
...***...
Saat itu pembicaraan mereka belum selesai, meskipun Dharmapati Tangku Sapa mempersilahkan keduanya untuk mencicipi makanan yang telah disajikan emban. Senopati Ratapikir Dermawan saat itu memang hanya ingin menyampaikan apa tujuannya datang ke sana.
"Memang, saa itu dataya datang padaku. Dia datang mengadu padaku, jika kakangnya dibunuh dharmapati andapati saresa. Namun saat itu aku tidak menanggapinya, karena akau takut adanya fitnah yang akan membuat kami berselisih faham nantinya."
"Lantas?. Kenapa kau tidak menyelidikinya terlebih dahulu?."
"Karena saat itu aku memiliki urusan lain kakang, sehingga aku tidak bisa menanggapinya."
"Kau ini sangat keterlaluan sekali adi. Jika kau tidak bisa mengatasi masalahnya?. Kenapa kau tidak menyarankannya untuk datang padaku?!. Atau menyuruhnya untuk datang ke istana?!."
"Untuk apa?. Untuk apa aku menyarankannya seperti itu?. Kakangnya itu hanyalah prajurit rendahan saja. Masih banyak orang yang ingin menjadi prajurit."
"Itulah letak kesalahannya adi. Kau berpikiran sempit!. Bagaimana jika aku balikkan ucapan itu padamu?!."
"Jadi kakang ingin menyalahkan aku hanya karena aku tidak menanggapinya?!."
"Itulah yang sangat disayangkan sekali adi."
"Apa maksud kakang berkata seperti tiu padaku?."
"Sebab, rasa sakit hati yang dirasakannya data. Telah mendorongnya untuk meminta bantuan pada pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan. Dan kau tahu itu artinya apa?."
Deg!.
Dharmapati Tangku Sapa saat itu sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Senopati Ratapikir Dermawan. Dalam pikirannya saat itu terbayang apa yang akan dilakukan pendekar pembunuh bayaran itu?. Sementara itu Senopati Ratapikir Dermawan tentunya dapat melihat raut wajah Dharmapati Tangku Sapa sedikit memucat ketakutan?.
"Ya, mungkin saja kau berpikir jika dharmapati andapati saresa telah tewas dibunuh oleh pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan. Maka aku katakan dengan jelas!. Itu sangat benar."
"Apa?1."
Tentu saja ia sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan Senopati Ratapikir Dermawan. Dalam hatinya sangat gelisah, jika memang temannya itu telah tewas dibunuh pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan yang sangat sadis.
"Rasa dendam dan sakit hati yang dataya rasakan saat itu telah mendorongnya untuk menemui pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan untuk meminta keadilan. Rasanya sangat miris sekali."
Perasaannya yan saat itu bercampur tidak bisa membayangkan hal apa yang akan ia lakukan saat itu jika tidak ada satupun orang yang dapat membantu dirinya untuk menuntut balas atas kekejaman orang lain pada keluarga yang sangat ia cintai.
__ADS_1
"Kurang ajar!. Kalau begitu kita harus mencari dan menangkap dataya kakang. Akan aku beri pelajaran berharga padanya."
"Lakukan saja. maka aku yang akan menghajar kau adi."
"Kakang ratapikir dermawan!. Kakang berani melindungi pemuda itu?!. Apakah kakang tidak menyadari?. Dengan sikap kakang yang seperti itu, sama saja kakang melindungi seorang penjahat!."
"Aku sama sekali tidak berniat melindungi seorang penjahat."
"Lantas kenapa kakang mau menghajar aku?!. Saat aku mengatakan ingin menangkap pemuda itu?."
"Itu karena dia tidak memiliki salah apapun pada gusti dharmapati. Yang ditangkap itu seharusnya gusti."
"Raden athaya pasopati. Apa maksudmu berbicara seperti itu padaku?!. Jangan sembarangan jika kau berbicara!."
"Saya tidak sembarangan jika berbicara."
"Lantas apa kesalahan yang telah aku lakukan sehingga kau yang ditangkap?! Atas dasar kesalahan apa?!. Katakan padaku dengan jelas."
"Kesalahannya sangat jelas sekali. Gusti dharmapati telah mengabaikan permintaan seorang rakyat yang meminta pertolongan." Raden Athaya Pasopati terlihat marah. "Jadi apa gunanya gusti dharmapati memiliki kedudukan yang bagus di istana?. Jika gusti dharmapati tidak dapat memberikan perlindungan pada rakyat?. Sungguh sangat memalukan sekali."
"Jaga bicaramu raden!."
"Jangan mentang-mentang kau adalah putra dari gusti patih arya pasopati?. Kau berani berkata lancang seperti itu padaku!."
"Pelankan suaramu adi. Jangan kau tinggikan suaramu di hadapan raden athaya pasopati."
"Kakang ratapikir dermawan!."
"Sudahlah adi. Rasanya pembicaraan kita cukup sampai di sini saja. Karena aku telah mengetahui semuanya dengan sangat jelas."
"Apa yang kakang ketahui?!."
"Aku datang ke sini hanya untuk memastikan. Jika apa yang dikatakan oleh pemuda itu sangat benar. Hanya itu saja."
Dharmapati Tangku Sapa terdiam sesaat ketika mendengarkan apa yang dikatakan oleh Senopati Ratapikir Dermawan. Namun suasana hatinya saat itu sangat tidak baik karena ia sangat dongkol pada Senopati Ratapikir Dermawan.
"Kami pamit. Sampurasun."
__ADS_1
"Mari paman senopati."
Raden Athaya Pasopati dan Senopati Ratapikir Dermawan segera pergi meninggalkan tempat itu tanpa menunggu tanggapan dari Dharmapati Tangku Sapa.
"Kurang ajar!. Aku harus mencari pemuda itu!. Akan aku bunuh dia!. Gara-gara dia aku malah berurusan dengan kakang ratapikir dermawan." Dalam hatinya yang saya itu sedang dipenuhi oleh sifat dengki. Apakah yang akan ia lakukan setelah ini?. Simak terus ceritanya.
...***...
Matahari hampir saja berada di puncaknya. Saat itu Jala Hitam dan Mata Elang sedang beristirahat di gubuk yang lumayan besar yang telah disediakan Putri Arkadewi Bagaskara untuk mereka. Namun saat itu mereka tidak memiliki tugas untuk memanggil siapapun juga, sehingga keduanya merasa sangat bosan.
"Bagaimana jika kita latihan oleh kanuragan?."
"Aku rasa itu saran yang bagus. Aku sangat bosan. Sesekali aku ingin menjajal ilmu kanuragan seorang pendekar pembunuh bayaran."
"Kalau begitu mari kita keluar. Mari kita bermain-main barang lima atau tujuh jurus."
"Baiklah. Aku setuju."
Karena sangat bosan hanya berdiam diri di dalam rumah itu, mereka keluar untuk sedikit mengeluarkan keringat dengan berlatih tanding. Persahabatan keduanya yang terbilang sangat aneh, karena keduanya sama-sama mengincar nyawa Putri Arkadewi Bagaskara. Tapi malah berakhir seperti itu. Sungguh sangat tidak terduga sama sekali persahabatan keduanya.
Saat itu keduanya sedang melakukan peregangan, karena sudah cukup lama mereka tidak bergerak. Selama ini hanya menyampaikan laporan saja, jadi mereka benar-benar tidak mengeluarkan tenaga sama sekali.
"Aku rasa saatnya kita memulainya."
"Baiklah. Akan aku perlihatkan jurus pukulan lemparan batu kelapa padamu."
"Ho?. Jurus yang sangat unik juga. Kalau begitu jangan sungkan-sungkan untuk memperlihatkan padaku. Bisa jadi aku ingin belajar jurus itu denganmu jika kau tertarik."
"Jika memang seperti itu, perhatikan dengan baik jurus ku ini!. Hyah!."
Saat itu Jala Hitam memperlihatkan bagaimana cara memainkan jurus pukulan lemparan batu kelapa itu. Mata Elang memperhatikan dengan seksama bagaimana Jala Hitam memainkan jurus itu dengan gerakan yang sangat cepat. Tangannya yang menyilang ke depan, dan tak lupa hentakan kaki yang seakan-akan hendak merobohkan pohon kelapa. Keduanya tangannya yang menyilang ke depan itu di aliri dengan tenaga dalam yang sangat besar. Aliran tenaga dalam itu terlihat seperti berwarna batu. Namun dengan konsentrasi yang sangat tinggi ia menargetkan pohon kelapa yang ada di depannya saat itu, dan apa yang terjadi ketika ia arahkan tenaganya itu ke pohon kelapa itu?.
Duar!.
Kelapa tinggi menjulang yang tidak memiliki salah apapun malah meledak karena tidak sanggup menerima benturan kuat dari tenaga dalam Jala Hitam, meledak dengan sangat menyeramkan. Sungguh, itu adalah jurus pukulan yang sangat mematikan.
"Kau memang sangat hebat sekali."
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.
...***...