
Dua tahun telah berlalu dalam sekejap.
Bima masih tetap bekerja di perusahaan yang lama, dan Niken masih bekerja di pabrik batik milik Pak Widodo, mertuanya.
Laras, kini telah masuk sekolah dasar dan menjadi gadis kecil yang kritis seperti dirinya, dalam rupa wajah papanya.
"Ayo, bangun..!" Niken menepuk nepuk betis Laras.
Laras yang sebenarnya sudah bangun, hanya diam dan pura pura tidur.
"Mama, tahu, ada yang sudah bangun, tapi masih pura pura memejamkan matanya."
Goda Niken sambil menyilangkan dua tangannya di depan dada.
Laras mengintip dengan membuka sedikit matanya sambil memeluk guling erat.
Niken tersenyum, lalu, duduk di pinggir kasur, dan menggelitik teladan kaki Laras.
"Hahahaha...!"
Kini, Laras tak dapat menyembunyikan tawanya yang lepas, yang ditahannya sedari tadi.
"Ayo bangun! Mandi, lalu sarapan, dan berangkat ke sekolah." Perintah Niken sambil membesarkan bola matanya.
Laras masih tertawa cekikikan, sambil berlari kecil menuju kamar mandi.
"Ma, papa merokok! Bau sekali di kamar mandi!" Teriak Laras dari kamar mandi.
"Mas, kamu ngerokok?!"
"Eh, ah, iya.." Bima mengangguk pelan sambil nyengir.
"Huh, sudah aku bilang berkali kali, jangan merokok di dalam kamar mandi. Pasti bau sekali asapnya. Kasihan Laras, Mas!" Ucap Niken dengan sewot.
"Maaf, Ma. Aku tadi lagi mencari ide untuk projek perusahaan, jado deh merokok di kamar mandi." Bima memberi alasan.
Niken hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah suaminya itu.
"Sudah, sana ngerokoknya di luar saja!" Ucap Niken sambil mendorong tubuh Bima.
Bima terkekeh sambil menjawil dagu mangir istrinya itu.
"Nggak usah pegang pegang, ah! Aku mau ngilangin bau rokok di kamar mandi dulu." Niken bergegas meninggalkan Bima yang masih tertawa kecil.
"Oya, nanti sore pulang kerja aku jemput, ya." Ucap Bima sambil menatap Niken yang sibuk menyiapkan bekal untuk Laras.
"Iya. Memangnya, Mas nggak lembur?"
"Nggak lah, hari ini pingin ngajak Laras mampir beli es krim sebelum jemput kamu."
"Asiiiikkkk....!!" Laras bersorak girang mendengar ucapan Papanya itu.
__ADS_1
"Iya, Laras juga pingin ketemu eyang Kakung, sudah lama sekali nggak ketemu."
"Ya. Nanti kita jemput Mama di pabrik ya."
"Oke, Pa!"
Laras dan Bima melakukan tips, dan tertawa bersamaan.
"Sudah, ini bekalmu. Nanti jangan lupa lagi botol minumnya, kayak kemarin. Mama beli masih kredit, loh!"
"Oke, Ma. Kali ini botol minumnya sudah aku kasih nama juga, supaya tidak tertukar sama teman yang lain. Memangnya harganya mahal apa, Ma? Kata Mbah, di pasar harga botol seperti ini cuma sepuluh ribu." Tanya Laras sambil mengambil botol minumnya, dan diputarnya untuk diperiksa.
Bude Ning terkikik geli mendengar pertanyaan Laras yang polos.
Niken sontak terdiam dan melotot.
Bima juga ikut terkikik geli sambil menatap Bude Ning.
"Ngawur! Beda ya, botol yang sepuluh ribuan itu meleyot kalo kena air mendidih. Kalo yang ini nggak. Terus bahannya juga beda. Mama beli dapat satu set dapat yang besar dan kecil itu mahal ya." Terang Niken pada Laras sambil merapikan bekalnya dalam tas bekal, dan memberikan pada putrinya itu.
"Jangan marah, Ma. Nanti cepat tua. Cantiknya hilang!" Goda Laras sambil tersenyum.
"Kamu juga, jangan suka mancing mamamu ini. Lagian, mama nggak marah, kok. Hanya ngomongnya saja lebih kenceng." Sahut Niken membela diri.
"Ayo, sudah belum? Kita berangkat sekolah!" Sela Bima.
"Pamit dulu, Ma!"
Laras mencium punggung tangan Niken, lalu berpamitan pada Bude Ning juga.
"Terima kasih, Mas."
Niken mencium punggung tangan Bima, lalu melambaikan tangannya pada Bima yang terus menghilang berbaur dengan padatnya pengendara motor pagi itu.
*
"Ken, temani Bapak ke Klaten sebentar. Mengantar pesanan kain untuk konveksi."
"Baik, Pak. Kapan?"
"Nanti, jam sepuluhan saja. Ini sedang disiapkan sama Seruni. Mas Pur, ngider ke Semarang, ngantar pesanan besar dia."
"Baik, Pak."
Niken melanjutkan pekerjaannya kembali. Lalu setelah itu membantu memasukkan kain kain batik ke dalam mobil.
Pak Widodo mengajak Niken mengantar pesanan, dan mengajarkan cara membangun relasi dengan pelanggan.
Niken sangat senang dan selama ini dia betah saja bekerja di pabrik mertuanya itu. Bapak mertuanya sangat baik padanya, bahkan menganggap dirinya sama seperti anak anak kandungnya yang lain.
"Iya, ibumu minta belikan paru. Nanti kita mampir sebentar ke sana."
__ADS_1
"Iya, Pak."
Setelah mengantar pesanan, mereka kembali lagi ke Yogyakarta.
"Bagaimana pekerjaan Bima?" Tanya Bapak saat dalam perjalanan.
"Pekerjaan, Mas Bima baik, Pak."
"Baguslah. Aku sebenarnya ingin Bima yang meneruskan usaha Bapak ini. Meski pun ada Seruni. Kok, sepertinya, Bapak masih berharap Bima dapat membantu."
Niken hanya diam mendengarkan setiap ucapan Pak Widodo.
"Lha Dewa?"
"Dewa, beda. Anak itu memang sengaja, Bapak biarkan mengembangkan bakatnya. Sejak kecil, anak anak Bapak memang suka seni, terlebih musik. Tapi, Dewa yang sepertinya lebih serius Dangan bakatnya. Bima bisa bermain musik, tapi hanya sekedar bermain saja. Seruni juga. Nah, Dewa benar benar membuktikan, bahwa dia dapat mengembangkan dirinya dengan seni yang selama ini dia pelajari."
"Mengapa Bapak, nggak bilang langsung sama Mas Bima?"
"Aku ingin bilang, tapi, bapak minta bantuanmu. Bapak yakin, jika kamu yang membujuknya, pasti dia akan berubah pikiran."
"Mas Bima, tidak ingin bergantung pada Bapak. Terlebih, terlibat dengan ibu."
"Ken, kenapa bapak banyak mengajarkan banyak hal buat kamu. Karena Bapak ingin suatu saat, jika Bapak sudah tua, dan sudah nggak kuat mengurus pabrik, kamu bisa membantu Seruni. Lalu membantu Bima dalam menjalankan pabrik batik ini. Bapak sangat yakin, jika pabrik kalian pegang, pasti sangat maju. Bapak punya impian, kain batik produksi pabrik kita ini sampai ke luar negeri. Seperti yang kamu lakukan kemarin. Makanya, bapak senang kamu masih mau membantu bapak di pabrik."
Niken terdiam, sambil tersenyum menatap Pak Widodo. Lalu melayangkan pandangannya ke arah depan.
"Pak, saya nggak tau alasan sebenarnya ibu sangat tidak suka pada saya." Niken tiba tiba melontarkan pertanyaan itu.
Pak Widodo melirik sekilas menantunya itu.
"Jadi, waktu itu Bapak ada bisnis dengan Pak Kusuma, bapaknya Rima. Tapi, setelah Bapak timbang dan pikirkan lagi, kok, sepertinya akan banyak merugikan bapak dan pabrik. Mereka berniat mengambil kain dari pabrik, memasarkan dengan lebel milik mereka, tapi meminta diskon yang besar. Ya, Bapak sudah terlanjur membuat perjanjian, dan membatalkan sehingga Pak Kusuma meminta ganti rugi atas pembatalan itu, sebagai kompensasi dia untuk mencari rekanan lain. Kebetulan waktu itu, Bima sedang dekat denganmu. Lalu mengenalkan kamu untuk dijadikan istrinya."
Tutur Pak Widodo panjang.
"Tapi, apakah ibu tahu tentang pembatalan itu?"
"Ibumu tahu, tapi, dia telah menaruh harapan pada Rima untuk dijadikan mantu. Ibumu itu berharap dikenalkan pada ibu pejabat dan sosialita teman temannya istri Pak Kusuma itu. Ibumu itu sama sekali nggak ngeri soal pabrik. Tapi, kamu nggak usah bilang bilang dia, ya."
Niken tertawa kecil sambil mengangguk.
"Tapi, kenapa Ibu sebegitu nggak sukanya sama saya, Pak?"
"Ibumu itu memang seperti itu. Dia selalu menilai orang lain itu, yang terlihat dari luarnya. Kamu yang sabar menghadapi ibumu itu. Bapak yakin kamu pasti bisa menaklukkan ibumu." Tukas Pak Widodo sambil menatap Niken.
"Terima kasih, Pak."
"Bapak juga terima kasih sama, Kamu, Nduk. Kamu itu selain baik dan sabar, juga pinter. Nggak salah, Bima pilih kamu." Puji Pak Widodo.
Niken hanya bisa tersenyum menoleh ke arah mertuanya itu.
BRAAAKKK....
__ADS_1
Tiba tiba mobil mereka terbentur dengan keras dari arah depan.
Niken tak dapat merasakan apa apa lagi, samar samar dia melihat darah menetes, dan dunia terasa gelap seketika.