Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Selingkuh


__ADS_3

"Mas, tumben bangun pagi banget?" Niken menoleh kaget saat melihat Bima telah duduk di kursi dapur.


"Iya, kebetulan sebelum ke kantor, aku mau mampir ke bengkel, ganti oli."


"Mau kopi?"


Bima mengangguk. Tak lama, Niken datang dengan secangkir kopi hitam kental manis untuk menemani suaminya menikmati pagi.


Niken sibuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk Laras, Seruni, dan Bima.


Bima duduk, sibuk dengan ponselnya sambil menyesap kopinya.


Sesekali, Niken melirik suaminya yang tatapannya tak lepas dari layar ponselnya. Ada rasa penasaran menggelitik hatinya, namun ditahannya.


"Mas, kapan kapan, boleh nggak kita jalan-jalan sekeluarga? Ke pantai, atau ke Merapi, atau ke mana lah, buat rekreasi sekaligus refreshing." Niken duduk di hadapan Bima.


Bima meletakkan ponselnya dengan layar diletakkan mengarah ke meja, seolah tak ingin orang lain mengetahui apa yang dia lakukan.


"Ya. Tentu. Kamu atur saja waktunya. Nanti aku akan atur jadwalku." Tukas Bima seolah tak ingin berlama-lama mengobrol dengan Niken.


Niken menghela napas dalam-dalam, lalu membiarkan Bima sendiri lagi.


Usai mandi, Bima bersiap diri untuk berangkat ke kantor, namun sebelumnya akan mampir ke bengkel.


Bima berpamitan pada Niken dan langsung pergi menuju mobilnya.


"Mas... Bekalnya...!"


Niken tergopoh-gopoh berlari ke arah luar, namun, mobil sudah melaju jauh.


"Mbak, kenapa, Mas Bima?" Seruni menatap Niken yang terlihat sedih.


"Nggak, Mas mu. Kebiasaan, selalu lupa dengan bekalnya." Niken menghela napas berat, ada rasa sedih saat dia mengucapkan itu.


"Buat aku saja." Sahut Seruni.


"Kamu sudah aku siapkan."


"Buat Mas Dewa."


Niken tersenyum.


"Iya, nanti titip buat Dewa saja. Mas mu sibuk banget apa kalo di kantor?"


Seruni terdiam sesaat.


"Kalo sibuk iya. Karena Mas Bima itu sering nggak ada di kantor, Mbak. Jadi selama ini Mas Dewa yang sering stand by di kantor. Mas Pur juga, masih seperti biasa. Aku nggak tahu, Mas Bima ada kesibukan apa selama ini kalo di luar kantor."


Niken hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam rumah. Seruni merasa, ada hal yang tidak beres dengan kakaknya saat ini, tapi dia tak mau terlalu memikirkan itu, karena takut akan terjadi hal yang buruk dalam rumah tangga kakaknya itu.


"Selamat pagi!" Sapa Bude Ning pada Niken dan Seruni.


Lalu segera menggendong Regas yang sudah berusia sekitar empat bulan itu.


*


Siang itu Bu Mirna sedang berjalan-jalan cuci mata di sebuah pusat perbelanjaan usai arisan di rumah temannya.


"Mbak, yang warna merah ada?" Tanyanya pada pelayan sambil menunjuk sebuah tas tenteng.


"Oh, yang ini adanya warna hitam, cokelat, dan kuning, Bu. Sebentar saya ambilkan."

__ADS_1


Pelayan itu menuju rak lain, lalu kembali lagi dengan tas dengan warna yang berbeda-beda dan meletakkan di depan Bu Mirna.


Bu Mirna mengerutkan keningnya sambil menilai tas itu.


Bu Mirna membolak-balik, lalu mematut diri dengan menggunakan tas itu pada cermin.


Tiba-tiba ekor matanya melihat pasangan sedang melintas di depan gerai, tepat di depan tempat dia sedang mamatutkan diri dengan tas pas cermin.


Sontak, Bu Mirna mengikuti pasangan itu secara refleks.


Pelayan mengejar Bu Mirna.


"Bu, Bu, Bu, tasnya!" Teriak pelayan toko tas itu.


Bu Mirna menoleh ke arah tas yang ada di tangannya, lalu menyerahkan pada pelayan itu sambil tersenyum tak enak.


"Maaf, Mbak."


Bu Mirna meninggalkan gerai tas itu, lalu mengikuti pasangan itu.


Bu Mirna berkeliling sambil celingak-celinguk, menajamkan penglihatannya mencari sosok pasangan yang dilihatnya tadi.


Sambil beristirahat, Bu Mirna duduk pada kursi yang disediakan pusat perbelanjaan itu di sudut mall.


Tiba-tiba, matanya menatap sosok pasangan itu ada di lantai bawah.


Sang wanita menggelayut manja mengalungkan tangannya pada leher lelaki, dan lelaki itu memegang pinggul wanita itu, dan mereka berciuman.


Lalu sang wanita menenteng paper bag brand ternama, lalu mereka berlalu, sambil sang lelaki merangkul pundak sang wanita dengan mesra.


Lelaki itu adalah Bima, dan sang wanita, bukan Niken. Sejenak, Bu Mirna tercenung.


Lalu berdiri mengikuti arah pasangan itu pergi.


Senyum tersungging di bibir Bu Mirna.


"Benar tebakanku, wanita itu tak lagi bisa mengurus putraku dengan baik." Gumamnya sambil tersenyum sinis.


*


"Terima kasih, Mas! Jamnya keren." Bisik Ayu sambil menatap jam tangan baru pemberian Bima yang ada di lengannya.


Bima hanya tersenyum saat melirik Ayu yang yang masih senyum senyum mengagumi jam tangan pemberiannya.


"Lalu buat aku apa nih?" Bima berpura pura menyindir.


"Apa ya?" Ayu menoleh ke arah Bima seolah berpikir keras.


"Ini langsung ke kampus atau ke mana dulu?"


"Aku mau pulang saja ah!" Pinta Ayu dengan manja.


"Loh, katanya ada kuliah?"


"Males!"


"Ih, gimana mau cepat lulus, males kuliah gini!" Bima mencubit gemas pipi Ayu.


"Mas, selama ini aku full ikut kelas dosen ini, sekali sekali bolos kan nggak masalah."


Sahut Ayu sewot.

__ADS_1


"Bener, mau pulang saja!"


Ayu mengangguk.


"Katanya tadi minta hadiah.." Ayu memainkan tangannya pada paha Bima.


"Ayu... Aku sedang nyetir ini!"


"Iya... Mau di mobil saja?"


"Ayu, jangan ah!" Tolak Bima.


"Mas, seru kali kita main di mobil lagi." Ayu mengerlingkan matanya menggoda Bima.


"Kemarin di pantai, sepi! Ini di jalan raya, mau gituan!" Bima menggeleng kepalanya dan terus fokus menyetir.


"Kalau kita ke hotel saja, gimana, Mas?"


Rengek Ayu sambil menggelayut manja pada Bima.


Bima mengangguk sambil mengecup kening Ayu.


Lalu Bima membelokkan mobilnya ke sebuah hotel berbintang di pusat kota Yogya.


Mereka turun dari mobil, lalu masuk ke dalam hotel untuk check in.


Sepasang mata tengah mengamati mereka. Kebetulan saat itu Satria sedang meeting di hotel itu juga dengan kliennya.


Mulai dari menuju resepsionis, hingga mereka mendapat kartu kamar, Ayu bergelayut manja di lengan Bima. Mereka bak pasangan suami istri yang baru saja menikah. Satria seolah pernah melihat wanita itu sebelumnya.


"Ya, itu wanita muda yang bersama Bima saat di mall waktu itu." Pikir Satria sambil terus mengamati Bima dan Ayu dari kejauhan.


Lalu Bima mulai berkonsentrasi pada meeting kembali usai pasangan itu masuk ke dalam lift hotel.


Setelah menyelesaikan meeting nya, Satria menuju ke resepsionis hotel.


"Maaf, Mbak, Pak Bima menginap di nomor berapa?"


"Bima?" Resepsionis tadi mengerutkan keningnya.


"Eh, iya, maaf, saya ada janji sama teman, katanya menginap di hotel ini, tapi lupa tanya nomor kamar. Dia nggak balas, saya sudah chat dan hubungi." Tukas Satria.


"Sebentar, saya cek dulu." Resepsionis itu memeriksa daftar tamu hotel pada monitor.


"Oh, atas nama Bima Anugrah, yang baru check in siang ini."


"Ya. Sepertinya dia bersama wanita, Mbak."


"Ya. Seperti pasangan yang baru menikah, Pak." Sahut resepsionis sambil tersenyum lebar.


Satria hanya tersenyum.


"Di kamar 610."


"Baik, terima kasih."


Satria langsung bergegas menuju lift, dan menuju ke lantai 6.


Sartia menuju kamar tempat Bima dan wanita muda itu menginap.


Satria termenung di depan pintu kamar hotel itu.

__ADS_1


Sejenak dia diam dan menatap pintu kamar 610.


Satria menghela napas dalam-dalam, lalu membalikkan tubuhnya, berlalu meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang campur aduk.


__ADS_2