Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Curiga


__ADS_3

Satria membuka pintu rumahnya, dia sedang melakukan kegiatan paginya untuk lari pagi.


Beberapa hari ini pekerjaan membuatnya harus membuat tubuhnya drop, dan demam. Beruntung, Seruni datang untuk merawatnya, dengan membawakan bubur buatan Niken, beserta makanan lain untuk dinikmati oleh keluarga Satria yang lain.


Satria tinggal bersama dengan adiknya yang telah berkeluarga juga. Saat ini mereka tinggal di rumah peninggalan keluarga Satria.


Rumah besar bergaya Jawa. Memiliki dua bagian rumah besar.


Satu ditempati oleh adik Satria dan keluarganya, dan satu lagi ditempati oleh Satria dan Amanda.


Mulanya Seruni merasa sungkan untuk mengantar makanan pesanan Satria. Namun, mendengar Satria yang sakit, Niken sengaja membuatkan bubur, dan meminta tolong Seruni untuk mengantar, karena ada beberapa pesanan lagi yang harus dikerjakan oleh Niken.


Setelah memakan bubur, lalu berisitirahat. Satria bangun dengan tubuh yang lebih bugar kali ini.


Pagi ini, setelah beristirahat semalaman, Satria kembali melakukan lari pagi seperti biasanya.


Bedanya, pagi ini, Satria mengubah rute lari. Biasanya dia akan berlari langsung ke luar menuju area jalan persawahan menyusuri jalan kecil di belakang daerah perumahan tempat keluarganya tinggal.


Namun, pagi ini Satria memilih memutari komplek perumahan. Komplek perumahan yang ada di dekat rumah besar milik keluarga Satria, merupakan milik ayahnya. Dan ketika banyak yang membeli rumah di sana, dan Satria mendapat dua rumah di dalam komplek, yang akhirnya salah satunya dikontrakkan, dan satu lagi, sering disewa untuk harian atau bulanan bagi pelancong. Sedang adiknya, juga mendapat dua rumah, namun, salah satunya sudah dijual, dan satu lagi dikontrakkan.


Satria berlari sambil menikmati pemandangan rumah rumah yang masih terlihat sepi. Karena penghuninya masih terlelap, atau masih sibuk di dapur.


Hari ini adalah hari Minggu, dan kebanyakan orang akan menghabis paginya untuk bermalas-malasan di atas tempat tidur saat hari libur.


Satria tertegun sambil menatap sebuah mobil yang terparkir di sebuah rumah. Dia mengenal pemilik mobil itu.


Satria mendekat dan mengamati suasana rumah itu.


Sepi, seolah penghuninya masih terlelap.


Satria mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar mobil yang terparkir di depan rumah, lalu mengamati sekali lagi, kemudian melanjutkan lari paginya.


Satria berlari dengan pikiran tak tenang.


"Apakah Bima berselingkuh? Apakah Niken tahu akan hal ini? Apa Seruni tahu? Siapa pemilik rumah itu?"


Pertanyaan pertanyaan berputar di kepala Satria, lalu dia memutuskan untuk pulang dan menemui mengunjungi Niken sambil mengajak Amanda untuk bermain bersama Laras.


*


"Wah, ada tamu cantik datang berkunjung!" Niken menyambut kedatangan Amanda dan Satria.


"Aku kangen sama Laras, Tante Niken, Adik Regas, dan Tante Seruni!" Seru Amanda sambil memeluk Niken dan Seruni.


"Tumben Seruni sudah di sini?"


"Bude sedang off, ada saudaranya yang hajatan di Solo. Jadi aku bawa saja di rumah Mbak Niken, biar ada temen rusuhnya."


Niken terbahak sambil menimang Regas.


"Bima belum pulang?"


"Katanya kemarin ada urusan di Semarang, karena kemalaman, mungkin dia menginap di hotel. Hari ini pulang." Sahut Niken sambil tersenyum.


"Ah, Mas Bima itu kayanya cuma alasan saja, Mbak. Lah yang ngurus produksi dan penjualan rata rata Mas Dewa sekarang ini. Lalu aku dan Mas Pur. Dia itu kayae cuma seneng ketemu klien, ngobrol, pesta sama teman-temannya." Tukas Seruni sambil melahap lemper buatan Niken.


"Hush! Nggak boleh ngomong gitu! Mas mu itu juga kerja memajukan pabrik, loh."


Niken hanya menaikkan bahunya sambil menghempas tubuh di sofa.


"Ma, aku boleh bikin kue sana Manda di dapur?" Tanya Laras.


"Kue apa?" Seruni balas bertanya.

__ADS_1


"Brownies, Tante." Sahut Laras dan Amanda berbarengan.


Niken tergelak.


"Iya. Bahan bahannya ada di dapur, jangan lupa setelah selesai perkakas dibersihkan, dan dapur dibereskan kembali, ya." Pesan Niken.


"Baik, Ma."


"Siap, Tante."


Dua gadis kecil yang beranjak remaja itu segera bergegas ke dapur sambil cekikikan.


"Emang bisa?" Tanya Satria penasaran.


"Kalau Laras sudah sering bermain di dapur. Mungkin dia mau mengajari Amanda. Kamu tenang saja. Kita tinggal tunggu hasilnya."


"Ya sudah, aku bawa Regas ke dalam dulu. Biar nyenyak tidurnya."


Seruni mengambil putranya dari gendongan Niken perlahan, lalu berlalu masuk ke kamar Laras.


"Masih betah sendiri?" Tukas Niken sambil menatap Satria.


"Ya, beginilah. Aku sudah nyaman hidup sendiri." Satria tersenyum kecil.


"Tapi, kok, matanya nggak lepas dari Seruni. Masih ada rasa dengannya?" Niken bertanya pelan seraya berbisik.


Satria melotot, lalu tertawa lebar.


Sekarang gantian Niken yang keget dan menatap Satria heran.


"Heh! Sadar, ntar Kesamben!" Niken menepuk paha Satria yang masih terkekeh.


"Ya. Aku masih ada rasa dengannya." Sahut Satria, detik itu juga dia terdiam sambil menghela napasnya.


Satria masih diam. Ingatannya melayang pada satu tahun silam, saat hujan deras, Seruni menuntun motornya yang bocor di bawah derasnya hujan.


Lalu mereka menghabiskan malam berdua. Satria tak pernah bisa melupakan malam itu. Dia merasa sangat bahagia sekali malam itu.


Namun, dua Minggu kemudian, dia mendapat kenyataan buruk, bahwa Niken menikah dengan lelaki lain.


Rasa cintanya pada Seruni masih tertanam dalam hatinya, bahkan, dia hampir gila karena patah hati, dan memutuskan untuk pergi ke Jakarta, lalu ke Balik untuk mengurus klien yang jauh, sekedar melupakan rasa sakit hati dan kecewanya pada Seruni.


Hingga berita mengenai suami Seruni yang menghamili mahasiswi, dan beberapa mahasiswi lain yang pernah menerima pelecehan dari suami Seruni yang seorang dosen itu merebak di surat kabar.


Satria terkejut membaca berita itu, dan sangat kasihan pada Seruni. Setelah mendengar Seruni telah bercerai dengan sang suami, ada perasaan senang. Namun, hingga saat ini, Satria masih belum dapat mendekati Seruni seperti dulu lagi.


"Mas, temanilah, Seruni di dalam. Aku akan bantu anak anak di dapur." Saran Niken sambil menepuk bahu Satria.


Satria tergagap, dan baru sadar, jika dia terlalu lama melamun.


Satria berdiri dan menuju ke kamar menemui Seruni yang masih menemani bayinya.


Lalu Niken menuju ke dapur, melihat dan membantu anak anak itu membuat brownies.


Terdengar suara cekikikan dan gurauan dari dapur, seolah mereka sedang sangat senang.


Sedang di dalam kamar, Satria masih menatap Seruni yang masih duduk sambil menyusui putranya.


"Jika kamu malu, aku akan keluar saja."


"Nggak, Mas. Kamu di sini juga nggak apa apa. Aku ada teman ngobrol."


Seruni dan Satria saling berpandangan, lalu keduanya tersenyum.

__ADS_1


"Permisi! Mbak Niken! Laras!"


Terdengar suara orang memanggil dari ambang pintu di ruang tamu.


Niken bergegas menyambut tamunya.


"Loh, Dewa, ayo masuk!"


Niken mempersilakan Dewa masuk ke dalam rumah.


Terlihat seorang wanita cantik di belakang Dewa menatap Niken sambil tersenyum malu.


"Ini siapa?"


"Ini Mawar, Mbak." Sahut Dewa.


"Pacarmu?" Niken menatap Dewa.


Dewa mengangguk sambil tersipu.


Lalu Niken menepuk bahu adik iparnya itu sambil tertawa renyah.


"Ayo, masuk, Saya Niken, Mbaknya Dewa."


"Iya, Mbak. Saya Mawar."


"Dari mana kalian?"


"Dari kostnya Mawar, sengaja jemput buat ajak main ke sini. Kenalan gitu sama Mas Bima dan Mbak Niken."


"Ada Seruni juga di sini." Niken menanggapi.


"Halo, Mas." Seruni keluar dari kamar diikuti oleh Satria.


"Oh, jadi adikku sekarang sudah nggak sendirian lagi?" Goda Dewa.


"Ah, apaan sih, Mas. Aku sama Mas Satria ini kan dari dulu teman dekat. Ya, kan, Mas?" Seruni menoleh ke arah Satria, seolah mencari pembenaran.


Mereka saling mengobrol dan tertawa bersama.


Menjelang siang, Bima tiba dan memarkir mobil di garasi.


"Oh, lagi ngumpul di sini?" Tanyanya sambil tersenyum.


"Iya, Mas. Seruni numpang ngasuh Regas, Satria mengantar Amanda. Lalu Dewa mau ngenalin calon nya." Sahut Niken sambil menatap Bima.


Bima hanya mengangguk.


Mawar menatap Bima tak berkedip dan sangat terkejut.


"Ya sudah, silakan dilanjutkan! Aku mau mandi dan istirahat dulu."


Bima berlalu.


"Itu tadi, suami Mbak Niken?"


Tanya Mawar dengan hati-hati.


"Iya. Itu Mas Bima, suamiku. Kakaknya Dewa dan Seruni." Sahut Niken sambil tersenyum.


Mawar hanya tersenyum kecut mendengarnya.


Satria melihat perubahan di raut wajah Mawar, dia merasa Mawar mengetahui sesuatu tentang Bima.

__ADS_1


__ADS_2