TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 30


__ADS_3

...***...


Pagi itu kebetulan Patih Arya Pasopati datang ke istana untuk melaporkan sesuatu akan tetapi pada saat itu, Prabu Maharaja Ganendra Ardajita menceritakan sesuatu padanya.


"Saya telah mengangkat ananda putri arkadewi menjadi prajurit khusus, untuk mengatasi masalah petinggi istana yang tidak mau mengakui perbuatan jahatnya." Ucap Prabu Maharaja Ganendra Ardajita.


"Apakah itu nantinya tidak akan menjadi masalah?. Apakah rayi prabu telah memikirkan masalah itu dengan bijak?." Patih Arya Pasopati ingin mengetahuinya.


"Aku telah memikirkan semua itu raka patih." Prabu Maharaja Ganendra menatap serius ke arah Patih Arya Pasopati. "Sebenarnya aku sangat malu pada putriku ananda arkadewi. Karena ternyata selama ini aku tidak melakukan hal seharusnya untuk mengurus rakyat. Sehingga rakyat meminta perlindungan pada seorang pendekar pembunuh bayaran." Sungguh hatinya sangat sedih dengan apa yang telah ia rasakan selama ini. "Rasanya aku telah menjadi raja yang sangat jahat raka patih." Hatinya semakin sakit. "Sebagai seorang raja yang selalu mempercayai siapa saja, namun malah berakhir seperti ini raka patih." Sungguh ia merasa menjadi raja yang sangat tidak berguna sama sekali. "Selama ini, saya seperti sedang mendukung para petinggi istana yang ternyata memiliki tujuan watak yang jahat." Hatinya semakin pedih.


"Sebagai seorang patih, aku juga melakukan hal yang sama. Jadi rayi prabu jangan menyalahkan diri sendiri." Patih Arya Pasopati juga merasa bersalah karena tidak bisa menjaga hubungannya dengan bawahannya. "Aku berjanji akan melakukannya dengan baik." Patih Arya Pasopati hanya bisa berkata seperti itu untuk saat ini.


"Mohon bantuannya raka patih. Mari kita perbaiki negeri ini. Supaya tidak lahir pendekar pembunuh bayaran yang menggantikan kita untuk menegakkan keadilan di negeri ini." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita tidak ingin negeri yang ia pimpin menjadi berantakan.


"Aku akan mencoba melakukannya rayi prabu." Patih Arya Pasopati juga mencoba menguatkan hatinya untuk melakukan yang terbaik.


Apakah mereka akan berhasil?. Simak terus ceritanya.


...***...


Di taman istana.

__ADS_1


Raden Athaya Pasopati saat ini sedang bersama Putri Arkadewi Bagaskara. Ia masih gelisah dengan apa yang telah terjadi di pasar kota raja pada saat itu.


"Kenapa wajah raden terlihat sangat gelisah seperti itu?. Apakah ada sesuatu yang mengganggu Raden?." Putri Arkadewi Bagaskara tersenyum kecil.


Raden Athaya Pasopati tidak langsung menjawabnya, hanya saja ia sedang memikirkan apa yang ingin ia sampaikan. "Ayahanda patih pernah berkata pada saya. Jika gusti putri pernah mengatakan jika ayahanda tidak segera mengatasi masalah yang ada di pasar kota raja. Maka akan timbul masalah besar nantinya." Raden Athaya Pasopati menundukkan wajahnya. "Ternyata besoknya memang terjadi masalah yang sangat besar." Raut wajahnya seperti seseorang sedang menahan tangis.


"Memangnya apa yang telah terjadi raden?." Putri Arkadewi Bagaskara terlihat sangat penasaran.


"Ada tiga orang perusuh pasar, dan juga tiga orang prajurit yang terbunuh dalam keadaan mengenaskan." Raden Athaya Pasopati seperti sedang menahan emosi yang bergejolak.


"Oh?. Apakah raden mengetahui siapa yang telah membunuh mereka?." Putri Arkadewi Bagaskara semakin penasaran.


"Saat itu, ketika ayahanda patih hendak mencabut belati hitam kegelapan itu. Kami semua melihat kelakukan busuk yang telah mereka lakukan selama ini." Rasanya ia hendak menangis ketika menceritakan itu. "Rasanya negeri ini sangat buruk, sehingga tidak mengetahui kejahatan yang telah disimpan oleh rakyatnya sendiri." Perasannya saat itu bercampur aduk, ia tidak dapat menahan emosinya.


***


Sementara itu Jala Hitam masih merenung di sebuah tempat. Ia masih bingung setelah apa yang telah diperlihatkan oleh Putri Arkadewi Bagaskara padanya. Ia merenung di atas pohon yang lumayan tinggi, saat ini ia memang santai karena ia belum mendapatkan tugas jaga dari prajurit lainnya. Sehingga saat iniĀ 


"Apa yang harus aku lakukan?." Dalam hatinya mencoba untuk menenangkan dirinya. "Sungguh, sangat aneh sekali rasanya. Entah kenapa dengan mudahnya aku percaya begitu saja ucapannya, juga apa yang telah ia perlihatkan padaku." Jala Hitam semakin bingung. "Dia mengatakan padaku, bahwa dia hanya akan menghukum orang-orang yang telah melakukan kejahatan." Ia masih ingat dengan apa yang telah dikatakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara padanya. "Dia bahkan memintaku untuk membantunya untuk menghukum para petinggi istana, yang selalu berbuat jahat dengan menggunakan topeng pemanis wajah." Jala Hitam yang saat ini sedang pusing sendiri?. "Wanita itu sangat aneh?. Kenapa aku harus mengikuti apa yang telah dia katakan?!." Ia semakin bingung. "Sial!. Rasanya aku harus segera pergi dari sini!. Sebelum aku terlibat dengan hal-hal yang mengerikan nantinya!." Teriaknya dengan penuh amarah yang membara. Perkataan Putri Arkadewi Bagaskara seakan-akan telah mempermainkan suasana hatinya. Apakah yang akan ia lakukan selanjutnya?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu nantinya.


...***...

__ADS_1


Taman istana.


Putri Kenanga Bagaskara dan Putri Kasih Bagaskara tidak menyangka akan melihat seseorang yang mereka cari. Mereka melihat Putri Arkadewi Bagaskara bersama Raden Athaya Pasopati.


"Apa yang kalian lakukan berdua di sini?." Putri Kasih Bagaskara. "Jangan-jangan kalian ingin melakukan sesuatu yang aneh?. Pasti kalian ingin melakukan sesuatu yang aneh!. Pasti terjadi sesuatu diantara kalian berdua." Putri Kasih Bagaskara malah berpikiran yang tidak tidak tentang adiknya itu.


"Bukankah kau adalah putra dari paman patih arya pasopati?." Putri Kenanga Bagaskara pada saat itu teringat dengan sesuatu tentang siapa yang saat ini bersama adiknya itu.


"Hormat hamba gusti putri kenanga bagaskara, gusti putri kasih bagaskara." Raden Athaya Pasopati memberi hormat pada keduanya. "Hamba adalah athaya pasopati. Hamba putra dari ayahanda patih arya pasopati." Raden Athaya Pasopati memperkenalkan dirinya?. Apakah selama ini mereka tidak pernah bertemu?.


"Tentunya aku kenal denganmu athaya pasopati!." Putri Kasih Bagaskara berdecak kesal. "Berani sekali kalian duduk berduaan saja di sini!. Itulah yang menjadi masalahnya!." Bentak Putri Kasih Bagaskara dengan suara yang sangat keras. Sepertinya api amarahnya sedang bergejolak di dalam hatinya saat itu.


"Arkadewi!. Apakah seperti ini tata krama seorang putri raja pada bawahannya?." Putri Kenanga Bagaskara malah melemparkan pertanyaan seperti itu?.


"Mereka ini kenapa?." Dalam hati Raden Athaya Pasopati mereka heran.


"Aku akan mengatakan masalah ini pada ayahanda prabu, jika kalian telah berani berbuat yang tidak-tidak di sini." Putri Kenanga Bagaskara malah tersenyum lebar membayangkan bagaimana reaksi ayahandanya nantinya.


"Mohon ampun gusti putri kenanga bagaskara." Raden Athaya Pasopati memberi hormat. "Sebaiknya gusti putri jangan berpikiran yang buruk tentang saudari sendiri. Itu tidaklah baik." Ucap Raden Athaya Pasopati.


Bagaimana dengan tanggapan mereka nantinya?. Apakah yang akan terjadi di sana?. Ujian apalagi yang akan dihadapi Putri Arkadewi Bagaskara?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2