Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Tak Percaya


__ADS_3

"Ken, nanti kamu antar ini pesanan Bu Gito. Katanya mau langsung bayar di tempat."


"Baik, Pak."


"Ini kainnya. Ada 10 lembar. Ini alamatnya. Bu Gito kemarin sudah dp uang mukanya, nanti tinggal bayar sisanya saja. Ini notanya juga. Ongkos ojek, besok diganti."


Instruksi Pak Widodo pada Niken sambil menyerahkan sebuah paper bag berisi kain pesanan pelanggan.


"Baik Pak." Niken menerima semuanya dan memperhatikan alamat tujuannya.


"Nanti kamu boleh langsung pulang ke rumah saja, setelah mengirim kainnya."


"Tapi, uangnya Pak?" Dahi Niken berkerut.


"Kamu bawa pulang saja, nanti di rumah langsung berikan ke saya."


"Baik, Pak."


Pak Widodo tersenyum kecil, lalu melanjutkan pekerjaannya.


Begitu juga Niken melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Halo, Mbak! Maaf terlambat aku tadi ke perpus dulu pinjam buku."


Seru Seruni sambil masuk ke ruangan dengan tergopoh-gopoh.


Pak Widodo dan Niken hanya bisa geleng-geleng kepala.


Seruni langsung duduk di tempatnya, sambil memeriksa pesanan pelanggan melalui sosial media dan pasar sosial.


"Loh, semua pesanan hari ini sudah diproses?"


"Maaf, Runi, tadi Mbak yang proses. Sudah Mbak masukkan ke bagian pemasaran untuk proses kirim."


Sahut Niken tak enak.


Seruni terkekeh. "Nggak apa apa kali Mbak. Lah aku malah senang. Ternyata ada yang bantu saat aku sedang kuliah."


"Iya."


"Oya, abis kerja temani aku cari cilok yuk!" Ajak Seruni.


"Hah? Maaf nggak bisa dik. Bapak memintaku mengantar barang. Besok saja gimana?"


"Oke, Mbak." Seruni mengacungkan jempolnya pada Niken.


Mereka melanjutkan pekerjaan mereka kembali hingga menjelang sore.


Niken permisi hendak mengantar pesanan pelanggan ke rumah.


*


"Mbak Niken?" Seorang ojek online menghampiri Niken saat sedang menunggu di depan pabrik.


"Iya, Mas."


"Ini, Mbak, pakai helmnya."


Niken mengenakan helm pemberian ojek online itu dan langsung naik membonceng motornya.


Sekitar lima belas menit dalam perjalanan ke lokasi tujuan yaitu rumah Bu Gito, menembus kemacetan kota Yogya, akhirnya tiba juga ke sebuah rumah besar nan asri.


"Sudah sampai, Mbak."


"Terima kasih, Mas. Ini helmnya." Niken menyerahkan kembali helm pada Mas Ojek.


Niken berjalan masuk ke halaman rumah besar itu.


"Maaf, cari siapa, Mbak?" Tegur satpam yang bekerja di depan rumah.

__ADS_1


"Eh, iya." Niken terkejut dan membalikkan tubuhnya ke arah satpam yang memanggilnya.


"Anu Pak, saya mau antar pesanan Bu Gito, dari Pak Widodo." Ujar Niken sambil menunjukkan paper bag bawaannya pada satpam itu.


"Oh. Silahkan Mbak." Satpam itu membimbing Niken untuk ikut bersamanya.


Niken menunggu di teras depan, satpam tadi masuk ke dalam rumah untuk memberi tahu sang empunya rumah itu kedatangan.


Niken menatap sekeliling rumah besar itu.


"Pasti orang kaya." Batin Niken.


"Pegawainya Pak Wid?" Sapa seorang wanita paruh baya dengan memakai kebaya Jawa, rambut di saggul seperti mau ke kondangan.


"I-iya, Bu." Sahut Niken tergugup.


"Saya Bu Gito." Ucapnya.


Niken mengambil napas sejenak, dia kagum mendapat wanita itu. Aura yang terpancar sangat kuat, membuatnya grogi.


"Ini, Bu. Silahkan diperiksa dulu."


Niken menyerahkan paper bag.


Wanita itu menerima dan memeriksa kembali pesanannya.


"Biasanya Mas Pur yang kemari? Pak Wid, nambah karyawan lagi, ya?"


"Mas Pur sedang ke luar kota, mengantar pesanan juga. Saya bantu bantu saja di pabrik." Sahut Niken lirih.


"Bagus lah. Dari mana asalnya?"


"Saya dari Jakarta, Bu."


"Loh, jauhnya. Apa di sana nggak ada perusahaan yang mau terima, kok sampai kerja di Yogya. Gajinya, kan, besar di sana?"


Niken tersenyum tipis, dan hanya bisa setengah menunduk.


"Iya, Bu." Sahut Niken sambil tersenyum.


"Lo, Bima di Yogya?"


"Iya. Kebetulan Mas Bima pindah tugas ke Yogya, jadi saya ikut."


Jawab Niken sambil mengangguk pelan.


Bu Gigi tersenyum.


"Ini uang kekurangannya kemarin. Dihitung dulu." Bu Gito menyerahkan sebuah amplop.


Niken menerimanya, lalu menghitung perlahan. Lalu mencocokkan dengan nota pembelian.


Niken menatap Bu Gito sambil mengangguk.


"Sudah pas, Bu. Terima kasih. Saya permisi." Tukas Niken dengan sopan.


"Baik. Hati hati di jalan."


"Baik, Bu."


Niken berdiri dan berlalu dari rumah besar itu.


Ketika di halaman, muncul sebuah mobil berbelok masuk ke halaman rumah besar itu.


Niken sedikit menghindar, dan berjalan perlahan melewati mobil itu.


Seorang wanita keluar dari mobil, lalu menatap Niken lekat lekat.


Niken pun menyadari, bahwa dia sedang diamati.

__ADS_1


Niken menoleh, dan betapa terkejutnya dia ketika mengetahui wanita yang menatapnya itu.


Rima.


"Jangan-jangan ini rumahnya? Aku harus segera pergi dari sini!" Batin Niken.


Niken segera berlalu dengan mempercepat langkahnya.


"Sudah, Mbak?" Tanya Satpam yang menemuinya tadi.


"Sudah, pak. Terima kasih." Sahut Niken sambil tersenyum.


Niken tak menoleh lagi ke belakang meski pun ingin.


Namun, kata hatinya mengatakan jangan. Niken segera berlalu dari rumah besar itu, mencari jalan untuk pulang ke rumah.


"Mbak Niken!" Panggil seseorang, menghampiri dengan menggunakan sepeda motor saat dia sedang berjalan menuju rumah.


"Loh, Dewa?" Niken terkejut.


"Ayo, bonceng aku saja. Mau pulang juga, kan?" Dewa menawari.


Niken lalu menghampiri dan segera membonceng motor Dewa.


"Kok bisa sampai sini, Mbak?" Tanya Dewa saat dalam perjalanan.


"Aku mengantar pesanan Bu Gito."


"Oh." Sahut Dewa tertahan. Ada sesuatu yang sepertinya ditutupi, tapi, Niken mengabaikan saja perasaan itu.


"Kamu dari mana?"


"Aku punya studio musik bareng teman-teman, tadi habis dari sana."


"Wah, keren, kamu, Wa."


Dewa terkekeh mendengar pujian kakak iparnya itu.


Motor masuk ke halaman rumah keluarga Widodo. Ibu yang sedang duduk santai di teras segera melotot dan berdiri saat mengetahui Dewa berboncengan dengan Niken.


"Bagus, ya! Suami banting tulang kerja, kamu menggoda adiknya! Dasar wanita murahan! Huh!" Hardik Bu Mirna dengan suara keras sambil berdiri melipat tangan di depan dada.


Niken dan Dewa yang berjalan hendak masuk, hanya bisa melongo.


"Apaan sih, Bu?" Sahut Dewa.


"Kamu ini juga, ngapain pake acara bonceng bonceng wanita itu?"


"Aku melihat Mbak Niken jalan kaki mau pulang di jalanan. Ya, sudah aku bonceng saja, aku juga mau pulang." Jawab Dewa dengan tegas.


"Jalan di jalanan? Kamu nggak kerja di pabrik? Kelayapan! Dasar pemalas!" Bu Mirna menunjuk wajah Niken dengan memasang tampang ganasnya.


"Saya, hanya mengantar barang Bu." Sahut Niken lirih.


"Ngantar barang? Hah, alasan saja! Ada Mas Pur. Nggak mungkin kamu yang disuruh oleh suami saya. Kamu itu bisanya apa, hah!" Sindir Bu Mirna sambil melengos.


"Bu. Nggak boleh gitu. Tadi Mbak Niken sedang nganter barang ke tempat Bu Gito."


"Hah? Apa? Nggak salah dengar apa aku ini? Ke tempat Bu Gito?"


"Iya, Bu." Sela Niken dengan cepat.


"Heh, Dewa, memangnya kamu melihat sendiri, dia ke rumah Bu Gito?"


"Ya nggak lah, Bu. Tapi di sana kan dekat dekat rumah Bu Gito, Bu." Sahut Dewa.


"Aku nggak percaya. Wanita seperti dia bisa ke sana. Lalu Bapak yang menyuruh. Bapak itu selektif kalo menyuruh orang untuk anter barang! Apalagi kalau bawa uang hasil penjualan! Nggak mungkin kamu disuruh Bapak!" Tegas Bu Mirna dengan raut wajah tegangnya.


"Sungguh, Bu. Saya benar disuruh Bapak ngantar pesanan Bu Gito. Mas Pur sedang ke Solo ngantar pesanan. Bu Gito sendiri yang menerima saya, tadi."

__ADS_1


"Halah! Ngelantur! Nggak mungkin! Kamu bohong!" Bu Mirna semakin marah.


__ADS_2