TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 51


__ADS_3

...***...


Masih berlanjut percakapan mereka saat itu. Tentunya keduanya masih berbicara satu sama lain. Tidak mungkin mereka hanya diam saja jika hanya berdua saja, jadi hanya itu yang mereka lakukan.


"Kenapa kau malah kesal?." Sosok Hitam sangat heran. "Lalu bagaimana dengan raka yang sekarang pergi ke bukit embun?. Apakah kau tidak khawatir jika ia bisa melihat diriku nantinya?." Sosok Hitam saat itu mengingat, jika Raden Dewangga Bagaskara yang telah pergi meninggalkan istana karena belajar ilmu kanuragan yang dapat mematahkan kegelapan.


"Aku semakin penasaran, sejauh mana raka dewangga akan berhasil menguasai jurus itu." Putri Arkadewi Bagaskara tersenyum kecil.


"Terus?. Bagaimana dengan raden athaya pasopati?. Apakah dia tidak akan curiga?." Tentunya ia mengingatkan Putri Arkadewi Bagaskara akan sosok Raden Athaya Pasopati yang sangat mencintai dirinya. Sosok laki-laki yang akan selalu memikirkan dirinya.


"Jika kau menyebutkan namanya, aku sangat ingat bagaimana pertemuan kami setelah sepuluh tahun tidak bersama." Dalam hatinya sangat berat mengingat itu.


Kemabli ke masa itu.


Raden Athaya Pasopati baru saja memasuki daerah kaputren. Tentunya ia melihat penjaga yang bertugas di sana sehingga ia meminta izin kepada mereka.


"Raden athaya?." Punya mereka mengenali siapa yang datang pagi-pagi ke kaputren. Mereka memberi hormat pada Raden Athaya Pasopati.


"Ada keperluan apa raden?. Sehingga raden masuk ke daerah ini?." Bukannya bermaksud untuk mencurigai Raden Athaya, akan tetapi itu memang tugas mereka untuk bertanya kepada siapapun juga yang hendak masuk ke daerah kaputren. Tidak semua orang bisa masuk ke daerah itu, tentunya mereka harus meminta izin terlebih dahulu dan dengan tujuan yang sangat jelas.


Namun belum sempat Raden Athaya Pasopati hendak menjawab pertanyaan mereka, pada saat itu Putri Arkadewi Bagaskara baru saja hendak meninggalkan kawasan kaputren.


"Gusti putri." Semua prajurit yang berada di sana tentunya memberi hormat pada sang Putri.


"Selamat pagi raden." Dengan senyuman yang sangat ramah ia menyapa Raden Athaya Pasopati.


Deg!.


Rasanya jantung Raden Athaya Pasopati semakin berdetak dengan sangat kencangnya, ketika ia mendengar suara yang sangat ramah dari Putri Arkadewi Bagaskara. Setelah sekian lama tidak bertemu, jantungnya seakan berpacu dengan sangat kencang ketika matanya melihat senyuman yang sangat ia rindukan. Jika saja ia tidak melihat situasinya mungkin saja ia akan segera memeluk Putri pujaan hatinya.


"Selamat pagi tuan putri." Balas Raden Athaya Pasopati dengan perasaan yang sangat gugup yang luar biasa.


"Apa yang hendak raden lakukan di sini?. Apakah raden baru saja sampai ke istana ini?." Masih dengan suasana yang adem dan ramah itu ia bertanya kepada Raden Athaya Pasopati.

__ADS_1


"Saya hendak menemui tuan putri. Karena saya sangat ingin bertemu dengan tuan putri." Saking gugupnya iya sampai berkata kaku seperti itu untuk menyembunyikan perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya.


Tentunya Putri Arkadewi Bagaskara memahami apa yang telah dikatakan oleh Raden Athaya Pasopati. Ia juga ingin bertemu dengan seseorang yang sangat ia cintai?.


"Baiklah kalau begitu. Mari kita menuju taman istana, mungkin raden bisa berbicara dengan santai di sana dengan saya nantinya." Tidak mungkin ia dan Raden Athaya Pasopati berbicara dalam keadaan berdiri seperti itu.


"Mari tuan putri." Raden Athaya Pasopati mempersilahkan Putri Arkadewi Bagaskara untuk berjalan duluan darinya.


Kembali ke masa ini.


Sosok Hitam hampir saja tidak dapat menahan tawanya karena melihat bagaimana Putri Arkadewi Bagaskara yang tersipu malu ketika mengingat itu.


"Dia sangat polos, gugup, dan sangat jujur." Putri Arkadewi Bagaskara mengungkapkan apa yang ia rasakan saat itu. "Hanya dia yang seperti itu. Sangat berbeda sekali dengan raden darsa endaru yang memiliki otak mesum, dan hanya bersenang-senang dengan wanita saja. Sehingga aku tidak tertarik dengan laki-laki yang seperti itu." Ia mendengus kesal saat bayangan Raden Darsa Endaru malah ikutan dalam pikirannya.


"Dia memang memiliki otak yang sangat bermasalah. Sehingga dia tidak bisa memikirkan hal lain selain wanita." Sosok Hitam malah ikutan kesal, dan rasanya ia ingin menutup bagaimana sepuluh tahun yang lalu.


"Kalau begitu ayo kita pergi." Putri Arkadewi Bagaskara bangkit dari duduknya.


"Bukan bosan." Jawabnya. "Hanya saja jala hitam dan mata elang, aku yakin mereka telah melakukan tugas mereka dengan sangat baik." Dengan senyuman ramah ia berkata seperti itu.


"Ya, kau benar. Mari kita temui mereka." Dengan senang hati ia mengikuti Putri Arkadewi Bagaskara?.


Saat itu mereka menuju suatu tempat rahasia, tempat yang hanya mereka saja yang melihatnya. "Lalu bagaimana menurutmu tentang jala hitam di masa lalu?." Dengan penasaran yang aneh ia malah bertanya seperti itu.


"Aku tidak akan menjawabnya." Dengan kuatnya ia menarik Sosok Hitam agar masuk ke dalam tubuhnya.


Rasanya ada yang sedang ia sembunyikan saat itu mengenai Jala Hitam yang pernah berurusan dengannya?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.


***


Sementara itu di dalam istana.


Ratu Astina, Ratu Kemala tidak sengaja berpas-pasan dengan Putri Kasih Bagaskara dan Putri Kenanga Bagaskara yang hendak menuju bilik pribadi Prabu Maharaja Ganendra Ardajita.

__ADS_1


"Ibunda?." Tentunya keduanya sangat terkejut.


"Ananda putri?." Begitu juga dengan Ratu Astina dan Ratu Kemala.


"Apa yang ananda putri berdua lakukan?." Ratu Kemala sangat penasaran dengan kehadiran kedua anaknya.


"Kami hendak menemui ayahanda prabu." Jawab Putri Kenanga Bagaskara.


"Kebetulan, ibunda ada di sini. Kami juga ingin menyampaikan sesuatu pada ibunda juga ayahanda." Lanjut Putri Kasih Bagaskara.


"Baiklah. Kalau begitu mari kita masuk bersama." Ratu Kemala mempersilahkan kedua anaknya mengikutinya.


"Mari ibunda." Balas mereka dengan senyuman ramah. Namun tatapan mata mereka mengandung kebencian pada Ratu Astina.


Namun apakah yang akan mereka lakukan nantinya dengan menemui Prabu Maharaja Ganendra Ardajita?. Simak terus ceritanya.


***


Sementara itu Jala Hitam dan Mata Elang yang telah menunggu Putri Arkadewi Bagaskara datang?. Keduanya masih sempat curhat dengan apa yang mereka rasakan?.


"Kita telah menyampaikan pesan senopati sombong itu." Jala Hitam masih kesal.


"Aku harap dia benar-benar mati di tangan gusti putri arkadewi bagaskara. Aku sangat mual dengannya yang sangat sombong seperti itu." Mata Elang masih jengkel dengan itu.


"Aku sangat senang jika dia memang mati!. Seperti dharmapati andapati saresa. Mereka memang pantas mati." Ucap Jala Hitam dengan sangat jengkel.


"Tapi kenapa kalian malah terlihat sangat senang sekali?." Saat itu Putri Arkadewi Bagaskara datang tanpa disadari oleh keduanya.


Deg!.


Jantung mereka seakan-akan dipaksa untuk menerima hal yang sangat mengerikan saat itu. Bagaimana kelanjutannya?. Simak terus ceritanya ya?.


...***...

__ADS_1


__ADS_2