
"Mas...ahhh.... Aku mencintaimu, Mas Bima!"
Ayu semakin menggila menggerakkan pinggul dan tubuhnya, menghentakkan bagian intinya pada milik Bima yang kian membesar dan memenuhi setiap rongga lubang kenikmatan milik Ayu.
Bima menegakkan tubuhnya, sambil menikmati puncak gunung kembar milik Ayu yang berwarna pink nan segar itu. Ditambah lagi ukurannya yang sangat ranum.
Ayu semakin menjadi jadi saat Bima menikmatinya, keduanya saling mencumbu seakan tak tahu malu. Tidak ada lagi kepantasan dalam ingatan dua insan manusia yang sedang dimabuk asmara itu.
Tubuh keduanya yang saling beradu tanpa sehelai benang pun menutupi, peluh dan saliva bercampur membasahi tubuh mereka.
Bima seakan telah melupakan Niken dan Laras.
Bima membalikkan tubuh Ayu, dan menghujamkan miliknya pada bagian belakang tubuh Ayu.
DUAR.... DUAR...
Petir menyambar, disusul suara angin bergemuruh. Tak lama hujan membasahi bumi malam itu.
Namun, Bima dan Ayu seolah tak memedulikan itu. Mereka kian memacu tubuh, dan terbawa nikmat duniawi dan nafsu. Hingga semua terpuaskan satu sama lain.
"Mas, aku ingin kamu pakai yang ini." Ucap Ayu sambil menyerahkan sebuah bungkusan.
Bima yang sedang menghisap puncak dada gadis itu menyeringai.
"Kita sudah beberapa ronde, kamu baru kasih aku ini!"
Ayu tersipu malu.
"Aku tadi mau bilang, tapi kok makin enak. Tapi aku masih kuat kok, Mas. Apa Mas Bima sudah lelah?" Ayu balik bertanya.
"Belum. Tapi aku ingin menikmati sebatang rokok dulu."
Ayu mengangguk.
Bima masih dengan tubuh polosnya, melenggang sambil meraih molornya, dan mengenakan. Lalu keluar kamar menuju ke arah dapur.
Bima duduk di kursi dapur sambil menikmati sebatang rokok sambil menatap arah luar melalui jendela.
Hujan dan petir yang menyambar.
Ayu menghampiri, lalu memeluk dari belakang.
"Mas, kamu lagi mikir apa sih?" Tanya Ayu sambil mengusap dada Bima perlahan.
Bima mengelus rambut Ayu dan mencium. Bibir gadis itu dengan lembut.
"Nggak apa apa. Hanya mikir kerjaan saja."
"Apa ada hubungannya dengan lelaki yang menabrak di mall tadi?" Tanya Ayu.
Bima terkejut sejenak, namun buru buru menggeleng, supaya Ayu tidak curiga.
__ADS_1
"Kamu, kalau nggak ada aku jangan pakaian yang mini gini, ya! Atau malah tanpa dalaman." Bima menatap Ayu.
"Kenapa? Kan di rumah, Mas?"
"Nggak baik. Nanti kalau tiba-tiba ada orang yang datang, saat melihat kamu yang berpakaian minim tanpa dalaman, itu bisa mengundang setan. Aku nggak mau ada apa apa sama kamu."
"Kamu cemburu?"
"Ya iya, lah. Masak kamu jadi hiburan buat orang lain selain aku!"
Ayu terkikik geli.
"Mas, kita sudah berhubungan hampir satu tahun, dan kita hampir tiap hari melakukan ini. Kapan aku dikenalkan ke keluarga, Mas?"
Kini aku pindah posisinya. Dia duduk dipangkuan Bima, lalu meraih rokok yang terselip di jari Bima, sang menghisapnya perlahan.
Bima mengusap lembut rambut panjang Ayu. Gadis itu sama sekali tak mengenakan sehelai benang pun kala itu.
"Sabar, ya. Mas selesaikan dulu beberapa project kerja pabrik. Lalu kamu fokus kuliah. Nanti jika kamu sudah banyak waktu. Aku pasti akan bawa kamu pada keluargaku." Bisik Bima sambil memainkan tangannya di dada ranum Ayu.
Ayu hanya bisa menggeliat nikmat sambil memejamkan matanya.
"Tapi, Mas nggak akan ingkar janji, kan?"
"Nggak, Sayang!"
"Mas, aku itu sangat mencintaimu. Bahkan aku rela seperti ini hanya sama kamu, Mas. Sama mantan mantanku yang dulu, nggak pernah sampai seperti ini."
Bima mengecup bibir Ayu dengan lembut, lalu memainkan lidahnya dalam mulut Ayu. Ayu hanya bisa melenguh dan memeluk Bima.
Lalu keduanya saling menautkan bibir mereka kembali, dan menyatukan tubuh lagi.
Bima mengangkat tubuh Ayu ke dalam kamar, dan menghempaskan ke tempat tidur.
Ayu dengan tatapan menggoda membelai dada Bima, lalu membuka kolor lelaki itu, dan menatap dengan senang pusaka Bima yang telah berdiri dengan gagah itu.
Ayu menciuminya dengan lembut. Membuat Bima hanya bisa mengerang nikmat sambil menjambak rambut Ayu.
"Hai, tampan, kali ini kamu akan aku beri pakaian, ya!" Usai menjilati dan memasukkan pusaka Bima dalam. Mulutnya.
Ayu menggigit ujung kemasan pengaman itu dengan tatapan menggoda sambil menatap Bima.
Lalu mengeluarkan isinya, dan memasangnya pada milik Bima.
"Mas... Ayo tusuk aku, Mas! Aku sudah sangat tidak tahan lagi."
Ayu membuka kakinya lebar.
Miliknya yang sudah sangat basah, membuat Bima tak susah lagi untuk memasukkan miliknya yang ukurannya memang besar dan panjang itu.
"Oh, ahhh! Yeah...aahhh!"
__ADS_1
Hanya suara suara itu yang keluar dari mulut keduanya.
"Ini pengaman apa, Yu?" Tanya Bima, saat mulai memasukkan miliknya lebih dalam.
Ayu menggeliat dan mengerang seolah menikmati.
"Aku suka, Mas! Lebih dalam lagi, Mas!" Pinta Ayu sambil menggerakkan pinggulnya.
Lalu kedua tubuh sepasang manusia itu saling memeluk dan melepaskan semuanya.
Bima membungkam mulut Ayu ciumannya, sehingga membuat Ayu menggeratkan pelukannya pada Bima.
"Enak sekali, Mas! Aku suka!" Teriak Ayu sambil menatap Bima dengan tatapan sayang. Bima tersenyum dengan bangga.
*
PRANG!
"Astaga!" Niken terkejut saat menyadari gelas minumannya tiba-tiba terjatuh.
Niken segera memunguti pecahan gelas itu.
"Aduh!"
Tes.. Tes!
Tetesan darah segar mengucur dari jari Niken yang tak sengaja terkena pecahan gelas.
Niken buru buru mengguyur dengan air kran dan menekan luka itu supaya sisa pecahan keluar.
Sambil menggigit bibirnya, Niken mengambil tisu, lalu mengeringkan luka itu.
Lalu Niken kembali meneruskan membersihkan sisa pecahan gelas dan membuangnya ke tempat sampah.
Sambil menatap ke arah luar, Niken menghampiri jendela.
"Mas, semoga kamu baik baik saja." Entah mengapa, gara-gara kejadian barusan, Niken menjadi khawatir pada suaminya.
Usai meneguk segelas air, Niken kembali ke kamarnya, dan menatap ranjangnya.
Biasanya Bima selalu ada di sisinya, namun akhir akhir ini karena pekerjaan ke luar kota semakin banyak, membuat Bima sering tidak pulang.
Pesanan untuk usaha barunya, juga membuat Niken makin sibuk, dan jarang kepo terhadap pabrik.
Niken, akhirnya memutuskan untuk sejenak menenangkan dirinya dengan berdoa secara khusus pada Tuhan malam itu untuk keselamatan keluarganya, terutama suaminya.
Usai solat, Niken meraih ponselnya, dan melihat beberapa pesanan yang masuk untuknya semalam saat dia sudah terlelap karena lelah.
Pesanan makanan ringan untuk acara arisan untuk keluarga Bu Bagyo, lalu untuk apa acara di kantor Satria, dan beberapa pesanan sayur masak dan makanan ringan untuk beberapa pelanggan.
Niken menuju ke arah dapur, mencatat semua pesanan, dan menyiapkan bahan bahannya supaya dapat tepat waktu.
__ADS_1
Niken melirik ke arah jam dinding, saat itu pukul tiga pagi, dan biasanya saat itu dia memulai aktivitasnya.
Ditemani suara hujan deras dan petir menyambar Niken mulai sibuk di dapur untuk mengurus pekerjaannya yang mulai menghasilkan itu.