
Bram dengan beringas menciumi tubuh Seruni yang pakaiannya sudah tak lengkap lagi.
Bram perlahan membuka penutup bagian bawah tubuh Seruni, lalu melempar ke lantai.
Satu persatu pakaian Seruni dilucuti oleh Bram perlahan.
"Mas, tolong, jangan! Kita akan segera menikah, pasti aku akan memberikan semuanya padamu." Pinta Seruni sambil tangannya menutupi bagian dada dan bagian intimnya.
Bram menyeringai seolah tak peduli.
Bram membuka pakaiannya, lalu perlahan naik ke atas ranjang.
Seruni berusaha menghindar. Namun, Bram yang ukuran tubuhnya lebih besar mampu menguncinya.
Bram membelai tubuh Seruni perlahan, menyusuri setiap lekuk tubuh gadis itu dengan jari kokohnya.
Bram menciumnya dengan beringas penuh nafsu.
Seruni hanya bisa menggigit bibirnya. Menahan gejolak di dalam dirinya yang seakan meledak. Namun, pikiran sehatnya berusaha untuk menolaknya.
Seruni menggelengkan kepalanya.
"Sedikit saja, aku ingin mencicipi tubuhmu, Sayangku!" Bisik Bram sambil mencium kaki Seruni.
Seruni menggelengkan kepalanya kuat, dan air mata mulai mengalir dari sudut matanya.
"Nikmati saja, Seruni. Ini akan terasa sangat nikmat! Apalagi jika ini yang pertama untukmu."
Bram membuka lebar kaki Seruni dan membaui bagian inti milik Seruni.
"Hhmmm harum sekali, aku bisa gila dibuatnya! Oh, Seruni!" Bram mulai menjulurkan lidahnya pada lubang kenikmatan milik Seruni.
"Mas, jangan! Apa yang akan Mas Bram lakukan?" Seruni mengangkat kepalanya, melihat yang dilakukan oleh Bram.
Bram terus menjilati bagian itu bagai menikmati es krim hingga bagian itu terasa sangat becek dan basah.
"Katanya tak mau, tapi basah juga!" Sindir Bram sambil menyeringai.
Seruni hanya diam dan pasrah.
"Relaks saja, Sayang. Semakin relaks, semakin enak. Percaya padaku!" Rayu Bram sambil memainkan tangannya di dada Seruni yang ranum itu.
"Oh, Seruni, kamu benar benar sempurna! Aku sudah tak tahan lagi!"
Bram menghisap puncak dada Seruni bagai bayi yang kelaparan, membuat Seruni menggeliat liar dengan reaksi yang ditimbulkannya.
"Enak, kan? Aku akan mengajarkan padamu. Sabarlah, ada yang lebih nikmat lagi!"
Bram menghisap, dan memberi tanda pada setiap lekuk tubuh Seruni dengan ciumannya.
Seruni hanya bisa melenguh sambil menggigit bibir menahan semua hasratnya.
"Jangan kamu tahan, Sayang! Lepaskan saja." Bisik Bram tersenyum senang melihat Seruni seakan menikmati setiap sentuhannya.
Bram kembali menyusuri bagian perut, lalu turun pada roti apem milik Seruni yang harum itu.
Bram menyentuk dengan jari jarinya perlahan-lahan.
"Uh...ahh!" Seruni membusungkan dadanya saat jari jari Bram mulai bermain di dalam lubang itu, lalu Bram mulai memainkan lidahnya di sana kembali.
Seruni makin menggila dibuatnya.
"Mas, sudah! Aku... Ahhh....!"
Seruni yang bisa membendung lagi hasratnya yang hendak meledak itu.
Bram semakin beringas bermain pada apem milik Seruni itu.
__ADS_1
Jari dan lidahnya dengan lincah bermain pada bagian itu.
Napas Seruni memburu, seakan menikmati reaksi tubuhnya.
Pinggulnya naik turun, dan kemudian.
"Aaahhh....!" Teriak Seruni disusul keluar cairan putih kental pada bagian itu.
"Hahaha.... Nikmat bukan?! Aku akan buat kamu lebih nikmat lagi!" Bisik Bram masih mengaduk bagian itu.
Bram menautkan bibirnya pada bibir Seruni.
"Buka mulutmu!" Titah Bram.
Seruni membuka sedikit bibirnya, dan lidah Bram kembali menari di mulut Seruni.
Lalu Seruni merasa ada benda keras dan aneh menusuk miliknya selain jari Bram.
"Apa itu?!" Seruni mendorong tubuh Bram.
"Ayolah! Jangan sok suci kamu. Lha sudah becek dan keluar juga kok, langsung saja kita!"
"Nggak, Mas! Jangan! Aku nggak mau lebih dari ini." Tolak Seruni sambil geleng-geleng kepala.
Seruni hendak turun dari ranjang.
Bram langsung menarik tangannya, dan menindih tubuhnya.
"Mas, jangan! Tolong..!" Teriak Seruni sambil meronta-ronta.
Namun, tak ada yang bisa mendengar suara teriakan Seruni.
Bram makin beringas menindihnya, dan memasukkan benda miliknya yang panjang bagai torpedo itu pada lubang kenikmatan Seruni.
"Mas...Jang...!"
Bram menutup mulut Seruni dengan ciumannya, lalu memegang tangan gadis itu sambil mengunci tubuhnya.
Terus menggoyang pinggulnya maju mundur pada milik Seruni.
Makin lama makin cepat, cepat, cepat, dan cepat.
Plok plok plok bless...
Tubuh Bram menegang, demikian juga tubuh Seruni.
"Aku akan sampai... Tahan... Aaaahhhh....!"
Lolongan Bram keras akibat pelepasan benih benih cinta ke dalam milik Seruni.
Seruni yang sudah lemas hanya bisa menangis dan pasrah.
Perlahan Bram melepaskan miliknya dari lubang itu, terasa masih sangat sempit.
"Uuhhh...! Nikmatnya! Aku ingin tiap hari kita seperti ini, Sayang!" Bisik Bram sambil mengecup Seruni.
Seruni hanya bisa menangis. Perlahan dia turun dari ranjang, dan memunguti pakaiannya, masuk ke kamar mandi.
Saat mengguyur tubuhnya dengan shower.
Pluk!
Setetes darah segar mengalir dari miliknya.
"Astaga! Aku menstruasi!" Gumam Seruni sambil tersenyum.
"Aku nggak mau hamil duluan sama kamu, Bram! Aku nggak mau hamil anakmu!" Seruni mendengus dengan amarah di dadanya.
__ADS_1
*
*
Sepekan sudah Seruni semakin disibukkan dengan pekerjaan di pabrik. Kakak kakaknya juga sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Bima sering ke luar kota untuk urusan kantor. Dewa yang akhirnya turun tangan menggantikan pekerjaan kakaknya itu.
"Seruni, kamu hari Kamis besok datang ke Salon Mbak Ayu, buat mengepas baju pengantin kalian, ya. Bu Bagyo sudah telpon ibu. Dia akan menunggu di sana."
"Ya, Bu." Seruni menjawab dengan malas sambil menyeruput mi rebus.
"Sudah seminggu ini, kamu nggak ketemu sama Bram? Apa dia sibuk?" tanya Bu Mirna.
"Seruni lagi sibuk sama kerjaan pabrik, Bu. Mas Bima itu sering ke luar kota. Ada tender kain batik untuk beberapa konveksi di Semarang dan Surabaya. Mas Dewa makin sibuk juga, Mas Pur juga mulai kewalahan, Bu."
"Duh, apa harus nambah karyawan lagi, kita? Apa nggak bisa lembur lembur gitu?"
"Kan kita menggunakan tenaga manusia Bu. Apalagi beberapa pesanan yang dikirim ke luar negeri itu mintanya yang buatan tangan, bukan mesin."
"Menurutmu, gimana?"
"Sebenarnya, Mbak Niken bisa dimintai tolong. Tapi, aku nggak mau Ibu langsung marah gara gara Mbak Niken bantu di pabrik lagi."
"Huh, bisa apa dia? Dia sudah nggak kerja setahun lebih. Paling sudah lupa!" Ucap Bu Mirna dengan sinis.
"Tuh, kan, baru ngomong saja, sudah nyindir, apalagi kalo Mbak Niken benar sudah kerja. Yang ada Ibu datang cuma buat mencak mencak."
Ucap Seruni dengan kesal.
"Ah, terserah kamu saja! Yang penting urusan pabrik lancar, dan pernikahan kamu juga lancar."
Seruni menghela napas dalam-dalam. Beberapa hari ini dia sengaja tak membalas pesan Bram, yang mengajaknya ngamar lagi karena ketagihan dengan Seruni.
Apalagi pesan pesan dari Bram rata rata adalah mesum, yang membuatnya merasa sangat jijik dengan calon suami pilihan ibunya itu.
Usai menikmati mi rebus Seruni langsung masuk ke kamarnya.
Dia meraih ponselnya, dan melihat foto foto pada ponselnya.
Foto fotonya saat bersama keluarga Bima, Laras dan Amanda, dan para karyawan di pabrik, dan ada beberapa fotonya dengan Satria saat berjalan-jalan ke pantai tempo hari.
Lama, Seruni menatap fotonya dan Satria. Ada rasa rindu yang menyusup dalam dirinya. Dia merindukan Satria. Ada rasa cinta yang mungkin tak tersampaikan, karena Seruni tak ingin konflik lagi dengan ibunya lagi.
Seruni menghela napas dalam-dalam, lalu memejamkan matanya.
Dret.. dret..
Ponsel Seruni bergetar.
Dia melirik nama pada layar ponselnya. Mbak Niken.
Seruni langsung menjawab panggilannya.
"Ya, Mbak?"
"Runi, kamu malam Minggu bisa temani aku jaga anak anak nggak? Mas mu pergi ke Surabaya, dan Bude Ning ada acara keluarga di Klaten. Aku nggak ada yang nemenin anak anak."
"Bisa, Mbak. Besok aku ke sana."
"Makasih, Runi."
Seruni menutup ponselnya.
Ada alasan baginya untuk menolak ajakan Bram untuk ketemuan.
Beberapa kali jalan dengan Bram, membuatnya sangat jijik dengan kelakuan lelaki itu.
__ADS_1
Bram selalu mengintimidasi Seruni, dan meminta hubungan fisik. Baik dengan ciuman, flitring, bahkan dengan bercinta, seperti waktu itu. Beruntung, saat itu Seruni langsung mendapat haid, Seruni menjadi tidak ingin hamil dari Bram.