TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 44


__ADS_3

...***...


Saat itu, Putri Arkadewi Bagaskara telah membawa Raden Darsa Endaru ke tempat tamu raja. Tempat yang sangat indah sebenarnya, apa lagi tempat itu memiliki banyak pengamanan prajurit yang disediakan untuk menjaga keamanan para tamu istimewa kerajaan.


"Kenapa kau malah membawa aku ke sini?. Apakah kau takut?. Jika aku menyerang mu nantinya?." Raden Darsa Endaru sedikit kecewa. Ia tidak menduga akan dibawa ke sana oleh Putri Arkadewi Bagaskara.


"Bukan itu masalahnya. Yang aku takutkan adalah, jika kau melihat sifat asliku." Putri Arkadewi Bagaskara dengan santainya berkata seperti itu. "Aku takut, jika aku kelewatan dan malah membunuhmu di istana ini." Putri Arkadewi Bagaskara menjawab seperti itu.


Ucapannya pada saat itu benar-benar sangat menyeramkan, ucapan yang tidak wajar dari seorang putri raja. Apalagi sosok Hitam yang ada di dalam dirinya pada saat itu benar-benar telah menyatu di dalam dirinya. Sehingga ia dapat menggunakan kekuatannya dengan sempurna untuk melihat pikiran seseorang pada saat itu. Tentunya Putri Arkadewi Bagaskara dapat melihat kegelapan hati seseorang dengan menggunakan kekuatan Hitam yang ada di dalam dirinya saat itu.


"Kenapa kau sangat percaya diri sekali ketika berkata seperti itu padaku?." Raden Darsa sedikit gugup dengan apa yang telah dikatakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara. "Atas dasar pemikiran Apa kau berkata seperti itu?. Putri arkadewi bagaskara?!." Namun ia mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak terlihat lemah di hadapan Putri Arkadewi Bagaskara.


"Karena di dalam otakmu yang dangkal itu, masih ingin mengharapakan diriku melayani dirimu sampai mati." Putri Arkadewi Bagaskara memang dapat melihat apa saja yang ada di dalam pikiran Raden Darsa Endaru. Termasuk keinginan buruk yang ada di dalam pikiran Raden Darsa Endaru tentang dirinya. "Sayang sekali aku bukanlah wanita yang bisa kau taklukan dengan mudahnya. Apalagi dengan pemikiranmu yang sempit seperti itu?. Kau pikirkan akan bisa melakukan itu padaku?!." Putri Arkadewi Bagaskara terlihat mengejek Raden Darsa Endaru yang memiliki keinginan dan ambisi yang seperti itu padanya.


Deg!.


Saat itu detak jantungnya seakan-akan berpacu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara.


"Ba-." Ucapan Raden Athaya Pasopati saat itu tidak bisa diteruskan karena ucapannya dilanjutkan oleh Putri Arkadewi Bagaskara.


"Bagaimana bisa aku dapat mengetahui apa yang ada di dalam pikiranmu?." Putri Arkadewi Bagaskara dengan senyuman yang ramah ya berkata seperti itu. Seakan-akan ia telah menebak apa yang akan dikatakan oleh Raden Darsa Endaru.


Deg!.


Kembali ia terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh Putri Arkadewi Bagaskara. Sungguh, ia tidak menduga sama sekali, jika Putri Arkadewi Bagaskara benar-benar dapat membaca pikirannya?. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?.


"Aku katakan dengan jelas padamu raden darsa endaru." Putri Arkadewi Bagaskara tersenyum ramah sambil menatap Raden Darsa Endaru. Saat itu tangannya menuangkan segelas air putih ke dalam gelas untuk diminum bersama. "Meskipun istrimu banyak dan kau bisa menaklukkan wanita di dunia ini. Sayang sekali aku tidaklah mudah ditaklukan begitu saja olehmu." Putri Arkadewi Bagaskara memang dapat melihatnya. Dan saat itu juga ia menyerahkan satu gelas air putih pada Raden Darsa Endaru. "Seorang putra mahkota yang hanya memikirkan nafsu dunia saja. Kau bukanlah seorang laki-laki yang aku inginkan di dunia ini." Putri Arkadewi Bagaskara memang terlihat tersenyum manis, akan tetapi senyuman itu sangat mematikan.


Lalu bagaimana dengan tanggapan Raden Darsa Endaru setelah mendengarkan ucapan Putri Arkadewi Bagaskara?. Bukankah kedatangannya itu untuk menaklukkan hati Putri Arkadewi Bagaskara?. Akan tetapi apa yang ia dapatkan pada saat itu?. Justru malah sebaliknya, ia yang malah takluk di hadapan Putri Arkadewi Bagaskara. Apakah yang akan dilakukan oleh Raden Darsa Endaru?. Simak terus ceritanya.


...***...


Di sisi lain.


Saat itu Jala Hitam dan Mata Elang sedang menjalani tugas yang telah diberikan oleh Putri Arkadewi Bagaskara. Akan tetapi pada saat itu Jala Hitam masih ragu dengan apa yang akan ia lakukan. Entah kenapa ia merasa janggal dengan tugas yang diberikan oleh Putri Arkadewi Bagaskara.


"Apakah benar kita akan melakukan ini?." Jala Hitam menghentikan langkahnya, dan saat itu Ia benar-benar bertanya kepada temannya.


"Tentu saja kita melakukan ini." Mata Elang dengan sangat yakin menjawab pertanyaan itu. "Memangnya kau ingin hidup berapa lama lagi jika kau tidak melakukan ini?." Mata Elang merasa heran dengan apa yang dikatakan oleh Jala Hitam. "Apakah kau tidak melihat bagaimana tatapan mengerikannya saat dia memerintahkan kita untuk melakukan ini?." Ia selalu mengingatkan betapa mengerikannya Putri Arkadewi Bagaskara, jika telah marah. Apalagi jika keduanya tidak melakukan tugas yang telah diberikan kepada mereka.


"Ya, kau benar juga." Jala Hitam sedikit merinding mengingat apa yang ia alami. "Entah kenapa aku merasa dijadikan budak yang sangat menyedihkan." Jala Hitam rasanya ingin menangis mengingat apa yang telah ia rasakan saat ini. Di dalam hidupnya ia tidak akan menduga, jika ia akan menjadi budak yang dapat disuruh melakukan hal yang sama sekali tidak ia sukai.


"Sudahlah. Mungkin ini adalah hukuman yang kita dapatkan karena kita telah berniat buruk selama ini." Mata Elang mencoba untuk menghibur temannya itu. "Jadi terima saja pekerjaan ini daripada kita membuat masalah yang lebih buruk lagi." Mata Elang masih ingin hidup dengan baik, jika ia berani membantah atau tidak mengerjakan tugas dari Putri Arkadewi Bagaskara.

__ADS_1


"Kau ini laki-laki macam apa?." Jala Hitam sedikit jengkel dengan apa yang telah dikatakan oleh Mata Elang. "Begitu mudahnya kau menerima pekerjaan ini dan mengatakan dengan mudahnya seakan-akan tidak memiliki beban." Jala Hitam benar-benar terbawa emosi ketika mendengarkan ucapan Mata Elang.


"Sebenarnya aku juga enggan melakukan ini." Mata Elang memang merasakan seperti itu pada awalnya. "Tapi jika dilihat dari sisi jahatnya, Aku sebenarnya muak dengan pria agung. Jadi anggap saja ini adalah perantara malaikat maut. Dan sekarang pekerjaan kita adalah mencatat siapa saja yang akan mati berikutnya. Bukankah itu pekerjaan yang sangat menyenangkan?." Mata Elang memang pandai sekali jika dalam berbicara, sehingga dengan mudahnya ia dapat membujuk jalan Hitam. "Jika kita langsung melakukan pembunuhan itu. Mungkin saja nyawa kita terancam. Akan tetapi melalui wanita itu, nyawa kita benar-benar aman dan pekerjaan ini kita nikmati saja." Mata Elang berkata seperti itu dengan nada yang sangat kegirangan. "Apakah kau tidak memikirkan pekerjaan yang mudah?. Namun masih dapat menghasilkan uang yang sangat banyak?." Dari ucapannya itu ia benar-benar menggoda temannya agar melakukan pekerjaan itu tanpa mengeluh sedikitpun.


"He?. Setelah aku mendengarkan ucapanmu, rasanya pekerjaan ini memang sangat nikmat." Jala Hitam mulai memikirkan apa yang telah dikatakan oleh Mata Elang. "Baiklah jika memang seperti itu. Mari kita lakukan." Jala Hitam benar-benar terlihat bersemangat pada saat itu.


"Kau ini cepat sekali berubah pikirannya. Dasar tidak bisa berpegang teguh pada pendirian." Mata Elang malah terkekeh kecil mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jala Hitam. Sungguh, ia tidak menduga jika temannya itu secepat itu merubah pikirannya, dan sangat mudah sekali terpengaruh dengan ucapannya.


"Ahaha!. Terserah kau saja mau berkata apa!." Jala Hitam juga ikut tertawa, karena dirinya memang seperti itu. Mudah sekali terpengaruh dan berubah pikiran jika menemukan hal-hal yang sangat mudah untuk dikerjakan.


Tapi pertanyaannya adalah apakah yang akan mereka lakukan saat itu?. Kali ini siapa lagi yang akan dipanggil oleh Putri Arkadewi Bagaskara melalui Jala Hitam dan Mata Elang?. Simak terus ceritanya.


...***...


Raden Athaya Pasopati pada saat itu hendak menuju sebuah tempat. Akan tetapi yang tidak menduga ia akan melihat dua orang prajurit yang terlihat sedang terburu-buru. Karena merasa penasaran ia pun menghentikan dua orang prajurit itu.


"Ada apa prajurit?. Kenapa kalian terlihat panik seperti itu?." Raden Athaya Pasopati melihat raut wajah keduanya yang sangat pucat, dan juga sangat ketakutan.


"Mohon ampun raden." Prajurit memberi hormat pada Raden Athaya pasupati. "Kami adalah prajurit yang berasal dari kediaman gusti dharmapati andapati saresa." Salah satu dari Prajurit itu menjawab apa yang ditanyakan oleh Raden Athaya Pasopati tadi. "Ada suatu masalah yang terjadi pada gusti dharmapati andapati saresa." Lanjutnya dengan perasaan yang sangat gelisah luar biasa.


"Memangnya apa yang telah terjadi di sana?." Raden Athaya Pasopati tentunya ingin mengetahui apa yang terjadi di kediaman rumah dharmapati Andapati Saresa.


"Gusti dharmapati andapati saresa telah meninggal karena tusukan belati hitam kegelapan." Jawab salah satu prajurit dengan suasana hati yang dipenuhi oleh ketakutan.


Deg!.


"Apa?!." Raden Athaya Pasopati seperti orang kebingungan ketika merespon ucapan prajurit itu. "Kalau begitu aku akan ke sana, dan kalian pergilah ke istana untuk memberitahukan kejadian ini pada gusti prabu maharaja ganendra ardajita." Raden Athaya Pasopati hanya bisa berkata seperti itu dalam keadaan yang sangat panik.


"Baiklah raden." Kedua prajurit itu mengikuti apa yang telah dikatakan oleh Raden Athaya Pasopati.


Sungguh kejadian yang sangat mengerikan jika itu berhubungan dengan pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan. Tentunya yang akan menjadi korban adalah orang-orang yang memiliki pangkat di kerajaan ini. Sebenarnya apa tujuan dari pendekar pembunuh bayaran itu melakukan pembunuhan itu?. Simak terus ceritanya agar mendapatkan jawaban dari pertanyaan ini.


...***...


Sementara itu patih Arya Pasopati.


Jika di lingkungan istana saat ini sedang mengalami ketakutan akibat teror yang dilakukan oleh pendekar pembunuh bayaran, maka di sebuah desa yang saat ini diatasi oleh Patih Arya Pasopati, adalah kasus rampok yang sangat bengis dan kejam. Mereka akan membunuh siapa saja yang tidak mau menyerahkan harta. Selalu saja ada korban dari apa yang telah mereka lakukan di setiap mereka melakukan aksi kejahatan itu.


"Kejadian yang sangat tidak biasa." Patih Arya Pasopati memikirkan apa yang telah diceritakan oleh Malindra padanya. "Bagaimana mungkin ada seorang pembunuh bayaran membantu sebuah desa terbebas dari kawanan perampok?. Ini sungguh tidak masuk akal." Patih Arya Pasopati merasa heran dengan kisah itu.


Baginya itu adalah kisah hal yang sangat mustahil?. Bagaimana mungkin seorang pendekar pembunuh bayaran?. Membunuh para perampok untuk melindungi penduduk desa dari tekanan para perampok yang sangat bengis?.


Kembali ke masa itu cerita dari Malindra.

__ADS_1


Pada malam hari yang sangat gelap, para kawanan perampok yang terdiri dari 5 orang itu melakukan aksinya di sebuah desa. Sungguh kejadian yang sangat menakutkan, karena mereka menggunakan senjata tajam untuk mengancam penduduk desa yang tidak mau menyerahkan harta mereka.


"Sebaiknya kalian serahkan semua harta yang kalian miliki!. Dari pada nyawa kalian yang akan menjadi taruhannya!." Dengan suara yang sangat keras salah satu dari mereka yang merasa dirinya sangat kuat mengancam penduduk desa seperti itu.


"Jangan tuan!. Kami tidak memiliki harta berharga yang bisa kami serahkan pada kalian." Salah satu dari penduduk desa itu berkata dengan nada yang sangat sedih.


"Ah!. Masih saja kalian berbohong?!." Sepertinya pemuda itu sangat tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh salah satu penduduk desa itu. "Dua hari yang lalu kami melihat prajurit istana datang ke desa ini meminta kalian membayar pajak!. Itu artinya kalian masih memiliki harta yang sangat banyak!. Jadi serahkan semuanya kepada kami!. Atau nyawa kalian yang akan menjadi bayarannya!." Sepertinya mereka telah mengamati desa itu sehingga mereka melakukan perampokan di sana.


"Itu adalah harta terakhir yang kami simpan." Malindra yang merupakan kepala desa yang ada di desa kecil itu, mencoba menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya kepada mereka. "Jika kami menyerahkannya pada tuan, kami benar-benar akan mati kelaparan." Hatinya sangat sedih karena mendapatkan perlakuan yang seperti itu. Sebagai kepala desa tentunya ia memikirkan bagaimana nasib penduduk desa yang pada saat itu telah menyerahkan pajak yang sangat tinggi kepada prajurit istana.


"Kegh!. Masih saja mau membantah?!." Pemuda yang merupakan ketua dari perampok itu merasa sangat kesal mendengar ucapan Malindra. "Ternyata kau ingin cepat mati pak tua!." Ia menyerang malindra dengan menggunakan golok yang sangat tajam.


Duakh!.


Akan tetapi ketika ia hendak menyerang penduduk desa, saat itu sosok misterius menendang tubuhnya hingga terlempar jauh dari sana.


Deg!.


Mereka semua sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat saat itu. Ada sosok misterius yang membantu para penduduk desa?.


"Berani sekali kalian membuat keonaran di sini." Meringis kesakitan ketika mendapatkan tendangan yang sangat kuat itu. "Apakah kalian ingin cepat mati?." Ia sangat marah kepada orang yang telah berani menyerangnya dengan secara tidak jantan.


"Siapa kau?!. Kunyuk busuk!." Salah satu dari anak buahnya tidak terima dengan apa yang telah dilakukan oleh orang misterius itu. "Berani sekali kau ikut campur dengan urusan kami!." Saat itu ia mencoba untuk menyerang orang misterius itu.


"Dari mana asalnya?!." Pemuda yang lainnya juga ikut membantu.


"Kalian tidak perlu tahu siapa aku!." Sosok misterius yang menggunakan topeng hitam itu membalas ucapan mereka. "Dan yang harus kalian ketahui adalah!. Malam ini kalian akan mati!." Matanya yang menyala di dalam kegelapan menatap mereka dengan sangat tajam.


Namun apa yang terjadi ketika saat itu?. Sosok hitam misterius itu telah menghabisi semua perampok yang pada saat itu beraksi?. Terjadilah pertarungan yang sangat mengerikan pada malam itu yang disaksikan oleh penduduk desa.


"Desa ini akan aku lindungi dari siapa saja yang membuat kalian menderita. Termasuk dari istana yang meminta pajak yang sangat tinggi pada kalian." Itulah yang ia ucapkan sebelum ia pergi meninggalkan desa itu.


Kembali ke masa ini.


Pati area Pasopati telah mendengarkan dengan sangat jelas bagaimana kisah itu terjadi.


"Sejak saat itu memang seperti itulah yang terjadi. Kami benar-benar aman." Malindra menceritakan itu padanya. "Kejadian itu terjadi empat belas purnama yang lalu, dan entah kenapa dua purnama ini terjadi lagi." Ia masih ingat dengan apa saja yang dikatakan oleh malindra padanya.


"Aku benar-benar harus melindungi tempat ini dari apapun itu." Patih Arya Pasopati mulai merasakan adanya hasrat untuk melindungi seseorang atau menganggap itu adalah tugas kewajibannya. "Sebagai seorang patih, aku harus bisa melakukannya." Patih Arya Pasopati telah membuat tekadnya bahwa ia akan melakukan itu dengan segenap hatinya.


Tentunya ia tidak akan kalah dari pendekar pembunuh bayaran yang memiliki hati nurani, untuk menolong penduduk desa yang berada dalam kesulitan. Sebagai seorang patih yang dipercayai oleh seorang raja?. Apakah ia bisa?.


...**...

__ADS_1


__ADS_2