Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Rangga


__ADS_3

"Hai, pagi pagi sudah datang? Mau jemput Laras?" Tanya Niken saat membuka pintu.


Rangga sudah berdiri di depan pintu kediamannya.


"Maaf mengganggu, ya?"


Rangga terlihat tidak enak melihat reaksi Niken.


Namun, kemudian Niken menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Ini masih pukul setengah tujuh pagi. Apa mau menjemput Amanda? Biar aku bangunkan, soalnya mereka sepertinya pada belum bangun." Niken menatap Rangga menanyakan dengan raut wajah penuh keheranan.


"Tidak, tidak, tidak. A-aku tidak mau menjemput Manda. Bisa bisa kena omel ponakan cerewet satu itu nanti. Aku mau sarapan."


Belum hilang kebingungan Niken, sekarang, dia makin heran sambil membulatkan matanya menatap Rangga.


"Sarapan?" Ulang Niken sambil mengerutkan keningnya.


"Maksudku, aku ingin mengajak kamu sarapan. Aku kan jarang stay lama di Jakarta. Saat di Jakarta hanya sarapan roti selai saja. Apa kamu ada referensi gitu? Makanya aku ingin kamu temani aku cari sarapan."


Akhirnya Rangga memperoleh alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Niken.


"Oh. Selama ingin aku malah nggak ngerti tempat sarapan di sini yang lagi hits. Atau yang sedang kekinian. Aku sering membuat makanan sendiri."


"Ya. Aku ingin mengajak kamu. Mau?"


Niken terlihat ragu sambil menoleh ke arah dalam rumah.


"Gini, saat ini ibuku sedang ke Bogor, ke rumah tanteku. Jadi aku hanya bersama anak anak. Gimana kalau kita sarapan di sini saja. Aku akan buat sarapan untukmu dan anak anak juga. Mau?"


Niken memberi saran pada Rangga.


"Tapi, nanti akan merepotkan kamu?"


"Ah, tidak repot. Aku hanya akan membuat pancake saja. Apa kamu mau minum kopi juga?"


Bak gayung bersambut, Rangga langsung mengangguk setuju.


"Ayo, silahkan masuk!" Niken membimbing Rangga untuk masuk ke bagian dapur.

__ADS_1


Rangga duduk di kursi yang ada di bagian dapur itu.


"Sepi bener?"


Rangga celingak-celinguk memperhatikan suasana.


"Kami hanya tinggal bertiga di sini. Dulu, malah sempat kosong, lalu ibuku sewakan selama dia tinggal di Kalimantan. Beberapa tahun. Lalu setelah anak kakakku cukup besar, ibu kembali pulang, setelah penyewanya juga selesai. Setelah itu, ibu tinggali, sambil membuka kost dua kamar saja bagi mahasiswa atau pekerja, tapi, yang wanita saja."


Cerita Niken sambil mencampur tepung, gula, dan telur dalam satu wadah, lalu memberi sedikit susu dan air, lalu diaduk hingga rata.


"Jadi, kamu dan Laras baru di sini?"


Niken menghentikan kegiatannya, lalu mengangguk pelan.


Niken memasukkan butter dalam adonan, lalu mengambil teflon untuk memasak adonan menjadi pancake.


Rangga memperhatikan Niken, menatap wanita itu dengan raut wajah yang sulit dimengerti oleh Niken. Karena terlihat tenang.


Rangga....


Dulu merupakan sahabat Bima semasa mengumpulkan pundi uang di ibukota. Sejak awal bertemu dengan Niken, Rangga telah jatuh hati dengan paras cantiknya Niken.


Hingga Bima kembali dari tugasnya. Mereka berkenalan, lalu selang dua Minggu mereka makin akrab dan menjadi sepasang kekasih.


Rangga sangat kecewa pada dirinya sendiri. Mengapa dia tidak berani untuk mendekati Niken sejak awal, sebelum bertemu dengan Bima.


Rangga menghabiskan waktunya untuk bekerja, dan terus memendam perasaannya pada Niken selama itu. Meskipun selalu menjadi tempat curhat Bima, maupun Niken.


Bima selalu mengeluarkan uneg-unegnya pada sahabatnya yang satu ini baik mengenai pekerjaan, keluarga, hingga masalah percintaan.


Lalu Niken,yang selalu menganggap Rangga seperti kakak sendiri, juga tak jarang mencurahkan isi hati pada Tanggal mengenai masalah pekerjaan, teman, bahkan percintaannya dengan Bima, yang tak mendapat restu dari ibunya Bima saat itu.


Hingga beberapa tahun kemudian dia mendapat surat undangan pernikahan Bima dan Niken.


Betapa hancur hati Rangga. Dia memutuskan untuk tidak menghadiri pernikahan sahabatnya itu. Lalu satu bulan kemudian Rangga mengajukan pengunduran dirinya, dan memutuskan untuk membantu usaha ayahnya.


Ayahnya yang saat itu sedang sakit. Rangga akhirnya membantu usaha ayahnya untuk mengurus perkebunan kopi dan karet yang berada di luar kota, bahkan di luar pulau Jawa.


Rangga menghabiskan waktunya dengan mengurus usaha perkebunan. Mengalihkan pikirannya tentang Niken dan Bima. Hingga bertahun-tahun.

__ADS_1


Sampai dia mendapat kabar bahwa adiknya melahirkan, tapi, juga menderita kanker yang hidupnya tak akan lama lagi.


Rangga akhirnya menghabiskan waktu bersama keluarganya, dan membantu merawat Amanda sewaktu masih bayi bersama ibu dan ayahnya.


Hingga tiga tahun kemudian, kondisi Rena, ibu Amanda semakin kritis dan dalam hitungan hari, meninggal dunia karena kanker telah menggerogoti seluruh tubuhnya.


Amanda yang berusia tiga tahun itu dirawat oleh kakek dan neneknya, karena orang tua Satria sudah tiada, dan keluarganya hanya adik perempuannya yang masih kulian dan sekolah saat itu.


Dua tahun kemudian sang ayah Rangga meninggal karena penyakit jantung. Lalu disusul ibunya dua tahun kemudian.


Betapa hancur Rangga saat itu melihat satu persatu keluarganya meninggalkan dirinya sendiri di dunia.


Ibunya berpesan untuk segera menikah dan memilih banyak keturunan. Dan saat itu ibu sangat yakin, bahwa Rangga akan menemukan wanita yang baik.


Rangga menghabiskan waktu berkeliling Indonesia mengurus usahanya, bahkan ke luar negeri ikut pameran kopi hasil perkebunannya. Hingga membuahkan hasil, menjadi supplier kopi dari brand dunia kenamaan.


Beberapa restoran, hotel, dan perusahaan minuman akhirnya juga memakai kopi produksi dari kebun Rangga.


Rangga hampir tak memiliki waktu untuk memikirkan wanita.


Hingga semalam saat dia menemani Satria dan Amanda ke mall untuk menyaksikan sahabat Amanda pentas, dia bertemu lagi dengan Niken.


Hidupnya yang seakan gersang akan wanita, kini seolah kembali bergairah.


Tapi, dia merasa tak mungkin karena Niken telah menikah dengan Bima.


Semalam sepulang mengantar Amanda yang ingin menginap di rumah Laras, yang artinya itu di kediaman Niken, Satria menceritakan kisah penghianatan Bima pada Niken.


Rangga sangat heran mendengar cerita Satria, ingin rasanya dia memukul langsung wajah Bima saat itu.


Namun, di sisi lain hatinya mengatakan ini saatnya untuk mendekati dan mendapatkan Niken kembali.


Semalaman, Rangga tak bisa tidur memikirkan hal ini. Paginya dia memutuskan untuk datang menemui Niken.


Sekarang dia telah bisa menatap dengan puas wanita yang selalu ada dalam hatinya itu sedang membuat pancake.


Niken yang sudah belasan tahun silam tak dia temui, masih sama cantiknya, hanya ada sedikit kerut di matanya, dan wajahnya yang terlihat sayu.


Rangga dapat merasakan kepedihan yang dirasa oleh Niken saat ini, dia ingin berdiri dan memeluk Niken. Tapi, dia sadar, pasti Niken akan sangat marah, apalagi jika Amanda dan Laras mengetahuinya, pasti akan berpikir bahwa Rangga adalah lelaki mesum.

__ADS_1


__ADS_2