
"Bagaimana perkembangan Niken, Bu?" Bima duduk menghampiri Ibu Lusi yang sedang melipat pakaian yang telah kering.
"Tadi sudah ketemu sama dokternya. Lalu sudah melakukan terapi tahap awal. Belum banyak perkembangannya, tapi, Niken sudah bisa sedikit merasakan sentuhan pada kakinya. Karena ternyata bukan tulangnya saja, tapi, sudah mengenai saraf pada kakinya, jadi treatmentnya lebih banyak."
Terang Bu Lusi sambil menatap Bima.
"Syukurlah, Bu, jika ada kemajuan. Bu, terima kasih, sudah datang."
Bima menghela napas, membalas tatapan Bu Lusi yang tenang, seperti tatapan Niken.
"Bima, Ibu turut sedih yang menimpa Bapak. Bapak itu orang yang baik. Ibu ingat, Bapakmu dulu pernah berjanji pada ibu, akan menjaga Niken, dan menerima dia seperti anaknya sendiri." Bu Lusi menerawang mengingat kenangan akan Pak Widodo.
"Maaf, Bu. Saya belum bisa membahagiakan Niken selama ini. Rumah saja masih kontrak, dan Niken harus bekerja."
"Bima, kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Bapak tidak meninggalkan keluarganya dengan tangan kosong. Bapakmu itu, masih meninggalkan peninggalan berharga bagi kalian keluarganya. Kamu harus bersyukur."
Nasihat Bu Lusi sambil menepuk bahu Bima.
Bima yang duduk tertunduk, hanya bisa mendengar dengan meresapi.
"Ibu juga tahu, selama ini, ibumu masih belum bisa menerima Niken. Bahkan Laras juga mungkin. Niken nggak pernah cerita pada ibu, tapi naluri seorang ibu mengetahuinya."
Bima terhenyak, untuk sesaat dia tercenung.
Bima berlutut di depan Bu Lusi.
"Bu, maafkan Bima. Maaf belum bisa meyakinkan ibu saya untuk menerima Niken."
Bima berlutut sambil memegang punggung tangan Bu Lusi, sambil menitikkan air mata dengan sedih.
Bu Lusi mengusap punggung Bima dengan lembut.
Bima merasa sangat tenang saat itu. Ada rasa lega usai mengatakan hal itu.
"Bima, kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik selama ini. Menjadi suami dan ayah yang baik bagi keluargamu. Bahkan selalu mendampingi Niken saat dia sedang susah. Kamu juga mau mengambil tugas rumah, yang seharusnya dilakukan oleh Niken. Kamu harus selalu meneladani Bapakmu. Contohlah dia. "
__ADS_1
"Baik, Bu."
Bima menghapus air mata yang masih mengalir di wajahnya.
"Duduklah! Jangan menangis lagi. Ibu tidak marah padamu. Ibu berterima kasih, karena kamu yang selama ini ada untuk Niken, saat ibu tidak ada."
"Saya telah memilih Niken, dan akan menjaganya selalu, Bu."
"Oya, bagaimana pabrik? Kata Niken Bapak memberikan pabrik untuk kamu dan adik adikmu."
Bima terdiam sejenak, sebelum menjawab pertanyaan Bu Lusi.
"Saya masih belum tahu, Bu. Saya telah bekerja selama belasan tahun di perusahaan tempat saya bekerja, hingga posisi seperti sekarang. Lalu tiba tiba Bapak memberikan mandat untuk memegang pabrik. Saya masih bingung, karena harus mengulang dari awal lagi."
"Kamu bisa belajar, dengan Seruni. Bukankah dia sudah lebih dulu membantu di pabrik."
"Ya. Dulu, ada Niken yang selalu membantu..."
"Meski pun Niken, belum pulih, dia pasti mau membantu kalian."
"Saya akan bicarakan dengan Dewa dan Seruni. Karena tanggung jawab bukan hanya pada saya, tapi dengan mereka juga."
"Semoga lancar, Nak."
"Terima kasih, Bu."
*
"Dengar, kamu ini anak gadis macam apa Runi? Mengapa kamu memutuskan Firman yang sudah menjadi kekasihmu selama ini? Apa pacaran lama lama itu malah membuat otakmu jadi lelet? Apa karena bekerja dengan Dewa, membuatmu ketularan nggak betah lama lama berhubungan?"
"Bu, sudahlah. Firman juga bukan orang yang tepat buat Runi. Apa ibu tahu Firman sudah menghamili perempuan lain selama ini. Untung Runi tidak jadi menikah dengannya." Sahut Seruni membela diri.
"Itu karena kalian kelamaan pacarannya. Harusnya jangan lama lama. Jika sudah cocok, ya sudah, langsung menikah saja! Kamu itu sudah 25 tahun Runi, mau jadi gadis lapuk apa?"
Cecar Bu Mirna dengan suara keras.
__ADS_1
"Bu, gadis lapuk gimana? Seruni itu sedang sibuk dengan pabrik, dia sedang fokus mengembangkan pabrik selama ini. Lagi pula, bagus dong, Seruni nggak jadi nikah sama lelaki hidung belang seperti Firman itu." Dewa menyahut membela Seruni.
"Hah, kamu juga! Kamu mau jadi perjaka lapuk juga apa? Umurmu ini sudah hampir 30, tapi masih betah lama lama. Apa sih yang kalian cari sebenarnya? Mengapa kalian tidak bisa mencari pasangan hidup sendiri? Sapa perlu ibu Carikan?"
Bu Mirna menggelengkan kepalanya dengan gusar.
"Kenapa juga ibu marah marah kayak gini? Aku dan Seruni pasti akan mendapatkan jodoh, tapi saat ini belum bertemu. Kami ingin fokus dulu dengan pabrik. Apalagi dengan kondisi Mbak Niken yang masih dalam tahap pemulihan, dan Mas Bima yang masih bekerja di kantornya."
"Bima masih kerja di perusahaan yang lama?" Bu Mirna memicingkan matanya, dan menatap Dewa.
"Ya. Mas Bima masih bekerja, jadi dia datang sore, setelah jam pulang kantor. Makanya kami sering menghabiskan waktu bekerja agak malam. Apalagi beberapa klien yang biasa ditangani oleh Bapak, ada yang ganti supplier."
Terang Dewa.
"Bima itu gimana? Sudah tahu adik adiknya kesusahan, masih saja sibuk. Lagi pula,dari dulu, ibu selalu bilang, jangan tergantung dengan wanita itu. Tapi kalian nggak ada yang pernah dengar. Wanita itu, sedikit demi sedikit menggerogoti pabrik!"
Tukas Bu Mirna geram.
"Menggerogoti pabrik? Siapa?" Tanya Dewa heran.
"Ya, istrinya Bima itu, siapa lagi?"
"Ya ampun, Bu. Memangnya, Mbak Niken rayap apa, pake istilah menggerogoti segala." Seruni terbahak mendengar ibunya mengomel.
"Heh, Runi! Kamu itu jangan ketawa. Jika tidak menggerogoti pabrik, ibu rasa saat ini pasti, kamu dan Dewa nggak masalah mengatasi pabrik. Dan juga pasti Bina dipengaruhi oleh istrinya itu. Sekarang dia lumpuh! Rasakan! Bima sekarang mengurus istri yang lumpuh, mencari uang untuk biaya keluarga dan pengobatan. Kualat anak itu. Kalian dengar ibu! Jangan melawan ibu, kalian bisa kualat! Seperti Mas mu itu!"
Bu Mirna melipat kedua tangannya di depan dada, sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tengah.
Dewa masuk ke kamarnya, begitu juga Seruni mengikuti jejak kakaknya itu masuk ke dalam kamar.
Hening dan sunyi...
Begitulah sepeninggal Pak Widodo.
Bu Mirna hanya bisa duduk sambil menyeka air matanya dengan sedih, merindukan suaminya itu.
__ADS_1