TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 3


__ADS_3

...***...


Malam telah menyapa kerajaan Mahamega Suci, malam yang sangat tenang karena penghuninya telah terlelap dalam kehidupan alam lain alam tidur mereka masing-masing. Namun dalam keheningan itu ada satu sosok yang sedang berjalan dengan sangat ringannya masuk ke dalam sebuah rumah yang cukup mewah. Rumah dari salah satu Senopati yang terpandang di kerajaan itu. Tapi apa yang telah membuat orang asing itu masuk dengan mudahnya?. Bahkan saking ringannya dan tidak terlihat siapa yang memasuki rumah itu?. Penjaga di gerbang halaman rumah Senopati tersebut tidak dapat dilihat oleh para prajurit tersebut.


"Tingkat kewaspadaan kalian memang sangat lemah." Dalam hatinya berkata seperti itu. Karena ia telah melewati mereka dengan sangat mudahnya tanpa ada halangan ataupun yang melihat kedatangannya. "Rumah seorang senopati malah dijaga oleh prajurit bodoh seperti mereka." Sosok misterius dengan penutup wajah itu terlihat sangat meremehkan para prajurit yang tidak menyadari jika ia telah masuk, dan membuka pintu itu dengan sangat santainya. "Tapi aku yakin senopatinya jauh lebih bodoh dari prajuritnya ini. Karena mempercayai nyawanya pada mereka yang tidak berguna ini." Dalam hatinya malah mengomel sendiri tidak jelas, dan hampir saja ia tertawa sendiri ketika ia berkata seperti itu. Namun kakinya tetap melangkah masuk ke dalam rumah itu tanpa adanya halangan yang berarti. Dengan santainya ia berjalan masuk, seakan-akan tidak ada yang mengetahui ia masuk ke dalam rumah seorang Senopati yang terhormat.


Bahkan pendekar bertopeng hitam itu memasuki ruangan yang menjadi tempat tidur oleh Senopati tersebut bersama istrinya. Matanya menangkap sosok dua orang yang sedang tertidur dengan sangat lelapnya. "Tidur yang sangat nyenyak untuk ukuran seorang senopati, yang tidak mengetahui apa-apa tentang keselamatan dirinya." Ia perhatikan wajah laki-laki itu dengan sangat tajam. "Sayang sekali aku harus mengakhiri hidupmu malam ini, karena kau telah melakukan hal yang sangat keji." Entah kenapa pada saat itu hatinya sangat membara luar biasa, ketika menyadari memang wajah itulah yang telah melakukan hal yang sangat kejam di masa lalu. "Aku hanyalah sebuah alat untuk menghukum dirimu, karena raja tidak bisa menghukum dirimu." Ada perasaan kecewa yang ada di dalam hatinya saat itu. "Mereka yang menangis karena dirimu, yang tidak bisa membuktikan kejahatan yang telah kau lakukan pada mereka." Ia sangat ingat dengan apa yang telah ia lihat dari mereka yang memiliki kegelapan yang sangat luar biasa. "Sehingga mereka datang padaku, untuk meminta bantuan padaku untuk menghabisi nyawamu yang tidak berguna." Sambil berkata seperti itu ia mengeluarkan sebuah benda pusaka yang sangat sakti. Senjata yang lahir dari kebencian dan kegelapan yang dirasakan oleh orang-orang yang memiliki dendam yang sangat luar biasa pada seseorang. Dengan bantuan tenaga dalamnya ia mempersiapkan senjata itu sebagai alat untuk membunuh Senopati terhormat itu. "Katakan selamat tinggal untuk dunia yang kau cintai ini." Ia arahkan belati hitam kegelapan itu pada tubuh targetnya. "Kau harus segera pergi malam ini, karena aku juga sangat membenci dirimu yang sangat kejam itu." Ujung belati kegelapan itu telah ia siapkan ke leher Senopati terhormat itu. "Kau yang telah berbuat salah, aku tidak salah. Aku hanya menyampaikan perasaan benci dan dendam yang mereka rasakan padamu selama ini." Hatinya ikut membenci, merasakan bagaimana kegelapan yang mengalir pada belati tajam itu. Seakan-akan memperlihatkan apa saja yang telah dilakukan oleh Senopati terhormat itu pada orang-orang tertentu. Sehingga mereka menaruh dendam yang sangat luar biasa pada Senopati terhormat itu.


Cekh!.


"Ohokh!."


Dalam satu tusukan yang sangat kuat tepat di lehernya. Senopati itu merasakan kesakitan pada tenggorokannya yang telah ditusuk dengan menggunakan belati yang sangat tajam. Senopati terhormat itu sangat terkejut dengan apa yang ia alami. Ketika matanya terbuka untuk melihat siapa yang telah melakukan itu, namun pandangannya sangat gelap.

__ADS_1


"Pergilah kau ke neraka." Bisik suara itu dengan nada yang sangat menyeramkan.


"A-apa yang terjadi padaku?." Dalam hati Senopati terhormat itu tidak mengerti dengan apa yang ia alami. Pandangannya semakin menghitam, sehingga ia tidak bisa melihat siapa yang telah melakukan itu?. "Kenapa rasanya sangat sakit sekali." Apakah pada saat itu ia sedang bermimpi?. Jika ia sedang bermimpi tapi kenapa ia merasakan sakit yang sangat tidak wajar pada tubuhnya?. Namun bukan itu saja yang membuat ia kesakitan, dari tusukan belati itu tenaga dalamnya seakan-akan disedot sampai habis sehingga ia tidak bisa melawan sama sekali. Sungguh tingkat pembunuhan yang sangat tidak biasa, di mana korbannya tidak bisa melawan sama sekali. Apakah yang akan terjadi pada Senopati terhormat itu?. Apakah yang ia alami itu sangat nyata atau hanyalah mimpi semata?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi. Namun pada malam yang sangat sunyi itu tanpa disadari ada bentuk kejahatan yang tidak bisa dideteksi oleh siapapun juga.


...***...


Di istana.


"Apa yang ingin yunda berdua inginkan padaku?. Sehingga berani malam-malam datang ke bilikku?." Meskipun ia tidak melihat namun ia dapat menyadari siapa yang telah mendekati miliknya. "Apakah yunda berdua memiliki masalah denganku?." Lanjutnya.


Putri Kasih Bagaskara dan Putri Kenanga Bagaskara sangat terkejut dengan apa yang ia dengar dari bilik adiknya itu. Mereka tidak menduga jika Putri Arkadewi menyadari kehadiran mereka. "Sial!. Kita ketahuan yunda." Bisik Putri Kasih Bagaskara dengan sangat panik. Padahal ia telah melakukannya dengan sangat baik, akan tetapi bagaimana bisa adiknya itu mengetahui kedatangannya?.


"Kita harus segera meninggalkan tempat ini jangan sampai dia melihat kita di sini." Tentunya Putri Kenanga Bagaskara sangat takut, sehingga ia menyarankan adiknya itu untuk segera pergi dari sana.

__ADS_1


"Mereka telah pergi." Putri Arkadewi tidak merasakan kehadiran kakaknya lagi, sehingga ia kembali fokus dengan apa yang telah ia kerjakan pada saat itu.


"Mereka hanya mengganggu saja. Apakah mereka tidak memiliki pekerjaan lain selain mencari masalah denganku?." Ada sosok misterius yang duduk di samping Putri Arkadewi Bagaskara.


"Biarkan saja mereka pergi. Tidak ada untungnya bagi kita melakukan hal aneh pada keduanya." Putri Arkadewi Bagaskara malas meladani kedua kakaknya itu.


"Jika kau telah berkata seperti itu, aku akan diam." Sosok itu hanya tersenyum kecil. "Tapi apakah kau yakin?. Jika kau hanya diam saja?. Jika mereka tidak menghentikan apa yang telah mereka lakukan?." Sosok misterius itu menyeringai lebar.


"Belum saatnya. Kita harus memberikan tekanan pada ayahanda prabu." Putri Arkadewi Bagaskara memiliki ide yang lain. "Ayahanda prabu terlalu terlena dengan laporan baik dari bawahannya, sehingga ayahanda prabu tidak memeriksa dengan baik, bagaimana bawahannya yang sesungguhnya." Putri Arkadewi Bagaskara terlihat sangat berbeda, ia sangat kejam jika telah marah, dan tidak suka dengan sesuatu.


Apakah yang akan dilakukan oleh Putri Arkadewi Bagaskara?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2