
...**...
Prabu Maharaja Ganendra Ardajita saat itu berada di ruangan kerjanya seperti biasanya. Akan tetapi pada saat itu ada seorang prajurit yang masuk. Sepertinya ada suatu hal yang sangat penting yang ia sampaikan pada saat itu.
"Mohon ampun gusti prabu. Ada tamu terhormat yang ingin bertemu dengan gusti prabu." Seorang prajurit memberi hormat pada rajanya.
"Biarkan dia masuk." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita mempersilahkan tamu itu untuk masuk.
"Sandika gusti prabu." Prajurit itu kembali memberi hormat. Setelah itu ia dengan sopannya pergi meninggalkan ruangan itu.
"Siapa yang tiba-tiba saja ingin bertamu disaat seperti ini?." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sedikit bertanya-tanya, siapa yang telah datang dalam keadaan kondisi istana yang seperti ini?.
Sementara itu di Kaputren.
Di saat Putri Arkadewi Bagaskara sedang memanjakan dirinya di pandopo yang tak jauh dari Kaputren, saat itu ada seorang prajurit yang datang menemuinya. Ia menyampaikan jika Raden Darsa Endaru ingin bertemu dengannya.
"Mohon ampun gusti putri. Ada raden darsa yang ingin bertemu dengan gusti putri." Prajurit itu memberi hormat pada Putri Arkadewi Bagaskara.
"Baiklah. Nanti aku akan menyusul ke sana." Putri Arkadewi Bagaskara mengerti dengan apa yang dikatakan oleh prajurit itu.
"Sandika gusti putri." Prajurit Istana itu memberi hormat. Setelah itu ia pergi meninggalkan tempat untuk menyampaikan bahwa Putri Arkadewi Bagaskara setuju?.
"Ada gerangan apa iya datang menemui aku setelah sekian lama?." Putri Arkadewi Bagaskara sedikit bertanya-tanya. "Rasanya aku sangat penasaran dengan apa yang ada di dalam kepalanya saat ini. Aku rasa dia memiliki rencana untuk balas dendam padaku di masa lalu." Putri Arkadewi Bagaskara masih ingat dengan apa yang terjadi di masa lalu antara dirinya dengan Raden Darsa Endaru.
__ADS_1
"Aku rasa memang seperti itu. Tidak ada alasan lain baginya untuk datang ke istana ini selain untuk balas dendam padamu." Sosok Hitam dari Putri Arkadewi Bagaskara saat itu keluar dari sisi tubuh sebelah kirinya.
"Kalau begitu mari kita pergi untuk melihat isi kepalanya yang bodoh itu. Aku tidak sabar untuk melihat apa saja yang ada di pikirannya saat ini." Putri Arkadewi Bagaskara tertawa kecil ketika membayangkan apa yang akan ia lihat pada saat bertemu dengan Raden Darsa Endaru nantinya.
"Sepertinya kau memiliki hiburan yang sangat menarik sekali." Sosok Hitam tentunya dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara.
Apakah yang akan ia lihat dari Raden Darsa Endaru nantinya?. Simak terus ceritanya.
...**...
Raden Darsa Endaru pada saat itu telah memasuki ruangan kerja seorang raja.
"Hormat saya paman prabu." Dengan nada yang sangat sopan ia memberi hormat pada Prabu Maharaja Ganendra Ardajita.
"Oh?. Raden darsa endaru?. Silahkan duduk raden." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita tidak menduga jika tamu terhormat itu adalah seorang Raden yang berasal dari kerajaan Matulang. Saat itu yang mempersilahkan tamu terhormatnya untuk duduk.
"Kenapa raden tidak memberitahu sebelum datang kemari?. Jika raden memberitahuku sebelumnya mungkin kah aku akan melakukan persiapan untuk menyambut kedatangan raden." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sangat terkejut dengan kedatangan Raden Darsa Endaru.
"Ini hanyalah kunjungan biasa saja. Jadi, paman prabu tidak perlu merasa sungkan." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita berkata seperti itu seakan-akan ia merasa sungkan kedatangannya tanpa direncanakan terlebih dahulu.
Akan tetapi pada saat itu Putri Arkadewi Bagaskara datang bersama sosok Hitam yang selalu bersama dirinya. Namun sayangnya tidak ada satupun orang yang dapat melihat sosok hitam itu selain Putri Arkadewi Bagaskara.
"Sampurasun." Dengan sopannya ia menyapa Prabu Maharaja Ganendra Ardajita dan Raden Darsa Endaru.
__ADS_1
"Rampes." Balas Prabu Maharaja Ganendra Ardajita dan Raden Darsa Endaru.
Deg!.
"Sial!. Dia terlihat semakin cantik dari terakhir kalinya aku bertemu dengannya." Dalam hati Raden Darsa Endaru saat itu merasa sangat terpesona dengan penampilan Putri Arkadewi Bagaskara. Entah kenapa, pada saat itu ia melihat ada hal yang berbeda dari Putri Arkadewi Bagaskara. "Sungguh, kecantikan yang sangat luar biasa." Hampir saja ia tidak dapat memalingkan wajahnya saat memandang kecantikan Putri Arkadewi Bagaskara.
"Sepertinya dia sangat terpesona akan kecantikanmu. Sungguh mata itu tidak pernah berbohong jika melihat seseorang yang cantik di hadapannya." Sosok Hitam itu dapat menyadari apa yang dirasakan oleh Raden Darsa Endaru.
"Selamat datang raden. Sudah lama kita tidak bertemu." Putri Arkadewi Bagaskara mencoba mengabaikan apa yang telah dikatakan oleh sosok hitam-nya itu. "Tidak mungkin rasanya aku menanggapi ucapan mu saat ini." Dalam hati Putri Arkadewi Bagaskara tidak bermaksud untuk mengabaikan ucapan sosok hitam-nya itu?.
"Sudah sangat lama sekali." Raden Darsa Endaru terlihat sangat gugup, suaranya hampir saja tidak terdengar saking gugupnya yang ia rasakan. "Sial!. Kenapa tiba-tiba saja jantungku malah berdebar-debar tidak karuan seperti ini ketika melihatnya?." Dalam hati Raden Darsa Endaru mengutuk jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak tidak karuan seperti itu. "Sepertinya aku masih terpesona akan kecantikan yang ia miliki." Suasana hatinya pada saat itu tidak bisa berbohong sama sekali.
"Ayahanda prabu. Urusan raden darsa endaru, biar ananda yang melakukannya." Putri Arkadewi Bagaskara sepertinya memiliki rencana untuk mengalih perhatian Raden Darsa Endaru. "Ayahanda prabu tentunya memiliki masalah yang harus dihadapi, bukan?." Putri Arkadewi Bagaskara tersenyum ramah menatap ayahandanya.
"Maaf sekali raden. Apakah raden tidak keberatan?. Jika raden ditemani oleh ananda putri arkadewi?." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sebenarnya merasa sangat bersyukur dengan apa yang dikatakan oleh anaknya. Karena pada saat itu ia memang memiliki urusan yang tidak bisa diganggu. "Terima kasih karena ananda telah menyelamatkan ayahanda dari tamu dadakan ini." Setidaknya itu yang ada di dalam pikiran Prabu Maharaja Ganendra Ardajita saat itu.
"Baiklah paman prabu. Jika memang seperti itu." Raden Darsa Endaru hanya bersikap pasrah saja. "Itu artinya aku akan bersama dengannya?." Dalam hatinya semakin gugup, membayangkan jika ia hanya akan berduaan saja dengan Putri Arkadewi Bagaskara.
"Hahaha!. Cepat sekali dia mengiyakannya!." Sosok Hitam malah tertawa, tawanya saat itu sangat mengejek sekali.
"Diam lah!. Sejujurnya aku sangat benci dengan kedatangannya. Ingin rasanya aku membunuhnya." Di balik tangannya yang tertutupi oleh lengan panjang bajunya itu, ia telah menyiapkan belati hitam kegelapan yang siap ia tancapkan ke jantung Raden Darsa Endaru.
"Bersabarlah. Akan berbahaya jika kau melakukannya di istana ini." Sosok Hitam itu mencoba untuk memperingati Putri Arkadewi Bagaskara agar tidak bertindak dengan cerobohnya.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya. Temukan jawabannya.
...***...