Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Ketahuan


__ADS_3

"Mas, kamu kelihatan capek banget. Aku siapkan makan, ya? Belum makan, kan?" Niken menghampiri Bima dan duduk di bibir ranjang sambil mengusap wajah Bima dengan lembut.


Bima hanya tersenyum sambil meraih tangan Niken, lalu mencium jemari itu.


"Kamu selalu tahu yang paling aku butuhkan. Ya, akhir akhir ini makin banyak kerjaan ke luar kota. Untung ada Dewa dan Seruni yang bisa aku andalkan untuk mengurus pabrik."


Niken mengangguk pelan.


"Tadi Dewa mengajak pacarnya. Masih kuliah, tingkat tiga. Anak ekonomi, dari Surabaya."


Bima mengangguk, lalu menegakkan tubuhnya menyimak cerita Niken.


Niken menceritakan tentang kekasih Dewa pada Bima dengan gembira dan antusias. Memuji bahwa Mawar termasuk mahasiswi yang pintar, dan bekerja sambilan menjadi asisten dosen. Di kampusnya.


Sejenak Bima tertegun mendengarnya, kampus yang sama dengan Ayu, jurusannya juga sama. Tahun nya juga sama, terlebih asalnya dari kota yang sama dengan Ayu.


"Dia cerita apa saja padamu?"


"Siapa? Mawar?"


Bima mengangguk.


"Ya cerita tentang kuliah, lalu awal ketemu sama Dewa, pas acara pameran di kampus. Kebetulan waktu itu pabrik masuk rekomendasi tempat usaha yang kerjasama dengan pihak kampus untuk beberapa seragam untuk berbagai acara."


Bima mengangguk mengerti.


"Sudah ah, aku siapkan makan dulu."


Niken berdiri, lalu keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan makan siang yang terlambat Bima.


Tak lama, Bima keluar dari kamar dan duduk di kursi pada ruang makan, lalu menikmati makan siangnya.


"Laras, menang lomba menyanyi di sekolah. Dua minggu lagi akan ikut lomba menyanyi di Mall. Kejuaraan menyanyi antar sekolah, Mas."


"Loh, Laras bisa menyanyi?" Bima menatap Niken seolah tak percaya.


"Iya, dia pintar menyanyi. Makanya, Dewa sering aku suruh datang untuk mengajari Laras bernyanyi."


Bima hanya mengangguk dan tersenyum bangga mendengar cerita Niken.


Mereka berbincang sejenak usai Bima menikmati makan siangnya.


"Mas, kapan kapan ambillah cuti. Kita berlibur bersama. Atau Mas Bima bisa beristirahat di rumah. Mas Bima terlihat sangat lelah sekali. Biar Dewa dan Seruni yang mengurus pabrik untuk beberapa hari." Niken menepuk bahu suaminya itu.


"Ya, aku sedang memikirkan hal itu. Tapi, aku selesaikan beberapa pekerjaan lagi yang tinggal sedikit lagi. Ada klien desainer, yang produknya untuk pasar luar negeri. Dan dia tertarik menggunakan batik buatan pabrik."


Bima menatap Niken.


"Aku akan selalu mendukungmu, Mas. Tapi, jika sudah terlalu lelah, beristirahatlah. Jangan memaksakan diri. Itu tidak baik bagi kesehatanmu, Mas."

__ADS_1


"Ya, aku tahu. Kamu memang yang paling bisa mengerti aku. Terima kasih."


Bima mengecup kening Niken dengan lembut.


"Ah, Papa, sayangnya cuma sama Mama saja!" Protes Laras yang tiba-tiba menyeruak mendekati mereka.


Bima dan Niken tergelak. Lalu mereka bertiga berpelukan.


*


"Bima, sejak kapan kamu bersama wanita itu?"


Bu Mirna datang tiba-tiba, langsung masuk ke ruangan Bima, dan duduk di depan putranya itu.


Bima yang sedang memeriksa laporan, segera menghentikan pekerjaannya, lalu menatap ibunya sambil mengerutkan keningnya.


Bu Mirna masih menatap Bima, menunggu jawaban sang putra.


"Apa maksud Ibu?" Tanya Bima.


"Ibu tahu kamu bersama dengan wanita lain, putri Handoko pengusaha dari Surabaya itu. Ayu, namanya, bukan? Sudah berapa lama kamu dengannya?" Cecar Bu Mirna masih dengan tatapan tanpa ekspresi, namun seolah mengintrogasi Bima.


Bima terdiam.


"Wanita itu tahu, kamu bersama putri Handoko?"


Bima masih diam seribu bahasa tak menjawab pertanyaan ibunya.


"Ada Ibu?"


Dewa dan Seruni terkejut, saat masuk ke ruangan Bima, sudah ada ibu mereka.


"Ya, Ibu datang ingin melihat pabrik. Ibu merasa pabrik berkembang pesat setelah kalian pegang."


"Iya, Bu. Kami berusaha mewujudkan keinginan Bapak untuk mengembangkan pabrik ini." Sahut Dewa.


"Apa kabarmu, Seruni?" Bu Mirna menoleh ke arah Seruni.


Seruni hanya diam. Ada rasa benci pada ibunya, namun, di sisi lain, wanita di depannya itu adalah ibu kandungnya.


"Aku baik, Bu." Seruni menjawab dengan pelan.


"Ya, sudah. Silahkan melanjutkan pekerjaan kalian. Dan Bima, ibu berpesan, jangan pernah main main dengan putri Handoko. Tapi, jika kamu serius dengannya, ibu tidak akan menolaknya. Ibu akan dengan senang hati menerima gadis itu dengan tangan terbuka."


"Bu, ada apa, ini? Gadis siapa? Handoko pengusaha klien besar kita itu, kah?" Sela Dewa penasaran.


"Ya. Mas mu ini sedang dekat dengan ayu, putrinya Handoko. Bahkan mereka sudah tinggal bersama selama ini. Ibu tahu, jangan pikir, setelah kalian pergi dari rumah, ibu akan diam saja membiarkan anak anak ibu. Tidak! Ibu masih terus mengawasi dan memperhatikan kalian satu satu."


"Mas Bima, apa ini benar? Apa Mbak Niken tahu?" Seruni menatap Bima dengan tajam.

__ADS_1


"Belum tahu."


"Astaga, Mas!" Seruni menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Dewa hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap Bima dengan tatapan jijik.


"Jadi selama ini, Mas Bima telah berselingkuh dari Mbak Niken?" Tanya Dewa.


Bima menghela napas dalam-dalam.


"Jangan menuduh, tanpa bukti! Kamu tahu apa, Wa?"


"Itu, yang ibu barusan cerita apa? Mas Bima sudah tinggal bersama dengan wanita lain selain Mbak Niken. Itu artinya Mas Bima selingkuh."


"Jangan menggurui aku! Aku tak suka. Aku mau tinggal dan tidur dengan siapa itu urusanku, kamu nggak usah ikut campur! Toh, kamu sendiri belum berkeluarga, bahkan pacaran yang serius pun nggak lama." Jawab Bima sambil berdalih.


"Mas, meski aku belum pernah menikah, tapi aku mengerti tentang hubungan. Kamu benar benar lelaki brengsek!" Dewa menunjuk jari telunjuk pada wajah Bima, lalu pergi.


"Runi, tolong jangan beritahu Niken." Bima menatap Seruni yang hendak berlalu meninggalkan ruangan itu menyusul Dewa.


Seruni meletakkan map yang dibawanya, lalu segera berlalu dengan mata yang berkaca-kaca seolah tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.


"Pikirkan, karirmu, usahamu, dan pabrik ini juga. Lupakan wanita yang tak berguna itu. Ibu sudah bisa melihat ini sejak lama, Bima. Jangan pernah lepaskan keturunan Handoko, jika kamu ingin sukses." Tegas Bu Mirna sambil menatap Bima.


Bima hanya diam, hingga Bu Mirna pergi meninggalkan ruangan itu.


Bima menghempaskan tubuhnya ke kursinya yang empuk, memikirkan semua ucapan ibunya.


Bima menemui Seruni yang sedang sibuk memeriksa pembelian dan packing barang.


"Runi, bisa bicara sebentar."


Seruni meletakkan paket yang dibungkus, lalu menatap Bima.


"Sebentar saja." Ulang Bima.


"Mbak, biar aku teruskan bungkusnya." Sela Sarah sambil tersenyum pada Seruni.


Seruni berdiri, lalu mengikuti Bima.


Mereka pergi menuju sebuah kafe di dekat kantor. Bima memesan dua kopi untuk mereka, dan memilih tempat di teras kafe yang terlihat sepi.


"Seruni, aku tahu aku salah. Tapi, yang harus kamu tahu. Aku sangat mencintai Niken, mencintai keluargaku, dan Ayu."


Pungkas Bima sambil menatap Seruni.


PLAK!


Seruni berdiri lalu menampar pipi kakaknya dengan keras.

__ADS_1


"Brengsek!" Tukasnya sambil berlalu meninggalkan Bima sendiri di teras kafe.


Bima meringis sambil memegang pipinya yang panas usai ditampar oleh adiknya sendiri.


__ADS_2