
...***...
Topeng pemanis wajah.
Apakah orang zaman dahulu dan zaman sekarang telah menggunakan topeng pemanis wajah, untuk menutupi apa yang telah ia rasakan selama ini?. Tapi apa alasan ia melakukan lakukan itu?. Apa yang sedang ia ingin coba dengan melakukan itu semua?. Topeng pemanis wajah, kenapa kau menggunakan itu untuk menipu semua orang yang ada di sekitarmu?. Masalah hidup apa yang sedang kau rasakan?. Sehingga kau mampu menyembunyikan itu semua di balik topeng pemanis wajah itu?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi.
...***...
Putri Arkadewi telah sampai di istana beberapa hari yang lalu. Namun ia baru bisa bertemu dengan kedua ibundanya. Tentunya ia melepaskan rindu yang sangat dalam dari hatinya. Saat itu mereka berada di Kaputren, tempat para istri raja dan anak-anak perempuan raja yang berada di sana.
"Selamat pagi nanda putri." Ratu Astina ibu kandung dari Putri Arkadewi Bagaskara menyapa anaknya dengan senyuman yang sangat ramah. Ia sangat merindukan anaknya itu. Setelah sepuluh tahun ia tidak bertemu dengan anaknya, sehingga ia mengungkapkan bagaimana kerinduan itu dengan pelukan yang hangat.
"Selamat pagi ibunda ratu." Putri Arkadewi Bagaskara juga merasakan kerinduan yang sangat dalam pada ibundanya itu. "Aku kembali ibunda." Dalam hatinya sangat merindukan sosok ibundanya.
"Syukurlah ananda telah kembali." Ratu Kemala juga sangat senang.
"Ibunda ratu." Kali ini Putri Arkadewi Bagaskara memeluk Ratu Kemala dengan penuh kasih sayang.
"Ananda telah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik." Ratu Kemala hampir saja meneteskan air matanya, ia tidak dapat menahan perasaan rindu yang ia rasakan.
"Seperti yang ibunda lihat." Balas Putri Arkadewi Bagaskara dengan senyuman ramah.
Setelah itu ketiganya duduk dengan santainya di gazebo yang lumayan luas.
"Bagaimana keadaan nanda putri sama di sana?. Apakah ananda Putri betah berada di sana?." Ratu Kemala ibunda tirinya itu ikut bertanya pada anaknya tentang keadaan anaknya yang telah lama tidak kembali?. Apa yang membuat Putri Arkadewi Bagaskara, sepuluh tahun tidak kembali ke istana utama?. Tentunya mereka akan menjelaskannya dalam kisah ini.
__ADS_1
"Ananda baik-baik saja ibunda. Ibunda berdua tidak perlu cemas dengan keadaan ananda seperti apa di sana." Putri Arkadewi tersenyum lembut meyakinkan kedua ibundanya itu bahwa ia baik-baik saja.
"Syukurlah kalau begitu nak. Ibunda sangat mencemaskan keadaanmu di sana." Ratu Astina terlihat sangat sedih. "Karena ananda putri memutuskan untuk menjadi seorang pendekar, ibunda sangat cemas jika terjadi sesuatu padamu saat bertarung dengan musuh." Sebagai seorang ibu tentunya ia sangat khawatir tentang keadaan anaknya yang seperti itu.
"Benar yang dikatakan oleh dinda astina. Kami di sini sangat mencemaskan keadaanmu. Kami khawatir jika kau terluka di sana." Meskipun ia hanyalah seorang ibu tiri, namun tidak akan mengubah perasaan sayangnya pada putrinya itu.
"Ibunda tidak perlu khawatir. Dengan bantuan mereka semua, nanda bisa melewati semua itu dengan sangat baik." Putri Arkadewi memaklumi bagaimana kecemasan yang dirasakan oleh kedua ibundanya itu, ia menjelaskannya agar kedua ibundanya tidak terlalu cemas. "Banyak hal yang ananda pelajari saat berada di sana." Senyumannya sangat meyakinkan sekali. Seakan-akan ia memang belajar banyak hal dari orang-orang yang bergaul dengannya.
"Baiklah kalau begitu nanda istirahat saja di sini." Ratu Astina menggenggam tangan anaknya dengan sangat lembut. "Di rumahmu yang sekarang, jangan banyak bergerak dulu. Apakah ananda tidak ingin menghabiskan waktu bersama ibunda?." Ia hanya ingin bersama anaknya dalam waktu yang sangat lama.
"Baiklah ibunda. Ananda akan melaksanakan apapun yang ibunda minta pada ananda." Sebagai anak yang baik tentunya ia menuruti apapun yang dikatakan oleh ibundanya.
"Ananda putri sangat penurut sekali." Ratu Kemala tertawa kecil melihat sikap baik yang ditunjukkan oleh Putri Arkadewi Bagaskara saat itu. Begitu juga dengan Ratu Astina.
Sementara itu di waktu dan tempat yang sama, ada dua orang putri raja lainnya yang saat itu mendengarkan apa yang mereka katakan. Sepertinya kedua Putri Raja itu tidak bisa menerima kehadiran putri bungsu dari Prabu Maharaja Ganendra Ardajita. Sepertinya keduanya memiliki dendam pribadi yang sangat berbeda pada putri bungsu sang raja.
"Kita harus mengusirnya kembali dari istana ini. Karena dia hanya akan merugikan kita nantinya jika ia berlama-lama di istana ini." Putri Kenanga juga tidak menyukai adik tirinya itu. "Aku tidak ingin dia kembali ke istana ini." Dengan perasaan hatinya yang sangat membara itu telah membuat dirinya dipenuhi oleh rasa iri yang sangat tidak wajar pada saudarinya sendiri.
Apakah yang akan mereka lakukan pada saudari mereka?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.
...***...
Sementara itu di kediaman Patih Arya Pasopati.
Raden Athaya telah mendapatkan kabar tentang kepulangan Putri Arkadewi Bagaskara, dari salah satu anak buahnya yang bekerja aktif di istana kerajaan.
__ADS_1
"Hamba membawa kabar yang sangat baik untuk raden." Ucapnya sambil memberi hormat pada Raden Athaya Pasopati.
"Katakan padaku kabar baik apa yang hendak kau sampaikan padaku?." Tentunya ia sangat penasaran dengan kabar baik yang dibawa oleh anak buahnya itu.
"Tuan putri arkadewi telah kembali ke istana raden. Itulah kabar baik yang hendak hamba sampaikan kepada raden." Jawabnya.
"Benarkah itu?." Raden Athaya Pasopati sedikit berdebar-debar mendengarkan nama Putri Arkadewi Bagaskara.
"Ketika hamba hendak menemui raden dewangga bagaskara, hamba bertemu dengan tuan putri arkadewi pada saat itu." Selanjutnya sambil menjelaskan bagaimana keadaan pada saat itu.
"Jadi tuan putri arkadewi telah kembali ke istana?." Raden Athaya Pasopati hanya ingin memastikan, apakah benar yang dikatakan oleh anak buahnya itu.
"Tentu saja benar, raden." Tidak mungkin ia berbohong tuannya itu. "Bahkan hamba sempat bertegur sapa dengan tuan putri yang baik hati itu raden." Suatu kebanggaan baginya bisa bertegur sapa dengan tuan putri yang sangat cantik dan juga sangat ramah kepada siapapun juga.
"Baiklah kalau begitu." Raden Athaya Pasopati sangat mempercayai ucapan anak buahnya itu. "Terima kasih kau telah memberikan kabar baik padaku." Raden Athaya Pasopati benar-benar sangat bahagia mendengar kabar kepulangan Putri Arkadewi Bagaskara. Ia sangat antusias sekali mendengar kabar kepulangan sang Putri. Bisa dibilang dari dulu Raden Athaya Pasopati sangat cinta mati pada Putri Arkadewi Bagaskara, meskipun sudah lama tidak bertemu dengan tuan putri yang cantik itu. Cintanya tidak akan berubah sedikitpun, di hatinya tetap ada tuan putri Arkadewi Bagaskara.
"Kalau begitu hamba izin pamit dulu raden." Taraka memberi hormat pada Raden Athaya Pasopati. "Hamba ingin mengerjakan tugas yang belum selesai raden." Tidak mungkin ia hanya duduk-duduk saja saat itu tentunya ia akan melanjutkan pekerjaannya.
"Silahkan." Raden Athaya Pasopati mempersilahkan anak buahnya itu untuk meninggalkannya.
"Hamba pamit raden, sampurasun." Tentunya sebagai anak buah ia menghormati junjungannya sebelum ia pergi dengan mengucapkan kalimat tersebut.
"Rampes." Balas Raden Athaya Pasopati sambil melihat kepergian anak buahnya itu. Namun saat itu senyumannya mengembang di wajahnya, karena ia mendapatkan kabar yang sangat membuatnya bahagia. "Tuan putri telah kembali." Ada perasaan bahagia yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata, tapi hatinya sangat menggambarkan dirinya yang sangat mengagumi sosok Putri Arkadewi Bagaskara. "Ingin rasanya aku melihatnya sekarang." Raden Athaya berdebar-debar membayangkan bagaimana ketika ia berhadapan dengan Tuan Putri yang sudah lama tidak ia temui pada saat itu. "Tapi aku yakin ia sangat lelah, karena telah melakukan perjalanan yang sangat jauh." Walaupun terlalu cinta pada sang Putri namun ia tetap bisa melihat situasi yang serius dan situasi yang harus ia lakukan. "Bersabarlah raden athaya. Masih ada hari esok untuk bertemu dengan tuan putri arkadewi." Dalam hatinya mencoba untuk menekan perasaan rindunya pada Putri Arkadewi. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menjalin sebuah hubungan. "Aku yakin tuan putri masih ingat denganku, walaupun kami hanya berbalas lewat pesan daun lontar saja selama ini." Dalam hatinya sangat sedih mengingat itu semua. "Tapi kenapa tuan putri tidak memberi kabar padaku?. Jika memang ingin pulang. " Dalam hatinya sangat miris mengingat itu semua. Apakah itu kejutan atau apa?. Nanti Raden Athaya Pasopati akan menanyakan sendiri.
Namun apa hubungannya dengan kisah yang terjadi?. Apa hubungannya topeng pemanis wajah dalam cerita ini?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya. Simak terus ceritanya.
__ADS_1
...***...