TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 56


__ADS_3

...***...


Malam itu Raden Athaya Pasopati dan Senopati Ratapikir Dermawan masih berada di kediaman Dharmapati Andapati Saresa. Mereka masih mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah yang telah terjadi.


"Lalu apa yang akan kita lakukan kita lakukan paman senopati." Raden Athaya Pasopati masih bingung.


"Masalah ini lumayan rumit raden. Masalahnya adalah kita melihat dari dua sisi perkara yang saling menguras perasaan." Jawabnya juga bingung.


"Apa maksud paman senopati?. Kenapa seperti itu?." Raden Athaya Pasopati tidak mengerti.


"Karena, jika kita lihat dari satu sisi. Dataya telah salah meminta bantuan dari pendekar pembunuh bayaran yang tentunya akan membunuh seseorang." Jawabnya sambil melihat ke arah Dataya.


"Lantas?. Apakah dataya bersalah?. Paman senopati?." Raden Athaya Pasopati bertanya seperti itu.


Senopati Ratapikir Dermawan tidak langsung menjawabnya. Karena ia sedang memikirkan jawaban yang sangat tepat. "Di sisi lainnya, kakang dharmapati andapati saresa juga bersalah, karena dia telah melakukan kejahatan." Ia menghela nafasnya dengan pelan. Kepalanya mendadak berdenyut ketika memikirkan jawaban itu.


Raden Athaya Pasopati juga sedang memikirkan apa yang akan mereka lakukan untuk memutuskan masalah itu. "Ya, itu sangat salah sekali paman senopati. Karena dia telah melakukan pembunuhan yang sangat tidak manusiawi sekali paman senopati." Raden Athaya Pasopati sangat setuju dengan itu.


"Lantas, bagaimana dengan kita raden?." Senopati Ratapikir Dermawan malah balik bertanya.


"Kita?. Apa yang paman senopati maksudkan?. Saya belum mengerti sama sekali." Raden Athaya Pasopati sama sekali tidak mengerti dengan pertanyaan itu.


"Kita juga salah. Karena kita sama sekali tidak menyadari kejadian itu, sehingga ada orang yang tersiksa batinnya." Ucapnya sambil melihat ke arah Dataya. "Kematian itu tidak akan diterima begitu saja bagi yang hidup, sehingga ia ingin balas dendam atas apa yang telah terjadi." Lanjutnya. "Kita yang sama sekali tidak mengetahui apa yang telah disimpan oleh seseorang, sehingga kita tampak bersalah. Kita yang sama sekali tidak bisa melihat, ataupun bertindak." Ucapnya lagi dengan penuh kesedihan.


"Lantas apa yang akan gusti senopati lakukan pada saya. Apakah gusti senopati akan memberikan hukuman pada saya?." Dengan perasaan cemas ia bertanya seperti itu.

__ADS_1


"Dataya. Aku tidak berhak untuk memberikan hukuman padamu. Tapi aku percaya kau adalah orang yang sangat baik." Hanya itu saja. "Untuk saat ini kau tetaplah berada di sini. Tapi aku ingatkan jangan berbuat yang bisa membuatmu mendapatkan hukuman. Aku yang akan mengawasi mu dataya." Hanya itu saja yang bisa ia katakan.


"Baiklah gusti. Saya akan mengikuti perintah gusti." Ucapnya sambil memberi hormat. "Maafkan saya, karena saya tidak bisa meminta bantuan pada siapapun untuk menghukum dharmapati andapati saresa." Ucapnya dengan penuh kekecewaan.


"Apakah kau pernah mengatakan masalah itu pada salah satu petinggi istana?. Ataupun pada orang yang bisa menghukumnya?." Raden Athaya Pasopati tiba-tiba saja ingin bertanya seperti itu.


"Pernah raden. Saya pernah mengatakan masalah itu pada gusti dharmapati tangku sapa. Akan tetapi saya malah diusir, dan saya dikatai seorang pembohong. Sejak saat itu saya diincar gusti dharmapati andapati saresa." Jawabnya. "Beliau mengancam akan membunuh saya, jika saya mengatakannya pada orang lain. Jadi saya meminta bantuan pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan untuk membunuhnya sebelum saya yang dibunuh." Jawabnya lagi.


"Dharmapati tangku sapa?." Raden Athaya Pasopati dan Senopati Ratapikir Dermawan Sangat terkejut.


"Benar raden, gusti senopati. "Jawabnya. "Kalau begitu, aku sendiri yang akan bertanya padanya. Benar-benar kurang ajar!.. "Senopati Ratapikir Dermawan sangat geram.


"Saya juga akan ikut dengan paman senopati besok menemui paman dharmapati tangku sapa." Ucap Raden Athaya Pasopati.


"Baiklah, kalau begitu. Malam ini kita menginap saja di sini. Lagi pula mendiang dharmapati andapati saresa sendirian. Jadi kita yang akan menjaga rumah ini." Balas Senopati Ratapikir Detta Dermawan


"Baiklah paman senopati." Balas Raden Athaya Pasopati.


Apakah yang akan mereka lakukan itu?. Apakah mereka akan segera bertindak?. Simak terus ceritanya.


...***...


Sementara itu. Malam itu Putri Arkadewi Bagaskara saat itu menatap langit malam yang dihiasi bintang, Walaupun tidak banyak.


"Apakah masih belu bergerak juga?." Sosok hitam bertanya.

__ADS_1


"Belum, jangan bergerak dulu." Balasnya.


"Memangnya kenapa?. Tidak biasanya." Sosok hitam sama sekali tidak mengerti dengan pikiran tubuh aslinya.


"Aku sangat yakin saat ini dia sedang dikuasai ketakutan setelah apa yang dikatakan jala hitam dan mata elang." Jawabnya. "Dia saat ini pasti sedang waspada jika kau datang nantinya." Lanjutnya. "Kita lihat, sejauh mana dia akan waspada menunggu kedatanganku nantinya." Lanjutnya lagi.


"Baiklah, jika memang itu yang kau inginkan." Sosok Hitam tentunya hanya menuruti apa yang dikatakan Putri Arkadewi Bagaskara.


Apakah yang direncanakan Putri Arkadewi Bagaskara sebenarnya?. Simak terus ceritanya.


***


Sementara itu Ratu Astina saat itu bersama Prabu Maharaja Ganendra Ardajita. Ratu Astina masih sedih dengan apa yang telah diperlihatkan oleh Putri Arkadewi Bagaskara padanya. Hanya Prabu Maharaja Ganendra Ardajita dan Ratu Astina saja, karena Ratu Kemala, Putri Kenanga Bagaskara dan Putri Kasih Bagaskara telah pergi meninggalkan ruang pribadi raja.


"Apa yang membuat dinda terlihat sangat sedih?. Apakah ada sedang dinda rasakan saat ini?." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita merangkul bahu istrinya dengan sangat lembut.


"Dinda merasa sangat sedih, setelah apa yang diperlihatkan oleh ananda putri arkadewi." Jawabnya dengan hati yang sangat gelisah bercampur kesedihan.


"Memangnya apa yang telah diperlihatkan putri kita ananda putri arkadewi perlihatkan pada dinda?. Sehingga dinda terlihat sangat sedih." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sangat bingung dengan apa yang terjadi. "Cerita pada kanda, supaya kanda mengerti dengan apa yang akan dinda sampaikan pada kanda." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sangat penasaran.


"Ketika itu, dinda menemui ananda putri arkadewi. Dinda meminta ananda putri memikirkan hukuman yang pantas untuk memberikan peringatan pada mereka." Dengan pelan Ratu Astina mulai bercerita. "Akan tetapi ananda putri arkadewi terlihat sangat marah sekali pada dinda." Hatinya sangat sedih mengingat itu.


"Marah?." Dalam hati Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sedikit bingung. "Rasanya sangat aneh sekali." Ia tidak mengerti dengan apa yang ia dengar saat itu.


"Hingga ananda putri arkadewi memperlihatkan bagaimana penderitaan yang dirasakan oleh seluruh rakyat selama ini kanda." Rasanya ia ingin menangis saat itu. "Seakan-akan kanda sebagai seorang raja tidak berguna sama sekali untuk memakmurkan rakyat, dan bahkan kanda seperti membela petinggi istana yang selalu tampak berjasa pada kerajaan ini." Sungguh hatinya sangat sedih dengan apa yang ia lihat saat itu.

__ADS_1


Prabu Maharaja Ganendra Ardajita tidak langsung merespon, sang prabu sedang menimang, jawaban apa yang akan ia berikan?. Temukan jawabannya. Next halaman.


...***...


__ADS_2