
...***...
Raden Athaya Pasopati saat itu sedang bersama Senopati Ratapikir Dermawan. Keduanya telah selesai membantu pemakan Senopati Bagustara Jaya. Namun saat itu keduanya sangat menyayangkan kejadian itu. Keduanya beristirahat di kediaman Dharmapati Andapati Saresa, karena keduanya masih penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Bagaimana mungkin seorang Senopati yang hebat seperti itu bisa terbunuh?. Apalagi yang membunuhnya adalah pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan. Pada saat itu pula, Senopati Ratapikir Dermawan bertanya mengenai apa yang dilihat oleh Raden Athaya Pasopati ketika itu.
"Raden athaya pasopati. Memangnya apa yang raden lihat pada saat itu?." Ucapnya sambil mengambil minuman hangat yang disediakan oleh prajurit yang berjaga di rumah Senopati Bagustara Jaya.
"Sepertinya belati hitam kegelapan itu melihat sisi hitam atau sisi jahat yang dilakukan oleh seseorang di masa lalu." Jawabnya. "Akan tetapi tentunya tidak sembarangan orang yang bisa melihat itu." Lanjutnya.
"Ya. Aku pernah mendengar kabar itu dari ayahandamu, gusti patih arya pasopati." Ucapnya sambil mengingat itu. "Lantas?. Kejahatan apa yang telah ia lakukan sehingga ia dibunuh seperti itu?." Ia kembali bertanya.
Akan tetapi, saat Raden Athaya Pasopati hendak menjawab pertanyaan itu, Muji dan Pajara datang bersama Dataya.
"Hormat kami raden, gusti senopati." Mereka memberi hormat.
"Silahkan duduk." Senopati Ratapikir Dermawan mempersilahkan ketiganya untuk duduk.
"Terima kasih gusti." Balas ketiganya.
Pada saat itu, Raden Athaya Pasopati dan Senopati Ratapikir Dermawan memperhatikan bagaimana penampilan dari Dataya. Keduanya melihat ada kesedihan yang disimpan oleh pemuda yang bernama Dataya.
"Apakah benar?. Kau adalah adik dari almarhum binto?." Senopati Ratapikir Dermawan bertanya seperti itu.
__ADS_1
"Benar gusti senopati." Jawabnya sambil memberi hormat.
"Apakah kau mengetahui?. Jika kakangmu itu terbunuh?." Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Meskipun pada saat itu ia berusaha untuk menahan amarahnya.
Akan tetapi pada saat itu, Dataya belum berani menjawabnya. Ia masih menyimpan bagaimana perasaannya saat itu, karena hatinya saat itu antara sedih kehilangan keluarga yang sangat ia cintai, dan ia merasa senang karena pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan telah berhasil membunuh dharmapati Andapati Saresa.
"Katakan pada kami apa yang terjadi. Karena apa yang aku lihat dari belati hitam kegelapan itu adalah, kakangmu di bunuh oleh mendiang paman dharmapati andapati saresa. Apakah itu benar?. Aku ingin mendengarkan keterangan langsung darimu. Katakan saja." Raden Athaya Pasopati mengatakannya dengan tegas.
"Jika memang kakang binto meninggal karena dibunuh oleh dharmapati andapati saresa?. Kenapa baru sekarang ditanyakan?." Ucapnya dengan perasaan sesak. "Bukan hanya kakang binto saja yang dibunuh. Akan tetapi istrinya juga dibunuh, setelah dinodainya!. Nini rias meninggal saat mengandung, dharmapati bajingan itu membunuhnya. Dia merasa sakit hati karena kakang binto mendapatkan istri lebih cantik darinya!. Apakah keadilan yang kami dapatkan selama ini?!. Bahkan dharmapati bajingan itu mengancam saya!. Dia mengancam akan membunuhku!. Jika saya mengatakan masalah ini pada istana!. Karena itulah saya memutuskan untuk mengadu pada pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan untuk mengakhirinya!." Ia berkata jujur pada mereka. "Hati saya sangat sakit!. Saya sangat tersiksa dengan kematian kakang saya!." Air matanya tidak bisa ia bendung lagi saat berkata seperti itu.
Mereka semua merasa simpati dengan apa yang terjadi, mereka dapat merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling dicintai.
"Jika saya dinyatakan bersalah karena telah meminta bantuan dari pendekar pembunuh bayaran itu saya tidak keberatan. Saya akan menerima hukuman apapun. Tapi setidaknya saya telah tenang, karena dharmapati bajingan itu telah mati dengan cara yang setimpal." Ia berusaha untuk menahan perasaan sesaknya saat itu.
"Raden?." Senopati Ratapikir Dermawan, Muji dan Pajara sedikit terkejut.
"Sungguh, jika saja kami mengetahui kematian kakang binto, mungkin saja kejadian seperti ini tidak akan terjadi." Ucapnya lagi. "Kakang pasti sangat terpukul, dan tidak memiliki harapan untuk menyandar, sehingga kakang memutuskan untuk mengadu pada pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan." Ia merasakan perasaan sesak itu. "Namun saat ini gusti putri arkadewi bagaskara sedang berusaha untuk mengamankan itu semua. Karena itulah percayalah pada gusti putri arkadewi bagaskara, bahwa semuanya akan kembali damai." Hanya itu saja yang bisa ia katakan saat itu.
"Tapi kakang binto tidak akan kembali, nini rias juga tidak akan kembali meskipun gusti putri arkadewi bagaskara melakukan itu." Hatinya semakin sesak membayangkan itu semua.
Mereka semua terdiam, hanya tangisan kesedihan dari Dataya yang mengisi tempat itu pada malam harinya. Akan tetapi saat itu Raden Athaya Pasopati memberanikan dirinya untuk bertanya.
__ADS_1
"Tapi bagaimana caranya kau menemui pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan itu?. Apakah ada cara khusus?." Raden Athaya Pasopati sangat penasaran.
Dataya mencoba menghentikan tangisnya, ia sedang memikirkan bagaimana itu terjadi. "Mohon maaf raden. Saya tidak ingat bagaimana caranya. Hanya saja ia berpesan pada saya setelah ia menyanggupi permintaan saya." Jawabnya.
"Berpesan padamu?." Senopati Ratapikir Dermawan dan Raden Athaya Pasopati semakin terkejut.
"Ya. Pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan itu berpesan pada saya agar memperbaiki hidup saya. Jangan terlalu menuruti keinginan balas dendam. Karena sesungguhnya balas dendam bukan satu kali keinginan saja. Bisa jadi kau akan memintaku untuk membunuh keluarganya yang lainnya setelah aku membunuhnya." Pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan berkata seperti itu.
"Benarkah?." Mereka hampir tidak percaya dengan apa yang mereka dengar saat itu.
"Benar. Katanya dia hanya mengabulkan satu kali permintaan. Jika kedua, maka saya yang akan dia bunuh. Karena pada dasarnya nyawa harus dibayar dengan nyawa. Jika saya menginginkan lebih, maka nyawa saya akan diambil terlebih dahulu, baru nyawa korban lainnya yang akan diambil." Ia menjelaskannya pada mereka.
"Karena kau masih belum ingin mati?. Makanya kau tidak mau melakukan itu?." Muji yang bertanya.
"Tidak!. Tidak seperti itu." Jawabnya.
Mereka kembali bingung, apakah benar bukan karena itu alasannya?.
"Saat itu pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan mengatakan. Kau harus hidup dengan benar. Temukan lah kebahagiaan dengan jalan yang berbeda." Jawabnya. "Hidup ini memang sangat pedih, apa lagi kehilangan orang yang dicintai. Sehingga kita ingin balas dendam. Tapi kenyataannya memang kita memiliki banyak dendam yang ingin kita sampaikan. Tapi apakah kau bisa menggantikan nyawa orang yang telah kau bunuh itu?. Maka pikirkan apa yang harusnya kau lakukan. Begitu kata pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan." Lanjutnya.
Bagaimana tanggapan mereka setelah itu?. Apakah masih ada penasaran?. Next halaman.
__ADS_1
...***...