
"Mas, Kamu bisa datang ke pabrik nggak?"
Seruni menghubungi Bima saat sedang jam kantor.
"Ada apa Runi?"
"Ada yang perlu dibahas, nih, Mas. Nggak bisa ditunda. Ini menyangkut keluarga kita."
Suara Seruni terdengar seolah memohon pada Bima.
"Apa nggak bisa menunggu sampai aku selesai bekerja? Atau saat jam istirahat nanti?"
"Mas Dewa juga sudah aku hubungi, dan dia sedang dalam perjalanan ke mari!"
Kali ini Seruni berucap dengan suara yang tegas.
"Mas, kita adalah keluarga. Kamu, Mas Dewa, dan aku. Kita adalah keluarga. Tolong hormati ini. Ini ada hubungannya dengan bapak. Jadi aku minta, Mas Bima bisa datang ke mari."
Desak Seruni, masih berusaha untuk tenang.
"Ada apa sebenarnya, Runi?"
"Aku nggak bisa menjelaskan lewat telepon, Mas. Makanya segeralah datang ke pabrik sekarang."
Bima diam, dan hanya bisa menghela napas dalam-dalam.
"Baiklah. Aku akan ke sana."
Bima langsung menutup panggilan dari Seruni.
Lalu memberi pesan pada sekretarisnya, jika dia ada urusan keluarga mendadak saat ini.
Tak sampai tiga puluh menit, Bima sudah tiba di pabrik.
Bima perlahan masuk ke ruangan milik Pak Widodo dulu.
Di dalam ruangan sudah ada Bu Mirna, Seruni, Dewa, Dan dua orang lelaki lain.
"Ada apa, Runi?" Tanya Bima saat sampai sambil duduk di samping adik bungsunya itu.
"Pembacaan surat wasiat bapak, Mas."
Bisik Seruni.
Bima terdiam sambil memperhatikan dua laki laki yang terlihat sibuk dengan selembar kertas dan sebuah map.
__ADS_1
"Baik. Jadi sudah lengkap, Ibu dan Bapak keluarga Bapak Widodo. Apalah, saya bisa membacakan surat wasiat yang ditulis sendiri oleh Bapak Widodo dihadapan saya dan asisten saya ?" Tanya lelaki yang ada di ruangan itu, yang ternyata adalah pengacara.
"Silahkan, Pak." Ucap semua hampir bersamaan.
"Jadi, kita berkumpul hanya untuk mendengarkan kamu membaca surat suami saya?" Tiba tiba Bu Mirna yang sedari tadi diam, bersuara.
"Iya, Bu." Jawab pengacara itu.
"Mengapa tidak kamu serahkan saja pada saya? Saya ini istri sahnya! Saya berhak tahu apa surat yang ditulis oleh suami saya sendiri."
"Maaf, Bu. Pak Widodo menyampaikan amanat ini, langsung kepada saya. Surat wasiat beliau ingin dituangkan menjadi sah secara hukum."
"Maksudmu, pembagian warisan?"
"Ya." Pengacara itu mengangguk.
"Heh, aku ini istri sahnya. Aku yang menemani suami saya dari awal dulu, dari dia kere, sampai sukses seperti saat ini, aku! Meski anakku ngeyel dan memilih untuk menikah dengan gembel itu, dan jatuh usahanya, aku tetap mendampingi suamiku! Aku berhak penuh atas bertanya suamiku." Bu Mirna langsung marah seketika, saat sang pengacara tadi hendak membacakan surat wasiat yang berisi warisan Pak Widodo.
"Bu, tenang. Kita dengarkan saja apa isi surat bapak itu."
Ucap Dewa sambil menepuk bahu ibunya.
"Terserah!" Bu Mirna melengos, namun pasrah.
"Silahkan, Pak." Ucap Dewa pada pengacara itu.
Pengacara itu diam sambil menatap seluruh anggota keluarga Pak Widodo saat itu.
"Saya Widodo Prawira, dengan sadar menuliskan pesan untuk keluarga saya. Terutama bagi Bima Prawira, Seruni, dan Dewa. Bahwa, pabrik yang saya bangun seumur hidup saya akan saya berikan pada kalian bertiga. Bapak ingin kalian memajukan pabrik. Untuk sawah yang ada di desa akan saya pecah menjadi tiga sesuai anak anak saya, dan tanah kebun seluas satu hektar,akan saya wariskan pada cucu saya, Laras. Rumah yang saya tempati, akan saya berikan pada istri saja Mirna. Bapak harap kalian semua dapat menjadi keluarga yang harmonis akur dan kompak. Demikian, surat saya buat, dan akan disahkan secara hukum oleh pengacara. Terima kasih. Tertanda Widodo Prawira."
Pengacara kembali menatap seluruh anggota keluarga masih dengan tatapan tenang.
BRAK !
"Apa?" Bu Mirna menggebrak meja dan berdiri.
"Aku hanya mendapatkan rumah itu! Tanah kebun itu untuk Laras!" Ucap Bu Mirna sambil menatap tajam ke arah pengacara dan menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Iya, Bu. Itu yang tertulis di surat ini."
"Dengan siapa suami saya menuliskan surat itu di depanmu?" Tanya Bu Mirna.
"Bapak, menuliskan di depan saya, sekitar enam bulan yang lalu. Saya sering membantu untuk urusan surat menyurat tanah dan masalah hukum untuk usaha Pak Widodo. Bahkan urusan bisnis dengan Pak Kusuma dulu, juga melalui firma hukum kami, Bu."
"Urusan bisnis dengan Pak Kusuma?" Tanya Bu Mirna sambil membulatkan matanya.
__ADS_1
"Sekitar delapan tahun yang lalu, Pak Widodo dan Pak Kusuma hendak melakukan bisnis kerjasama."
"Ya..., Lalu?"
"Pak Kusuma membatalkan perjanjian dengan bekerja sama dengan tempat lain tanpa sepengetahuan Pak Widodo. Lalu Pak Widodo, menuntut, karena telah mengeluarkan biaya produksi kain saat itu. Lalu Bu Gito yang mau meneruskan kerja sama itu dengan Bapak. Mengambil alih, karena saat itu Bu Gito juga sedang mencari vendor kain untuk rancangan dan butiknya. Namun, karena Bu Gito menginginkan corak atau motif yang agak berbeda, maka waktu itu Pak Widodo harus mengulang kembali produksinya. Maka, dari pihak Pak Kusuma saat itu berjanji akan membantu setengah dari biaya yang telah dikeluarkan. Nah, semua perjanjian kerja sama itu, pihak kami yang membuatnya." Tutur pengacara itu panjang lebar.
Bu Mirna diam.
Bima menghela napas dalam-dalam, lalu melirik pada adik adiknya, yang juga menatapnya.
"Jadi, menurut surat itu, pabrik diwariskan pada kami, anak anaknya?" Tanya Bima.
"Benar, Mas. Mas Bima, Mas Dewa, dan Mbak Seruni menerima mandat untuk meneruskan usaha Pak Widodo. Bapak, juga pernah bercerita, bahwa istri Mas Bima tetap harus menjadi bagian di pabrik, karena kinerja yang bagus, dan dapat membantu kalian semua untuk memajukan pabrik Pak Widodo."
Sahut pengacara itu. Lelaki di samping pengacara itu, lalu mendekati atasannya itu, dan memberikan sebuah map.
"Ini semua surat warisan yang telah saya buat, sesuai dengan surat wasiat Pak Widodo. Saya hanya menyampaikan mandat dari bapak untuk membuatkan surat warisan yang sah. Dan saya berkewajiban menyampaikan surat ini, setelah beliau wafat."
"Jadi, bapak, yang meminta Bapak membuat surat warisan kami?" Cerita Dewa.
"Benar, Mas. Pak Widodo yang mendatangi saya sekitar enam bulan yang lalu. Saya telah membuat surat warisannya juga, dan telah ditandatangani di atas materai sendiri oleh Aku Widodo."
Seruni menunduk dan menutup wajahnya dengan tangan sambil menangis.
"Perempuan laknat!" Teriak Bu Mirna.
Semua mata tertuju padanya.
"Dengar, Bima. Bapakmu tidak mungkin melakukan ini semua karena kemauannya sendiri! Perempuan itu telah membunuh bapakmu, dan kini hendak merongrong warisan peninggalan bapak melalui anaknya!"
"Niken, maksud Ibu?" Tanya Bima.
"Siapa lagi? Dia perempuan yang selalu ke mana mana dengan bapak. Bahkan saat terakhirnya, pun, mereka berduan. Tuhan memang baik, perempuan itu mendapat ganjarannya, lumpuh! Ibu hanya menyarankan lagi padamu,tinggalkan saja dia. Dia tak baik bagi keluarga kita."
"Bu! Niken tidak seperti itu. Mengapa ibu sama sekali tak pernah membuka hati untuk Niken?" Tanya Bima.
Bu Mirna hanya menggeleng kepalanya.
"Sudah jelas, bukan, Pak Pengacara. Menantu saya itu yang telah mempengaruhi suami saya. Lalu anak saya. Terima kasih untuk bantuannya. Jika ada yang tidak jelas. Saya akan menghubungi Pak Pengacara." Tukas Bu Mirna pada pengacara itu.
"Baik, jika sudah jelas. Tugas saya telah selesai saat ini, dan saya permisi."
Pengacara itu menyalami semua anggota keluarga Pak Widodo, lalu bergegas meninggalkan pabrik.
"Pikirkan lagi ucapan ibumu ini baik baik, jika perempuan itu benar baik, maka bapakmu tidak akan pernah membuat surat seperti ini. Pasti ini pengaruh dari perempuan itu. Dasar perempuan ular!" Tutur Bu Mirna dengan nada penuh kebencian.
__ADS_1
Bima hanya diam, membalas setiap ucapan ibunya pun membuatnya lelah.
Bima hanya perlu memikirkan permintaan bapaknya, untuk membantu mengurus pabrik. Itu artinya dia harus keluar dari pekerjaannya. Berkali kali Bima mengusap wajahnya dengan tangan karena bingung, tak tahu apa yang harus dilakukannya.