TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 45


__ADS_3

...**...


Putri Kenanga Bagaskara dan Putri Kasih Bagaskara belum masih mau menyerah mengenai niat buruk mereka untuk menyingkirkan Putri Arkadewi Bagaskara dari istana, seperti 10 tahun yang lalu. Bahkan saat ini mereka semakin panik, karena Putri Arkadewi Bagaskara telah berhasil mengungkapkan kejahatan yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki kekuasaan. Belum lagi ancaman dari pendekar pembunuh bayaran berlatih hitam kegelapan yang mungkin mengincar nyawa mereka?. Saat ini kedua kakak beradik itu sedang dihadapi tekanan batin yang membuat mereka tersiksa.


"Jika seperti ini terus kita bisa gila, yunda." Rengek Putri Kasih Bagaskara dengan suara yang sangat lirih. "Jika seperti ini dia akan mengetahui apa yang telah kita lakukan yunda. Aku tidak ingin dia membongkar apa yang telah kita lakukan selama ini." Ia sangat frustasi saat itu. "Jika kita ketahuan, bisa jadi kita dihukum mati. Aku tidak ingin itu terjadi pada kita yunda." Putri Kasih Bagaskara sampai menangis saat memikirkan, jika ia mengalami kejadian itu.


"Tenanglah rayi. Itu tidak akan pernah terjadi pada kita." Putri Kenanga Bagaskara mencoba untuk menenangkan adiknya. "Jika dia bisa?. Kenapa kita juga tidak bisa?." Pandangannya saat itu terlalu jauh memikirkan hal yang tidak biasa.


"Bisa?. Memangnya kita bisa apa yunda?." Putri Kasih Bagaskara menyeka air matanya. Ia belum mengerti sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya.


Saat itu mereka sedang mengurung diri, itu karena mereka belum berani keluar dari kaputren. Tentu saja mereka takut gerak-gerik mereka akan terciduk langsung oleh Putri Arkadewi Bagaskara. Mereka benar-benar harus berhati-hati jika ingin keluar dari kaputren.


"Kita harus bisa belajar ilmu kanuragan." Jawabnya dengan sangat santainya?.


"Apa?. Belajar ilmu kanuragan?!." Putri Kasih Bagaskara sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya. "Apakah yunda bercanda?. Bagaimana mungkin kita bisa belajar ilmu kanuragan?. Dan untuk apa kita belajar ilmu kanuragan?." Putri Kasih Bagaskara tidak mengerti sama sekali dengan jalan pikiran kakaknya.


"Coba kau pikir dengan baik ucapan ku ini rayi." Ia menepuk pundak adiknya dengan pelan. "Kita tidak mungkin berhenti begitu saja dengan apa yang telah kita lakukan. Jadi jika suatu hari nanti kita tertangkap?. Kita bisa melakukan perlawanan!. Ada kemungkinan kita bisa melenyapkannya dengan menggunakan ilmu kanuragan yang telah kita pelajari." dengan penuh percaya diri ia mengungkapkan ide yang ada di dalam kepalanya saat itu pada adiknya.


"Tapi yunda?. Pada siapa kita akan belajar ilmu kanuragan itu?." Putri Kasih Bagaskara masih ragu. "Bagaimana jika ayahanda prabu dan ibunda ratu nantinya bertanya alasan kita belajar ilmu kanuragan?. Apa yang akan yunda jawab nantinya?." Putri Kasih Bagaskara tidak bisa memikirkan alasan yang jelas, untuk apa ia belajar ilmu kanuragan?.

__ADS_1


"Kau tenang saja rayi. Aku telah memiliki ide yang sangat sempurna. Aku memiliki alasan yang tepat untuk meyakinkan ayahanda prabu dan ibunda ratu. Kau tidak perlu cemas dengan alasan apapun yang aku katakan nantinya." Sungguh, mental dan kepercayaan diri yang sangat tinggi. "Kau hanya perlu mengikuti apa yang telah aku rencanakan. Apakah kau mengerti?. Rayi kasih?." Putri Kenanga Bagaskara sepertinya telah memiliki rencana yang sangat luar biasa yang akan ia gunakan nantinya?.


"Baiklah, jika memang yunda berkata seperti itu." Putri Kasih Bagaskara tidak lagi membantah atas apa yang telah dikatakan kakaknya. Ia hanya menuruti apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.


Akan tetapi pertanyaannya adalah?. Apakah mereka akan berhasil melakukan itu?. Simak terus ceritanya.


...***...


Di kediaman Dharmapati Andapati Saresa.


Deg!.


"Kenapa kondisinya bisa seperti ini?. Apa yang terjadi sebenarnya?." Raden Athaya Pasopati sungguh sangat tidak tega melihat keadaan seperti itu.


"Kami hanya bisa memindahkan jasad beliau saja. Karena kami tidak berani untuk mencabut belati hitam kegelapan itu dari tubuh beliau. Kekuatan kami tidak bisa menyentuh belati hitam kegelapan itu." Jawab Muji, salah satu prajurit yang mengantar Raden Athaya Pasopati ke rumah Dharmapati Andapati Saresa.


"Sungguh sangat mengerikan sekali. Di saat ayah anda tidak ada di sini?. Ternyata masih saja terjadi hal yang sangat mengerikan seperti ini." Raden Athaya Pasopati merasa prihatin dengan apa yang telah terjadi?. Apakah ia tidak bisa membantu sama sekali?. Meskipun ia adalah seorang anak dari patih yang terkenal di kerajaan Mahamega Suci?.


"Memang sungguh sangat memperhatikan raden." Muji juga dapat merasakan itu. "Lalu apa yang akan kita lakukan raden?. Saya tidak berani mencabut belati hitam kegelapan itu." Tentu saja ia takut. "Kabar yang saya dengar, belati hitam kegelapan ini dapat menyerang siapa saja yang tidak memiliki kekuatan tenaga dalam, maka ia akan diserang. Maafkan saya raden, saya tidak bisa mencabutnya." Lanjutnya dengan sikap pasrah?.

__ADS_1


Lalu bagaimana dengan tanggapan Raden Athaya Pasopati?. Simak terus ceritanya.


...***...


Jala Hitam dan Mata Elang saat itu telah berada di kediaman Senopati Bagustara Jaya. Apakah kalian masih bertanya apa alasannya sayang ke sana?. Tentunya kalian telah mengetahui alasan kenapa mereka berada di sana, bukan?.


"Salam hormat kami, gusti senopati." Jala Hitam dan Mata Elang memberi hormat.


"Aku belum pernah melihat kalian. Prajurit dari mana kalian?." Pertanyaan itu menurut prasangka buruk pada kedua prajurit itu?.


"Orang ini sangat sombong sekali!. Pantas saja gusti putri arkadewi bagaskara memanggilnya!." Dalam hati Jala Hitam sangat tidak suka mendengarkan ucapan Senopati Bagustara Jaya.


"Sombong sekali kau patung monyet jahanam!. Aku tidak sabar lagi melihat kau dibunuh oleh gusti putri arkadewi bagaskara!." Dalam hati Mata Elang sangat mengutuk pria Agung itu.


"Hei!. Apakah kalian tuli?!. Aku bertanya pada kalian!." Bentak Senopati Bagustara Jaya dengan sangat jengkelnya. "Berani sekali kalian melamun?!. Dan kalian telah berani mengabaikan pertanyaan dariku?!." Hatinya saat itu sedang tidak bersahabat, sehingga ia ingin marah-marah?. Hanya karena merasa diabaikan oleh Jala Hitam dan Mata Elang?.


"Kami adalah utusan gusti putri arkadewi bagaskara." Jawab Jala Hitam. "Karena kau adalah salah satu dari banyak orang yang akan dibunuh olehnya!." Dalam hatinya ingin mengatakan seperti itu, namun mulutnya masih memiliki rem yang sangat cakram, sehingga ia tidak bisa mengatakan itu?.


Bagaimana dengan tanggapan Senopati Bagustara Jaya?. Ketika Jala Hitam mengatakan jika ia adalah utusan dari Putri Arkadewi Bagaskara?. Apakah ia akan patuhnya datang ke istana memenuhi panggilan dari Putri Arkadewi Bagaskara?. Simak terus ceritanya. Temukan jawabannya ya pembaca tercinta.

__ADS_1


...*** ...


__ADS_2