
Niken bergegas memacu motor matic nya menuju sekolah Laras. Beberapa kali bunyi klakson dia bunyikan untuk memberi tanda, dia sedang terburu-buru.
Niken mendengus kesal saat berhenti saat lampu merah. Diliriknya jam tangan pemberian Mas Bagas, kakaknya yang masih awet dan bagus.
Sudah pukul satu lebih lima menit.
"Duh, lama bener lampu merah nya!" Gerutu Niken sambil menggerakkan kakinya.
NGENG....
Saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, Niken langsung kembali memacu motornya menuju sekolah.
Niken memarkir motornya di halaman sekolah pada area parkir motor. Lalu bergegas menuju ke arah bangku panjang tempat biasanya Laras menunggu.
"Mama!" Laras melambaikan tangannya pada Niken.
Niken segera menghampiri putrinya itu.
"Loh, ada Manda? Belum dijemput?"
"Belum Tante. Mbak yang biasa jemput Manda lagi ijin pulang kampung. Terus, Tante juga ada urusan di kampus. Papa lagi kerja."
"Ya sudah. Kamu Tante antar pulang ya?"
"Tapi, di rumah nggak ada orang, Tante. Boleh aku ikut ke tempat Laras dulu sampai Tante selesai urusan di kampusnya?"
Amanda menatap Niken seolah memohon.
"Baiklah, ayo ambil tas kalian, kita pulang!"
Niken menaruh tas anak anak di cantelan pada bagian depannya, lalu Laras dan Amanda membonceng.
Berkali-kali Niken mengingatkan supaya berpegangan dan jangan tidur.
Sambil merapal doa, Niken mengendarai motornya dengan kecepatan sedang hingga sampai di kediamannya.
Niken menghembuskan napas lega saat sampai di halaman rumah. Lalu berhenti, dan anak anak segera turun.
Niken menaruh motor di garasi.
Niken mengerutkan keningnya saat mengetahui mobil Bima sudah tidak ada.
"Bude, Mas Bima sudah pulang?"
Niken menuju dapur mencari Bude Ning yang sedang menggendong Regas supaya lekas tidur.
"Iya, Mbak. Tadi Mas Bima sudah pulang. Mandi sebentar, lalu pergi lagi dengan mobil. Katanya mau ke pabrik, soalnya tadi Bude tawari makan, tapi ditolak, karena buru-buru."
Niken mengangguk mengerti sambil tersenyum.
"Sudah pada makan belum?"
"BELUM!" sahut Laras dan Amanda berbarengan dengan kompak.
Semua terbahak-bahak.
Niken menyiapkan makan siang untuk dua gadis kecil yang sedang kelaparan itu, lalu ketika mereka sedang melahap makan siang dengan tenang, Niken menuju ke tas traveling milik Bima yang ada di sudut kamar.
Niken membawa keranjang untuk memilah pakaian kotor dan bersih. Bima memang ceroboh dalam hal itu.
Niken membuka resleting tas, dan mulai membongkarnya. Tercium aroma wangi parfum dari dalam tas. Niken seolah pernah mencium aroma itu, namun dia tak ingat di mana.
__ADS_1
Niken mulai membaui satu persatu pakaian Bima, lalu terhenti pada sebuah kemeja berwarna biru, ada noda lipstik, meski tipis, tapi, Niken sangat yakin itu dari wanita. Lalu aroma parfum yang bukan murahan itu sangat kuat pada kemeja itu.
Niken membentangkan kemeja itu, dan menemukan sehelai rambut di sana.
Niken mengambil rambut panjang itu, lalu menatapnya dengan seksama.
"Itu bukan rambutku!" Gumamnya pelan dengan resah.
Niken kembali memilah pakaian, dan aroma parfum kembali tercium pada beberapa kaos milik Bima.
Niken mengusap wajahnya, mencoba untuk tetap tenang.
"Mas, semoga kamu tidak berpaling dari keluargamu ini."
Niken menatap keranjang pakaian itu, lalu membawanya keluar menuju ruang cuci.
Sambil menunggu cucian yang berputar-putar pada mesin cuci, Niken menyiapkan hidangan untuk keluarganya, terutama Bima, sang suami.
Bima sangat menyukai bolu jadul buatannya. Niken membuat mangut lele pedas untuk Bima, dan yang tidak pedas untuk Laras. Niken juga menyisakan untuk Amanda dan Satria.
Hari itu, Niken sengaja meliburkan diri, tidak menerima pesanan untuk menyambut kedatangan suaminya yang sudah pergi ke luar kota sekitar tiga hari.
Namun, tanpa sepengetahuan Niken, ternyata Bima hanya pergi sekitar dua hari. Tapi, Bima tidak langsung pulang, dia menuju ke rumah Ayu terlebih dahulu, karena Ayu selalu merengek, merayu, bahkan hampir setiap jam mengirimkan pesan mengatakan rindu padanya.
Niken menyelesaikan memasak dengan tepat waktu. Lalu menjemur pakaian Bima di ruang belakang.
TING TONG!
Niken bergegas menuju ke ruang tamu membukakan pintu.
"Eh, Mas Satria. Masuk!"
"Sebentar."
Niken kembali ke ruang dalam memanggil Amanda karena telah dijemput oleh papanya.
Dengan berat hati sambil menyeret tas ranselnya dan wajah terlipat, Amanda keluar dari kamar Laras diikuti Laras.
"Huh, aku kira papa sore pulangnya!" Protes Amanda pada Satria.
"Ini sudah sore, Nak. Sudah jam 3." sahut Satria lembut sambil mencubit gemas pipi putrinya itu.
"Aku belum selesai bermainnya." Rengek Amanda.
"Dengar, kamu, kan bisa main lagi kapan kapan. Besok masih bisa ketemu lagi dengan Laras. Bukan begitu, Yas?" Satria menoleh ke arah Laras, dan Laras pun mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, kamu bisa datang ke sini besok atau hari minggu besok Laras, boleh main ke tempatmu?" Tukas Niken pada Amanda.
Wajah Amanda yang cemberut langsung berubah menjadi riang dan tersenyum lebar, lalu menoleh ke arah Laras yang juga tersenyum lebar.
"Boleh, boleh. Aku sangat senang! Besok kita bisa berenang sepuasnya di kolam renang!" Sorak Amanda.
Lalu Amanda dan Laras melakukan riset dengan girang.
Satria hanya mengangguk angguk.
Niken tersenyum menatap dua gadis kecil itu.
"Besok minggu aku antar ke tempatmu."
"Kami tunggu." Sahut Satria.
__ADS_1
*
Malam itu, Bima sudah kembali dari pabrik. Sekarang sedang bersenda gurau dengan Laras di ruang tengah sambil menonton televisi.
Niken menatap keduanya dengan rasa bahagia.
"Mungkin hanya perasaanku saja, yang sudah lama tidak campur sama Mas Bima."
Niken mencoba menghilangkan pikiran buruknya tentang Bima.
Seruni juga sudah mengontrak rumah di dekat rumah Bima, dia memutuskan untuk tinggal di sana, dan tidak pulang ke rumah. Setiap pagi hingga menjelang sore, anaknya dititipkan di rumah Niken, lalu setelah pulang bekerja, dijemput dan dibawanya pulang.
Niken duduk di sofa mendekati Bima dan Laras.
"Nah, ini Mama!" Seru Laras
"Iya!"
"Mama, coba tutup mata dulu." Perintah Laras sambil menaruh telapak tangannya pada mata Niken.
Niken menutup matanya perlahan.
"Buka mata!" Ucap Laras kemudian.
Bima menyodorkan sekotak kalung di depan Niken.
"Ini untuk Mama dan Istri terbaik selama ini!" Ucap Bima sambil tersenyum lebar.
"Mas, ini apa?"
Niken terbelalak menatap kotak berisi sebuah kalung emas dengan bandul inisial N.
Niken hampir menangis haru melihat itu. Lalu memeluk Bima dengan penuh rasa sayang. Segala pikiran buruk tentang Bima langsung hilang seketika. Berganti dengan rasa bahagia saat ini.
Bima membantu memasangkan kalung pada leher Niken yang jenjang itu. Dan Niken tersenyum lebar sambil merentangkan tangannya. Bima dan Laras langsung menghambur dalam pelukan Niken.
Malam itu mereka merasakan kebahagiaan.
"Terima kasih, Mas." Ucap Niken sambil menatap Bima saat mereka berada di atas tempat tidur.
"Kamu pantas menerima itu."
"Aku sangat senang."
Bima tersenyum sambil mengusap wajah Niken.
Sejenak keduanya saling bertatapan. Lalu perlahan saling mendekat, dan kini tubuh mereka saling bergumul di atas tempat tidur.
Satu per satu pakaian Niken dan Bima terlepas dan menghambur di dalam kamar. Kedua tubuh polos itu saling merengkuh nikmat duniawi.
Hingga keduanya lelah dan tidur berpelukan.
Bima membenarkan tubuh Niken di tempat tidur, lalu perlahan meraih ponselnya.
Bima duduk bersandar pada sandaran tempat tidur, sambil tersenyum menatap ponselnya saat membaca pesan dari Ayu.
Wanita itu mengucapkan kata rindu pada Bima.
Bima lalu menoleh ke arah Niken yang sudah terlelap.
"Maafkan aku, Ken. Tapi aku juga mencintai gadis ini." Ucap Bima dalam hatinya.
__ADS_1