Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Ulang Tahun Niken


__ADS_3

"Selamat ulang tahun....!" Seru Laras, Seruni, Bude Ning pada Niken yang sedang meracik bumbu di dapur.


"Astaga! Apa apaan ini? Kenapa kalian pada repot repot seperti ini?"


"Hari ini hari spesial, Mama. Jadi kami sengaja beri kejutan." Ucap Laras sambil memeluk mamanya.


"Terima kasih, Nak."


"Selamat ulang tahun, Mbakku. Semoga selalu diberi kesehatan, umur panjang, makin sabar, dan selalu lancar rejekinya. Dan yang paling penting bahagia selalu." Seruni menyodorkan kue ulang tahun di depan Niken.


Niken menatap semuanya dengan haru. Biasanya Bima selalu paling awal memberi ucapan, namun hari ini, dia seolah melupakan ulang tahun Niken. Namun, Niken menepis semua perasaan atau pikiran buruk yang selalu mengganggunya.


Akhirnya, pagi tadi, dia bersiap untuk memasak pesanan, dan tiba tiba ada kejutan dari keluarga yang lain.


Itu sudah membuat Niken sangat bahagia.


Niken menutup matanya mengucapkan doa, lalu membuka matanya dan meniup lilin pada kue ulang tahun dengan angka 34.


Suara tepuk tangan terdengar usai Niken meniup lilin.


Semua memberikan ucapan pada Niken.


Lalu Niken menyiapkan nasi goreng untuk mereka semua sebelum berangkat beraktivitas.


"Permisi!"


Saat mereka sedang menikmati nasi goreng buatan Niken, tiba tiba terdengar suara dari luar.


"Loh, Amanda? Kok pagi pagi ke sini?"


"Selamat ulang tahun, Tante Niken!" Amanda menghambur memeluk Niken. Disusul Satria sambil membawa sekotak kue ulang tahun dengan lilin di tengahnya.


"Astaga, kenapa harus repot-repot seperti ini?"


Niken menatap Amanda dan Satria bergantian.


"Ayo dong! Tiup lilin ya, Tante!" Rengek Amanda.


Satria mengambil korek api dari kantongnya, lalu menyalakan pada lilin di kue.


Niken menutup mata sejenak sambil berdoa, lalu meniupnya.


"Ye....!" Sorak Amanda dan Laras.


"Kalian semua pada janjian apa? Kok pagi pagi sudah ngumpul di sini?"


Tanya Niken sambil menatap mereka satu persatu.


"Kebetulan saja, Mbak. Ayo, Mas Satria, dan Amanda. Masuk ke dalam, kita makan nasi goreng buatan Bude Niken."


Ajak Seruni sambil menggandeng Amanda.


Seruni mengambilkan nasi goreng untuk Amanda dan Satria, lalu menaruh di depan mereka.


Satria hanya tersenyum, hal itu menjadi perhatian Amanda dan Laras.


"Ehem... Om Satria dan Tante Seruni pacaran ya?" Tanya Laras dengan polosnya.


"Hah? Nggak ah! Kok kamu bisa bilang gitu?" Tanya Seruni tergagap sambil menatap keponakannya.


"Habis, kayak orang pacaran." Laras dan Amanda terkikik.


"Manda juga mau kok, Tante Seruni jadi Mamanya Manda. Kalo Tenteng Seruni mau nggak jadi mamanya Manda?" Tanya Amanda sambil menatap Seruni.


Pertanyaan bocah berusia 9 tahun itu membuat Seruni terhenyak. Begitu pula Satria yang tak menduga putrinya bisa bertanya seperti itu.


Niken hanya tersenyum geli sambil melirik Bude Ning yang juga senyum senyum sendiri sambil menyikut lengan Niken.


"Ya sudah, ayo selesai kan makannya. Nanti Laras dan Amanda harus sekolah!"

__ADS_1


"Nanti, biar aku antar anak anak ke sekolah. Dan Seruni bisa bareng juga."


Tawar Satria sambil tersipu.


Niken dan Bude Ning hanya bisa tersenyum geli kembali.


Setelah menyelesaikan sarapan, Bude Ning membereskan meja makan.


Regas masih terlelap kekenyangan. Niken menyelesaikan beberapa masakan dan sengaja memberi bonus untuk merayakan ulang tahunnya pada para pelanggannya.


*


Bima menatap layar ponselnya.


"Huh, sudah, pagi!" Gumamnya dengan suara serak.


Semalam dia dan Ayu pergi ke acara ulang tahun teman Ayu di sebuah cafe dan bar. Dan mereka pesta hingga tengah malam sampai setengah mabuk.


Ayu yang telah mabuk berat sudah terhuyung, dan akhirnya memuntahkan isi perutnya sampai di rumah.


Setelah agak baikan, Ayu yang setengah mabuk langsung memeluk Bima, dan menautkan bibirnya pada bibir Bima dengan penuh hasrat.


Lalu seperti biasa dua insan yang belum terikat dengan perkawinan itu melakukan hubungan yang terlarang kembali dan kembali lagi.


Bima yang biasanya menggunakan pengaman, semalam seolah melupakan itu dan menumpahkan semua dalam rahim Ayu berkali kali.


Pagi ini, sambil memegang pelipisnya, karena masih merasa sedikit pusing, Bima turun dari ranjang.


Memungut celananya, dan kaos singlet yang tersampir pada kursi di kamar.


Bima menuju ke dapur, lalu mengambil air dari dispenser lalu meneguk hingga habis.


Bima tertegun sejenak saat menatap kalender yang ada di dinding dapur.


Hari ini adalah ulang tahun, Niken. Biasanya, dia akan mengucapkan tepat pada pukul 00.00, dan memberi kecupan mesra, atau kue ulang tahun jika sempat membeli malamnya.


Bima menghela napas panjang, lalu kembali lagi ke kamar.


Ada rasa bersalah dalam hatinya. Namun, dia sudah terlalu jauh terperosok bersama Ayu. Bahkan semalam dia melakukan tanpa pengaman bersama Ayu.


"Mas... Ngapain di situ? Sini!"


Rengek Ayu sambil mengulurkan tangannya.


Bima mendekati Ayu, lalu membelai lembut rambut gadis itu.


"Kamu masih pusing?"


Tanya Bima.


Ayu mengangguk pelan.


"Aku ambilkan minum hangat ya?"


Ayu mengangguk pelan.


Bima berlalu mengambil air minum hangat untuk Ayu, lalu kembali lagi ke kamar.


Ayu meneguk hingga habis. Lalu menyibak selimut, dan menuju ke kamar mandi.


Dengan tubuh tanpa busana, Ayu melenggang tanpa rasa malu di depan Bima.


"Mas!" Panggil Ayu saat Bima hendak keluar dari kamar.


"Ada apa?"


"Mau ke mana?"


"Aku mau menaruh ini di meja dapur dulu."

__ADS_1


Ayu menghampiri Bima sambil manyun, lalu mengambil gelas yang dipegang Bima, dan menaruh di nakas.


Ayu mendorong tubuh Bima hingga terduduk di ranjang, lalu dia duduk dipangkuan Bima dengan tatapan menggoda.


"Aku harus pergi ke pabrik, Ayu." Tolak Bima dengan lembut.


Ayu melahap bibir Bima dengan penuh nafsu, seolah tak mendengar ucapan Bima lagi.


Saat menghadapi Ayu yang mulai beraksi memainkan lidah dengan lincah, di leher Bima. Bima hanya bisa merem melek menikmati semuanya.


Bagian bawahnya mulai memggelenyar, dan menegang kembali.


Keduanya kembali saling bergulat dengan berbagai posisi hingga mencapai puncaknya. Terdengar suara lenguhan manja dan teriakan meminta lebih dan lebih lagi.


Kembali Bima menumpahkan benihnya dalam rahim Ayu dengan ganasnya.


"Miliki aku, Mas!" Bisik Ayu dengan manja, sambil pasrah saat Bima mulai menghujamkan kembali miliknya yang kokoh di dalam liang kenikmatan Ayu.


Usai bergerilya di kamar, mereka melanjutkan di kamar mandi.


Bima dan Ayu benar benar seolah bagai pasangan pengantin baru yang selalu ingin melakukan permainan panas setiap saat setiap waktu.


*


Niken menghentikan motornya di depan pagar rumah minimalis nan asri.


Dia terkejut saat melihat sebuah mobil berwarna hitam yang sangat dia kenal itu terparkir di garasi rumah Ayu, langganan kateringnya.


Niken memastikan benar benar plat nomor mobil itu, dan dia sangat yakin itu mobil Bima.


Tapi dia masih berpikir positif, mungkin mobilnya sedang dipinjam oleh Dewa, atau Mas Pur, yang sering meminjam mobil juga.


Niken membuka pagar, sambil menenteng plastik berisi makanan pesanan Ayu.


Lalu berjalan di halaman yang mungil itu dan menuju ke teras.


Niken memencet bel rumah itu pelan.


TING TONG!


"Sebentar!" Terdengar jawaban dari dalam rumah.


Ayu membuka pintu rumahnya dan menyambut Niken.


Saat itu Ayu dengan balutan handuk kimono dengan rambut tertutup handuk habis mandi membersihkan diri.


"Eh, Mbak Niken. Tepat waktu banget datangnya. Aku sedang kelaparan berat. Semalam aku mabuk dan tepat gara gara pesta ulang tahun teman di bar." Cerocos Ayu saat membukakan pintu sambil menerima bungkusan pemberian Niken.


"Oh, tapi ada teman yang nganter, kan?" Sahut Niken penuh simpati.


"Iya, untungnya, pacarku nemenin, kalo nggak, nggak tau deh! Kebetulan dia nginep di sini semalam." Sahut Ayu sambil tersenyum.


"Ah, nginep apa nginep? Sampai mandi wajib gitu!" Goda Niken geli.


"Ah, Mbak Niken, kayak nggak pernah muda saja. Jadi malu aku." Ayu tersipu.


"Ini mobil siapa, Mbak Ayu?" Tanya Niken dengan sopan, namun penuh selidik.


"Mobil pacarku, Mbak. Dia sampai belum ke kantor gara gara nemenin aku dulu ini. Eh, ini kok ada brownies. Kan aku nggak pesen brownies?"


"Eh, iya, hari ini aku ulang tahun. Jadi, khusus langganan hari ini, aku kasih bonus brownies."


Sebenarnya jawaban Ayu tadi cukup membuat jantung Niken bergemuruh cemas. Namun, dia tetap berusaha untuk menghilangkan pikiran pikiran buruknya tentang Bima.


"Nah, kebetulan banget ya! Pacarku ini paling suka brownies buatan mbak Niken, dia bisa habis semua ini! Katanya brownies buatan mbak, mengalahkan yang dari bakery ternama itu." Ayu bercerita dengan penuh semangat.


Deg!


Jantung Niken semakin bergemuruh. Bima juga sangat menyukai brownies buatannya. Bahkan selalu berebut dengan Laras.

__ADS_1


"Sayang, siapa yang datang?" Terdengar suara dari arah dalam.


Suara yang sangat Niken kenal.


__ADS_2