TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 23


__ADS_3

...***...


Putri Arkadewi Bagaskara saat itu hendak memasuki halaman istana. Pada saat itu ia tidak sengaja berpas-pasan dengan Patih Arya Pasopati.


"Hormat hamba gusti putri." Patih Arya Pasopati memberi hormat.


"Paman patih." Balas Putri Arkadewi Bagaskara.


"Apakah gusti putri dari luar?." Ia tidak melihat siapapun yang ikut bersama Putri Arkadewi Bagaskara.


"Aku hanya jalan_jalan sebentar saja paman patih.” Putri Arkadewi Bagaskara dengan tenang menjawab pertanyaan itu.


"Kenapa gusti putri tidak bersama pengawal?. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada gusti putri nantinya?." Patih Arya Pasopati terlihat sangat cemas.


”Aku baik-baik saja paman patih." Putri Arkadewi Bagaskara kembali memperlihatkan senyumannya. "Paman patih. Harusnya paman patih lebih memperhatikan kondisi pasar kota raja." Kali ini tatapannya lebih tajam, dan terlihat sangat serius dari yang sebelumnya. "Kenapa rakyat di pasar diamankan dengan ancaman seperti itu?. Jika paman patih tidak memperhatikan itu dengan baik, maka jangan salahkan rakyat yang meminta perlindungan pada pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan, untuk menyingkirkan para perusuh pasar." Setelah berkata seperti itu, ia pergi meninggalkan Patih Arya Pasopati yang terpana dengan apa yang ia dengar.


"Gusti putri." Dalam hati Patih Arya Pasopati tidak menyangka akan mendengarkan ucapan seperti itu dari seorang putri raja.


...***...


Sementara itu pemuda misterius yang berusaha menyusup masuk ke dalam istana, sedang menyamar menjadi rakyat biasa. Dan bahkan ia berniat untuk menyamar menjadi salah satu prajurit istana.


"Sepertinya itu bukanlah ide yang buruk." Dalam hatinya mencoba membayangkan bagaimana strategi terbaik untuk membunuh Putri Arkadewi Bagaskara. "Baiklah. Akan aku lakukan dengan cepat, aku sudah muat terlalu lama berputar-putar di sini." Dalam hatinya mulai kesal. Setelah itu ia pergi dari kedai makan itu, saat itu ia masih memantau keadaan di pasar kota raja yang tak jauh dari istana. Dendamnya yang membara tidak akan hilang begitu saja, hatinya yang membenci tidak akan reda begitu saja sebelum ia membunuh target.


...***...


Malam hampir tiba.


Pasangan suami istri yang dibantu oleh Putri Arkadewi Bagaskara merasa sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan oleh sang putri.

__ADS_1


"Tadinya saya sangat khawatir kakang." Ia menatap anak-anaknya yang sedang tertidur pulas. "Saya sangat khawatir jika malam ini kita tidak akan makan apa-apa." Ada perasaan sedihnya ia rasakan dari hatinya. "Tapi Tuhan telah memberikan kita hal yang sangat luar biasa. Gusti putri arkadewi bagaskara memberikan kita bantuan. Sungguh sangat baik sekali gusti putri pada kita kakang." Rasa kagum ya ungkapkan begitu saja.


"Ya, nyai benar. Gusti putri memang sangat baik." Mansu merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya itu. "Tapi, dengar gusti putri baru saja kembali ke istana." Lanjutnya.


"Semoga saja gusti putri bisa membawa perubahan di kerajaan ini kakang." Amina berharap banyak. Semoga saja seperti itu nyai.” Mansu juga sangat berharap.


...***...


Di Kaputren istana.


Sepertinya akan ada rencana yang tidak baik yang telah direncanakan oleh Putri Kenanga Bagaskara dan Putri Kasih Bagaskara. Keduanya masih belum puas jika belum menyingkirkan putri Arkadewi Bagaskara.


"Tadi aku sempat mendengar pembicaraan para prajurit istana. Mereka mengatakan jika raka dewangga akan meninggalkan istana ini besok pagi yunda." Putri Kasih Bagaskara terlihat sangat senang. "Ini adalah kesempatan kita untuk merencanakan hal yang lebih besar." Suasana hatinya benar-benar sangat bahagia.


"Apakah itu benar rayi?." Putri Kenanga hanya ingin memastikan apa yang dikatakan adiknya.


"Baiklah rayi. Aku rasa itu adalah ide yang baik.” Putri Kenanga Bagaskara setuju dengan apa yang telah dikatakan oleh adiknya.


...***...


Raden Athaya Pasopati baru saja memasuki halaman rumahnya, akan tetapi pada saat itu sebuah tombak dengan kecepatannya sangat tinggi melesat ke arahnya.


"Hyah!."


DUAR!.


Dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam yang ia miliki ia hancurkan tombak itu. "Ayahanda?." Raden Athaya Pasopati sangat terkejut ketika matanya menangkap sosok Patih Arya Pasopati yang telah memasang kuda-kuda hendak menyerangnya.


"Lawan aku. Hyah!." Setelah berkata seperti itu ialah langsung melompat ke arah anaknya dan menyerang anaknya dengan memainkan satu jurus dasar yang ia miliki.

__ADS_1


"Ayahanda?. Apa maksudnya ini ayahanda?." Raden Athaya Pasopati mencoba untuk menahan serangan yang telah dilancarkan ayahandanya.


"Mari kita bermain-main sebentar." Hanya itu yang diucapkan oleh Patih Arya Pasopati pada anaknya.


”Baiklah kalau begitu ayahanda." Sepertinya Raden Athaya Pasopati mengerti dengan apa yang telah dikatakan oleh ayahandanya.


Dalam keadaan yang hampir gelap gulita itu patih Arya Pasopati mengajak anaknya berlatih pada malam hari?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.


...***...


Di Istana Kerajaan.


Raden Dewangga Bagaskara sedang menunggu kedatangan adiknya Putri Arkadewi Bagaskara. Sepertinya ada pembicaraan yang sangat serius ini akan dibicarakan dengan adiknya.


"Syukurlah jika rayi dewi datang." Raden Dewangga Bagaskara sangat senang melihat kedatangan adiknya.


"Selamat malam raka." Putri Arkadewi Bagaskara menyapa rakanya itu dengan senyuman ramah.


"Duduklah rayi dewi." Raden Dewangga Bagaskara mempersilahkan adiknya untuk duduk. "Ayahanda prabu mengatakan padaku, jika ayahanda prabu ingin melibatkanmu dalam urusan negara, akan tetapi sepertinya ibunda belum setuju dengan rencana yang akan dilakukan oleh ayahanda prabu." Meskipun ia tidak mengerti mau berbicara dari mana, setidaknya itu yang ia ingat ketika bertatapan mata dengan adiknya.


"Memang benar, ayahanda prabu memang berkata seperti itu padaku." Balas Putri Arkadewi Bagaskara. "Tapi kenapa raka terlihat sangat sedih seperti itu?." Putri Arkadewi Bagaskara dapat menangkap kesedihan yang dirasakan oleh kakaknya itu. Raden dewa nggak Bagaskara terdiam sejenak, apakah iya bisa mengatakan pada adiknya?. "Ada apa raka?." Putri Arkadewi Bagaskara masih penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh kakaknya itu. Namun pada saat itu ia mencoba melihat apa yang sedang disimpan oleh kakaknya melalui sisi gelap yang dimiliki oleh kakaknya.


Deg!.


Saat itu ia dapat melihat ketakutan yang dirasakan oleh kakaknya, hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Putri Arkadewi Bagaskara sedikit menghalang nafasnya. "Raka tidak perlu cemas. Aku tidak akan merepotkan diri berhadapan dengan orang-orang yang akan membuat rencana bodoh, hanya untuk menjatuhkan diriku untuk keluar dari istana ini." Putri Arkadewi Bagaskara dengan jelas jelas dapat melihat itu. "Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama, raka." Putri Arkadewi Bagaskara tersenyum manis menatap kakaknya itu. Sepertinya ia dapat mengatasi masalah yang terjadi, sehingga ia dapat berkata seperti itu.


Next halaman.


...***...

__ADS_1


__ADS_2