
Niken membuka mata perlahan. Bima tertidur terlihat lelah di sisi ranjang pasien, dengan menelungkup sambil duduk.
Niken berusaha memanggil suaminya, namun seakan lidahnya keluar dan kakinya seakan tak ada rasanya saat ini.
"Ken... Kamu sudah sadar?!" Tanya Bima yang terbangun saat merasakan sentuhan tangan Niken pada punggung tangannya.
Bima segera memencet tombol bantuan perawat supaya dapat memeriksa keadaan Niken.
"Bapak bagaimana, Mas?" Tanya Niken lirih.
Bima terdiam.
"Ken, sebaiknya kamu beristirahat saja, supaya cepat pulih."
"Mas, kok kakiku ga terasa? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Niken masih mencoba untuk menggerakkan kakinya melalui pahanya.
Bima menatap Niken dengan raut wajah sedih, seolah menjawab pertanyaan Niken.
"Mas, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku dan bapak? Jawab, Mas!"
Teriak Niken sambil menangis.
"Kamu dan bapak kecelakaan sewaktu dalam perjalanan pulang dari Klaten beberapa hari yang lalu."
"Bapak bagaimana?" Tukas Niken sambil menatap Bima.
Bima hanya diam, tertunduk sejenak. Lalu menatap kembali istrinya.
"Bapak tidak selamat dalam kejadian itu."
Sahut Bima lirih.
"Mas! Nggak mungkin. Baaappaaakkkk.....!!" Pekik Niken sambil menangis sejadi-jadinya.
Bima meraih tubuh Niken dan memeluknya.
"Ken, jangan pernah salahkan dirimu dengan kejadian ini. Ini semua sudah takdir. Rencana Tuhan. Sopir mobil truk yang ugal ugalan itu sudah menjadi tersangka. Bukan salahmu!"
"Tapi, aku yang bersama bapak saat itu."
"Bukan salahmu, Niken. Aku juga tidak menyangka, akan ada kejadian seperti ini. Sekarang, bapak sudah dikebumikan." Bima menghela napas sambil meneteskan air mata, dan menyekanya dengan cepat.
"Mas....!" Niken kembali menangis, dan keduanya tenggelam dalam kesedihan.
Tok.. tok.. tok...
"Permisi, Pak, Bu!" Sapa perawat yang datang hendak memeriksa keadaan Niken usai siuman setelah tak sadarkan diri selama beberapa hari.
"Eh, iya.. silahkan, Mbak." Sahut Bima sambil melepaskan pelukannya.
"Maaf, Pak. Saya akan memeriksa keadaan Bu Niken sebentar."
Bima segera berdiri, memberi ruang bagi perawat itu untuk memeriksa dan mencatat perkembangan kesehatan Niken.
"Bagaimana sebenarnya keadaan saya, Mbak?" Tanya Niken sambil terus memperhatikan yang dilakukan oleh perawat muda itu.
__ADS_1
"Nanti biar dokter saja yang menjelaskannya, Bu. Tapi, melihat data yang saya catat saat ini, kondisi Ibu sudah jauh membaik. Banyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran dulu. Nanti tinggal scan kepala lagi, sama cek kaki saja. Jika hasilnya bagus, kemungkinan Ibu Niken dapat pulih dengan cepat." Terang perawat tadi dengan ramah.
"Baik, Mbak. Terima kasih. Kapan dokter akan berkunjung?" Tanya Niken.
"Siang nanti, Bu. Jangan lupa, makan siangnya dimakan." Perawat tadi masih mengingatkan dengan ramah.
"Iya, Mbak."
"Baik, ada lagi yang mau ditanyakan?" Perawat tadi menatap Niken dan Bima bergantian.
"Sudah, Mbak. Terima kasih." Sahut Bima sambil menghampiri Niken, dan tersenyum pada perawat tadi.
"Laras, gimana, Mas?"
"Laras ditemani Bude Ning. Kalau malam, Seruni yang menemani di rumah."
"Ibu?"
Bima terdiam.
Niken paham. Ibu pasti sangat terpukul, dan pasti akan menyalahkan dirinya.
"Mas, apa yang terjadi dengan kakiku sebenarnya? Jawab dengan jujur, Mas! Aku tidak akan marah. Aku hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku." Cecar Niken sambil menatap suaminya penuh harap.
"Jadi truk tronton, dari arah berlawanan, menabrak pembatas jalan, dan langsung menghantam mobil yang dikendarai oleh bapak dan kamu. Bapak tidak tertolong, dan kamu terhimpit. Beruntung, kamu masih selamat, Ken. Aku tak ingin kehilangan kamu juga."
Bima memeluk Niken kembali.
"Mas, tapi kakiku sama sekali tidak bisa merasakan apa apa?" Niken mencubit dan memukul kakinya dengan gemas.
"Ken, sudahlah! Kita tunggu dokter saja. Biar dia yang akan menjelaskan padamu. Padaku juga. Supaya kita bisa sama sama dapat mencari solusi."
Bima mencoba menenangkan Niken yang masih memukuli kakinya dengan geram.
"Aku cacat, Mas! Aku lumpuh! Aku tidak bisa berjalan normal lagi, kan? Jawab, Mas!"
"Niken! Kamu masih bisa pulih. Dokter akan mengusahakan yang terbaik untukmu."
"Sama saja, Mas. Buat apa aku hidup dengan kecacatanku ini? Aku nggak bisa mengurusmu lagi. Nggak bisa menemani Laras! Aku seperti orang pesakitan!" Niken kembali menangis terhubung sambil masih memukul kakinya.
"Niken! Dengarkan aku! Apapun keadaanmu, aku akan tetap setia mendampingi kamu. Terlebih putri kita, Laras. Aku kuat dan bisa menjalani ini, jika kita sama sama saling menguatkan! Aku mohon, Ken, jangan pernah menyalahkan dirimu, atau menyiksa dirimu sendiri." Ucap Bima sambil menatap Niken yang terlihat putus asa.
"Janji padaku, Ken! Kita akan bisa melalui ini semua bersama sama!" Imbuh Bima.
Niken menatap suaminya.
"Aku tak tahu, bisa melewati ini atau tidak, Mas."
"Pasti kamu bisa!"
Niken menatap kembali suaminya dan mengangguk setuju.
"Terima kasih, Mas." Ucap Niken lirih sambil memeluk suaminya itu dengan rasa sayang.
"Yuk, makan siang dulu! Nanti setelah makan, semoga dokter datang, dan kamu bisa tanya dengan puas."
Bima mengambil makanan yang telah disiapkan dari rumah sakit, lalu pelan-pelan menyuapi Niken.
__ADS_1
"Laras nanti sore akan ke sini. Dewa yang menjaga Laras saat ini."
"Aku jadi merepotkan keluargamu, Mas."
"Nggak. Mereka sendiri yang melakukannya. Oya, ibumu akan datang besok. Saat kejadian, aku langsung menghubungi Mas Bagas dan ibu. Lalu saat membeli tiket, tidak ada penerbangan yang langsung. Jadi Ibu, terbang ke Surabaya, ke tempat Bude. Lalu dari Surabaya, naik kereta, nanti malam, besok sampainya."
Ucap Bima sambil tersenyum menatap Niken yang telah menghabiskan makan siangnya.
"Benarkah, Mas, ibu mau datang?"
"Iya."
Niken tersenyum bahagia mendengar ibunya akan datang untuk mengunjunginya.
"Wah, sudah siuman, Bu Niken." Sapa seorang dokter yang hendak memeriksa keadaan Niken.
"Eh, iya, Dokter." Sahut Niken dan Bima.
"Bagaimana, Bu? Apa masih pusing? Atau mual?"
"Kaki saya, Dokter. Apa yang terjadi dengan kaki saya?"
"Kaki ibu terjepit saat kejadian, sehingga sedikit patah, dan ada saraf yang kena, sehingga membuat ibu tidak merasakan apa apa saat ini. Kami akan berusaha membantu dengan pengobatan dan terapi. Untuk bagian yang patah sudah kami tangani sejak awal. Jadi nanti tinggal kita tunggu beberapa hari lagi untuk perkembangannya. Jangan lupa minum obat dan suplemennya, untuk membantu supaya ibu cepat pulih."
Terang dokter panjang lebar pada Niken dan Bima.
"Apakah saya dapat sembuh? Maksud saya, kaki saya dapat pulih kembali."
"Ya. Kemungkinan pulih pasti ada, Bu. Namun untuk bisa kembali seperti sedia kala, ada kemungkinan tidak. Tapi, tergantung perkembangan dari terapi yang ibu ikuti nanti. Biasanya pasien seperti ibu, masih dapat pulih, tapi tidak 100 persen."
"Jadi? Berapa persen kemungkinan kembali seperti sedia kala?"
"90 hingga 95 persen Bu. Tapi, kemampuan berjalan ibu akan bisa pulih kembali."
Niken menghela napas, seraya menatap kakinya dan berusaha untuk menggerakkan.
"Eehhhh...!" Teriak Niken pelan, saat merasakan sakit, namun, kakinya sama sekali tak dapat digerakkan.
"Ken...!" Bima menghampiri Niken dan menenangkan istrinya.
"Sabar, Bu. Besok ahli fisioterapi ibu akan datang. Kali ini, ibu fokus pemulihan tubuh ibu dulu. Dan menyiapkan mental, karena terapi yang akan ibu jalani nanti tidak akan sebentar. Dan jangan lupa konsumsi suplemen supaya saraf dan pertumbuhan tulang Ibu lebih cepat pulihnya."
"Baik, Dokter."
Ucap Niken.
"Ada lagi yang ingin ditanyakan?"
"Sudah cukup, Dok, untuk saat ini. Terima kasih atas penjelasannya." Sahut Niken sambil tersenyum.
"Baik, jika tidak ada lagi. Saya permisi."
"Terima kasih, Dokter."
Bima mengantar dokter hingga ambang pintu.
Lalu setelah itu masuk, dan duduk di samping Niken.
__ADS_1