Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Kegilaan Bima


__ADS_3

"Terima kasih, sudah menjaga Laras semalam. Maaf, aku nggak sempat menjemput Laras kemarin."


Niken duduk sambil menyesap kopinya di rumah mungil Seruni.


"Iya, kemarin Mas Satria menelpon, katanya Mbak Niken nitip Laras di rumahnya. Lalu aku minta Bude Ning siapkan baju seragamnya juga untuk ditaruh di rumahku saja, biar nggak repot bolak balik." Sahut Seruni sambil tersenyum.


"Ada apa Mbak?"


Niken tersenyum kecut sambil menatap adik iparnya itu.


"Dulu aku selalu bermimpi bisa membangun rumah tangga yang bahagia bersama Mas Bima. Meskipun ada Ibu yang sejak awal menghalangi hubungan kami. Mas Bima selalu dan tetap kekeh mempertahankan hubungan kami. Aku sempat goyah saat Mas Bima melamarku. Aku tak yakin, karena menikah tanpa restu semua orang tua pasti akan ada hal yang mengganjal. Namun, Ibuku dan kakakku menyerahkan itu semua padaku sendiri. Terlebih Mas Bima yang mampu meyakinkan kakakku supaya juga memberi restu untuk kami."


Niken terdiam sejenak.


"Seharusnya, waktu itu aku lebih mendengarkan kata hatiku."


Ucapan Niken terdengar penuh penyesalan.


"Mbak, aku juga nggak menyangka Mas Bima tega melakukan hal itu. Apalagi alasannya untuk bisnis."


"Apa maksudmu, Runi?"


"Pabrik sempat goyah usai Bapak meninggal, dan saat itu Mbak Niken masih di rumah sakit. Mas Bima berusaha keras mengembalikan kepercayaan klien yang ada. Apalagi ternyata Bapak juga ada hutang pinjaman juga. Akhirnya Mas Bima bisa mengatasi itu semua, dan akhirnya dia bertemu dengan seorang pengusaha dari Surabaya, orang tua Ayu. Lalu menitipkan Ayu pada Mas Bima, karena kebetulan mereka tak punya saudara di Yogyakarta. Apalagi orang tuanya Ayu adalah pengusaha yang sangat sibuk, dan jarang ada di Indonesia. Salahnya Mas Bima tidak pernah bilang bahwa dia telah berkeluarga. Telah mempunyai istri dan anak."


Seruni menghela napas penuh penyesalan akan perbuatan kakaknya itu.


"Ya, apa pun alasannya itu, Mas Bima tetap salah. Dan aku tak bisa memaafkan itu, Runi. Karena aku sudah terluka."


Seruni hanya bisa mengangguk mengerti. Dia juga pernah merasakan hal yang sama dengan Niken.


"Lalu, apa rencana Mbak Niken selanjutnya?"


Ada rasa takut dalam hati Seruni saat menanyakan hal itu. Dia takut Niken akan berpisah dengan Bima, seperti dirinya dulu.


Dia sudah menganggap Niken seperti saudara kandungnya sendiri. Bahkan Niken lebih mengerti dirinya dari pada kakak dan ibunya. Seruni takut kenyataan Niken akan berpisah dengan Bima, dia takut kehilangan seorang kakak perempuan yang memahami dirinya.


"Aku sudah memikirkan ini semalaman. Dan aku sudah meminta tolong Satria untuk menghubungi pengacara mengurus surat perceraianku dan Mas Bima. Lalu aku akan mengurus surat pindah sekolah untuk Laras. Aku akan pulang ke Jakarta, Runi."


"Mbak... Tolong pikirkan lagi masak masak hal ini. Ini semua akan membuat Laras terluka juga. Mbak Niken nggak ingin Laras kecewa, kan, bahwa orang tuanya akan berpisah?"


"Runi, maaf, aku tak bisa memaafkan kesalahan Mas Bima kali ini."


"Mbak, tolong pikirkan lagi. Aku akan bicara pada Mas Bima."


"Sudahlah, Runi. Kamu fokus pada Regas. Dan cari kebahagiamu sendiri."

__ADS_1


Niken tersenyum pada Seruni.


Seruni memeluk erat Niken, lalu menangis dalam pelukan Niken.


*


Bima menghisap rokoknya, sambil berdiri di samping pintu mobilnya. Saat ini dia sedang berada di area parkir kampus Ayu.


Bima melambaikan tangannya saat melihat Ayu berjalan keluar dari gedung kampus bersama beberapa temannya.


Tak lama, Ayu berlari kecil menghampiri Bima.


Ayu yang menggunakan dress vintage motif bunga terlihat anggun dan cantik. Rok dress berkibar tertiup angin, menambah ayu parasnya.


"Tumben jemput jam segini? Biasanya paling malas kalo jemput jam segini."


Cecar Ayu sambil melirik jam tangannya.


Bima hanya tersenyum tipis, sambil menghisap rokoknya.


Bima menghabiskan sisa rokoknya, lalu membuang ke tanah dan menginjaknya. Lalu keduanya segera memasuki mobil Bima.


Mereka tak menyadari, dua pasang mata sedang memperhatikan mereka sedari tadi.


"Mas, kok diam saja, sih dari tadi? Ada masalah?" Tanya Ayu sambil menatap Bima.


"Mau jalan-jalan?"


Mata Ayu berbinar, lalu memeluk erat lengan Bima yang kokoh itu.


"Mau banget, Mas! Mau ngajak aku ke mana nih?" Tanya Ayu sambil bersorak kegirangan.


Bima mengusap rambut Ayu dan mengecup keningnya.


Entahlah, Bima juga tak mengerti mengapa dirinya terus melakukan kesalahan ini. Padahal saat ini dia sedang ada masalah dengan Niken. Bahkan rumah tangganya terancam di ujung tanduk.


Ayu bagai pelarian dari setiap masalah yang dihadapi oleh Bima selama ini.


Setiap kali ada masalah, Bima selalu melampiaskan pada Ayu dengan melakukan hubungan badan layaknya suami-istri. Setelah itu, Bima merasa lega.


Meski pun dalam hatinya merasa bersalah pada Niken. Bima, selalu melakukan hal itu berulang ulang.


Kali ini, Bima mengusap lembut paha Ayu yang rok dress nya tersingkap.


Ayu melirik Bima seolah mengerti kode dari Bima.

__ADS_1


"Mas, ini di jalan raya. Lagian mau ke mana kita ini?"


"Kamu bilang senang mencoba hal baru. Mau melakukan berbagai lagi sesuatu yang baru?"


"Apa, Mas?" Tanya Ayu penasaran.


Bima semakin nakal memainkan tangannya pada paha mulus Ayu yang makin tersingkap, lalu tangannya mulai merogoh bagian yang tertutup segitiga pengaman milik Ayu.


Ayu melebarkan kakinya dengan pasrah menikmati setiap sentuhan tangan Bima yang membuat dia sangat kecanduan.


Terdengar lenguhan manja, dan rintihan dari bibir Ayu saat jari jari Bima mulai bermain-main pada bagian itu.


"Mas? Aku masih ingin hidup lama. Jangan sambil menyetir gini dong!"


Pinta Ayu sambil melenguh manja dan merem melek keenakan.


Bima membelokkan mobil pada sebuah jalan yang kecil dan sepi. Lalu menepikan mobil di sana.


Ayu langsung duduk di pangkuan Bima, dan mengalungkan tangannya di leher Bima dengan manja.


Bima mulai menciumi leher Ayu dengan beringas.


Ayu hanya bisa memejamkan matanya sambil meliukkan tubuhnya.


Ayu membuka kemeja Bima, lalu memainkan bibirnya pada dada Bima yang bidang dan kekar.


Bima sangat menikmati semuanya.


Perlahan tangan Ayu melepas segitiga pengaman miliknya, lalu membuka resleting celana Bima, dan mereka mulai saling mencumbu satu sama lain.


Mobil bergoyang seirama hentakan gerakan kedua insan yang sedang dipenuhi nafsu.


Dewa menghentikan motornya saat melihat mobil kakaknya di kawasan hutan jati.


"Itu dia mobilnya, Mas." Ucap Mawar sambil menunjuk mobil Bima.


"Ya. Dia memang gila!" Dewa menggelengkan kepalanya.


Terdengar suara suara sepasang insan yang sedang merengkuh nikmat duniawi dari dalam mobil.


Dewa merasa sangat jijik saat mendengar suara bariton Bima menyebut nama Ayu sambil melenguh nikmat.


DOK DOK DOK!


Dewa memukul keras jendela mobil Bima.

__ADS_1


Sehingga membuat sepasang manusia yang sedang zina itu terkejut.


Bima membelalakkan matanya. Dia terkejut saat melihat Dewa berdiri dengan tatapan penuh amarah.


__ADS_2