TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 29


__ADS_3

...***...


Sementara itu pemuda pembunuh bayaran yang disewa oleh Putri Kasih Bagaskara. Saat ini ia sedang belajar mengasah suatu ilmu Kanuragan yang mungkin ia gunakan untuk membunuh Putri Arkadewi Bagaskara nantinya.


"Pekerjaan ini sangat berbahaya dari pada aku membunuh nyawa tuan saudagar." Dalam hatinya masih memikirkan masalah itu. Akan tetapi bukan berarti ia menghentikan gerakan yang ia mainkan dari bagian jurusnya. "Jika aku sampai ketahuan membunuh seorang putri raja, pasti aku tidak akan diberikan kesempatan untuk melarikan diri. Aku harus mempelajari ilmu halimun untuk melarikan diri." Dalam hatinya mencoba memperkuat jurus itu ditambah dengan jurus tapak harimau yang akan ia gunakan untuk kabur?. "Sial!. Sepertinya aku telah menerima pekerjaan yang sangat berbahaya hanya karena uang." Dalam hatinya sangat mengutuk dirinya yang tidak bisa menolak permintaan dari seseorang yang membayarnya. "Baiklah, karena aku sudah terlanjur ingin membahayakan diriku, maka aku tidak boleh lari begitu saja sebelum membunuh tuan putri yang terkenal akan kecantikannya itu." Dalam hatinya mulai memikirkan rencana khusus untuk mengatasi masalah yang akan ia hadapi nantinya. "Tapi membunuh seorang putri yang sangat cantik?. Sangat disayangkan sekali. Kenapa tidak jadi istriku saja?. Sangat disayangkan sekali jika mati dalam keadaan cantik seperti itu." Di sisi lain pikirannya yang masih normal mungkin akan berpikir seperti itu.


Tapi apakah ia mampu melakukan itu nantinya?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.


...***...


Sementara itu, di malam yang sangat sunyi.


Ketika penghuni istana sedang terlelap dalam mimpinya?. Sedangkan para prajurit saat itu sedang berganti berjaga di lingkungan istana, demi menjaga keamanan istana agar tetap terjaga dengan sangat baik.


Namun pada saat itu Jala Hitam melihat sekelebat sosok bayangan hitam yang melintas dengan sangat cepat.


"Tunggu!. Siapa kau?!." Jala Hitam langsung mengejar bayangan itu. "Aku sangat yakin, jika bayangan hitam itu lewat daerah sini." Dalam hatinya sangat yakin, dan saat itu ia memasuki hutan yang ada di sekitar Kaputren.


Deg!.


Saat itu ia sangat terkejut melihat sosok Hitam yang sebenarnya adalah Putri Arkadewi Bagaskara.


"Kau mencari aku?." Dengan senyuman yang sangat ramah ia bertanya seperti itu?.


"Gu-gu-gusti putri?." Jala Hitam sangat gugup dengan apa yang telah ia lihat pada saat itu. Ia segera menunduk bersujud memberi hormat pada Putri Arkadewi Bagaskara.

__ADS_1


"Kau tidak usah banyak bersandiwara lagi pendekar jala hitam." Dengan santainya ia berkata seperti itu?.


Deg!.


"Sial!. Apakah dia telah mengetahui aku ini siapa?." Dalam hatinya sangat terkejut.


"Aku tahu kau adalah jala hitam." Sosok Hitam menunjuk ke arah Jala Hitam. "Luka yang ada di tangan kananmu itu, adalah buktinya. Ketika tangan kananmu itu hampir saja putus karena pedangmu sendiri waktu itu." Sepertinya Sosok Hitam masih ingat dengan kejadian pada saat itu.


"Sial!. Jadi kau telah mengetahuinya?!." Teriak Jala Hitam dengan penuh amarah yang sangat luar biasa.


"Kau tidak perlu semarah itu padaku." Sosok Hitam hanya tersenyum kecil.


"Jika kau ingin mengetahui alasan kenapa aku membunuh mereka semua, dan malah menyisakan dirimu pada saat itu." Sosok Hitam terlihat sangat menyeramkan. Matanya yang berwarna hitam sangat mengerikan diterangi cahaya bulan.


Deg!.


...***...


Di bilik Prabu Maharaja Ganendra Ardajita.


Saat ini ia sedang berbincang-bincang dengan kedua istrinya. Tentunya sebelum mereka tidur?. Tentunya sebagai seorang laki-laki, prabu Maharaja Ganendra Ardajita harus bersikap adil pada kedua istrinya agar tidak pilih kasih.


"Dinda telah berbicara dengan ananda putri arkadewi." Ratu Astina menatap suaminya dengan ragu.


"Lalu apa yang dikatakan ananda putri arkadewi?." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita terlihat sangat penasaran.

__ADS_1


"Ananda putri arkadewi sangat ingin masuk ke dalam tata pemerintahan." Jawab Ratu Astina. "Karena ada hal yang harus ia lakukan. Begitulah yang dijawab ananda putri arkadewi." Ratu Astina benar-benar telah pasrah dengan apa yang dikatakan anaknya pada saat itu.


"Syukurlah jika memang seperti itu jawaban dari ananda putri arkadewi." Dalam hati Prabu Maharaja Ganendra sangat bersyukur. "Lalu bagaimana dengan tanggapan dinda?. Apakah dinda setuju?." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita bertanya sekali lagi mengenai keputusan dari Ratu Astina.


"Apakah rayi akan setuju?. Jika ananda putri arkadewi terlibat dalam masalah pemerintahan?." Ratu Kemala juga ikut bertanya, karena Ratu Astina terlihat masih ragu.


"Jika ananda putri arkadewi yang ingin masuk ke dalam tatanan istana, dinda tidak bisa menolaknya kanda prabu." Ratu Astina benar-benar sangat pasrah.


"Terima kasih, karena dinda telah setuju." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sangat senang mendengarkan ucapan itu. "Kanda akan memanggil ananda putri arkadewi nantinya untuk segera berdiskusi." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita terlihat sangat senang.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu.


...***...


Di sisi lain.


Patih Arya Pasopati saat itu sedang berlatih sendirian di sebuah tempat. Setelah mengatasi masalah yang terjadi di pasar kota raja, dan apa yang telah ia lihat dari belati hitam kegelapan itu, hatinya sangat hancur.


"Ternyata negeri ini masih memiliki masalah yang harus segera diatasi." Dalam hatinya sangat sakit mengingat itu semua. Hatinya yang sedang diisi oleh perasaan cemas yang sangat membuncah. "Bagaimana mungkin?. Istana ini diisi oleh para penjilat?. Para penjahat?. Para rampok?. Juga orang-orang jahanam lainnya yang bersembunyi dibalik punggung keadilan istana?." Pikirannya sangat kusut memikirkan itu semua. "Sejak kapan?. Kenapa aku sama sekali tidak menyadarinya?." Dalam hatinya mencoba untuk memikirkan itu semua.


Gerakannya agak sedikit kaku karena pikirannya yang sangat kacau. Patih Arya Pasopati menghentikan gerakannya karena ia sangat lelah memikirkan masalah yang sedang terjadi. "Kenapa?. Apakah mereka menggunakan topeng pemanis wajah untuk menutupi semua yang telah mereka rencanakan selama ini?. Sehingga ketika aku berbalik wajah, mereka memperlihatkan semua kebusukan mereka?." Patih Arya Pasopati berpikiran ke arah sana setelah mengingat apa yang telah terjadi. "Senopati gumelar endang, dharmapati arenka, serta prajurit. Mereka semua selalu bersikap baik, berkelakuan baik, tapi siapa yang menyangka jika ternyata mereka menyimpan kejahatan yang telah mereka lakukan?. Apakah mereka semua menyimpan kejahatan itu memalui topeng pemanis wajah?." Patih Arya Pasopati tidak habis pikir dengan itu semua. Ia tidak menduga akan menerima itu semua dari apa yang telah ia lihat melalui belati hitam kegelapan yang tinggalkan oleh pembunuh bayaran belati hitam kegelapan?. "Lalu ucapan gusti putri saat itu." Dalam hatinya sangat bingung dengan itu semua.


Apakah yang akan dilakukan selanjutnya?. Apakah ia akan diam saja?. Temukan jawabannya.


Next.

__ADS_1


...***...


__ADS_2