
"Halo Tante Runi!" Laras meyambut kedatangan Seruni sore itu sepulang dari pabrik.
"Loh, ada Amanda juga, nih? Kebetulan, Tante tadi beli ayam goreng sebelum ke sini. Kalian mau?"
Seruni mengacungkan plastik berisi sekotak ayam goreng tepung krispi kaki lima yang dibelinya di dekat pabrik.
"Mauuu!" Kedua gadis kecil itu langsung kompak menjawab sambil bersorak girang.
"Loh, katanya malam? Kok sudah datang?" Niken menuju ruang tamu karena mendengar suara sorak anak anak.
"Iya, Mbak. Mas Pur bisa langsung antar dan drop semua pesanan hari ini. Lalu Mas Dewa sudah lebih lihai mengerjakan pekerjaan kantor menggantikan Mas Bima jika sedang ke luar kota gini. Lalu tadi Mas Satria juga datang membantu mengatasi masalah program untuk penjualan produk. Jadi cepat selesai dan Seruni bisa langsung ke sini untuk menemani dua princess ini!"
Seruni menjawil hidung Laras dan Amanda dengan gemas.
Niken tersenyum dibuatnya. Seruni memang sangat pintar mengambil hati dua gadis kecil itu. Tak jarang Amanda juga sering curhat membayangkan, seandainya Seruni itu menjadi ibunya.
Niken hanya bisa tersenyum, sambil membelai rambut gadis itu. Dalam hatinya Niken prihatin.
Seruni juga telah memutuskan untuk menuruti Ibu untuk menikah dengan Bram, lelaki pilihan Bu Mirna.
"Kamu sudah yakin sama pilihanmu?" Tanya Niken sambil duduk di hadapan Seruni yang sedang menikmati secangkir teh di teras depan.
"Bram?"
Niken mengangguk.
Seruni tersenyum kecut. Seolah menertawai dirinya sendiri. Niken masih menunggu Seruni menjawab pertanyaannya.
"Aku nggak ingin berdebat dengan Ibu lagi, Mbak. Aku capek. Aku sudah muak dijodohkan dengan banyak orang. Biarlah. Biar Ibu puas dengan pilihannya."
"Runi, tapi, menikah itu bukan seperti ini konsepnya. Menikah itu untuk selamanya. Untuk itu kamu harus menikah dengan orang yang benar-benar kamu cintai, dan mencintaimu dengan tulus."
Niken menasihati Seruni.
Seruni menghela napas dalam-dalam.
"Bram memang bukan yang dia cintai. Dan dia adalah lelaki cabul, Mbak."
Akhirnya Seruni mengaku pada Niken.
"Astaga, Runi! Bagaimana bisa?" Niken menepuk punggung tangan Seruni dengan khawatir.
"Tenang, Mbak. Aku bisa jaga diri."
"Tapi, kamu nggak apa apa?"
"Sebenarnya, sejak awal Bram itu sudah cabul. Dari awal kencan itu, dia sudah minta cium, lalu meraba raba Runi. Setiap kali jalan selalu minta check in di hotel, dan minta dilayani."
"Astaga, Seruni! Lalu kamu sudah bilang ke Ibu?"
Seruni tersenyum sinis.
"Sudah."
"Lalu, Ibu bagaimana?"
"Ibu bilang nggak masalah. Turuti saja permintaan Bram, karena sebentar lagi kami akan menikah. Dan jikalau pun aku hamil, itu akan mempermudah proses percepatan pernikahan aku dan Bram. Itu jawaban ibu, Mbak." Seruni menyesap teh nya, lalu menoleh ke arah Niken, yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Yang sabar, Ya, Seruni. Mbak hanya bisa berdoa, supaya kamu mendapatkan yang terbaik." Niken membelai punggung adik iparnya itu.
"Terima kasih, Mbak."
"Eh, nanti kamu boleh tidur sama anak anak. Amanda nginap di sini. Katanya papanya pulang malam, jadi nggak ada yang nemenin."
"Siap, Mbak."
Hari menjelang malam. Tiba tiba ponsel Seruni berbunyi.
Seruni berbicara dengan nada khawatir, lalu menemui Niken.
__ADS_1
"Mbak, aku ke pabrik dulu, ya. Ini Sarah ada sedikit masalah di pabrik."
Seruni berpamitan dengan Niken.
"Loh, Tante mau ke mana?" Tanya Amanda dan Laras.
"Tante mau ke pabrik. Om Dewa lagi ngerjain yang lain. Ini Tante Sarah, lagi numpuk kerjaannya."
"Yah... Lembur deh!" Laras merenggut kecewa.
"Besok kan, hari minggu. Tante, janji kita akan main main seharian besok!" Cetus Seruni sambil menyodorkan jari kelingking.
Seruni juga menoleh ke arah Amanda yang juga terlihat kecewa.
"Iya, besok kan libur, besok kalian bisa main sama Tante Seruni puas puaskan. Biar Mama Niken yang masak." Niken menghibur dua gadis kecil itu.
"Horee..! Tapi, janji, ya, Tante!" Ucap Laras.
Seruni mengangguk pasti.
Akhirnya mereka melakukan janji kelingking. Lalu Seruni keluar hendak ke pabrik.
"Hati-hati di jalan. Jangan lupa mantelnya ya. Mendung banget. Takutnya hujan deras nanti."
Niken mengingatkan.
"Sudah, Mbak. Terima kasih. Aku pergi dulu, ya!" Pamit Seruni.
Niken mengantar Seruni hingga ke halaman depan, lalu saat Seruni telah menghilang bersama pengendara motor yang lain, Niken segera masuk menemani anak anak.
*
Seruni menutup layar laptopnya, lalu menaruhnya di meja kerjanya.
"Terima kasih, Mbak. Kali nggak ada Mbak Seruni, nggak tau lagu cari selisih uangnya di mana. Bisa nombok tiga juta saya, Mbak." Sarah tersenyum sambil menepuk bahu Seruni.
"Lain kali sebelum disimpan, dicocokkan dulu nota, pembelian, dan catatan kita. Cuma kurang nol satu saja, bisa kacau. Bayangin saja orang beli sepuluh juta, terus kamu tulis satu juta. Bisa bisa kamu dituduh korupsi, nanti. Penyelewengan! Padahal cuma salah tulis saja."
Seruni hanya tersenyum kecut.
Satu pabrik sudah mengetahui bahwa dirinya telah bertunangan dengan Bram, dan dalam beberapa Minggu ini akan melangsungkan pernikahan dengan Bram.
"Ya sudah, Mbak. Saya pamit dulu. Pacar saya sudah nunggu di depan."
"Oya, hati hati di jalan ya, Sar!"
"Iya, Mbak. Mbak Seruni juga ya!"
Sarah berlaku keluar dari ruang kantor.
Seruni membereskan meja kerjanya, lalu keluar dari ruang kantor.
"Pak Bejo, saya pulang dulu!" Pamit Seruni.
"Hujan, Mbak. Apa nggak nunggu sampai agak reda dulu?"
"Nggak deh. Takut kemalaman. Saya mau ke rumah Mas Bima, soalnya."
"Oya. Hati hati, Mbak!"
Seruni mengenakan mantelnya, lalu mengendarai motornya, menembus derasnya hujan malam itu.
Saat dalam perjalanan, tiba-tiba motornya berhenti.
Seruni mencoba menghidupkan motornya kembali, namun selalu gagal. Berkali-kali dia menstater, dan mengengkol motor, namun hasil nya tetap tak bisa hidup.
Dinginnya akibat hujan, mulai menusuk kulitnya.
Seruni mau tak mau menuntun motornya mencari bengkel yang masih buka malam itu.
__ADS_1
TIN TIN!
Suara klakson mobil membuatnya terkejut.
Kaca spion mobil diturunkan, lalu terlihat Satria di dalam mobil itu.
"Kenapa?"
Teriak Satria.
"Motorku mogok, Mas!"
Sahut Seruni dengan suara kencang juga berlomba dengan suara derasnya hujan.
"Kamu berteduh dulu di sana!" Satria menunjuk sebuah minimarket yang berjarak sekitar 50 meter.
"Baik, Mas." Seruni mengangguk sambil menuntun motornya.
Satria melajukan mobilnya menuju minimarket itu juga dan memarkir mobilnya di sana.
Satria menghampiri Seruni dengan membawa payung.
"Biar aku bantu." Satria menyodorkan payungnya, dan membantu menuntun motor itu menuju ke halaman minimarket.
"Tuh, kan, jadi basah pakaian, Mas Satria."
Satria hanya terkekeh.
Lalu Satria mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang. Setelah selesai berbicara, Satria menoleh ke arah Seruni.
"Kita tunggu sebentar di sini. Kamu dari mana malam-malam gini?"
"Aku dari kantor, Mas. Bantu Sarah sebentar. Eh, taunya malah jadi lembur. Ini mau ke rumah Mbak Niken. Soalnya Mas Bima sedang ke Surabaya."
"Amanda juga di sana." Sela Satria.
"Iya, tadi sempat ketemu di rumah Mbak Niken."
Satria tersenyum sambil menatap Seruni. Seruni jadi salah tingkah, dan malu.
Sebuah motor datang, ada dua orang menemui Satria. Lalu salah satunya menghampiri Satria.
"Pak, mana motornya?" Tanya orang itu.
"Ini. Motornya mogok. Kamu bawa saja ke bengkel, lalu setelah selesai, kamu kabari aku, biar diambil."
"Baik, Pak."
"Seruni, bisa pinjam kunci motornya, ini motormu akan dibawa ke bengkel, di ujung jalan itu. Besok kalau sudah beres, aku kabari kamu."
"Oh, terima kasih, Mas."
Seruni menyerahkan kunci motornya pada pegawai bengkel itu tadi, lalu mereka membawa motor Seruni ke bengkel.
"Kamu aku antar ke rumah Niken, ya!"
Seruni mengangguk sambil melepas mantelnya.
"Tunggu, aku mau beli makanan dulu di dalam. Kamu mau ikut?"
Seruni lagi-lagi mengangguk dan mengikuti Satria.
"Maklum, lajang, bisanya cuma masak mi, sama buat kopi instan saja. Sama roti dan camilan gini, buat menemani malam minggunya." Ucap Satria sambil memasukkan belanjanya ke dalam keranjang.
"Ah, sama saja, Mas. Aku juga bisanya cuma masak mi dan merebus air saja." Celetuk Seruni.
Satria terkekeh mendengarnya.
Setelah membayar belanjaan, Satria mengajak Seruni masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Mas, aku ke rumahmu saja, boleh?" Tanya Seruni saat dalam perjalanan menuju ke rumah Niken.