
"Kamu itu ngehalu! Ngakak saja! Nggak mungkin Bapak nyuruh kamu antar barang ke tempat Bu Gito? Karena pasti Bapak mempercayakan pada orang-orang yang kompeten dan telah dipercayai. Lagian ngapain kalian berdua pakai pulang boncengan sama sama? Kamu sudah berani menggoda adik iparnya sendiri? Nggak cukup apa kamu sama Bima, hah?" Seloroh Bu Mirna sambil menunjuk nunjuk wajah Niken yang ada di teras, Bu Mirna tersenyum menyindir menantunya itu.
Beberapa tetangga yang lewat melongok untuk melihat keributan yang terjadi di teras rumah keluarga Widodo.
Niken hanya diam, ingin rasanya dia berlari berbalik arah, dan tidak pulang lagi ke rumah ini.
Tapi, dia ingat, janjinya pada Bima. Niken hanya bisa menitikkan air matanya.
"Sudah, Mbak. Ayo masuk!" Ajak Dewa.
"Eh, siapa kamu? Ngajak masuk istri mas mu? Kamu juga tergoda sama dia?!" Tukas Bu Mirna dengan suara meninggi pada Dewa.
"Lalu ibu maunya apa?" Tanya Dewa.
"Ibu mau lihat dia berbohong atau tidak. Ibu tak Sudi menerima perempuan sundal yang demen menggoda laki laki!"
"Hah? Ibu? Ngomong apa? Dewa hanya bertemu dengan Mbak Niken, lalu memboncengkan, karena kami searah. Apa Dewa salah?"
Bu Mirna melengos tak menanggapi pertanyaan Dewa, dan masih menatap tajam ke arah Niken yang masih berdiri sambil mencengkram tali tas selempangnya kuat kuat menahan rasa marahnya.
Tak lama sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah itu, disusul suara motor.
Bapak, Seruni, dan Bima baru pulang. Mereka menyaksikan Bu Mirna duduk sambil menyilangkan tangan di depan dada sambil menatap Niken yang berdiri di depan teras, seolah mendapat hukuman dari ibu mertuanya itu. Sedangkan Dewa telah masuk ke dalam rumah.
"Ada apa ini?" Tanya Bapak yang buru buru menghampiri Niken.
"Mbak Niken nggak boleh masuk rumah, Pak." Sahut Dewa yang muncul ke ambang pintu.
"Kenapa, Bu?" Tanya Bima.
"Dia menggoda adikmu! Lalu berbohong, katanya mengantar barang ke rumah Bu Gito. Hah, mana mungkin?" Ibu tersenyum sinis.
"Bapak memang suruh Niken mengantar pesanan Bu Gito." Ucap Bapak dengan keras sambil menatap tajam Bu Mirna.
Bu Mirna sontak terdiam dan raut wajahnya beruban mengendur kembali.
"Ya, kalau habis antar barang ke sana biasanya pasti bawa uang. Kok nggak dikasih ke ibu saja? Apa nggak percaya sama ibu?" Ucap Bu Mirna dengan nada lebih melunak.
"Ayo kita masuk ke dalam! Nggak enak, dilihat tetangga, rame rame gini." Ucap Bapak.
"Ini, uang dari Bu Gito, Pak." Niken memberikan amplop cokelat pada Bapak saat masuk ke dalam rumah.
"Ya, terima kasih."
"Pak, saya permisi mau ke dalam." Pamit Niken. Disusul oleh Bima.
Pak Widodo mengangguk, dan duduk di kursi ruang tamu. Dia melepas sepatunya dan menaruh pada rak sepatu yang ada di sudut ruang tamu.
"Berapa lembar yang dibeli Jeng Gito?" Tanya Bu Mirna.
__ADS_1
"Ada sepuluh lembar." Sahut Pak Widodo, sambil meminum teh hangat yang disajikan istrinya itu.
Bu Mirna meraih amplop cokelat yang diletakkan di meja. Lalu mencocokkan dengan salinan nota yang ada di dalamnya.
"Kurang, Pak!" Ucap Bu Mirna sambil melotot.
"Kan sudah depe." Sahut Pak Widodo.
"Iya, ini yang uang pelunasannya! Ibu sudah ngitung bolak balik, loh! Jeng Gito nggak pernah loh kurang seperti ini." Tukas Bu Mirna penuh penekanan.
"Coba dihitung lagi." Ucapan Bapak dengan sabar.
"Nggak! Ini pasti ditilep oleh perempuan itu! Niken...!!" Teriak Bu Mirna dengan suara nyaring.
Niken yang sedang sedang mengangkat jemuran di belakang sontak berlari tergopoh-gopoh menuju ruang tamu.
"Ada apa, Bu?"
"Ini uangnya kurang! Ayo kembalikan!" Tuduh Bu Mirna.
"Tapi, saya tadi sudah hitung pas. Lalu saya tutup dan bawa pulang. Saya benar nggak ngambil apa apa, Bu."
"Halah! Jeng Gito itu nggak pernah salah, loh! Mas Pur juga nggak pernah kurang seperti ini! Pas kamu saja, kurang. Terus apa lagi yang akan jadi alasanmu!"
"Ada apa sih, Ibu? Berisik banget! Sudah malam loh, Bu." Keluh Seruni yang akhirnya keluar dari kamarnya.
"Bener, Bu. Saya nggak bohong. Saya tidak mengambil sepeser pun uang dari amplop itu." Jawab Niken.
Bu Mirna sontak langsung melotot menatap tajam ke arah putrinya itu.
"Total belanja Bu Gito tiga setengah juta. Kemarin sudah depe lima ratus ribu. Jadi harusnya di sini tiga juta. Bener kan?"
"Ya. Kurang, kan?" Ucap Ibu sambil menyeringai penuh kemenangan.
"Ibu yang kurang teliti ngitungnya! Ini aku barusan hitung pas tiga juta. Ayo aku bantu ngitung pelan pelan ya, biar adil." Ucap Seruni yang akhirnya menghitung selembar demi selembar uang itu dengan perlahan.
Hingga akhirnya pas uangnya.
"Jadi, sebelum menuduh, sebaiknya, Ibu cek lagi."
"Iya, ibumu ini kenapa, selalu nggak percaya sama Niken. Padahal kerjanya bagus, loh." Ucap Bapak.
"Tuh kan, aku lagi yang disalahkan!" Ibu menekuk wajahnya dan cemberut.
"Ada apa? Loh, kenapa Niken di sini lagi? Bukannya sudah selesai?" Tanya Bima yang baru keluar dari kamar mandi. Lalu menuju ke ruang tamu karena mendengar suara ribut-ribut.
"Mbak Niken dituduh nilep uang, Mas. Tapi, ternyata ibu yang nggak teliti ngitungnya. Sudah nuduh, salah pula. Harusnya ibu minta maaf sama Mbak Niken." Tukas Seruni.
"Heh, aku kan nggak salah, hanya memastikan uangnya pas atau tidak! Nggak salah dong." Bu Mirna membela diri.
__ADS_1
"Iya, loh. Ibu harusnya minta maaf." Sahut Bima sambil merangkul pundak istrinya itu.
Niken yang sedari tadi berdiri, tiba tiba merasakan tubuhnya berat, dan pandangannya berkunang-kunang. Lalu tubuhnya terasa sangat berat, dan dia terjatuh tak sadarkan diri.
"Ken, Niken?" Panggil Bima.
Bima segera menggendong tubuh Niken ke dalam kamar, lalu Seruni membantunya membereskan pakaian yang dibawa oleh Niken tadi.
Bapak dan Bu Mirna terkejut. Pak Widodo mengikuti ke kamar Bima untuk memastikan keadaan Niken.
Sedang kan Bu Mirna kini pindah duduk di kursi makan di dekat kamar Bima, supaya bisa ikut mendengarkan apa yang terjadi.
Seruni mengambilkan segelas air dan meminumkan pada Niken. Namun, tubuh Niken terlalu lemah, jadi dia hanya bisa sebentar untuk duduk.
"Aku bawa ke rumah sakit saja." Ucap Bima sambil menyambar jaket yang tergantung di gantungan dinding.
"Kamu pakai mobil Bapak saja! Khawatir jika ada apa apa di jalan." Sela Bapak.
"Terima kasih, Pak."
Bima tersenyum dan mengangguk hormat pada Pak Widodo.
"Runi, kamu bisa bantu Mas, nemenin Mbakmu ke rumah sakit?" Tanya Bima.
"Bisa, Mas. Runi ganti baju dulu."
Tak lama Seruni bersiap untuk menemani Bima dan Niken ke rumah sakit.
"Halah, manja! Cuma sakit dikit, sudah pingsan!" Sindir Bu Mirna saat melihat Niken hendak di gendong Bima.
"Sudah, Mas. Aku bisa jalan sendiri."
Ucap Niken.
"Tapi kamu pucat sekali, Ken!" Bima terlihat khawatir.
"Ibu, bisa diem nggak sih!" Ucap Bima kesal dengan suara kerasnya. Membuat Bu Mirna terkejut.
"Kamu itu, benar ngelawan orang tua sejak mengenal perempuan itu!"
"Bu, Niken istri Bima. Jadi wajar jika Bima khawatir." Ucap Bima.
Lalu dia berlalu, membantu memapah Niken masuk ke dalam mobil, dibantu oleh Seruni.
"Kamu beneran masih kuat?" Tanah Bima memastikan.
Niken mengangguk lemah.
Mobil menderu menjauh dari rumah menuju rumah sakit.
__ADS_1
"Manjanya! Cuma digertak langsung pingsan! Nggak kuat mental! Nggak kayak jadi bagian dari keluarga ini!" Gumam Bu Mirna sambil menatap tajam kepergian mobil yang membawa Niken ke rumah sakit.