Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Ibu datang


__ADS_3

Bima memarkirkan motornya di teras rumah, lalu menutup kembali pagar.


"Papa...!"


Laras dengan suara ceria menyambut kedatangan Bima.


"Eyang Mami sudah datang, loh!" Lapor Laras sambil memamerkan giginya yang ompong.


"Oya? Sekarang Eyang Mami di mana?"


"Di dalam sama mama. Tadi dibawakan oleh oleh banyak sekali. Sampai Mbah Ning bingung mau disimpan di mana, karena kulkasnya sudah penuh."


Bima tersenyum sambil mengusap ibunya gadis kecilnya itu.


"Yuk, masuk! Papa belum ketemu sama Eyang Mami."


Bima menggandeng Laras masuk ke rumah.


"Assalamualaikum..!" Sapa Bima saat masuk ke dalam.


"Waalaikumssalam." Sahut dari dalam.


"Bima.."


"Ibu."


Bima segera menyalami ibu mertuanya sambil mencium tangan dengan hormat.


"Kok sudah pulang jam segini. Kata Niken, kamu biasa pulang menjelang magrib."


"Ya. Pekerjaan kantor sudah banyak yang selesai. Jadi bisa pulang cepat."


"Syukurlah..."


"Ibu, jam berapa sampai sini?"


"Tadi agak siang lah. Ibu pakai kereta malam."


"Loh, Ibu dari Jakarta?"


"Ya,dari Kalimantan, ibu langsung pulang dulu. Lalu esoknya, naik kereta malam, dan tadi naik taksi online ke sini."


"Eyang Mami bawa oleh-oleh banyak, Pa!" Seru Laras dengan gembira.


"Sudah terima kasih sama Eyang, belum?"


Bima menoleh ke arah putrinya.


"Sudah, dong!"


Bima dan Bu Lusi, ibunya Niken tertawa melihat tingkah lucu Laras.


"Niken bagaimana hari ini, Bu?"


"Alhamdulillah, dia banyak kemajuan. Dia mulai bisa merasakan kakinya meski sedikit."


Bima menghela napas dalam-dalam.


"Ibu berbelasungkawa atas meninggalnya Bapak. Kamu yang kuat dan sabar, ya!" Bu Wulan menepuk pundak Bima.


Bima menggaguk pelan sambil menoleh ke arah mertuanya itu.


"Terima kasih, Bu."


*


Bima menuju ke kamarnya untuk melihat Niken.


Niken yang sedang terbaring sambil memejamkan matanya, terlihat cantik, meski lelah tersirat di wajahnya.


Perlahan, Bima mengelus rambut Niken dengan lembut.


Niken perlahan membuka matanya.


"Loh, Mas, sudah pulang?"


Bima tersenyum sambil mengangguk.


"Kamu pulang cepat karena aku?"

__ADS_1


Bima mengangguk.


"Lagian buat apa lama lama di kantor..aku kangen kamu." Sahut Bima sambil tersenyum jahil.


"Gombal! Nggak usah ngrayu!" Niken mencebik.


"Iya bener. Kangen kamu, kangen Laras, kangen keluarga kecilku ini."


Keduanya tertawa kecil.


"Mama, Papa!" Laras menghambur masuk ke kamar mereka saat mendengar suara tawa.


"Ada apa sih, kok ketawa ketawa?" Tanya Laras penasaran.


"Papamu lucu!" Sahut Niken.


"Papa nggak lucu kok, Ma."


"Mamamu yang ngelucu." Ucap Bima.


"Papa dan Mama aneh, nggak ada yang lucu kok ketawa!" Cetus Laras.


Bima dan Niken saling pandang, lalu tersenyum, sambil memeluk putrinya mereka.


Dari ambang pintu, Bu Lusi tersenyum bahagia melihat keluarga kecil anaknya itu.


"Biar saya yang antar ke kamar, Bu." Bima mengambil nampan yang disiapkan oleh Bu Wulan untuk makan malam Niken.


Bu Lusi menggeser tubuhnya, dan membiarkan, Bima mengambil nampan itu dan membawa masuk ke kamar.


"Makanan datang!"


Niken tersenyum melihat suaminya.


"Sudah, aku bisa makan sendiri." Ucap Niken.


"Bener, bisa?"


"Iya."


Bima meletakkan piring pada meja tatakan di atas kasur.


"Loh, kamu nggak ikut makan?"


"Nanti, aku pingin lihat kamu makan." Bima tersenyum.


Niken meneruskan makannya hingga habis.


Niken melirik ke arah suaminya yang tengah menerawang, seolah memikirkan sesuatu.


"Ada apa, Mas?" Ucap Niken lembut.


Bima menghela napas dalam-dalam sejenak.


"Bapak telah menulis surat wasiat untuk kami enam bulan yang lalu."


"Surat wasiat?"


"Ya, aku, Dewa, dan Seruni diminta untuk mengurus pabrik."


Niken menatap Bima dan menepuk bahu suaminya.


"Jadi bagaimana?"


"Itulah yang membuat aku bimbang. Apakah aku harus berhenti dari pekerjaannyaku selama ini?"


"Pikirkan dulu baik baik, Mas. Jika belum yakin, Mas bisa jalani keduanya sementara waktu. Masih tetap bekerja di perusahaan, namun, juga membantu Seruni mengurus pabrik."


"Apa aku bisa?" Bima mengambil napas dalam-dalam.


"Pasti kamu bisa, Mas. Yang penting kamu melakukannya dari hatimu."


Niken, teringat ucapan Pak Widodo saat mereka di mobil sebelum kejadian naas tersebut.


Pak Widodo bercerita tentang keinginannya supaya Bima mengurus Pabrik, dan keyakinan Pak Widodo bahwa anak anaknya dapat memajukan pabrik.


Namun, Niken, merasa, saat ini waktunya belum tepat untuk menceritakan semua itu. Menceritakan tentang ucapan Pak Widodo menjelang kejadian buruk, yang bagai pesan terakhir yang disampaikan pada Niken untuk keluarganya.


"Mas, besok jadwalku bertemu dokter untuk terapi. Biar diantar ibu saja, ya."

__ADS_1


"Benar nggak apa apa, kamu sama Ibu?"


Bima menoleh pada Niken.


Niken mengangguk sambil tersenyum.


"Mas Bima biar fokus memikirkan pekerjaan, dan bantu Seruni di pabrik. Selama aku masih pemulihan, aku masih belum bisa bantu apa apa di pabrik."


Bima menghela napas, sejujurnya, dalam hatinya sangat membutuhkan istrinya.


"Mas...." Niken membelai lembut punggung Bima.


Bima menatap Niken. Tatapan lembut Niken selalu membuatnya tenang.


"Kita akan bisa melalui ini semua bersama sama." Ucap Niken lembut.


"Ya."


"Aku sudah makannya. Kamu sana gantian makan. Nanti sakit, kalo sakit, aku belum bisa ngurus kamu."


Lagi lagi Bima terenyuh, membuat matanya berkaca-kaca. Sekuat tenaga, Bima menahan dirinya untuk tidak menangis di hadapan istrinya itu.


Bima menghela napas berat, lalu tersenyum menatap Niken.


"Aku makan dulu, ya."


Niken mengangguk.


Bima berjalan keluar dari kamar menuju dapur dan meletakkan nampan sisa makan istrinya di tempat cuci piring, lalu menyeka air matanya yang tak terbendung lagi.


Bima tak dapat menahan lagi rasa sedihnya saat ini. Kehilangan bapak yang selalu mengayomi dan menjadi tempat berdiskusi, lalu istrinya yang kakinya menjadi lumpuh, dan kemarahan ibu, membuatnya merasa sedih.


Niken yang selalu menguatkan dirinya, saat ini juga perlu dukungan. Bima hanya dapat menangis tergugu, di depan wastafel cuci piring.


"Papa...! Papa nangis, ya?" Laras mengejutkan Bima.


Cepat cepat dia menyeka air matanya, dan menguatkan hati.


"Eng... Enggak, Kok. Papa cuma kepedesan. Sambelnya luar biasa pedas." Bima mengerjapkan matanya sambil membuka tutup mulutnya seperti orang kepedasan.


"Tapi, kok sampai nangis?" Cecar Laras.


"Kemarin, Laras pernah kepedasan, kan?"


Laras mengangguk.


"Terus nangis juga, kan, sambil teriak teriak minta minum sama Mbah Ning."


"Iya... Sampe habis dua gelas baru pedesnya hilang." Laras tertawa.


"Papa, kan, nggak mungkin nangis sambil teriak teriak kayak Laras." Bima menjawil hidung putrinya dengan gemas.


Keduanya tertawa.


"Sudah belajar?"


"Sudah, dong, Pa. Ayo, kita ke ruang tengah, kasihan eyang Mami sendirian."


Laras menarik lengan Bima menuju ruang tengah.


"Ada apa ini?" Tanya Bu Lusi sambil tersenyum melihat Laras yang menarik Bima.


"Kami mau menemani Eyang Mami."


"Papamu, biar makan dulu."


"Tapi, tadi papa sudah makan?" Protes Laras.


"Kapan?" Tanya Bu Lusi.


"Tadi papa kepedesan di dapur?" Jawab Laras polos.


"Tadi, papa nyobain tempe sama sambel, belum makan, Nak." Sahut Bima sambil sedikit berjongkok sejajar Laras.


"Yahh... Ya sudah, sana papa makan dulu!"


"Nanti setelah papa makan, kita ngobrol."


"Oke, Pa."

__ADS_1


__ADS_2