TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 13


__ADS_3

...***...


Topeng pemanis wajah.


Apakah orang zaman dahulu dan zaman sekarang telah menggunakan topeng pemanis wajah, untuk menutupi apa yang telah ia rasakan selama ini?. Tapi apa alasan ia melakukan lakukan itu?. Apa yang sedang ia ingin coba dengan melakukan itu semua?. Topeng pemanis wajah, kenapa kau menggunakan itu untuk menipu semua orang yang ada di sekitarmu?. Masalah hidup apa yang sedang kau rasakan?. Sehingga kau mampu menyembunyikan itu semua di balik topeng pemanis wajah itu?. Tapi keuntungan apa yang ia dapatkan dengan melakukan itu?. Apa yang sedang ia pikirkan ketika melakukan itu?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi. Jangan sampai kau tertipu oleh penampilannya hanya karena dia menggunakan topeng pemanis wajah. Waspadalah terhadap orang-orang yang seperti itu, bisa jadi itu adalah senjata yang sangat mematikan untukmu suatu hari nanti.


...***...


Ruang Pribadi Raja.


Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sangat tidak nyaman dengan apa yang telah terjadi pada senopatinya. Ia memerintahkan semua penggawa istana untuk menerima salam itu dengan baik. Meskipun Patih Arya Pasopati telah mengatakan kemungkinan itu adalah penyebab kematian yang dialami oleh Senopati Gumelar Endang. Namun tetap saja pembunuh sadis itu telah berbuat salah, karena ia menghakimi seseorang tanpa perasaan manusiawi. Pembunuh itu telah menghilangkan nyawa seseorang dengan cara yang tidak wajar. Sebagai seorang raja tentunya ia harus menyelesaikan masalah ini. Sebagai seorang raja yang tidak menduga bahwa masalah pembunuhan sadis itu telah sampai di kalangan penggawa istana. Namun saat ini yang sedang berdiskusi dengan putra mahkota untuk menyelesaikan masalah ini.


"Putraku raden dewangga bagaskara. Pembunuhan sadis dengan belati hitam telah sampai di istana ini. Aku ingin kau yang menyelesaikan masalah ini."


"Sandika ayahanda prabu. Ananda akan melakukan yang ayahanda prabu minta."


"Tapi kau harus berhati-hati, karena hingga saat ini tidak ada yang mengetahui siapa yang telah melakukan itu. Tidak ada yang mengetahui siapa pelaku dibalik semua itu."


Itulah yang membuat sang prabu merasa cemas. Kejadian 5 tahun belakangan ini memang sangat meresahkan baginya, juga kerajaan yang berada di bawah pimpinannya juga tidak kenal selama 5 tahun ini. Telah banyak terjadinya pembunuhan dengan ditinggalkan jejak belati hitam yang sangat mengerikan. Pelaku tidak menunjukkan siapa dirinya, meskipun dia telah meninggalkan jejak melati hitam itu, akan tetapi tidak ada yang bisa menerawang atau mendeteksi siapa pengguna berarti itu. Seakan-akan kegelapan yang menyelimuti belati itu menghalangi pandangan mereka agar tidak bisa dilihat oleh siapapun. Sungguh kejahatan yang sangat sempurna untuk seseorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.


"Apakah sama sekali tidak bisa dilihat ayahanda?. Apakah benar-benar tidak bisa melihat siapa yang telah memiliki belati itu?."


"Memang seperti itulah yang terjadi, bahkan ketika ayahanda mencoba untuk menerawang siapa pemilik belati itu, tetap saja ayahanda tidak bisa melihat siapa yang telah menggunakannya sebagai alat kejahatan."

__ADS_1


"Ananda akan berusaha sebisa mungkin. Meskipun paman patih mengatakan jika itu adalah bentuk pemberontakan yang tidak langsung kepada pemerintah. Tapi tetap saja itu adalah kejahatan yang tidak bisa dimaafkan ayahanda prabu."


"Karena itulah ayahanda berharap padamu. Ayahanda berharap kau bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik."


"Semoga saja ayahanda prabu."


Masalah yang sangat cukup rumit, karena mereka tidak bisa mengetahui siapa yang telah melakukan pembunuhan kejam itu. Kekuatan tenaga dalam mereka seakan-akan ditolak oleh kegelapan yang berasal dari belati hitam itu. Apakah yang akan mereka lakukan untuk menghentikan itu semua?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi.


...***...


Sementara itu di suatu tempat?.


Seorang pendekar dengan menggunakan topeng penutup wajah berwarna hitam. Saat ini ia sedang bersama dengan dua orang rakyat biasa. Namun Mereka terlihat sangat sedih dengan apa yang telah terjadi pada mereka.


"Apa yang kalian inginkan dariku sehingga kalian menemui aku?."


"Pertolongan seperti apa yang kau inginkan dariku?. Siapa yang ingin kau habiskan nyawanya?."


Sebagai seorang pembunuh bayaran tentunya ia mengetahui apa tujuan mereka mendatanginya. Tentunya mereka ingin membunuh orang yang mereka benci. Sorot matanya yang tajam seperti elang dapat melihat itu semua. Dapat membaca pikiran orang lain melalui tatapan mata sehingga ia mengetahui apa tujuan mereka yang sebenarnya. Namun pada saat itu keduanya sangat sedih mendengarkan apa yang dikatakan oleh pendekar pembunuh bayaran itu.


"Seorang dharmapati. Dia adalah dharmapati arenka."


"Kalian ingin membunuhnya?. Apakah karena dia telah membunuh dan melecehkan anak perempuan kalian?."

__ADS_1


"Hiks!. Hiks!. Itulah yang membuat kami sedih. Bagaimana mungkin seorang pria agung bisa melakukan perbuatan keji itu?."


"Bukan hanya melecehkan anak kami, akan tetapi dia juga telah berani membunuh anak kami."


"Hati saya sangat sedih dan terluka. Ketika kami meminta keadilan pada sang prabu, kami justru dianggap telah memfitnah dharmapati arenka."


"Pihak pemerintah justru menyalahkan kami, kami dihukum karena telah mencoba untuk memberikan kesan yang sangat buruk pada para pria agung."


"Karena itulah kami memohon kepadamu agar untuk membunuhnya. Bayar nyawa anak kami dengan kematian darmapati arenka."


Keduanya sangat memohon kepada pembunuh bayaran itu. Jangan tangisan yang sangat pilu mereka sangat memohon bahkan mereka bersujud di hadapan sang pendekar. Saat itu pendekar yang pernah bayaran mengeluarkan belati hitam kegelapan dengan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya. Sambil mengarahkan ke kepala kedua pasangan suami istri itu, belati kegelapan itu seakan-akan menyerap hawa gelap yang ada pada keduanya.


"Sebuah kegelapan yang sangat sempurna untuk dijadikan sebagai alat untuk membunuh seseorang." Dalam hatinya berkata seperti itu. Matanya dapat menangkap dengan sempurna bagaimana perasaan sakit hati yang keduanya miliki. "Kalian tenang saja. Aku pasti akan membunuh orang itu."


"Oh?!. Terima kasih tuan pendekar."


"Kami hanya memiliki sedikit uang. Semoga saja ini dapat membayar tuan untuk membunuh dharmapati arenka."


"Tidak usah. Aku tidak membutuhkan itu." Ia menolak pemberian dari mereka. "Lebih baik kalian gunakan saja untuk membeli kebutuhan kalian. Aku yakin itu lebih berguna daripada aku."


"Kami ucapkan terima kasih Tuhan pendekar."


"Setelah ini lakukan hidup kalian dengan baik. Anak kalian akan tenang jika kalian hidup dengan baik." Setelah berkata seperti itu ia pergi meninggalkan tempat. Dengan berlatih hitam kegelapan itu ia membawa dendam yang disimpan oleh orang-orang tertentu.

__ADS_1


Siapa di balik topeng hitam?. Apakah ia akan benar-benar membunuh orang yang telah ditargetkan?. Bagaimana kisah lanjutan dari cerita ini?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2