
...***...
Setelah kejadian itu, Prabu Maharaja Ganendra Ardajita mengajak putrinya untuk ke dalam istana. Tentunya mereka ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi?.
"Apakah ananda putri telah tenang?." Prabu Maharaja Ganendra melihat neneknya yang masih belum memperlihatkan senyumannya sama sekali. "Apakah semarah itu iya sehingga ia tidak bisa tersenyum sama sekali." Dalam hatinya sangat heran dengan sikap anaknya.
"Ananda sudah merasa lebih baik ayahanda prabu." Putri Arkadewi Bagaskara memberi hormat pada ayahandanya.
"Syukurlah jika memang seperti itu." Balas Prabu Maharaja Ganendra Ardajita. "Kami semua sangat mencemaskan keadaan ananda putri." Ucapnya lagi.
"Maaf ayahanda prabu. Itu karena ananda merasa sakit hati, karena tumenggung daveda maasa masih sja mau berbohong. Ananda telah memeriksa kebenaran itu. Jika ia telah menjual pada budak kepada pada saudagar kaya." Sungguh hatinya masih belum tenang.
"Sungguh sangat keterlaluan sekali atas apa yang telah ia lakukan." Prabu Maharaja Ganendra tidak menyangka akan hal itu.
"Kejahatan yang paling tidak bisa diampuni adalah, ia telah membunuh senopati manda apara. Itu adalah dosa besar yang harus ia bayar dengan nyawanya ayahanda prabu." Putri Arkadewi Bagaskara pada saat itu seperti sedang menyarankan agar hukuman mati pula yang harus diterima oleh Tumenggung Daveda Maasa.
Sedangkan Prabu Maharaja Ganendra Ardajita, Ratu Kemala, Ratu Astina dan Raden Athaya Pasopati sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar pada saat itu.
"Apakah ananda putri menyeramkan ayahandamu untuk melakukan hukuman mati?." Ratu Astina mengambil kesimpulan seperti itu setelah menyimak apa yang dikatakan putrinya.
"Nyawa harus dibayar dengan nyawa pula ibunda." Jawab Putri Arkadewi Bagaskara. "Kejahatan yang telah ia lakukan bukan hanya sekedar menjual satu nyawa saja, ataupun membunuh nyawa senopati manda apara saja. Namun ia malah membunuh siapa saja, bahkan membunuh wanita-wanita yang tidak mau ia jadikan budak." Hatinya sangat geram dengan apa yang telah ia lihat dari tatapan mata Tumenggung Daveda Maasa yang menyimpan kejahatan yang sangat luar biasa.
Tidak ada tanggapan dari mereka, karena mereka tidak mengerti sama sekali. Bagaimana caranya Putri Arkadewi Bagaskara bisa mengetahui informasi itu dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan tidak terdengar sama sekali, jika Putri Arkadewi Bagaskara melakukan penyelidikan. Tapi bagaimana caranya ia mengetahui jika Tumenggung Daveda Maasa telah melakukan kejahatan yang sangat tidak bisa dimaafkan begitu saja?.
"Gusti putri." Dalam hati Raden Athaya Pasopati sungguh tidak menduga, jika Putri Arkadewi Bagaskara akan mengambil keputusan seperti itu. "Sebenarnya penyelidikan seperti apa yang telah gusti putri lihat padanya?." Sungguh ia tidak mengerti sama sekali.
__ADS_1
Apakah yang akan Prabu Maharaja Ganendra Ardajita lakukan?. Simak terus ceritanya.
***
Sementara itu.
Di hutan tempat biasanya mereka berkumpul?. Saat itu Putri Arkadewi Bagaskara saat itu yang menggunakan topeng hitam telah datang menemui Jala Hitam dan Mata Elang.
"Kami telah melakukan apa yang gusti putri inginkan." Jala Hitam memberi hormat.
"Apakah dia tidak mau ikut dengan kalian?." Karena saat itu keduanya tidak melihat siapapun di sana.
"Seperti itulah yang terjadi gusti putri." Jawab Mata Elang. "Dia sangat tidak terima, jika dirinya telah dianggap sebagai seorang penjahat, sehingga ia menolak panggilan itu. Sungguh seorang dharmapati yang sangat sombong sekali. " Mata Elang sangat benci mengingat itu.
"Itu adalah kehidupan para bangsawan yang merasa dirinya di atas. Itulah kenapa aku ingin segera membunuh mereka dengan ini." Ucapnya sambil memperlihatkan belati hitam kegelapan pada mereka.
Deg!.
"Jangan-jangan-." Keduanya mencoba mengatakan apa yang terlintas di dalam pikiran mereka saat itu.
"Ssshh!." Tapi Putri Arkadewi Bagaskara memberi kode pada mereka untuk diam. "Jangan sampai kalian membocorkan masalah ini pada orang lain." Ucapnya dengan nada lembut. Akan tetapi apa yang terjadi pada saat keduanya sedang terpaku ketika melihat Putri Arkadewi Bagaskara yang tadinya duduk di depan keduanya?. Dan sekarang?. Tiba-tiba saja malah berdiri di belakang keduanya sambil mengarahkan belati hitam kegelapan di punggung keduanya?. "Jika kalian berani membocorkan aku ini siapa, maka nyawa kalian akan menjadi jaminan dari bocornya informasi ini." Dengan hawa membunuh ia berkata seperti itu.
Deg!.
Jala Hitam dan Mata Elang bersumpah tidak akan melakukan itu. Tentunya ia masih sangat sayang pada nyawa, bukan?.
__ADS_1
"Sial!. Sepertinya aku benar-benar telah terjebak dalam situasi yang sangat mengerikan." Dalam hati Jala Hitam merasa menyesal karena telah memiliki ambisi untuk membunuh Putri Arkadewi Bagaskara yang ternyata dia adalah orang yang lebih mengerikan dari apa yang ia bayangkan.
"Aku telah salah dalam memilih korban. Untung saja aku tidak sempat bertarung dengannya. Mungkin saja aku telah menjadi mayat pada hari itu jika saja aku tidak mengikuti apa yang telah ia katakan." Dalam hati Mata Elang masih ingat dengan hari itu.
"Mana jawaban kalian?." Dengan suara yang sangat mengerikan ia malah bertanya seperti itu pada keduanya yang terlihat hampir tidak bisa menelan ludah.
"Ka-ka-kami mengerti gusti putri." Jawab Jala Hitam dan Mata Elang dengan suara bergetar. Sungguh, mereka sangat takut dengan hawa yang telah ditunjukkan oleh Putri Arkadewi Bagaskara pada saya itu. Seakan-akan mereka baru saja bertemu dengan malaikat maut.
Apakah yang akan mereka lakukan setelah itu?. Simak terus ceritanya.
Kembali ke masa itu.
Putri Arkadewi Bagaskara yang pada malam itu bertemu dengan seorang pemuda yang terlihat sangat sedih. Namun saat itu ia sangat terkejut ketika melihat ada sekelebat bayangan hitam yang datang dengan cepat ke arahnya.
"Huwah!. Jangan bunuh aku!." Ia terjerembab ke tanah, ia sangat ketakutan, jika ada seseorang yang hendak membunuhnya saat itu.
"Kau yang memanggil aku?." Seseorang bertanya seperti itu padanya?.
Pemuda itu dengan takutnya mencoba membuka matanya, melihat siapa yang datang pada saat itu. "Oh!. Tuan pendekar!." Dengan sangat leganya ia melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Sebenarnya ada satu cara yang dapat digunakan seseorang untuk memanggil pendekar pembunuh bayaran. Ada cara khusus yang digunakan seseorang jika ingin bertemu dengan Pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan.
"Berdirilah. Katakan padaku apa yang kau inginkan?." Ia bertanya karena ia tidak bisa lama-lama berada di sana.
"Senopati andapati saresa. Aku ingin membunuhnya." Dengan perasaan yang bercampur aduk ia berjaya seperti itu.
"Akan aku kabulkan." Setelah berkata seperti itu ia segera pergi dari sana. Tentunya ia telah berhasil menyerap hawa kebencian yang sangat dalam dari pemuda itu.
__ADS_1
Simak terus ceritanya.
...***...