
...***...
Malam masih panjang pada saat itu Putri Arkadewi Bagaskara yang pada saat itu telah menggunakan hitam. Matanya pada saat itu sedang mengamati kediaman Dharmapati Andapati Saresa, seorang dermapati yang memiliki sikap yang sangat tidak baik. Saat itu ia berdiri di atas pohon yang tidak jauh dari kediaman Dharmapati Andapati Saresa.
"Apakah aku harus membunuhnya malam ini?." Suasana hatinya pada saat itu sedang gelisah setelah berdebat hebat dengan Ratu Astina. "Namun penglihatan dari pemuda itu sangatlah jelas. Jika dharmapati andapati saresa, memang telah melakukan kejahatan yang sangat tidak bisa dimaafkan sama sekali." Hatinya kembali bergemuruh ketika ia merasakan dan melihat bagaimana kejahatan yang dilakukan oleh Dharmapati Andapati Saresa. "Pria agung itu sangat biadab!. Aku tidak akan mengampuninya. Kejam sekali atas apa yang telah ia lakukan." Sorot matanya pada saat itu menatap mangsanya dengan tatapan yang sangat tajam. "Aku harus segera bertindak." Ia tidak akan ragu lagi membunuh seseorang yang telah melakukan kejahatannya yang mengerikan. "Maaf saja. Kau harus membayar apa yang telah kau lakukan." Ia mengeluarkan belati hitam kegelapan yang telah ia serap dari kebencian pemuda itu. "Meskipun apa yang telah ia perlihatkan tidak lengkap, namun aku akan melihat secara langsung apakah dia benar-benar melakukan kejahatan itu." Setelah berkata seperti itu, pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan itu menghilang entah kemana.
Apakah yang akan ia lakukan?. Apakah benar ia akan melampiaskan dendam seseorang?. Sebenarnya apa tujuannya untuk melakukan itu?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.
...***...
Di sebuah pondok tempat Jala Hitam dan Mata Elang menemui Putri Arkadewi Bagaskara. Saat itu keduanya sedang duduk-duduk santai, karena tugas hari itu telah selesai dengan baik. Namun yang tidak baik itu adalah kondisi mental mereka setelah mengetahui sisi buruk yang dimiliki oleh Putri Arkadewi Bagaskara.
"Jika aku boleh mengetahui, apa yang membuatmu terlibat dengan putri mengerikan itu?. Apakah kau memiliki masalah yang besar dengannya?." Karena merasa penasaran Mata Elang memberanikan dirinya untuk bertanya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Dulu, ketika itu aku memiliki guru yang sangat hebat. Guru yang dapat memberikan penyakit pada seseorang dari jarak jauh. Namun guruku tewas karena dibunuh olehnya." Jawab Jala Hitam. "Karena aku merasa dendam pada wanita itu. Aku sangat sakit hati karena dia telah melakukan hal yang tidak terpuji, meskipun dia ada seorang putri raja. Akan tetapi bukan berarti dia melakukan hal yang benci pada guruku." Lanjutnya lagi. "aku telah melakukan penyusupan untuk membunuhnya. Sayangnya pada saat itu aku ketahuan olehnya, dan dia memperlihatkan kepadaku apa yang terjadi pada saat itu sebenarnya. Alasan kenapa ia membunuh guruku pada malam itu." Jala Hitam tidak akan melupakan begitu saja apa yang telah terjadi pada guru dan teman-teman seperguruannya.
"Kau ketahuan olehnya?!." Mata Elang sangat terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jala Hitam.
"Ya, aku ketahuan karena aku berniat ingin membunuhnya. Akan tetapi pada saat itu ia mengajakku untuk bergabung dengannya. Katanya ia akan menghukum pria agung yang telah berani membuat rakyat sengsara. Itulah alasan kenapa aku mengikutinya pada saat itu." Jala Hitam menceritakan apa yang terjadi dan alasan kenapa ia mengikuti Putri Arkadewi Bagaskara.
"Sungguh wanita yang sangat luar biasa." Entah kenapa Mata Elang malah merasa kagum dengan apa yang dialami oleh Jala Hitam.
Bagaimana dengan tanggapan dari Mata Elang?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.
...***...
Sementara itu, di malam yang sunyi itu. Prabu Maharaja Ganendra Ardajita masih terbangun. Di biliknya yang pada saat itu ditemani dengan cahaya lampu penerangan, Prabu Maharaja Ganendra Ardajita masih belum bisa memejamkan matanya karena ia masih ingat dengan apa yang dikatakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara anak bungsunya.
__ADS_1
"Sebenarnya ayahanda prabu telah dikelilingi oleh orang-orang yang pandai menggunakan topeng pemanis wajah. Karena itulah di negeri yang ayahanda prabu pimpin ini, masih ada rakyat yang menjerit meminta perlindungan." Ucap Putri Arkadewi Bagaskara penuh dengan penekanan di setiap katanya. "Akan tetapi pada saat itu ayahanda tidak bisa mendengarnya. Ayahanda prabu tidak bisa mendengarkan jeritan yang keluar dari hati rakyat, yang selama ini telah ditindas oleh pria agung, yang telah menggunakan topeng pemanis wajah dengan sangat baik di hadapan ayahanda prabu." Putri Arkadewi Bagaskara saat itu terlihat lebih tegas dari yang ia bayangkan.
Prabu Maharaja Ganendra Ardajita sangat bingung pada saat itu bagaimana caranya ia menjawab ucapan anaknya itu. "Putriku ananda putri arkadewi, dari dulu dia memang sangat berbeda dari kedua kakaknya yang memiliki pandangan tentang hidup seseorang." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita memang dapat merasakan perbedaan yang ada pada anak-anak perempuannya. "Apakah yang selama ini ia pelajari?. Sehingga ia memiliki pandangan yang berbeda dari anak seusianya. Bahkan pandangan itu sangat berbeda dari kedua yundanya." Suasana hati Prabu Maharaja Ganendra Ardajita pada saat itu sangat kacau karena apa yang telah dilakukan oleh anak bungsunya itu. "Memberikan hukuman mati kepada seseorang?. Bahkan selama ini aku tidak pernah berpikir untuk memberikan hukuman seperti itu kepada siapapun juga." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita belum memberikan izin kepada anaknya untuk melakukan hukuman mati pada Tumenggung Daveda Maasa.
"Pendekar pembunuh bayaran itu lahir karena sikap yang tidak adil diterima oleh rakyat, juga bagaimana penderitaan yang dialami oleh rakyat selama ini, karena para pria agung yang telah menggunakan topeng pemanis wajah, untuk menutupi semua kejahatan yang telah mereka lakukan selama ini." Seakan-akan merasakannya sendiri bagaimana penderitaan yang dirasakan oleh rakyat pada saat itu, Putri Arkadewi Bagaskara berkata seperti itu pada ayahandanya. "Topeng pemanis wajah memang sangat mengerikan, Karena itulah ayahanda prabu harus berhati-hati. Karena topeng pemanis wajah adalah tembok dinding yang sangat berbahaya." Ucapannya pada saat itu seperti sebuah wejangan yang sangat dan harus dikerjakan.
Memang secara logis ia mengakui apa yang telah dikatakan oleh anaknya itu memang sangat benar. Hanya saja ia sangat tidak tega dengan apa yang akan ia lakukan kepada bawahannya nantinya.
Apakah yang akan dilakukan oleh Prabu Maharaja Ganendra Ardajita untuk menyelesaikan kasus ini?. Simak terus bagaimana ceritanya terjadi. Jangan lupa dukungannya ya?.
Next.
...***...
__ADS_1