepantasan dan dosa. Bima telah jatuh dalam sebuah lubang yang bernama perselingkuhan.


Bima menyeringai lebar merasa sangat puas menikmati kegiatannya saat ini bersama Ayu, yang masih muda dan bersemangat. Bima merasa semangatnya tumbuh kembali. Dan tubuhnya terasa lebih segar seperti sepuluh tahun silam.


Bima melepaskan miliknya perlahan-lahan, membuat Ayu menggigit bibirnya menahan rasa nyeri namun nikmat itu.


Bima menatap Ayu yang tergeletak di atas ranjang dengan pasrah, lalu membelai rambut gadis dua puluh tahun itu lembut, sambil mengecup mesra keningnya.


Ayu hanya tersenyum sambil memejamkan matanya.


Ayu mengalungkan tangannya pada leher Bima.


"Jadinya kamu kesiangan, Mas."


Bima tersenyum, lalu melayangkan bibirnya pada bibir gadis itu.


Bima melepas pelukannya, lalu merapikan pakaiannya kembali.


Ayu menutup tubuhnya dengan selimut dan masih terbaring di ranjang.


"Kamu istirahat saja. Aku pergi ke kantor dulu."

__ADS_1


"Nanti, Mas ke sini?" Tanya Ayu seraya merengek.


"Aku nggak janji, tapi aku usahain untuk datang. Jangan lupa makan, ya."


Ayu mengangguk pelan, lalu meraih tangan Bima.


"Maass...!" Panggilnya dengan manja.


Bima menoleh.


"Ada apa?"


Ayu menekuk wajahnya.


"Nanti aku akan datang." Ucap Bima sambil menjawil dagu gadis muda itu.


"Janji!" Raut wajah Ayu seketika berubah menjadi lebih ceria.


Bima mengangguk sambil tersenyum.


"Aku mencintaimu, Mas!" Ayu memeluk Bima dengan erat seolah tak ingin melepasnya.


*


"Mas, kamu merokok?" Niken menghampiri Bima yang duduk di teras belakang.


"Ada apa, Ma?"


Tanya Bima sambil menyesap kopinya.


"Di kamar mandi bau asap rokok! Kamu merokok?" Sergah Niken.


"Iya." Ucap Bima jujur.


"Aku ingin saja." Bima tersenyum sambil menatap istrinya yang menatap Bima penuh selidik.


"Mas, cerita padaku? Apa yang terjadi padamu? Mengapa kamu kembali merokok, padahal kamu sudah janji tidak merokok lagi. Apalagi sekarang kita punya Laras." Niken duduk berhadapan dengan Bima, menatap suaminya lembut.


"Tidak ada apa apa, Ma. Percaya padaku. Aku hanya ingin merokok saja sekarang. Oya, Amanda kok nggak pernah ke rumah lagi?"


Bima mengalihkan pembicaraan.


"Iya. Mas Satria pindah rumah. Sekarang tinggal di rumah keluarganya. Di sana ada sepupunya, jadi Amanda nggak perlu dititipkan lagi di sini."


"Tapi masih satu sekolah sama Laras?"


"Masih. Tantenya yang sering antar jemput. Aku sering ketemu juga. Sekarang, Laras yang kesepian. Sejak nggak ada Amanda, terus Seruni makin sibuk setelah menikah, ya, anak kita sering merajuk. Katanya pingin adik." Kata kata yang terakhir, Niken ucapkan pelan hampir berbisik.


Bima terdiam, lalu menoleh ke arah Niken dengan tatapan menggoda.


"Kamu mau?" Tanya Bima.


Niken tersipu, lalu mengalihkan tatapannya dengan malu malu.


Bima langsung berdiri, lalu menggendong Niken.


"Mas, apa apaan sih?" Niken melotot sambil memukul dada Bima.


"Loh, katanya mau bikin adik lagi buat Laras?"


"Huu!" Niken menjebik manja.

__ADS_1


Bima membawa istrinya masuk ke kamar dan menutup pintunya dengan satu kakinya.


"Mas, sudah dikunci? Nanti Laras tiba tiba masuk."


Niken bertanya saat Bima menghempaskan tubuh Niken ke atas ranjang.


Bima langsung mengunci pintu kamar mereka, dan membuka kaosnya.


"Apa lagi, Nyonyaku?" Tanyanya sambil melayangkan ciuman pada bibir Niken.


Niken merem melek menikmati permainan suaminya itu.


Sekitar dua jam mereka bermain di dalam kamar, suara lenguhan dan jeritan kecil keluar dari mulut keduanya.


Niken berusaha memelankan suaranya, karena takut menganggu Laras yang sedang tidur siang pada hari minggu itu.


"Mas, aku senang kita bisa seperti ini lagi setelah sekian lama." Ucap Niken sambil menoleh ke arah Bima yang tidur telentang di sampingnya sambil satu tangan menyangga kepalanya.


"He eh. Tapi aku lebih senang, jika kamu sehat, Ma." Bima menatap lekat istrinya.


"Maaf, aku merepotkanmu selama aku sakit kemarin. Harusnya aku bisa memberi support, dan mendampingi saat Bapak tiada kemarin. Tapi, aku malah yang harus dirawat olehmu, Mas."


Niken menitikkan air matanya perlahan, mengingat kejadian saat kecelakaan dan mengalami kelumpuhan sementara.


"Ma, jangan menangis! Kita ini suami istri, harus saling mendukung satu sama lain. Lagian semua bukan salahmu. Keadaan yang membuat seperti itu. Tolong, berhenti menyalahkan dirimu."


"Iya, Mas."


Niken mengangguk.


"Tapi aku masih sedih. Ucapan ucapan Ibu padaku, seakan sering terngiang di kepalaku saat aku sedang sendiri."


Niken menatap Bima dengan raut wajah sedihnya.


Bima meraih tubuh istrinya, dan mendekapnya.


"Kamu sebaiknya kembali menyibukkan diri. Supaya nggak mikir yang aneh aneh, ya!" Saran Bima sambil mengelus rambut Niken.


"Apa aku boleh kerja di pabrik lagi?"


Tanya Niken sambil mendongak menatap Bima penuh harap.


Bima hanya tersenyum.


"Ma, bukannya aku nggak mengijinkan. Tapi aku nggak mau membuatmu capek dengan jam kerja pabrik yang terkadang mengharuskan kerja 24 jam. Apalagi Laras sudah semakin besar, dia juga pasti butuh bimbinganmu juga dalam hal belajar atau mengerjakan pr."


Niken menghela napas sambil memajukan bibirnya.


"Ma, kamu itu pinter buat makanan. Nggak mau coba buat buat makanan, lalu dijual gitu? Pasarkan lewat sosial media." Saran Bima sambil mengangguk meyakinkan istrinya.


Niken terdiam memikirkan saran suaminya itu.


"Kalo aku jual makanan, Mas mengijinkan?"


"Kenapa, nggak? Aku malah sangat mendukung. Kamu ada kegiatan, anak terawasi dengan baik. Bude Ning juga masih bisa bantu kita, lalu bisa nambah nambah buat belanja hasilnya." Ucap Bima.


Niken mengangguk sambil tersenyum lebar.


"Terima kasih, Mas!"


Niken memeluk Bima dengan erat.

__ADS_1


Lalu keduanya kembali saling bergumul di atas ranjang.


__ADS_2