
"Selama ini, Nak Rangga tinggal di mana?"
"Oh, saya tinggal di apartemen. Tapi, semenjak ibu saya meninggal. Lalu Amanda dibawa papanya pindah ke Yogyakarta, saya tinggal di rumah peninggalan orang tua. Apartemen saya sewakan."
"Katanya, dulu teman kerjanya Niken?"
"Ya, dulu memang sempat kerja satu kantor sama Niken dan Bima. Saya keluar karena ayah saya sakit keras, dan meminta saya untuk meneruskan perusahaan. Ya, meskipun dulu saya sering menolak permintaan ayah. Namun, melihat kondisi pada saat itu, membuat saya tidak tega. Seakan itu menjadi permintaan terakhir dari ayah pada saya."
Bu Lusi tersenyum lembut sambil menepuk punggung tangan Rangga seolah memberi dukungan.
"Kalau saudara Nak Rangga ada berapa?"
"Saya dua bersaudara, Bu. Adik saya adalah ibunya Amanda, istri Satria. Dan dia sudah meninggal juga, saat Amanda berusia sekitar tiga tahun."
Bu Lusi menghela napas dalam-dalam, lalu menatap Rangga dengan penuh simpati.
"Kamu adalah anak yang kuat, Nak Rangga. Ibu yakin Tuhan pasti selalu melindungi kamu, meski keluargamu satu persatu telah menghadap Tuhan."
"Ya. Terima kasih, Bu. Saya beruntung memiliki adik ipar yang sangat baik seperti Satria. Dia sudah saya anggap seperti adik saya sendiri. Lalu Amanda juga."
"Kalau istri Nak Rangga?"
Rangga terdiam sambil tersenyum kecut.
"Saya belum memiliki istri, Bu."
"Oh, maaf, ibu pikir sudah punya istri. Masih bujangan, ya?"
"Iya, Bu." Rangga tersenyum tipis.
Ingin rasanya dia mengatakan apa yang ada dalam hatinya saat ini. Namun, segera diurungkannya. Dia tak ingin membuat kehebohan hari ini. Hari terakhir Amanda, keponakannya berlibur di Jakarta, menghabiskan waktu dengan Laras.
"Oya, apakah saya bisa minta ijin mengajak anak anak pergi ke Ancol untuk jalan jalan?"
Tiba tiba, pertanyaan spontan meluncur dari mulut Rangga. Detik itu juga dia merutuki dirinya sendiri.
Bu Lusi terbahak.
"Ya tentu saja boleh. Kamu tanya saja langsung ke anak anak? Atau bisa tanya Niken."
Rangga mengangguk sambil tersenyum dikulum.
"Niken, Ken!" Panggil Bu Lusi dengan suara agak keras pada Niken yang masih sibuk mengurus pesanan makanan di ruang tengah.
"Ada apa, Bu?" Tanya Niken dengan heran sambil melirik Rangga.
Niken telah terbiasa dengan kehadiran Rangga selama beberapa hari di kediaman ibunya, tak jarang Rangga juga dengan senang hati membantu Niken melipat box makanan, atau membantu memesankan ojek online, bahkan membantu membungkus makanan.
Niken merasa biasa saja, dia berpikir bahwa Rangga membantu Satria menjaga Amanda. Padahal kenyataannya, Rangga menunggu kesempatan lagi untuk mendekati Niken.
"Yey, horee! Kita akan diajak Om Rangga jalan-jalan!"
Laras dan Amanda bersorak gembira saat mendengar Rangga mengajak mereka ke Ancol untuk menikmati hari terakhir Amanda di Jakarta.
"Setelah jalan ke Ancol, kita jalan ke mall, lalu terakhir kita bermalam di hotel bintang lima."
__ADS_1
"Yah, gak bisa renang song, Om?" Amanda menekuk bibirnya kecewa.
"Siapa bilang? Papamu menambah satu hari libur kamu di sini. Mendadak papamu harus ke Singapura tadi siang, dan baru kembali paling cepat besok siang. Tapi yang jelas besok papamu pulang."
"Beneran, Om?" Amanda menatap Rangga seolah tak percaya.
Rangga tersenyum sambil mengangguk mantap.
"Yes!" Amanda mengepalkan tangannya menandakan dia sangat senang.
*
"Kalau tahu katering itu punyamu, sudah sejak lama aku pesan di kamu saja selama ini?"
Ucap Rangga saat mereka beristirahat sambil mengawasi Laras dan Amanda yang mengantre wahana permainan.
Niken hanya tersenyum tipis sambil melirik Rangga sekilas, lalu mengambil ponsel dalam tasnya, dan mengambil gambar Amanda dan Laras.
"Aku juga nggak menyangka bisa bertemu dengan Mas Rangga lagi setelah sekian lama. Aku senang bisa bertemu Mas Rangga, itu artinya, aku masih punya teman buat tempat curhat lagi seperti dulu." Gurau Niken sambil tertawa kecil.
"Eh, maaf, sepertinya aku salah, ya!" Niken menutup mulutnya dengan tangan, sambil menatap Rangga.
"Salah kenapa?" Rangga penasaran.
"Nanti ada yang marah, jika aku sering curhat sama Mas Rangga." Niken tersipu.
Rangga terkekeh.
"Nggak lah! Kamu bisa lihat sendiri, selama ini aku menghabiskan waktu sendiri untuk bekerja. Sampai ada salah satu hotel yang kolaps, akhirnya aku beli, dan aku bangun menjadi hotel berbintang."
Rangga mengangguk.
"Setelah adikku meninggal dunia, ibunya Manda. Lalu Manda tinggal bersama ibu dan ayahku. Aku fokus membantu menjalankan bisnis keluarga. Satria telah memilih menjalankan bisnisnya sendiri. Jadi mau tak mau, aku akhirnya keluar dari kantor tempat kita bekerja dulu. Dan yang membuatku tertawa, sekarang perusahaan itu menjadi bagian dari perusahaan ku."
"Oya? Kok bisa? Apakah perusahaan itu bangkrut?"
"Hampir. Waktu itu, sempat ada pengurangan karyawan, termasuk cabang Yogyakarta yang dipegang oleh Bima. Tapi, setelah itu dia mengundurkan diri, katanya mau mengurus usaha pabrik batik milik bapaknya."
"Ya. Itu benar...." Niken terdiam, tak meneruskan ucapannya.
Ingatannya pada peristiwa itu dan pada Pak Widodo, bapak mertuanya yang sangat baik. Bahkan Niken telah menganggap Pak Widodo itu seperti ayahnya sendiri.
Tapi, Bu Mirna selalu mengartikan lain kedekatan mereka selama itu.
Tatapan Niken menerawang, dan ada gurat kesedihan saat itu. Rangga dapat menangkap gurat itu.
"Mama!"
"Om Rangga!"
Laras dan Amanda berlari menghampiri mereka.
"Gimana tadi naik tornado?"
Tanya Rangga dengan antusias.
__ADS_1
"Seru..!" Sorak dua gadis kecil yang beranjak remaja itu bersamaan.
"Ayo, kita naik halilintar sama sama!" Ajak Laras sambil menarik Niken, lalu Amanda menarik Rangga.
Mereka berempat berjalan menuju wahana rollercoaster di area itu dan mengantre.
"Laras, mama nggak usah ikut, ya."
"Ah, nggak seru! Kapan lagi kita bisa Mein bareng seperti ini." Rengek Laras sambil cemberut menatap Niken.
" Om Rangga juga ikut, loh, Tante." Imbuh Amanda sambil memamerkan deretan giginya.
Rangga hanya bisa geleng-geleng kepala.
Akhirnya Niken hanya bisa pasrah sambil menatap Rangga.
Tiba giliran mereka untuk naik.
Amanda dan Laras duduk di deretan paling depan, disusul Rangga dan Niken.
Setelah memasang sabuk pengaman masing masing yang naik wahana itu, terlihat petugas wahana memberi tanda untuk segera menjalankan wahana itu karena sudah siap.
Amanda mengarahkan ponsel ke wajahnya dan Laras, untuk mendokumentasikan kegiatannya saat itu.
Secara refleks, Niken memeluk lengan Rangga yang kokoh, saat wahana mulai bergerak.
Perlahan-lahan kereta meluncur, dan akhirnya makin cepat dan cepat.
Terdengar suara roda wahana bergerak bergesekan dengan relnya, disusul suara teriakan pengunjung yang sedang naik.
Niken hanya bisa menggigit bibirnya menahan takut sambil memeluk lengan Rangga yang berada di sampingnya.
"Seru sekali!" Sorak Laras dan Amanda saat turun dari wahana.
Niken dengan wajah pucat turun dari wahana.
"Mama nggak mau naik itu lagi!" Ucap Niken lirih sambil memegangi pelipisnya.
"Kamu pusing?" Tanya Rangga khawatir.
Lalu dengan sigap Rangga membimbing Niken ke arah tong sampah yang ada di area itu.
Niken segera berlari dan mengeluarkan isi perutnya karena mual.
Rangga menyodorkan tisu, lalu Niken mengambil dan menyeka sisa muntahan yang masih ada di mulutnya.
Rangga menyodorkan sebotol air mineral pada Niken.
Setelah meneguk separuh botol, Niken menatap Laras tajam.
"Maaf, Ma. Ini terakhir kalinya mama naik wahana itu. Laras nggak tahu, kalau mama takut."
Raut wajah Niken sedikit berubah, lalu menjadi senyuman, dan memeluk Laras.
"Nggak apa apa, sekali kali, ya. Tapi, tunggu dulu. Mama mau istirahat dulu."
__ADS_1
Rangga menemani Niken, sambil mengawasi Laras dan Amanda yang mencoba wahana selanjutnya.