Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Reuni


__ADS_3

"Mama, Amanda bilang Minggu depan akan datang ke Jakarta."


"Oya, Manda sudah kabari kamu?"


Laras mengangguk sambil tersenyum lebar.


"Dia juga akan datang ke pertunjukanku Minggu depan. Manda diantar sama Om Satria, katanya."


"Iya. Mungkin, Amanda juga mau nyekar ke makam mamanya juga, lalu ke makam kakek dan neneknya, yang dulu telah merawatnya."


Niken membelai lembut rambut Laras.


"Ma, mengapa, Eyang Mirna nggak seperti neneknya Amanda, ya? Aku kan juga pingin disayang, atau dimanja sama Eyang."


Laras mendongak menatap Niken.


Niken mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh putrinya itu.


"Mama juga kurang, tahu. Tapi, kamu harus selalu ingat baik baik. Eyang Mirna itu tetep Eyangmu. Sama seperti Eyang Kakung. Ingat nggak, dulu Eyang Kakung selalu mengajak kamu jalan jalan pake motor keliling komplek, atau mengajak kamu ke pabrik, sambil membatik. Jadi, kamu jangan pernah sekali-kali membencinya. Dia tetaplah Eyangnya. Sama seperti Oma. Meski mama dan papa sudah tidak bersama, tapi,kamu harus tetap menghormati Eyang Mirna."


"Mama pernah kangen papa nggak?" Celetuk Laras kemudian.


Niken tersenyum tipis.


"Sudah, habiskan makannya, nanti langsung istirahat. Nanti sore kamu test vokal lagi, kan?"


Laras mengangguk, lalu segera menuruti mamanya. Menghabiskan makan siangnya, lalu segera beristirahat.


Niken menyiapkan bahan untuk membuat brownies untuk pesanan sore hari, sekalian mengantar Laras ke tempat les selama ini.


*


Seminggu kemudian.....


Laras sedang bersiap hendak tampil.


Niken ke belakang panggung untuk memberi pelukan dan semangat untuk putrinya itu.


Usai memeluk Laras dengan penuh rasa sayang, Niken menatap Laras.


"Semangat! Mama yakin kamu pasti bisa!"


"Ya, Ma. Pasti bisa. Kan, sudah latihan berhari-hari, Ma." Laras terkikik.


"Kamu itu, ya. Selalu pede. Pokoknya tampilkan yang terbaik. Mama bangga sama Laras!"


"Oya, nanti tolong rekam pertunjukan ku, ya, Ma!" Pinta Laras.


"Siap, anak cantik!"


Niken mengacungkan jempolnya sambil tersenyum lebar.


Laras berpaling menuju ke atas panggung.


Lalu, Niken bergegas mengambil tempat di arah depan untuk mengambil gambar sang putrinya.


Tanpa disadari Niken, sepasang mata sedari tadi memperhatikan setiap gerak geriknya dari kejauhan.


Kali ini Laras berduet dengan penyanyi ternama untuk acara disebuah mall besar di Jakarta, untuk peluncuran brand baru sebuah produk.


Niken mengabadikan momen itu dengan merekam dan mengambil gambar sebanyaknya.


Suara riuh tepuk tangan dan sorak mengiringi setelah lagu selesai dinyanyikan.

__ADS_1


Niken menyusul Laras ke belakang panggung dan berfoto bersama sang penyanyi terkenal juga.


"Kamu keren, Nak! Mama bingung kamu dapat bakat sekeren ini dari mana."


"Dari Tuhan, dong, Ma." Celetuk Laras sambil terkekeh.


"Laras! Kamu keren sekali sekarang!"


"Manda!"


Dua gadis kecil yang beranjak remaja itu saling berpelukan dan terkikik.


"Ini untuk calon artis ibu kota! Tar, kalo sudah terkenal, jangan lupa sama aku!" Sergah Amanda.


"Nggak pernah lupa. Aku tuh kangen sama kamu, liburan yang lalu kamu nggak jadi dateng. Makanya kali ini, aku biarin saja kita ketemuan di sini. Kesel, nungguin kamu!"


Laras menjulurkan lidahnya pada Amanda.


"Aku tuh...."


"Amanda, kemarin ada acara di Semarang, dikirim sekolah untuk lomba."


Sela Satria sambil tersenyum lebar.


Niken menangkap ada hal yang ditutupi oleh pasangan bapak dan anak itu, namun, segera Niken menghilangkan rasa itu.


"Wah, selamat ya. Terus, gimana? Menang nggak?"


Tanya Laras penasaran.


"Menang dong! Juara satu sekolah kita!"


Amanda menunjukkan foto dari ponselnya pada Laras.


Ajak Niken.


Laras menarik lengan Amanda langsung menuju sebuah cafe yang berada di mall itu.


Satria dan Niken tersenyum geli melihat tingkah mereka.


Tiba-tiba sosok lelaki menghampiri mereka sambil membawa dua buah buket bunga.


"Ini untuk sang penyanyi, dan ini buat anak comel!"


Ucapnya.


"Om Rangga! Ngapain baru datang! Huh, kesel deh. Didatengin malah pergi, males!" Omel Amanda pada lelaki bernama Rangga itu.


Niken terdiam dan terpaku. Dia menatap lelaki itu tanpa kedip.


Ingatannya melayang belasan tahun silam. Di mana dia masih bekerja di Jakarta.


Sebelum dia mengenal Satria dan Amanda.


Rangga...


Lelaki itu adalah senior sekaligus sahabat dari Bima.


Lelaki yang selalu dianggap seperti sosok kakak bagi Niken.


Tempat bertanya saat ada kesulitan saat bekerja, atau tempat curhat untuk masalah pekerjaan, kantor, teman, mau pun saat ada masalah dengan Bima.


Rangga selalu dapat menjadi pendengar yang baik.

__ADS_1


Meskipun kadang tanpa solusi, tapi, Niken selalu nyaman mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada dalam hatinya.


"Hai!" Niken membuka telapak tangannya mengarah pada Rangga.


"Apa kabar?" Tanyanya.


"Baik."


"Loh, kalian sudah saling kenal?" Tanya Satria terkejut.


Niken dan Rangga hanya tersenyum lebar sambil menatap Satria dan Amanda.


"Mas Rangga, dulu teman kerjaku saat di Jakarta." Sahut Niken.


"Ohhhh!" Ucap Satria dan Amanda berbarengan.


"Oya, apa kabar Bima? Dia nggak ikut? Atau sedang sibuk?" Tanya Rangga sambil matanya mencari sosok Bima.


Semua terdiam.


"Mama dan Papa sudah berpisah, Om." Jawab Laras sambil tersenyum kecut, menjawab itu.


Rangga terdiam, raut wajahnya terlihat prihatin, lalu menatap Laras dan tersenyum.


"Kamu anak yang kuat! Om yakin, apa pun yang terjadi dengan orang tuamu sekarang, ambil sisi baiknya saja, ya!" Ucap Rangga sambil menepuk pundak Laras.


Laras mengangguk.


"Terima kasih, bunganya, Om."


Rangga menjawab dengan anggukan dan senyum.


"Lalu, apa hubungan kalian?" Niken ganti bertanya pada Rangga dan Satria.


Saat ini Amanda dan Laras sedang membeli kopi di gerai sebelah cafe.


"Rangga adalah kakak dari mendiang istriku. Dia sangat sibuk sekali, terlebih usai papa meninggal, dia yang akhirnya mengurus usaha keluarga." Terang Satria.


"Om Rangga juga anti cewek! Aku nggak ngerti nggak suka cewek atau gimana." Sela Amanda sambil menyeruput kopinya, dan duduk di samping Rangga.


"Kamu ini makin besar, makin comel, ya!" Rangga mencubit pipi Amanda dengan gemas.


"Habis, Om Rangga kalo nggak diomeli, nggak jalan! Bahkan sampe nenek meninggal, juga belum nikah nikah."


"Biarin, saja, Manda. Mungkin Om Rangga belum nemu calon yang cocok."


Potong Satria.


Rangga tersenyum menanggapinya.


"Lalu saat ini apa kesibukan, Mas Rangga?"


"Om Rangga itu sibuk banget, Tante! Sering pergi pergi ke luar negeri. Ngurus ekspor kopi atau kalo nggak ikut pameran. Lalu belum lagi ngurus kebon karet yang ada di Sumatera dan Kalimantan. Pokonya kayanya, sebulan itu di rumah paling hanya dua sampe maksimal tiga hari." Amanda menjelaskan panjang lebar dengan bibir berkomat Kamit.


Semua terkekeh mendengar penjelasan dari Amanda.


"Sepertinya aku punya asisten pribadi saat ini." Celetuk Rangga sambil terkekeh.


Kehangatan tercipta saat itu. Mereka mengobrol hingga malam.


Setelah menikmati makan malam, Amanda memilih untuk menikmati tidur di rumah Laras.


Sedang Satria kembali ke kediaman Rangga.

__ADS_1


__ADS_2