Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Makan Siang Bersama


__ADS_3

"Hai, Papa...!"


Laras langsung menghambur memeluk Bima saat mengetahui lelaki itu ada di ruang tamu kediaman Bu Lusi.


Niken hanya bisa terpaku. Dia menatap tajam ke arah Bima, lalu menoleh ke arah Rangga dengan tatapan merasa tak enak.


Rangga terlihat biasa saja, lalu tersenyum dan menghampiri Bima.


"Apa kabar?" Sapa Rangga sambil menyalami Bima.


"Baik." Sahut Bima singkat. Ada tatapan tak suka saat melihat Niken dan Laras berada bersama Rangga.


"Ya sudah, Om pulang dulu kalau begitu. Laras bisa mengobrol sama papa dan merayakan ulang tahun bersama mama dan papa." Ucap Rangga sambil sedikit berjongkok di depan Laras.


"Oh, jadi, Om Rangga nggak bisa makan bersama kami?" Tanya Laras dengan polosnya.


"Sisakan buat Om, ya! Besok Om akan datang."


"Janji, Om!"


Laras menyodorkan jari kelingkingnya pada Rangga, dan Rangga menautkan jari kelingkingnya juga untuk membuat janji dengan Laras.


Bima terhenyak menyaksikan kedekatan Laras dan Rangga saat itu. Niken hanya bisa tersenyum simpul menyaksikan kedekatan Laras dan Rangga yang melebihi dengan papa kandungnya.


"Baik, saya permisi dulu."


Rangga pamit dengan menyalami dan mencium punggung tangan Bu Lusi dengan sopan dan hormat. Lalu menyalami Bima, dan tersenyum pada Niken.


Niken mengantar hingga ke mobil Rangga.


"Terima kasih, Mas. Maaf, aku juga nggak tahu, kalau Mas Bima mau datang hari ini." Ucap Niken tak enak dengan Rangga.


"Tak apa apa. Masih ada hari besok, besok, besok, besok ,besok,.."


Niken tertawa kecil.


"Mas, tapi aku belum bisa menjawab pertanyaanmu tempo hari."


Niken akhirnya mengeluarkan isi hatinya.


Rangga menghela napas dalam-dalam.


"Aku masih menunggumu, Niken. Dan aku tidak ingin kamu juga mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Aku tidak ingin membuat kamu kecewa."


"Tapi, aku pasti yang akan membuat kamu kecewa."


Niken tertunduk, lalu bulir air mata seketika tak dapat ditahan olehnya.


Rangga meraih wajah Niken, lalu mengusap air mata wanita itu, dan memeluknya.


Entah mengapa Niken selalu merasa nyaman saat di dekan Rangga, namun, dia masih takut untuk menjalin hubungan dengan siapa pun.


"Dengar, aku tahu, kamu masih trauma. Aku tahu kamu masih meragukan perasaanmu, entah padaku atau dirimu padaku. Tapi, aku yakin, dan aku berjanji akan menjaga, menyayangi kamu dan Laras, setia padamu. Sudahlah, temuilah Bima sekarang. Tak enak dia menunggumu bahkan melihat kita seperti ini."


Rangga merenggangkan pelukannya, dan menatap Niken, lalu mengusap lembut wajah wanita itu, menyeka sisa air mata.


Niken tersenyum, lalu membersihkan sisa air matanya, dan menepuk pelan pipinya sendiri.


"Aku harus kuat!" Gumam Niken.


"Hei, kamu adalah wanita yang kuat dan tegar. Ayolah, masa jadi cengeng seperti ini." Goda Rangga.


"Awas ya, sudah bisa meledek aku. Nanti ku balas kamu, ya!"

__ADS_1


Niken mencubit pinggang Rangga dengan gemas.


Rangga pura-pura sakit dan mengaduh.


Niken dan Rangga tertawa bersama.


Di kejauhan Bima hanya bisa menguatkan hatinya melihat pemandangan itu.


Dia sangat mengenal Rangga, karena dia adalah sahabat sewaktu sama sama bekerja di Jakarta, saat mereka mengadu nasib.


Karir keduanya sama sama baik karena beda divisi.


Bima tak tahu, jika Rangga juga diam diam menyukai Niken sejak dulu.


Bima merasa cemburu saat ini, namun, dia tahu, dia tak boleh memperlihatkan perasaan itu saat ini, karena Niken memang sudah bukan istrinya lagi.


Saat ini, dia datang untuk ulang tahun Laras. Hanya itu, dan tak boleh lebih.


Bima hanya bisa menghela napas dalam dalam.


"Apa kabar Ibu di Yogyakarta?" Tanya Bu Lusi mengalihkan perhatian Bima.


Bu Lusi tahu, saat ini Bima cemburu melihat kedekatan Rangga dan Niken.


"Eh, Ibu baik."


"Kalau pabrik sepertinya makin maju, ya?"


"Iya, kalau pabrik, saat ini semakin maju, apalagi, sejak Mawar, istri Dewa juga terlibat, dia mengenalkan pada beberapa desainer, dan menggunakan kain dari pabrik. Juga ikut beberapa event skala nasional dan internasional juga." Cerita Bima.


"Syukurlah, ibu juga senang mendengarnya."


"Papa naik apa ke Jakarta?" Tanya Laras setelah berganti pakaian sekolahnya.


"Papa menginap di mana sekarang?"


"Papa menginap di hotel. Papa sekalian ada urusan pekerjaan." Ucap Bima berbohong. Saat itu dia baru tiba dan langsung menuju kediaman Bu Lusi untuk menemui Laras dan Niken, karena dia sangat merindukan putri dan mantan istrinya.


"Oh, jadi papa nggak nginep di sini?" Laras cemberut.


Diam diam dalam hati Bima merasa sangat bahagia, putrinya masih menyayangi dirinya.


"Nggak apa apa, lain kali, kan bisa. Ya, kan, Oma." Sahut Bima sambil melirik Bu Lusi.


"Iya, lagi pula, papa juga ada urusan pekerjaan juga. Ayo ajak papa ke dalam untuk makan siang bersama, Oma sudah siapkan." Ajak Bu Lusi dengan lembut.


Laras menggandeng Bima mengajak masuk ke ruang makan. Sekilas Bima menoleh ke arah luar, dan melihat Rangga memeluk Niken.


Bima hanya bisa menghela napas dalam-dalam, dan kembali fokus mengikuti Laras.


Tak lama kemudian, Niken menyusul ke ruang makan.


"Om Rangga sudah pergi?" Tanya Laras.


"Sudah."


"Yah, padahal aku juga ingin dia makan bersama kita di sini. Ikut tiup lilin bersama sama." Keluh Laras dengan sedih.


"Om Rangga ada pekerjaan mendadak, mungkin besok dia bisa datang. Bukannya tadi dia bilang padamu untuk menyisakan untuknya?" Niken tersenyum sambil membelai rambut putrinya dengan lembut.


Ada rasa cemburu menyusup dalam dada Bima. Ingin rasanya dia marah dan membentak Laras dan mengatakan dengan tegas 'Aku Papamu, tidakkah, kamu rindu padaku? Mengapa harus ada Rangga?'


Lalu sesi tiup lilin ulang tahun dan potong kue pun tiba.

__ADS_1


Niken menaruh sebuah kue ulang tahun yang sengaja dibelinya di meja, dan Laras mengucap doa permintaan sebelum meniupnya.


Setelah potong kue, dan membaginya ke semua anggota keluarga, mereka menikmati santap siang bersama. Dengan menu soto Banjar, favorit Laras.


"Sudah dapat penginapan di sini, Mas?" Tanya Niken pada Bima.


"Sudah." Sahut Bima sambil mengangguk pelan.


"Hanya untuk ulang tahun laras, kamu datang?"


"Nggak. Aku ada pekerjaan juga di sini."


Niken mengangguk pelan mengerti dan melanjutkan makannya.


Bima diam diam memandangi wajah Niken saat itu.


Raut wajahnya, terlihat lebih ceria, bahagia, dan lebih terawat, berbeda dengan saat bersamanya dulu.


Tubuh Niken saat ini juga terlihat lebih berisi, saat bersamanya dulu, Niken sangat kurus. Bahkan Bima pun, tak berminat menatap tubuh istrinya itu.


"Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan? Maafkan aku Niken!" Ucap Bima dalam hatinya.


"Ini kado untukmu." Bima menyodorkan sebuah paper bag pada Laras.


"Wah, apa ini?" Seru Laras dengan gembira.


Laras menerima pemberian dari Bima dengan penuh rasa penasaran.


"Apa boleh aku buka?"


"Bukalah." Sahut Bima.


Laras membuka kado dari Bima.


Yang berisi beberapa pakaian dengan model yang tidak biasa.


"Aku memesannya dari perancang busana muda yang menjadi salah satu pelanggan lain di pabrik. Model pakaiannya sedang trend saat ini. Khusus untuk Laras, kemarin papa minta buatkan model yang terbaru."


Laras bersorak dengan gembira lalu memeluk Bima.


"Terima kasih, Pa. Aku mau coba dulu!"


Laras berlari masuk ke kamarnya, dan tak lama kemudian keluar dengan memakai salah satu pakaian yang dibawa oleh Bima.


"Wah, kamu sangat cantik sekali!" Puji Oma Lusi sambil menatap Laras.


Laras berputar dan berlenggak lenggok di ruang makan seolah menjadi model. Semua tertawa dengan bahagia.


Usai makan, Laras dan Bima mengobrol di ruang tengah.


Niken membantu Bu Lusi membereskan meja makan.


"Apakah Om Rangga juga memberimu hadiah?" Tanya Bima sambil setengah berbisik saat mengobrol.


Laras mengangguk sambil tersenyum.


"Oh, kamu suka hadiah darinya?"


"Aku menyukai hadiah, Pa. Dan kebetulan Om Rangga memberikan sebuah tablet keluar terbaru, yang bisa aku gunakan untuk mengutak-atik games atau gambar."


Laras memyerocos dengan gembira.


Jujur, Bima sangat tidak suka saat itu. Ingin rasanya dia marah pada Rangga, namun, tidak bisa. Karena Bima sudah tak memiliki hak penuh lagi pada Niken maupun Laras.

__ADS_1


__ADS_2