
"Bude, bagaimana Laras? Apakah rewel?" Tanya Niken sambil memasukkan asi perah ke dalam freezer dan memisahkan yang lama untuk diberikan pada Laras hari ini.
"Sekarang, minum susunya tambah banyak, Mbak."
"Wah, berarti kemarin kurang dong?" Sahut Niken dengan raut sedih.
"Iya, tapi, saya kemarin mengambil dari bagian yang tanggalnya lebih lama."
Sahut Bude Ning sambil tersenyum.
Niken tersenyum lega.
"Iya, Bude. Nggak apa apa, gitu saja. Selama seminggu ini pesanan sedikit bertambah, jadi saya bantu bagian packing dulu, karena karyawan baru." Tukas Niken.
"Iya, Mbak. Nggak apa apa. Oya, Bu Gito langganan pabrik batik tempat Pak Widodo?"
Tanya Bude Ning.
"Iya, Bude." Sahut Niken sambil menoleh ke arah Bude Ning.
"Iya, kemarin ada ponakan yang katanya perusahaannya pakai rancangan Bu Gito. Tapi pas dicek oleh perusahaan, kainnya beda sama yang biasanya. Kan setahu, Bude, Bu Gito langganan tempat Pak Wid."
Niken terdiam. Dia mengingatkan, Bu Gito terakhir memesan beberapa Minggu yang lalu dan hanya beberapa potong. Sedang untuk jumlah besar untuk pakaian seragam tidak pernah.
"Oh, sepertinya, bukan dari pabrik, jika yang untuk pakaian seragam karyawan itu, Bude." Sahut Niken.
Bude Ning mengerutkan keningnya, lalu kembali menatap Niken.
"Bener, bukan dari tempat Pak Wid kainnya?"
"Iya, Bude. Ada apa?"
"Keponakan Bude, kan, perusahaan yang pesan seragam tempat Bu Gito, karena pemiliknya sering belanja pakaian tepat Bu Gito. Nah, pas jadi, dan dibagi ke karyawan kantor pusat, kok bahannya beda sama yang pernah dia beli. Bahkan pakaian yang paling murah di tempat Bu Gito pun, kualitasnya nggak seperti itu." Cerita Bude Ning sambil setengah berbisik.
Namun Niken mendengarkan sambil mengangguk angguk, lalu tersenyum.
"Ada apa ini, pagi pagi, sudah ngegosip?" Sela Bima sambil memakai kaos kakinya.
"Nggak apa apa, Mas. Masa cuma ngobrol dibilang gosip?" Sahut Bude Ning.
"Ya kalo ngobrol ga perlu bisik bisik, Bude."
Bude Ning tersenyum malu.
"Nggak apa apa, kok, Mas. Cuma ngobrol masalah wanita sama Mbak Niken."
Elak Bude Ning.
Bima tergelak mendengar alasan Bude Ning.
"Mas, Laras minum susunya sudah nambah sampai tiga kantong." Niken mengalihkan pembicaraan.
"Sejak kapan?"
"Sejak kemarin, makanya Bude ngambil stok asi yang di dalam freezer bawah. Nah, hari ini aku siapkan lebih banyak, supaya Bude bisa lebih sat set sat set nyiapin susunya."
"Mbak Niken ini, meski pun kerja, masih mikir anaknya juga." Puji Bude Ning.
"Lah dari pada mikir anak nya orang, loh, Bude. Kan mending mikir anaknya sendiri." Niken tergelak.
"Ya, iya sih. Tapi, kan, ada yang apa apa minta diladeni gitu. Tapi, Mbak Niken beda. Malah saya yang nggak enak, jadinya."
"Halah, Bude. Saya dan Mas Bima yang terima kasih. Sudah mau bekerja, mambantu menjaga Laras." Sahut Niken.
"Ayo, kita berangkat, nanti telat. Bude, kami pamit dulu. Nitip Laras, ya." Sela Bima.
__ADS_1
Bude Ning mengangguk.
"Hati hati di jalan ya."
Bima mengantar Niken ke pabrik dulu baru menuju ke kantornya.
"Aku nanti pulang telat, soalnya mau ke Solo. Nyari tempat buat cabang kecil di sana." Ucap Bima saat menurunkan Niken.
"Ya sudah. Hati hati saja, Mas. Jangan lupa makan. Ingat, jaga kesehatan, ya, Mas." Pesan Niken.
"Ya."
Niken mencium tangan suaminya, lalu Bima segera meninggalkan Niken yang masih menatap punggung suaminya hingga menghilang di tikungan.
Niken mengerutkan keningnya, saat melihat sebuah mobil sedan mewah parkir di halaman pabrik.
Niken masuk, dan melihat Bu Gito sedang duduk di ruang tamu kantor.
"Bu, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Niken sambil menyalami Bu Gito.
"Mbak...?" Bu Gigi berusaha mengingat nama Niken.
"Niken. Nama saya Niken, Bu."
"Ya. Mbak Niken, Bapak belum datang atau tidak datang hari ini?"
"Mungkin sebentar lagi tiba, Bu." Sahut Niken sambil tersenyum ramah.
"Baik, saya akan tunggu saja."
Niken ke ruang pantri dan membuatkan secangkir wadang jahe untuk Bu Gito.
"Silahkan, Bu. Sambil menunggu Bapak."
"Terima kasih, Mbak."
"Loh, Bu Gito? Ada apa pagi pagi datang kemari?" Serta Pak Widodo saat masuk dalam kantornya.
"Ada apa?" Pak Widodo menyalami Bu Gito, lalu Niken undur diri dari ruangan itu membiarkan ayah mertuanya dan pelanggannya mengobrol.
Niken kembali berkutat dengan pekerjaannya kembali.
*
Menjelang pulang jam kantor, Pak Widodo mengumpulkan karyawan kantor ya di ruang tengah.
"Kalian semua, Bapak panggil, karena ada sebuah kabar gembira dan tidak."
Ucap Pak Widodo sambil menatap karyawannya satu persatu tak terkecuali Niken dan Seruni.
"Jadi, Bu Gito, kecewa dengan kualitas kain dari langganannya yang baru kemarin. Dan mengalihkan kembali ke sini lagi untuk tender selanjutnya. Itu kabar gembiranya. Lalu kabar tidak gembiranya, waktunya harus dalam bulan ini sudah selesai. Akhir bulan, Bu Gito harus segera jahit kain kain itu. Apakah kalian sanggup?"
"Kira kira butuh berapa gulung kalian, Pak?" Tanya Mas Pur memberanikan diri bertanya.
"Nanti Bu Gito akan rinci kebutuhannya. Tapi yang pasti dia meminta seratus gulung dulu dalam Minggu ini."
"Baik, Pak. Bisa."
*
Sejak menerima tender itu pabrik terlihat mulai sangat sibuk.
Niken juga terpaksa harus lembur untuk mengurus pesanan yang masuk dari berbagai sumber.
Seruni juga sedang sibuk sibuknya kuliah, jadi tak jarang Niken harus pulang malam.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, selesai membersihkan tubuhnya, Niken menyempatkan diri untuk bermain dengan putrinya sebelum tidur.
"Tidur lah, Mas. Kenapa belum tidur?" Tanya Niken sambil menghampiri Bima yang sedang menatap layar laptopnya di ruang makan.
"Ya. Aku kemarin ketemu dengan Dewa."
Ucap Bima sambil menatap Niken.
"Lalu?"
"Di rumah Bapak dan Ibu sering diam diaman, kata Dewa."
Niken menarik kursi dan duduk sambil memperhatikan Bima.
"Sejak tender Bu Gito masuk, lalu beberapa perancang ambil kain ke pabrik. Bapak jadi jarang pulang ke rumah, katanya Bapak tidur di kantor."
"Masa, sih? Tapi memang, aku juga jarang melihat Bapak pulang. Setiap kali aku berangkat, Bapak sudah ada di kantor, lalu pak pulang, juga, Bapak masih sibuk di kantornya."
Niken baru menyadari.
"Ya, mungkin Bapak benar nggak pulang kali, ya." Tukas Bima.
"Apa, sebaiknya, aku bawakan bekal saja juga buat Bapak besok buat makan."
"Ya, benar. Seperti itu juga nggak apa apa."
*
Besoknya, Niken membawa rantang yang berisi bekal makan siang untuk dirinya, bapak, dan Seruni.
"Mbak, sisakan buat aku, ya. Aku mau fotokopi tugas dulu di depan sana."
"Oke." Niken mengacungkan jempolnya saat Seruni pergi fotokopi tugas saat jam istirahat.
"Kenapa kamu repot repot bawa makan siang, Nduk?"
"Ah, nggak repot kok, Pak. Sekalian masaknya. Lagian Bude Ning kemarin ngasih sayuran mentah banyak banget. Katanya dari saudaranya yang dari desa, ngantar stok sayur mayur untuk mall gitu."
Bapak menikmati masakan Niken dengan lahap.
Tak lama Seruni datang-datang a bergabung untuk makan siang bersama.
Hari berganti hari, pekerjaan makin sibuk, dan Niken hampir setiap hari membawa makanan memakai rantang untuk Bapak dan Seruni.
"Ken, ini buat Laras dan kamu." Ucap Bapak sambil menyerahkan sebuah amplop putih berisi uang untuk Niken.
"Pak!" Tiba tiba terdengar suara melengking dari ambang pintu ruangan kantor Pak Widodo.
Niken dan Pak Widodo menoleh dan melihat Bu Mirna sedang berdiri dengan berkacak pinggang melotot melihat Pak Widodo dan Niken bergantian.
"Apa apa ini, Pak! Bapak memberi amplop untuk wanita ini! Hah! Sedangkan istrinya di rumah dicuekin dan nggak pernah diberi uang." Omel Bu Mirna sambil mentoel kepala Niken.
"Apa apa sih, Bu!" Seloroh Seruni yang segera berlari masuk saat mendengar suara ribut-ribut di dalam kantor.
"Runi, libat, Bapakmu memberi wanita ini uang, sedang ibu di rumah tidak pernah dikasih uang sana perhatian." Bu Mirna menatap Seruni.
Seruni hanya bisa menghela napas dan menatap ke arah ibunya itu.
"Bu, Mbak Niken. Itu setiap hari masak buat Bapak dan Runi. Ya terserah Bapak, kalau mau ngasih ke Mbak Niken." Seloroh Seruni.
"Heh, kamu juga belain, dia, ya!" Sahut Bu Mirna dengan sewot.
"Sudah, Bu. Ini rejeki buat Laras, cucuku, nggak jadi buat Niken." Sela Pak Widodo dengan tenang.
Seketika Seruni terkikik geli mendengar itu, namun wajah Bu Mirna terlihat saling kesal.
__ADS_1