Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Kencan


__ADS_3

"Terima kasih, kamu mau menerima ajakanku untuk makan malam." Ucap Satria sambil menatap Seruni.


"Ya. Aku senang kamu mengajakku makan malam bersama, apalagi di sini."


Seruni menatap lalu lalang kendaraan di jalan raya, sambil mengamati pengamen yang sedang menjajakan suaranya.


"Syukurlah, kamu mau. Aku takut kamu menolak untuk makan di tempat seperti ini. Warung pinggir jalan gini."


Satria tersenyum sambil menghela napas lega.


"Aku tuh lebih senang makan di warung pecel lele, atau bakmian pinggir jalan, atau malah angkringan, dari pada di restoran mahal. Kadang tuh, makanan di restoran, sudah harganya mahal, rasanya biasa saja. Beda sama yang model ginian, harga kaki lima, rasanya bintang lima."


Satria terkekeh mendengar ucapan Seruni.


"Ayo, pilih saja, mau yang mana!" Satria menawari Seruni, sambil memilih makanan yang akan dia makan.


Seruni mengambil piring dan memilih beberapa menu juga, lalu mengikuti Satria menuju kasir.


"Kamu mau minum apa?" Satria bertanya pada Seruni.


"Jeruk hangat." Sahut Seruni.


"Pak, kopi jos satu, jeruk hangat satu." Ucap Satria pada penjual angkringan itu, lalu membayar makanan dan minuman mereka.


Satria dan Seruni mencari tempat untuk duduk, sembari menunggu makanan mereka dipanaskan.


Tak lama seorang pelayan mengantarkan makanan Satria dan Seruni.


"Oya, Amanda kadang kadang cerita tentang kamu, loh."


"Oya? Tentang apa? Aku galak, ya? Atau aku cerewet, banyak bicara, banyak ngatur, gitu?"


Satria menatap Seruni lekat lekat.


"Nggak, dia menyukaimu. Amanda selalu senang, saat kamu yang menjemputnya sepulang sekolah. Atau mengajari belajar, atau bercanda. Dia iri sama Laras, karena punya Bulik yang serba bisa seperti kamu."


Seruni menundukkan wajahnya, tersipu saat Satria menatapnya. Agak getar dalam dadanya yang tak bisa diungkapkan. Jantungnya berdebar kencang, saat bertatapan dengan Satria.


"Mbak Niken sebenarnya yang banyak mengajari aku. Dulu, aku nggak seperti ini. Apalagi Ibuku yang suka mengatur hidupku, membuat aku malas. Dulu, ada Bapak yang masih membelaku. Mas Bima dan Mbak Niken, seolah sudah diblacklist oleh Ibu. Mas Dewa terkadang hanya membelaku sekedarnya. Sejak pertama aku berkenalan dengan Mbak Niken, dia adalah sosok yang menyenangkan. Makanya aku berpikir, mungkin itulah yang membuat Mas Bima jatuh hati pada kakak iparnya itu, dan menolak dijodohkan dengan Rima, anak kolega Bapak dan Ibu."


Tutur Seruni bercerita panjang lebar.


"Lalu bagaimana Mas Bima dan Niken bisa menikah, jika Ibumu tidak merestui mereka?"


"Bapak merestui Mas Bima dan Mbak Niken. Pak Lik, Pakde juga setuju. Keluarga Mbak Niken juga merestui mereka. Jadi, tidak masalah. Bapak pernah berjanji, akan menerima Mbak Niken dengan baik, dan akan meyakinkan Ibu supaya merestui kakakku itu pada keluarga Mbak Niken. Tapi, yang terjadi, hingga Bapak tiada, Ibu sama sekali belum bisa menerima Mbak Niken sebagai menantunya. Bahkan menuduh Mbak Niken menggoda Bapak, dan menjadi pembunuh Bapak."


Seruni menghela napas dalam-dalam, lalu menatap Satria.


"Membunuh Bapak?" Satria berkerut heran.

__ADS_1


"Bapak meninggal karena kecelakaan, saat itu sehabis mengantar pesanan di Solo bersama Mbak Niken. Sebuah truk menabrak mobil yang dikendarai Bapak dan Mbak Niken. Bapak meninggal, sedangkan Mbak Niken sempat lumpuh."


"Oh... Maaf, aku turut berdukacita atas kehilangan Bapakmu."


Satria menatap penuh simpati pada Seruni.


"Terima kasih, Mas."


"Niken pernah lumpuh?"


"Ya, selama beberapa bulan. Setelah menjalani terapi beberapa waktu, Mbak Niken akhirnya bisa berjalan lagi, meski tidak sempurna seperti dulu lagi."


"Oh, ya. Dia memang terlihat sedikit pincang saat berjalan. Dan tak bisa berjalan jauh dan lama lagi saat ini, kata Amanda."


"Anak itu memang cerewet, ya." Gurau Seruni.


Satria hanya tertawa kecil mendengar Seruni.


"Dia terlalu mandiri, karena sesuai kecil tidak pernah mendapat belaian kasih sayang seorang ibu. Sejak dia bertemu Laras dan Niken, dia meminta sendiri untuk numpang menunggu jemputan di rumah Laras. Terkadang Amanda, cerita, pernah sedih, saat Niken membelai, atau mengobati lukanya sewaktu jatuh tempo hari."


Seruni menatap Satria penuh minat.


"Lalu dia bertemu denganmu, dan banyak cerita tentang kamu. Lalu kita bertemu waktu itu. Dan bertemu lagi di rumah Laras. Mendengar sendiri keseruan yang kamu buat bersama Laras dan Amanda. Aku jadi penasaran." Cetus Satria.


"Penasaran?" Seruni mengerutkan keningnya.


"Penasaran sama kamu." Sahut Satria sambil menatap Seruni.


Tatapan Satria, bagai menusuk jantung Seruni. Sesaat dia terbuai dengan tatapan Satria, namun, dia berusaha untuk menguasai dirinya sendiri.


Seruni menyeruput jeruk hangatnya perlahan, lalu memakan makanannya.


Satria sesaat menatap Seruni yang terlihat salah tingkah kala itu. Satria tersenyum tipis, lalu menikmati makanannya juga, sambil menyesap kopi jos pesanannya.


"Ini yang selalu aku suka tinggal di Yogya." Ucap Satria.


"Kenapa?" Seruni menoleh dengan raut penasaran.


"Menikmati makanan sepuas ini, dengan harga yang terjangkau. Lalu suasana kota Yogya yang menyenangkan, membuat kangen, dan seakan meminta untuk selalu dikunjungi."


"Mengapa Mas, pindah ke sini?"


Satria terdiam sejenak.


"Terlalu banyak kenangan, yang telah aku alami selama ini. Istriku meninggal, saat usia Amanda masih dua setengah tahun, lalu Ayah dan Ibuku yang membantu mengasuh Amanda, selama aku bekerja. Lalu ayahku meninggal, dan beberapa bulan yang lalu Ibuku menyusul Ayahku."


Satria menatap Seruni.


Seruni terdiam, tercenung dengan pengakuan dari mulut Satria mengenai kehidupannya.

__ADS_1


Ingin rasanya, dia memeluk lelaki di sampingnya itu, dan mengatakan, "Biarkan aku menghiburmu, Mas!"


Tapi, Seruni hanya diam membisu saat itu.


"Aku ingin ganti suasana baru saja."


"Mengapa di sini, bukan kota lain."


"Aku dan istriku dulu bertemu di kota ini. Dia teman seangkatanku sewaktu kuliah di kota ini. Dari awal kuliah, kami telah saling jatuh cinta, hingga lulus bareng bareng. Setelah itu, aku membangun usahaku, bersama dengan istriku. Lalu dia jatuh sakit, dan Tuhan memanggilnya, tak berselang lama setelah dia divonis kanker stadium akhir. Kankernya, sudah menyebar, dan menyerang hingga ke otaknya. Dan usia istriku diperkirakan hanya tinggal hitungan bulan saja saat itu."


Cerita Satria dengan wajah serius. Seolah ada kesedihan, hingga membuat mata Seruni berkaca kaca.


Seruni menggenggam jemari Satria, dan menatap lelaki itu.


"Kamu adalah lelaki yang hebat, Mas. Aku salut padamu. Maaf, aku membuatmu harus menceritakan kisah sedihku ini. Maaf atas pertanyaan lancangku tadi."


Sesal Seruni bersungguh sungguh.


"Kamu nggak salah, Runi. Aku malah merasa lega, bisa membagi kisah ku denganmu."


Seruni membalas genggaman tangan Seruni, lalu menautkan matanya pada Seruni.


Seruni mengalihkan pandangannya, karena merasa malu.


Usai menikmati makan malam di angkringan, Satria mengajak Seruni berkeliling kota Yogya, lalu melajukan mobilnya ke sebuah kedai kopi yang buka hingga 24 jam.


"Kok, ke sini?" Tanya Seruni.


"Suka kopi?" Tanya Satria.


"Suka."


"Di sini kopinya enak. Merk Starbucks saja kalah sama kopi di sini!" Satria turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Seruni.


"Kita pesan untuk kita bawa saja, ya."


Seruni hanya mengangguk.


Setelah mendapatkan kopi pesanan mereka, Satria dan Seruni kembali ke dalam mobil.


Setelah berkeliling menyusuri kota Yogya sekali lagi, Satria mengantar Seruni kembali ke rumahnya.


"Terima kasih, untuk malam ini." Ucap Satria.


"Ya. Sama sama. Aku juga senang ditraktir angkringan, lalu minum kopi yang enak ini."


"Besok, apakah ada waktu lagi?"


Satria bertanya dengan lirih.

__ADS_1


Seruni mengangguk dengan pasti.


Senyum merekah tersungging di bibirnya Satria.


__ADS_2