TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)

TOPENG PEMANIS WAJAH (PEMBUNUH BAYARAN)
CHAPTER 34


__ADS_3

...***...


Pada saat itu Jala Hitam dan Mata Elang yang berseragam prajurit khusus datang ke kediaman dharmapati Andapati Saresa. Tentunya itu adalah perintah dari Putri Arkadewi Bagakara. Akan tetapi pada saat itu, sang dharmapati sepertinya merasa keberatan?.


"Mohon maaf gusti dharmapati. Kami datang atas perintah dari dari gusti putri arkadewi bagaskara."


"Atas dasar apa seorang putri raja memerintahkan kau untuk datang ke istana?!."


"Apakah gusti dharmapati tidak mendengarkan kabar mengenai gusti putri arkadewi bagaskara yang telah diangkat menjadi prajurit khusus?. Untuk mengatasi masalah para petinggi istana yang telah melakukan kejahatan?. Dan mereka tidak mau mengakuinya?."


"Lancang sekali mulutmu itu berkata seperti itu padaku!."


"Maaf gusti dharmapati. Sebaiknya gusti dharmapati langsung menemui gusti putri arkadewi bagaskara. Karena kami hanya menjalani tugas saja."


Dharmapati Andapati Saresa sepertinya memang tidak mau diajak ke istana?. Meskipun dipanggil oleh seorang putri raja?.


"Aku akan datang ke istana!. Jika yang memanggilku adalah gusti prabu maharaja ganendra ardajita. Katakan padanya jika aku menolak panggilannya."


"Baiklah. Jika memang seperti itu. Gusti putri arkadewi bagaskara juga tidak memaksanya."


"Akan tetapi jangan sampai menyesal. Karena sebenarnya gusti putri arkadewi bagaskara hanya ingin melindungi tuan dari pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan."


"Tapi sepertinya tuan menolak kebaikan yang ditawarkan gusti putri arkadewi bagaskara."


"Kalau begitu kami pamit."


"Sampurasun."


Setalah berkata seperti itu, Jala Hitam dan Mata Elang langsung pergi meninggalkan kediaman Dharmapati Andapati Saresa. Mereka tidak menunggu bagaimana tanggapan dari Dharmapati Andapati Saresa?. Tidak perlu, karena tugas mereka bukan memaksakan mereka untuk ikut. Hasilnya akan diragukan nantinya, karena mereka memiliki hukum yang sangat lemah.


Sedangkan Dharmapati Andapati Saresa?. Ia sangat terkejut mendengarkan apa yang dikatakan kedua prajurit itu. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Saat itu ingatannya melayang-layang entah ke mana. Ia ingat beberapa temannya yang mati dibunuh oleh pendekar pembunuh bayaran belati hitam kegelapan.


"Aku rasa itu hanyalah sebuah gertakan saja. Tidak mungkin dia berniat melindungi aku dari pembunuh sadis itu." Dalam hatinya mencoba untuk tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh kedua prajurit itu.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.


...***...


Raden Athaya Pasopati saat itu sedang terburu-buru menuju istana. Tentunya ia ingin segera menemui Putri Arkadewi Bagaskara. Ia sangat terkejut dengan kabar yang beredar di kalangan rakyat?.

__ADS_1


"Apakah benar?. Jika gusti putri arkadewi bagaskara diangkat menjadi prajurit khusus yang menangani masalah petinggi istana yang telah melakukan kejahatan tersembunyi?." Hampir ia tidak percaya. "Aku telah bertemu dengannya. Tidak mungkin ia menyembunyikan sesuatu dariku." Dalam hatinya kembali tidak percaya begitu saja. "Aku harus segera menemuinya. Aku harus segera bertanya padanya. Apa yang ia rencanakan sebenarnya?." Suasana hatinya sangat gelisah tidak karuan. Tidak mungkin Putri Arkadewi Bagaskara menyembunyikan sebuah rahasia yang sangat besar darinya.


Apakah ia berani bertanya pada Putri Arkadewi Bagaskara?. Simak terus ceritanya.


...***...


Sementara itu di sebuah tempat di dalam istana.


Saat itu Tumenggung Daveda Maasa sedang menghadap Putri Arkadewi Bagaskara. Apakah ia termasuk petinggi istana?. Sehingga ia dipanggil?.


"Sebenarnya ini bukan hanya masalah petinggi istana saja paman."


"Apa yang gusti putri rencanakan sebenarnya?. Katakan pada hamba, kenapa hamba dipanggil?."


"Jika paman telah dipanggil. Itu artinya paman telah melakukan kejahatan yang sangat tidak biasa."


"Mohon ampun gusti putri. Sekiranya kejahatan apa yang telah hamba lakukan?. Sehingga gusti putri beranggapan seperti itu."


"Apakah kau yakin tidak ingat?. Sehingga kau bertanya kejahatan seperti apa yang telah kau lakukan paman?."


Deg!.


...***...


Di dalam Kaputren.


Sepertinya berita tersebarnya tentang Putri Arkadewi Bagaskara yang menjadi prajurit khusus memang membuat banyak kalangan bertanya-tanya. Termasuk Putri Kasih Bagaskara dan Putri Kenanga Bagaskara. Kebetulan saat itu mereka ingin menemui Ratu Kemala.


"Ibunda?. Apakah benar?. Jika rayi dewi telah diangkat oleh ayahanda menjadi prajurit khusus?. Untuk mengatasi masalah kejahatan tersembunyi yang dilakukan para petinggi istana?."


"Kabar itu sangat menghebohkan sekali ibunda."


"Memang seperti itulah yang terjadi. Ayahanda kalian lah yang mengangkat ananda arkadewi untuk menjadi prajurit khusus."


Ternyata memang benar kabar itu?. Lalu apa yang akan mereka lakukan?. Apakah itu tidak akan berbahaya nantinya?.


...***...


Prabu Maharaja Ganendra Ardajita saat itu mengamati laporan yang datang dari Patih Arya Pasopati yang saat itu berada di sebuah desa yang cukup mengalami kesulitan.

__ADS_1


"Jadi mereka memang mengalami perampokan?." Prabu Maharaja Ganendra Ardajita membaca dengan sangat teliti, apa saja yang tertera dalam laporan itu. "Aku harus segera bertindak. Tentunya aku tidak ingin terjadi sesuatu yang sangat mengerikan nantinya." Sebagai seorang raja tentunya ia tidak ingin hal yang mengerikan sampai menimpa negerinya.


Apakah yang akan dilakukan prabu Maharaja Ganendra Ardajita?. Simak terus ceritanya.


...***...


Saat itu Jala Hitam dan Mata Elang sedang berada di jalan menuju istana. Mereka sedikit berbincang-bincang mengenai apa yang telah mereka lakukan tadinya.


"Apakah pekerjaan kita hanya seperti itu saja?."


"Sepertinya memang seperti itu. Karena gusti putri arkadewi akan melakukan sesuatu nantinya pada mereka yang tidak ingin dipanggil sevara suka rela ke istana."


"Baiklah. Jika memang seperti itu. Aku hanya mengikuti saja apa yang kalian lakukan."


"Kalau begitu kita langsung menemui gusti putri arkadewi bagaskara. Karena kita akan mengatakan jika dharmapati andapati saresa tidak mau menanggapi panggilannya."


"Aku jadi penasaran apa yang akan dilakukannya pada mereka semua."


"Kau tidak perlu memikirkan hal yang rumit seperti itu. Percayalah, orang jahat kadang sedang mempertahankan apa yang ia anggap itu adalah sebuah kebenaran yang bertentang dengan suara hatinya."


"Terserah kau saja. Aku sama sekali tidak peduli."


Keduanya memang hanya menjalankan tugas dari Putri Arkadewi Bagaskara. Apakah ada yang akan dendam padanya nantinya?. Siapa yang bisa menebak itu.


...***...


Putri Arkadewi Bagaskara sangat tenang menghadapi Tumenggung Daveda Maasa. Ia tidak terlihat gugup ataupun gerogi?.


"Kejahatan yang kau lakukan sangat banyak. Namun ada tiga dosa yang tidak bisa kau lupakan begitu saja."


"Apa yang gusti putri inginkan sebenarnya?. Jangan berkata yang tidak-tidak."


"Kau tidak usah banyak bermain sandiwara di hadapanku. Aku sudah muak melihat permainan kalian yang sangat membosankan itu."


"Sebaiknya seorang wanita tidak boleh melakukan itu."


"Kau hanya gugup saja."


Putri Arkadewi Bagaskara sepertinya telah mengetahui kejahatan apa yang telah dimiliki oleh lelaki setengah baya itu. Tentunya ia tidak akan menyerah begitu saja, bukan?. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2