TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 52


__ADS_3

...***...


Jala Hitam dan Mata Elang hampir saja jantungan saat mendengarkan suara Putri Arkadewi Bagaskara. Seperti malaikat maut yang menyapa mereka, hingga keduanya benar-benar takut.


"Gu-gu-gusti putri." Jala Hitam dan Mata Elang gagap mendadak.


"Kenapa kalian malah terlihat sangat ketakutan seperti itu?. Apakah aku seseram hantu di mata kalian?." Putri Arkadewi Bagaskara sedikit jengkel dengan raut wajah kedua anak buahnya itu?.


"Bisa jadi seperti itu." Mata Elang menjawab jujur, sebab bohong pun tidak ada gunanya.


"Bffhh!." Putri Arkadewi Bagaskara malah tertawa mendengarkan ap yang dikatakan Mata Elang.


"Kenapa malah tertawa?." Dalam hati Mata Elang semakin merinding mendengar tawa Putri Arkadewi Bagaskara.


"Dia ini memang sangat menyeramkan." Dalam hati Jala Hitam semakin panik dengan tawa Putri Arkadewi Bagaskara.


"Apakah kalian telah datang ke rumahnya?." Putri Arkadewi Bagaskara terlihat tenang. "Lalu bagaimana dengan tanggapan darinya?." Putri Arkadewi Bagaskara ingin mendengarkan laporan dari keduanya.


"Dia menolaknya." Jawab Mata Elang.


"Dia sangat sombong sekali." Jala Hitam.


"Kalian berdua sangat membencinya?." Dengan nada ramah ia bertanya seperti itu.


"Sangat benci. Bahkan jika hamba adalah pembunuh bayaran itu, maka hamba akan langsung membunuhnya." Mata Elang memang memperlihatkan gambaran suasana hatinya.


"Lalu bagaimana denganmu?. Apakah kau juga ingin membunuhnya?." Putri Arkadewi Bagaskara bertanya pada Jala Hitam.


"Hamba memang orang jahat. Tapi hamba tidak suka dengan orang seperti dia." Jawabnya. "Hamba ingin membunuhnya, jika hamba diberi kesempatan untuk melakukannya." Lanjutnya.


Putri Arkadewi Bagaskara tersenyum kecil mendengar ucapan keduanya. "Cukup aku saja yang melakukannya." Ucapnya. "Jika kalian yang melakukan itu, maka ayahanda prabu akan langsung mengetahuinya." Putri Arkadewi Bagaskara kembali tersenyum kecil. "Aku tidak ingin kalian sampai tertangkap oleh ayahanda prabu. Hanya kalian yang aku butuhkan untuk melakukan pekerjaan ini." Lanjutnya.

__ADS_1


Jala Hitam dan Mata Elang saling bertatapan satu sama lain. Tentunya mereka sangat heran dengan apa yang dikatakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara. "Apa maksudnya itu?. Gusti putri?." Jala Hitam sama sekali tidak mengerti.


"Kelemahan ayahanda prabu adalah topeng pemanis wajah. Dan mereka bisa menggunakan topeng pemanis wajah itu dengan baik, untuk menutupi kejahatan mereka." Jawab Putri Arkadewi Bagaskara. "Tapi beda cerita jika kalian yang melakukan itu. Bisa jadi ayahanda menggunakan jurus pemanggil sukma. Sukma ketika kejadian itu terjadi, ayahanda dapat melihatnya." Putri Arkadewi Bagaskara sangat mengetahui jurus ayahandanya.


Kembali keduanya kebingungan, belum mengerti dengan apa yang dikatakan Putri Arkadewi Bagaskara. "Jika aku, aku bisa menutupinya dengan kabut kegelapan kebencian. Jadi ayahanda prabu tidak bisa melihat itu. Karena kabut itu alami, berasal dari rasa benci dari orang-orang yang ingin membunuh orang yang paling ia benci." Putri Arkadewi Bagaskara sedikit menjelaskan pada keduanya.


"Pantas saja, ketika hamba ingin masuk ke alam sukma gusti putri saat itu tidak bisa." Mata Elang dapat merasakan itu. "Seolah, ada dinding kabur hitam yang membuat hamba terpental keluar dengan paksa." Mata Elang merinding mengingat itu.


Putri Arkadewi Bagaskara hanya tertawa kecil mendengarkan ucapan itu. "Sangat disayangkan sekali. Aku tidak bisa menerima orang lain dalam tubuhku." Ucapnya dengan nada mengejek.


"Menyeramkan sekali. Kekuatan kegelapan yang seperti apa yang dia miliki sebenarnya?." Sungguh, ia tidak mengerti sama sekali dengan jalan pikiran Putri Arkadewi Bagaskara.


"Lantas apa yang akan gusti putri lakukan padanya?. Bukan kah dia telah berani menolak panggilan gusti putri?." Mata Elang masih ingat dengan pertanyaan sebelumnya.


Bagaimana dengan jawaban Putri Arkadewi Bagaskara?. Simak dengan baik ceritanya.


...***...


Putri Kasih Bagaskara, Putri Kenanga Bagaskara, Ratu Kemala dan Ratu Astina baru saja memasuki ruang pribadi Prabu Maharaja Ganendra Ardajita. Sebab dari tadi siang prabu sangat sibuk, sehingga tidak ada yang bisa mengganggunya.


"Hormat kami ayahanda prabu." Putri Kasih Bagaskara dan Putri Kenanga Bagaskara memberi hormat.


"Hormat kami kanda prabu." Begitu juga dengan Ratu Astina dan Ratu Kemala yang memberi hormat.


"Ya. Aku terima hormat kalian." Balas Prabu Maharaja Ganendra Ardajita dengan senyuman ramah. "Tidak biasanya putri dan istriku datang ke sini bersamaan. Apakah ada sesuatu yang hendak disampaikan?." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita merasa sangat heran dengan apa yang terjadi.


"Mohon ampun kanda prabu. Sepertinya ada hal penting yang hendak disampaikan kedua putri kita. Karena itu mohon dengarkanlah." Jawab Ratu Kemala.


Prabu Maharaja Ganendra Ardajita melihat ke arah kedua anak perempuannya. "Apakah itu benar?. Ananda putri kasih?. Ananda putri kenanga?. Katakan saja pada ayahanda." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita ingin mendengar ucapan kedua putrinya.


"Benar ayahanda prabu." Jawab Putri Kenanga Bagaskara. "Ada hal penting yang harus kami sampaikan pada ayahanda prabu." Lanjutnya dengan raut wajah yang sangat serius.

__ADS_1


"Sampaikan saja. Semoga ayahanda bisa mendengarkan dengan baik." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita mempersilahkan putrinya Kenanga untuk berbicara.


"Ananda bersama dengan rayi kasih memiliki keinginan untuk belajar ilmu kanuragan pula ayahanda prabu." Begitulah ucapannya pada saat itu.


Tentunya ucapannya membuat Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sebagai seorang ayah sangat terkejut. Apa lagi Ratu Kemala yang merupakan ibunda kandung dari keduanya.


"Apa?." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita, Ratu Kemala dan Ratu Astina sontak memberi respon seperti itu.


"Apakah ananda putri berdua tidak salah dalam berbicara?." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita hanya ingin memastikan itu keluar dari mulut anaknya.


"Tentu saja kami sangat serius ayahanda prabu." Jawab Putri Kenanga Bagaskara.


"Tapi apa alasannya?. Bukankah kalian berdua sangat tidak mau terlibat dalam hal kasar seperti itu?." Ratu Kemala sampai kebingungan.


"Kami melakukannya karena kami merasa sangat malu sekali ayahanda prabu, ibunda." Jawab Putri Kenanga Bagaskara.


"Malu?." Kembali Ratu Kemala dan Prabu Maharaja Ganendra Ardajita bertanya secara bersamaan.


"Apa yang membuat ananda malu?. Katakan pada ayahanda." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita ingin mendengar alasan kedua anaknya.


"Kami sangat malu pada rayi arkadewi." Jawab Putri Kasih Bagaskara.


"Benar itu ayahanda prabu, ibunda." Sambung Putri Kenanga Bagaskara. "Dalam satu purnama ini, rayi arkadewi bisa membantu ayahanda prabu mengatasi beberapa masalah yang terjadi di istana ini." Lanjutnya. "Sementara kami sama sekali tidak bisa membantu ayahanda prabu. Karena itulah kami ingin belajar ilmu kanuragan agar bisa membantu ayahanda prabu nantinya." Itulah penjelasannya.


"Ini sangat aneh. Kalian membuat ibunda merasa heran dengan sikap kalian yang seperti ini." Ratu Kemala sungguh tidak menduga alasan kenapa kedua anaknya mau mempelajari ilmu kanuragan.


"Tapi kenapa harus belajar ilmu kanuragan?. Jika ingin membantu ayah hendak prabu?." Pertanyaan seperti itulah yang muncul di kepala Prabu Maharaja Ganendra Ardajita saat itu.


Lalu bagaimana dengan tanggapan mereka?. Next.


...***...

__ADS_1


__ADS_2